Jaga Manglayang

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik membaca koran Pikiran Rakyat, tiba-tiba muncul notifikasi dari akun @odesaindonesia video berjudul “Kampus di Bandung Dibutuhkan Petani untuk Perbaikan Ekologi dan Pengentasan Kemiskinan” langsung menarik perhatian.

Krisis lingkungan di Bandung membutuhkan peran banyak pihak. Perguruan Tinggi di Bandung mesti memainkan peran pengabdian masyarakat lebih serius. Berkontribusi dengan solidaritas sosial berbagi bibit buah-buahan untuk petani adalah cara baik untuk membantu petani mengatasi krisis ladang pertanian, menumbuhkan tanaman pangan dan memperbaiki ekologi. Mari bergiat bersama untuk pencegahan bencana dari Bandung Utara. Hub [email protected]

Krisis lingkungan di Bandung membutuhkan peran banyak pihak. Perguruan Tinggi di Bandung mesti memainkan peran pengabdian masyarakat lebih serius. (Sumber: Instagram @odesaindonesia)
Krisis lingkungan di Bandung membutuhkan peran banyak pihak. Perguruan Tinggi di Bandung mesti memainkan peran pengabdian masyarakat lebih serius. (Sumber: Instagram @odesaindonesia)

Gerakan Kampus untuk Bibit Tanaman Pangan dan Konservasi

Sebelumnya, Faiz Manshur, Ketua Odesa Indonesia menulis di Koran Gala berjudul "Kampus, Pangan, dan Ekologi"

Dunia dilanda krisis pangan dan lingkungan yang membutuhkan kepekaan yang sifatnya responsif. Dua persoalan ini telah menjadi soal hidup di mana penghuni planet bumi sedang ditantang untuk menjawabnya. Dalam menjawab problem keduanya dibutuhkan kemampuan akalbudi secara cerdas, dan kecerdasan akal budi yang berkualitas itu yang mestinya bisa memicu lahirnya gerakan perbaikan.

Gerakan bisa berupa aksi tanam, aksi pencegahan perusakan lingkungan. Bisa berupa kritik, protes dan saran-saran ilmiah untuk sebuah perwujudun perbaikan. Kampus, termasuk institusi pendidikan (pesantren) menjadi penting hadir dalam masalah ini. Posisi dan peran kampus sebagai lembaga edukatif sangat vital karena dalam usaha memperbaiki produktivitas pangan dan memperbaiki lingkungan selalu membutuhkan edukasi.

Dunia pendidikan tidak boleh lepas tangan dari realitas sosial. Jangan sampai ilmu pengetahuan, terlebih kesadaran sosial yang sudah dimiliki ternyata lupa terhadap problem pangan dan lingkungan.

Ingat, pangan dan lingkungan jadi persoalan yang esensial yang terhubung dengan masalah paling mendasar di negeri ini, kemiskinan dan pengangguran. Kampus menghadirkan percakapan ilmiah yang memadai untuk masalah ini, sehingga banjir lumpur yang kerap melanda kota Bandung menjadi bagian advokasi dari kampus.

Kehadiran perguruan tinggi pada isu-isu mendasar di masyarakat seperti ini mestinya dilakukan dengan aksi nyata, bukan sekadar diteliti. Peran sosial kampus perlu hadir dengan perwujudan aksi nyata misalnya, menggumpulkan jutaan pohon yang dibagikan kepada para petani.

Pasalnya, kampus bisa mengeluarkan pandangan-pandangan yang lebih ekologis kepada masyarakat luas, terutama pada pemerintah agar lebih intensif mengambil peran konservasi.

Gerakan kampus menggalang dana untuk bibit tanaman pangan dan tanaman konservasi amat penting dilakukan karena dari tindakan ini memungkinkan masalah kemiskinan petani bisa terbantu. Banyak petani membutuhkan bibit tanaman buah-buahan untuk perlindungan alam dari kerusakan yang terus berjalan.

Dengan hibah bibit yang baik, kampus akan menjadi teladan perbaikan yang nyata karena pohon buah-buahan bisa menjadi solusi atas krisis gizi, (krisis pangan) yang berguna mendinamiskan ekonomi desa sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan. (Koran Gala edisi Minggu, 18 Januari 2026)

Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mitigasi dan Waspadai Potensi Bencana di Kawasan Gunung Manglayang

Pemerintah Kota Bandung meningkatkan langkah antisipasi bencana, khususnya di kawasan Bandung Utara (KBU) dan wilayah yang berdekatan dengan kaki Gunung Manglayang. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan kawasan ini menjadi perhatian serius karena jaraknya yang sangat dekat dengan permukiman warga.

Saat ini Pemkot Bandung tengah melakukan penataan dan penguatan mitigasi bencana di sejumlah kecamatan yang berada di sekitar kaki Gunung Manglayang (Kecamatan Mandalajati, Cibiru, dan Ujungberung).

Kedekatan geografis antara titik-titik rawan di lereng Gunung Manglayang dengan wilayah permukiman warga menjadi alasan utama kawasan yang harus mendapat perhatian lebih.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung terus menjaga dan memperkuat fungsi ruang terbuka hijau (RTH) yang berada di kawasan ini. Farhan mengaku, pemerintah telah membeli dan membuka banyak RTH, khususnya di Mandalajati dan Cibiru, untuk berfungsi sebagai area penyangga alami.

Kita ingin memastikan semua buffer yang kita punya itu terjaga. Pohonnya jangan sampai digusur, ditebang, atau dialihfungsikan. Soal isu alih fungsi lahan, dijamin tidak terjadi penyimpangan. Penambahan RTH di kawasan Cibiru dan Mandalajati sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir dan merupakan kelanjutan dari kebijakan wali kota sebelumnya.

Diakuinya potensi longsor di kawasan Manglayang masih menjadi ancaman serius. Ini disebabkan jarak antara titik-titik kritis rawan longsor dengan pemukiman warga Kota Bandung yang sangat berdekatan. (www.bandung.go.id dan Metro TV 28 Januari 2026 18:48)

Gunung Manglayang merupakan salah satu gunung yang terletak di kawasan Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Sayangnya, gunung yang memiliki ketinggian 1.804 mdpl ini mengalami kerusakan. Data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat menunjukkan bahwa luas hutan di kawasan Gunung Manglayang yang rusak mencapai 13,85 hektar pada tahun 2020.

Warga adat melakukan ritual ruatan di kaki Gunung Manglayang sebagai bentuk ungkapan syukur dan doa keselamatan bagi alam serta masyarakat sekitar.di Gunung Manglayang, Cibiru, Bandung 20 Maret 2025 (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Oscar Yasunari)
Warga adat melakukan ritual ruatan di kaki Gunung Manglayang sebagai bentuk ungkapan syukur dan doa keselamatan bagi alam serta masyarakat sekitar.di Gunung Manglayang, Cibiru, Bandung 20 Maret 2025 (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Oscar Yasunari)

Kerusakan ini terjadi pada beberapa sumber air di kawasan Gunung Manglayang, seperti sungai dan mata air yang tercemar oleh sampah dan limbah. Dalam tulisan Nilai Ekologis dalam Upacara Adat Ruwatan Gunung Manglayang, Riyandi dan Yeti Mulyati Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, menyimpulkan upacara adat Ruwatan Gunung Manglayang memiliki nilai-nilai ekologis, sebagai upaya untuk mempertahankan adat dan tradisi upacara ruwatan ini berfungsi untuk menjaga dan melestarikan alam khususnya Gunung Manglayang.

Nilai-nilai ekologis dalam upacara ruwatan Gunung Manglayang adalah pendidikan lingkungan serta keselarasan dan keseimbangan lingkungan. Ini tergambar dari adanya keterlibatan unsur alam dalam upacara dan adanya ketergantungan satu sama lain antara alam dan manusia.

Keterlibatan unsur alam dalam upacara dapat terlihat dari sesajen yang digunakan, sesajen tersebut apabila dimaknai lebih lanjut maka memiliki arti bahwa setiap aspek kehidupan yang dijalani oleh manusia tidak akan terlepas dari keterlibatan unsur alam di dalamnya.

Ketergantungan antara alam dan manusia yang tergambar dalam upacara adat ruwatan gunung Manglayang dapat dilihat secara simbolik dan dengan aksi nyata secara langsung. Manusia dan alam tergantung satu sama lain. Alam memenuhi kebutuhan manusia, dan sebaliknya manusia juga harus merawat alam agar tetap lestari. Ajakan agar menjafga lingkungan khususnya gunung Manglayang dapat terlihat dari syair kidung Dangdang Gula Layang Sari yag secara jelas memerintahkan manusia untuk menjaga gunung Manglayang dan sumber airnya.

Di samping menjaga nilai ekologis yang tergambar secara nyata dalam prosesi nancebkeun pamali, dengan tujuan untuk memperjelas batasan antara hutan larangan, dan hutan garapan. Puncak dari prosesi nancebkeun pamali adalah dengan menanam benih pohon di Gunung Manglayang.  (Jurnal Bina Gogik, Volume 10 No. 2 September 2023: 271-282).

Mari kita bandingkan dengan tulisan Rintisan Kawasan Binaan di Lereng Selatan Gunung Manglayang Jawa Barat karya Joko Wiratmo, Dasapta Erwin Irawan, Endah Sulistyawati, mahasiswa ITB.

Wilayah lereng Selatan Gunung Manglayang Jawa Barat, mengalami kerusakan lingkungan akibat perkembangan pembangunan sebagai kota pendidikan dan pemukiman, termasuk penurunan kualitas air tanah dan krisis air bersih.

Gunung Manglayang (6⁰52’32”LS, 107⁰44’37”BT), yang terletak di kawasan Bandung dan sekitarnya, menjadi salah satu gunung yang berperan penting dalam ekosistem regional. Lereng selatannya yang membujur dari wilayah Kabupaten Bandung hingga Kota Bandung, awalnya merupakan area perkebunan dan pedesaan yang dikelilingi oleh vegetasi alami (Trisnadiansyah dkk., 2022). Di sisi timur, sejak tahun 1980-an, Jatinangor telah mengalami transformasi signifikan dengan ditetapkannya kawasan ini sebagai kota pendidikan tinggi (Muslim & Endayana, 2015).

Saat ini, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai perguruan tinggi terkemuka, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Pemerintahan Dalam Negri (IPDN), Universitas Winaya Mukti (UNWIM), dan Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) (Rahman, 2016).

Pertumbuhan pesat institusi pendidikan ini telah mendorong perubahan demografis dan pembangunan infrastruktur yang intensif di daerah tersebut. Transformasi ini telah membawa dampak besar terhadap kondisi lingkungan, khususnya di lereng selatan Gunung Manglayang (Wahyudi dkk., 2019).

Pembangunan yang pesat menyebabkan peningkatan kerusakan lingkungan, mulai dari berkurangnya area hijau, penurunan kualitas tanah, sampai penurunan jumlah sumber mata air bersih. Penurunan jumlah mata air bersih ini menjadi masalah serius yang memperburuk krisis air, terutama di musim kemarau yang diperparah oleh variabilitas iklim seperti El Niño, Dipole Mode positif, dan perubahan iklim global.

Program “Keluarga Sadar Lingkungan” (Kadarling) dirancang untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pelestarian lingkungan yang dirintis untuk wilayah binaan selatan Manglayang.

Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan ini dilakukan di SMA Negeri 24 Bandung yang diikuti oleh 72 siswa yang terbagi dalam dua kelompok: pertama, mengikuti sesi edukatif mengenai cuaca, iklim, air tanah, dan peranan pohon dalam ekosistem. Kedua, terlibat dalam praktikum pengukuran porositas tanah, pengamatan awan, dan teknik penanaman pohon.

Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan pemahaman mahasiswa tentang interaksi antara faktor-faktor lingkungan dan memberikan keterampilan praktis terkait konservasi lingkungan. Program ini diharapkan efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa dan keluarganya serta memberikan kontribusi positif terhadap penghijauan di lingkungan sekolah. (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Volume 2, No. 8, Tahun 2024:3237-3243)

Ruwatan bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk refleksi kritis terhadap relasi manusia dengan alam yang mulai timpang. (Sumber: Instagram @desa_cibiruwetan)
Ruwatan bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk refleksi kritis terhadap relasi manusia dengan alam yang mulai timpang. (Sumber: Instagram @desa_cibiruwetan)

Ruwatan Gunung Manglayang, Merawat Budaya dalam Menjaga Kerusakan Alam

Ketika eksploitasi alam dan alih fungsi lahan terus menggerus kawasan pegunungan, masyarakat di sekitar Gunung Manglayang memilih jalur yang berbeda. Mereka tidak berbicara dengan data teknokratis, jargon kebijakan, melainkan melalui ritual adat Sunda sebagai pengingat alam memiliki batas yang harus dihormati.

Pesan itu tercermin dalam Ritual Ruwatan Gunung Manglayang yang digelar di kawasan wisata Batu Kuda Manglayang, Desa Cikoneng Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Senin (2/2/2026).

Ritual tahunan ini melibatkan budayawan, tokoh masyarakat, komunitas pecinta alam, yang mendapatkan dukungan Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan. Prosesi ruwatan diisi dengan doa bersama, pembacaan doa adat, dan pertunjukan seni tradisional Sunda. Namun di balik rangkaian budaya itu, terselip kegelisahan kolektif atas kondisi lingkungan yang kian tertekan oleh aktivitas manusia.

Penggagas, Abah Njoem (51), menyebut ruwatan bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk refleksi kritis terhadap relasi manusia dengan alam yang mulai timpang.

Tradisi ini sudah ada sejak lama, terakhir dilaksanakan tahun 2004. Sempat terhenti karena disalahpahami. Padahal esensinya bentuk rasa syukur dan pengingat agar manusia tidak semena-mena terhadap alam. Gagasan menghidupkan kembali ruwatan muncul pada 2018 setelah diskusi panjang dengan para sesepuh. Ritual digelar sejak Januari 2019 dan terus berjalan hingga kini.

Persoalan lingkungan saat ini sudah berada pada titik mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan dan pengabaian terhadap daya dukung alam berpotensi memicu bencana. Kalau alam terus ditekan, cepat (lambat) akan ada akibatnya. Longsor, banjir, krisis air itu semua bukan kejadian tiba-tiba.

Pesan ekologis ruwatan tahun ini semakin kuat dengan kehadiran perwakilan masyarakat adat Suku Baduy dari Banten. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan wacana baru, melainkan praktik hidup yang telah lama dijalankan masyarakat adat. Masyarakat Baduy punya filosofi kuat soal batas dan keseimbangan alam. Mereka tidak banyak bicara, tapi konsisten dalam praktik.

Selain sebagai ruang refleksi lingkungan, ruwatan diposisikan sebagai sarana edukasi lintas generasi. Abah menilai generasi muda perlu dilibatkan agar tidak tercerabut dari akar budaya sekaligus peka terhadap isu ekologis.

Kalau anak muda hanya dekat dengan gawai, mereka bisa lupa bahwa hidup bergantung pada alam. Di sini mereka belajar budaya, belajar alam, dan belajar tanggung jawab.

Dukungan datang dari Perhutani. Administratur Perhutani setempat, Mansur Supriatna (56), menyebut ruwatan menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengelolaan kawasan hutan.

Kawasan ini dikelola bersama masyarakat dan pemerintah desa. Kegiatan budaya seperti ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.

Sejak 2019 kegiatan ruwatan terus didorong agar menjadi agenda rutin, bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi sebagai sarana membangun kesadaran kolektif. Kelestarian itu soal dua hal sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kalau manusianya sadar, alamnya bisa dijaga.

Dengan harapan dapat meningkatnya keterlibatan generasi muda dari tahun ke tahun, termasuk mahasiswa dan komunitas lingkungan. Ruwatan Gunung Manglayang kini telah ditetapkan sebagai agenda tahunan setiap 2 Februari. Di tengah tekanan pembangunan dan perubahan lanskap alam, ritual ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal masih relevan sebagai alarm dini terhadap krisis lingkungan yang kian nyata. (Koran Mandala, Senin, 2 Februari 2026 16:01 WIB)

Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: AyoBandung | Foto: Kavin Faza)
Siswa mengikuti kegiatan permainan tradisional di SDN 164 Karangpawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis 5 Desember 2024. (Sumber: AyoBandung | Foto: Kavin Faza)

Hadirnya Ruwatan Gunung Manglayang bukan sekadar tradisi, melainkan pondasi yang harus menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan kearifan lokal yang berpadu dengan khazanah (Islam), peran pemerintah, dan kontribusi perguruan tinggi.

Mudah-mudahan berbagai aktivitas seperti menanam pohon, menghijaukan kota, membangun kembali kebun, mengubah pola makan, sampai membersihkan sungai dan sumber air dapat menjadi ikhtiar kolektif untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya memelihara alam, lingkungan, gunung dan bumi.

Kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan alam, lingkungan, dan bumi bukan hanya bertumpu pada pemerintah, justru menjadi keharusan bersama. Semuanya penting untuk merawat kearifan lokal, terutama nilai budaya pamali, larangan merusak alam, keterlibatan aktif dalam melestarikan hutan, lingkungan, dan sumber daya air. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)