RAMADAN sebentar lagi. Eh, kapan, sih? Kementerian Agama (Kemenag) mengatakan penetapan awal Ramadan 2026 antara pemerintah dan Muhammadiyah diprediksi berbeda. Dalam kalender Hijriah, awal Ramadan 2026 jatuh pada 19 Februari. Meski begitu, pemerintah tetap menunggu pelaksanaan sidang isbat.
Sementara, ormas Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Di Indonesia perbedaan ini sudah biasa terjadi. Oleh karena itu, tidak perlu menjadi persoalan. "Jika memang hal itu (perbedaan) tidak bisa dihindarkan, pemerintah berharap agar masyarakat tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan)," kata Kemenag.
Terlepas dari akan berbedanya awal Ramadan, semakin dekat Ramadan, sebenarnya kedekatan itu bisa kita baca. Pengalaman dan kebiasaan kita selama bertahun-tahun bisa mengungkapkan kedekatan itu—meski dari setiap generasi “rasa” itu akan berbeda-beda. Berikut beberapa “rasa” yang saya alami yang menunjukkan semakin dekatnya Ramadan:
1. Ada Acara Munggahan
Di perumahan tempat saya tinggal ibu-ibu pengajian tampak sudah mengadakan acara munggahan. Munggahan adalah tradisi menyambut bulan Ramadan yang berasal dari bahasa Sunda, unggah" (naik). Munggahan melambangkan peningkatan spiritual dari bulan Syakban menuju Ramadan dengan acara kumpul keluarga/tetangga, makan bersama—semacam botram dan diakhiri demgam saling bermaaf-maafan.
Tradisi munggahan menekankan nilai silaturahmi, syukur, serta persiapan lahir-batin menghadapi Ramadan.
2. DKM Bersih-Bersih Masjid
Baru-baru ini saya mendapat undangan rapat dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Seperti tahun lalu, surat itu bersubyek “persiapan masjid dalam menyambut Ramadan”. Salah satu yang dibahas adalah agenda bersih-bersih masjid. Memang betul bersih-bersih dilakukan tidak selalu menjelang Ramadan. Tetapi, agenda ini menjadi lebih khusus—pengecatan, cek sound system, cek pengadaan air, cek lampu penerangan, mengganti bahan-bahan yang rusak dan lain-lain disusul dengan penyusunan jadwal imam tarawih, pengadaan takjil, dan jadwal kultum.
3. Pengusaha Konveksi Sibuk
Soreang boleh disebut kota konveksi. Pun di sekitar rumah kami banyak pengusaha konveksi rumahan. Ini berkah Ramadan, mendekati Ramadan mereka sibuk memenuhi banyaknya order—terutama gamis dan baju koko, Order mereka berkali kali lipat lebih banyak daripada bulan-bulan biasa. Siang malam suara mesin jahit berderit.
Kurang tenaga, ibu-ibu dipekerjakan. Mesin jahit terus digas. Maklum, Lebaran sebentar lagi—meski puasanya belum dimulai—baju lebaran harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Ekonomi berputar.
3. Ziarah Kubur
Ziarah kubur adalah tradisi mengunjungi makam untuk mendoakan almarhum, mengingat kematian, dan mempertebal iman. Dilakukan sebelum Ramadan atau sesudah Idul Fitri. Ziarah bertujuan mendoakan ahli kubur (tahlil/doa), membersihkan makam, dan sebagai sarana muhasabah diri, bukan memuja atau meminta kepada yang meninggal.
4. Saling Memaafkan
Saling memaafkan. Saat bertemu atau kawan--di darat maupun di dunia maya. Grup wa, fb, maupun IG penuh dengan ucapan maaf. Meminta maaf satu sama lain agar kita semua memulai Ramadan dengan hati yang bersih.
5. UMKM Ketiban Rezeki
Menjelang berbuka puasa biasanya banyak pedagang yang menjajakkan dagangan untuk berbuka. Bulan puasa tidak berarti puasa berbisnis. Para umkm justru lebih memanfaatkan momen Ramadan ini sebagai waktunya usaha. Tukang gorengan, es campur, kolak, sup buah, ketiban rezeki.. Pedagang kue, mendekati lebaran, banyak pesanan kue kue.
6. Pasar Swalayan Mulai Memajang Kue Kaleng dan Sirup
Jalan jalan ke pasar swalayan ada yang berbeda. Mereka mulai memajang kue kaleng berbagai merek. Kemudian sirup-sirup berjejer terdisplay dengan berbagai merek dan harga juga kurma.
7. Iklan Sarung dan Sirup di Televisi
Bisa disebut iklan sarung dan sirup ini hanya muncul ketika momen menjelang dan saat Ramadan. (*)
