Saat asyik membaca koran Pikiran Rakyat, tiba-tiba muncul notifikasi dari akun @odesaindonesia video berjudul “Kampus di Bandung Dibutuhkan Petani untuk Perbaikan Ekologi dan Pengentasan Kemiskinan” langsung menarik perhatian.
Krisis lingkungan di Bandung membutuhkan peran banyak pihak. Perguruan Tinggi di Bandung mesti memainkan peran pengabdian masyarakat lebih serius. Berkontribusi dengan solidaritas sosial berbagi bibit buah-buahan untuk petani adalah cara baik untuk membantu petani mengatasi krisis ladang pertanian, menumbuhkan tanaman pangan dan memperbaiki ekologi. Mari bergiat bersama untuk pencegahan bencana dari Bandung Utara. Hub [email protected]

Gerakan Kampus untuk Bibit Tanaman Pangan dan Konservasi
Sebelumnya, Faiz Manshur, Ketua Odesa Indonesia menulis di Koran Gala berjudul "Kampus, Pangan, dan Ekologi"
Dunia dilanda krisis pangan dan lingkungan yang membutuhkan kepekaan yang sifatnya responsif. Dua persoalan ini telah menjadi soal hidup di mana penghuni planet bumi sedang ditantang untuk menjawabnya. Dalam menjawab problem keduanya dibutuhkan kemampuan akalbudi secara cerdas, dan kecerdasan akal budi yang berkualitas itu yang mestinya bisa memicu lahirnya gerakan perbaikan.
Gerakan bisa berupa aksi tanam, aksi pencegahan perusakan lingkungan. Bisa berupa kritik, protes dan saran-saran ilmiah untuk sebuah perwujudun perbaikan. Kampus, termasuk institusi pendidikan (pesantren) menjadi penting hadir dalam masalah ini. Posisi dan peran kampus sebagai lembaga edukatif sangat vital karena dalam usaha memperbaiki produktivitas pangan dan memperbaiki lingkungan selalu membutuhkan edukasi.
Dunia pendidikan tidak boleh lepas tangan dari realitas sosial. Jangan sampai ilmu pengetahuan, terlebih kesadaran sosial yang sudah dimiliki ternyata lupa terhadap problem pangan dan lingkungan.
Ingat, pangan dan lingkungan jadi persoalan yang esensial yang terhubung dengan masalah paling mendasar di negeri ini, kemiskinan dan pengangguran. Kampus menghadirkan percakapan ilmiah yang memadai untuk masalah ini, sehingga banjir lumpur yang kerap melanda kota Bandung menjadi bagian advokasi dari kampus.
Kehadiran perguruan tinggi pada isu-isu mendasar di masyarakat seperti ini mestinya dilakukan dengan aksi nyata, bukan sekadar diteliti. Peran sosial kampus perlu hadir dengan perwujudan aksi nyata misalnya, menggumpulkan jutaan pohon yang dibagikan kepada para petani.
Pasalnya, kampus bisa mengeluarkan pandangan-pandangan yang lebih ekologis kepada masyarakat luas, terutama pada pemerintah agar lebih intensif mengambil peran konservasi.
Gerakan kampus menggalang dana untuk bibit tanaman pangan dan tanaman konservasi amat penting dilakukan karena dari tindakan ini memungkinkan masalah kemiskinan petani bisa terbantu. Banyak petani membutuhkan bibit tanaman buah-buahan untuk perlindungan alam dari kerusakan yang terus berjalan.
Dengan hibah bibit yang baik, kampus akan menjadi teladan perbaikan yang nyata karena pohon buah-buahan bisa menjadi solusi atas krisis gizi, (krisis pangan) yang berguna mendinamiskan ekonomi desa sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan. (Koran Gala edisi Minggu, 18 Januari 2026)

Mitigasi dan Waspadai Potensi Bencana di Kawasan Gunung Manglayang
Pemerintah Kota Bandung meningkatkan langkah antisipasi bencana, khususnya di kawasan Bandung Utara (KBU) dan wilayah yang berdekatan dengan kaki Gunung Manglayang. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan kawasan ini menjadi perhatian serius karena jaraknya yang sangat dekat dengan permukiman warga.
Saat ini Pemkot Bandung tengah melakukan penataan dan penguatan mitigasi bencana di sejumlah kecamatan yang berada di sekitar kaki Gunung Manglayang (Kecamatan Mandalajati, Cibiru, dan Ujungberung).
Kedekatan geografis antara titik-titik rawan di lereng Gunung Manglayang dengan wilayah permukiman warga menjadi alasan utama kawasan yang harus mendapat perhatian lebih.
Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung terus menjaga dan memperkuat fungsi ruang terbuka hijau (RTH) yang berada di kawasan ini. Farhan mengaku, pemerintah telah membeli dan membuka banyak RTH, khususnya di Mandalajati dan Cibiru, untuk berfungsi sebagai area penyangga alami.
Kita ingin memastikan semua buffer yang kita punya itu terjaga. Pohonnya jangan sampai digusur, ditebang, atau dialihfungsikan. Soal isu alih fungsi lahan, dijamin tidak terjadi penyimpangan. Penambahan RTH di kawasan Cibiru dan Mandalajati sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir dan merupakan kelanjutan dari kebijakan wali kota sebelumnya.
Diakuinya potensi longsor di kawasan Manglayang masih menjadi ancaman serius. Ini disebabkan jarak antara titik-titik kritis rawan longsor dengan pemukiman warga Kota Bandung yang sangat berdekatan. (www.bandung.go.id dan Metro TV 28 Januari 2026 18:48)
Gunung Manglayang merupakan salah satu gunung yang terletak di kawasan Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Sayangnya, gunung yang memiliki ketinggian 1.804 mdpl ini mengalami kerusakan. Data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat menunjukkan bahwa luas hutan di kawasan Gunung Manglayang yang rusak mencapai 13,85 hektar pada tahun 2020.

Kerusakan ini terjadi pada beberapa sumber air di kawasan Gunung Manglayang, seperti sungai dan mata air yang tercemar oleh sampah dan limbah. Dalam tulisan Nilai Ekologis dalam Upacara Adat Ruwatan Gunung Manglayang, Riyandi dan Yeti Mulyati Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, menyimpulkan upacara adat Ruwatan Gunung Manglayang memiliki nilai-nilai ekologis, sebagai upaya untuk mempertahankan adat dan tradisi upacara ruwatan ini berfungsi untuk menjaga dan melestarikan alam khususnya Gunung Manglayang.
Nilai-nilai ekologis dalam upacara ruwatan Gunung Manglayang adalah pendidikan lingkungan serta keselarasan dan keseimbangan lingkungan. Ini tergambar dari adanya keterlibatan unsur alam dalam upacara dan adanya ketergantungan satu sama lain antara alam dan manusia.
Keterlibatan unsur alam dalam upacara dapat terlihat dari sesajen yang digunakan, sesajen tersebut apabila dimaknai lebih lanjut maka memiliki arti bahwa setiap aspek kehidupan yang dijalani oleh manusia tidak akan terlepas dari keterlibatan unsur alam di dalamnya.
Ketergantungan antara alam dan manusia yang tergambar dalam upacara adat ruwatan gunung Manglayang dapat dilihat secara simbolik dan dengan aksi nyata secara langsung. Manusia dan alam tergantung satu sama lain. Alam memenuhi kebutuhan manusia, dan sebaliknya manusia juga harus merawat alam agar tetap lestari. Ajakan agar menjafga lingkungan khususnya gunung Manglayang dapat terlihat dari syair kidung Dangdang Gula Layang Sari yag secara jelas memerintahkan manusia untuk menjaga gunung Manglayang dan sumber airnya.
Di samping menjaga nilai ekologis yang tergambar secara nyata dalam prosesi nancebkeun pamali, dengan tujuan untuk memperjelas batasan antara hutan larangan, dan hutan garapan. Puncak dari prosesi nancebkeun pamali adalah dengan menanam benih pohon di Gunung Manglayang. (Jurnal Bina Gogik, Volume 10 No. 2 September 2023: 271-282).
Mari kita bandingkan dengan tulisan Rintisan Kawasan Binaan di Lereng Selatan Gunung Manglayang Jawa Barat karya Joko Wiratmo, Dasapta Erwin Irawan, Endah Sulistyawati, mahasiswa ITB.
Wilayah lereng Selatan Gunung Manglayang Jawa Barat, mengalami kerusakan lingkungan akibat perkembangan pembangunan sebagai kota pendidikan dan pemukiman, termasuk penurunan kualitas air tanah dan krisis air bersih.
Gunung Manglayang (6⁰52’32”LS, 107⁰44’37”BT), yang terletak di kawasan Bandung dan sekitarnya, menjadi salah satu gunung yang berperan penting dalam ekosistem regional. Lereng selatannya yang membujur dari wilayah Kabupaten Bandung hingga Kota Bandung, awalnya merupakan area perkebunan dan pedesaan yang dikelilingi oleh vegetasi alami (Trisnadiansyah dkk., 2022). Di sisi timur, sejak tahun 1980-an, Jatinangor telah mengalami transformasi signifikan dengan ditetapkannya kawasan ini sebagai kota pendidikan tinggi (Muslim & Endayana, 2015).
Saat ini, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai perguruan tinggi terkemuka, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Pemerintahan Dalam Negri (IPDN), Universitas Winaya Mukti (UNWIM), dan Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) (Rahman, 2016).
Pertumbuhan pesat institusi pendidikan ini telah mendorong perubahan demografis dan pembangunan infrastruktur yang intensif di daerah tersebut. Transformasi ini telah membawa dampak besar terhadap kondisi lingkungan, khususnya di lereng selatan Gunung Manglayang (Wahyudi dkk., 2019).
Pembangunan yang pesat menyebabkan peningkatan kerusakan lingkungan, mulai dari berkurangnya area hijau, penurunan kualitas tanah, sampai penurunan jumlah sumber mata air bersih. Penurunan jumlah mata air bersih ini menjadi masalah serius yang memperburuk krisis air, terutama di musim kemarau yang diperparah oleh variabilitas iklim seperti El Niño, Dipole Mode positif, dan perubahan iklim global.
Program “Keluarga Sadar Lingkungan” (Kadarling) dirancang untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pelestarian lingkungan yang dirintis untuk wilayah binaan selatan Manglayang.
Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan ini dilakukan di SMA Negeri 24 Bandung yang diikuti oleh 72 siswa yang terbagi dalam dua kelompok: pertama, mengikuti sesi edukatif mengenai cuaca, iklim, air tanah, dan peranan pohon dalam ekosistem. Kedua, terlibat dalam praktikum pengukuran porositas tanah, pengamatan awan, dan teknik penanaman pohon.
Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan pemahaman mahasiswa tentang interaksi antara faktor-faktor lingkungan dan memberikan keterampilan praktis terkait konservasi lingkungan. Program ini diharapkan efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa dan keluarganya serta memberikan kontribusi positif terhadap penghijauan di lingkungan sekolah. (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Volume 2, No. 8, Tahun 2024:3237-3243)

Ruwatan Gunung Manglayang, Merawat Budaya dalam Menjaga Kerusakan Alam
Ketika eksploitasi alam dan alih fungsi lahan terus menggerus kawasan pegunungan, masyarakat di sekitar Gunung Manglayang memilih jalur yang berbeda. Mereka tidak berbicara dengan data teknokratis, jargon kebijakan, melainkan melalui ritual adat Sunda sebagai pengingat alam memiliki batas yang harus dihormati.
Pesan itu tercermin dalam Ritual Ruwatan Gunung Manglayang yang digelar di kawasan wisata Batu Kuda Manglayang, Desa Cikoneng Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Senin (2/2/2026).
Ritual tahunan ini melibatkan budayawan, tokoh masyarakat, komunitas pecinta alam, yang mendapatkan dukungan Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan. Prosesi ruwatan diisi dengan doa bersama, pembacaan doa adat, dan pertunjukan seni tradisional Sunda. Namun di balik rangkaian budaya itu, terselip kegelisahan kolektif atas kondisi lingkungan yang kian tertekan oleh aktivitas manusia.
Penggagas, Abah Njoem (51), menyebut ruwatan bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk refleksi kritis terhadap relasi manusia dengan alam yang mulai timpang.
Tradisi ini sudah ada sejak lama, terakhir dilaksanakan tahun 2004. Sempat terhenti karena disalahpahami. Padahal esensinya bentuk rasa syukur dan pengingat agar manusia tidak semena-mena terhadap alam. Gagasan menghidupkan kembali ruwatan muncul pada 2018 setelah diskusi panjang dengan para sesepuh. Ritual digelar sejak Januari 2019 dan terus berjalan hingga kini.
Persoalan lingkungan saat ini sudah berada pada titik mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan dan pengabaian terhadap daya dukung alam berpotensi memicu bencana. Kalau alam terus ditekan, cepat (lambat) akan ada akibatnya. Longsor, banjir, krisis air itu semua bukan kejadian tiba-tiba.
Pesan ekologis ruwatan tahun ini semakin kuat dengan kehadiran perwakilan masyarakat adat Suku Baduy dari Banten. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan wacana baru, melainkan praktik hidup yang telah lama dijalankan masyarakat adat. Masyarakat Baduy punya filosofi kuat soal batas dan keseimbangan alam. Mereka tidak banyak bicara, tapi konsisten dalam praktik.
Selain sebagai ruang refleksi lingkungan, ruwatan diposisikan sebagai sarana edukasi lintas generasi. Abah menilai generasi muda perlu dilibatkan agar tidak tercerabut dari akar budaya sekaligus peka terhadap isu ekologis.
Kalau anak muda hanya dekat dengan gawai, mereka bisa lupa bahwa hidup bergantung pada alam. Di sini mereka belajar budaya, belajar alam, dan belajar tanggung jawab.
Dukungan datang dari Perhutani. Administratur Perhutani setempat, Mansur Supriatna (56), menyebut ruwatan menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengelolaan kawasan hutan.
Kawasan ini dikelola bersama masyarakat dan pemerintah desa. Kegiatan budaya seperti ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.
Sejak 2019 kegiatan ruwatan terus didorong agar menjadi agenda rutin, bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi sebagai sarana membangun kesadaran kolektif. Kelestarian itu soal dua hal sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kalau manusianya sadar, alamnya bisa dijaga.
Dengan harapan dapat meningkatnya keterlibatan generasi muda dari tahun ke tahun, termasuk mahasiswa dan komunitas lingkungan. Ruwatan Gunung Manglayang kini telah ditetapkan sebagai agenda tahunan setiap 2 Februari. Di tengah tekanan pembangunan dan perubahan lanskap alam, ritual ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal masih relevan sebagai alarm dini terhadap krisis lingkungan yang kian nyata. (Koran Mandala, Senin, 2 Februari 2026 16:01 WIB)

Hadirnya Ruwatan Gunung Manglayang bukan sekadar tradisi, melainkan pondasi yang harus menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan kearifan lokal yang berpadu dengan khazanah (Islam), peran pemerintah, dan kontribusi perguruan tinggi.
Mudah-mudahan berbagai aktivitas seperti menanam pohon, menghijaukan kota, membangun kembali kebun, mengubah pola makan, sampai membersihkan sungai dan sumber air dapat menjadi ikhtiar kolektif untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya memelihara alam, lingkungan, gunung dan bumi.
Kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan alam, lingkungan, dan bumi bukan hanya bertumpu pada pemerintah, justru menjadi keharusan bersama. Semuanya penting untuk merawat kearifan lokal, terutama nilai budaya pamali, larangan merusak alam, keterlibatan aktif dalam melestarikan hutan, lingkungan, dan sumber daya air. (*)
