Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Tragedi Penembakan Rene Louis Coenraad, Razia Rambut Gondrong Orde Baru Berujung Petaka Berdarah

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 04 Feb 2026, 17:55 WIB
Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)

Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)

AYOBANDUNG.ID - Indonesia pernah punya masa ketika rambut bisa dianggap ancaman negara. Bukan karena di dalamnya tersembunyi bom atau sandi rahasia, melainkan karena ia terlalu panjang dan dianggap terlalu bebas. Pada awal Orde Baru, rambut gondrong bukan sekadar urusan gaya, tetapi simbol perlawanan yang harus ditertibkan. Dari sinilah sebuah tragedi berdarah bermula, sebuah peristiwa yang mengubah hubungan mahasiswa dengan aparat negara, dan meninggalkan luka panjang dalam sejarah Indonesia. Nama tragedi itu kemudian dikenang sebagai Tragedi Rene Louis Coenraad.

Pada Selasa Pahing, 6 Oktober 1970, suasana Bandung sebenarnya sedang biasa saja. Mahasiswa lalu-lalang di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung, udara sejuk pegunungan menyelusup ke sela pepohonan, dan kehidupan akademik berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menduga bahwa sore itu akan berubah menjadi salah satu hari paling gelap dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia.

Rene Louis Coenraad, mahasiswa teknik elektro ITB berusia 22 tahun, bukan tokoh politik, bukan pemimpin demonstrasi, apalagi agitator. Ia hanya seorang mahasiswa dengan rambut gondrong, keturunan Indo, berpenampilan khas anak muda kota, dan penggemar motor besar. Dalam ukuran Orde Baru, kombinasi itu sudah cukup untuk dicurigai.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Kematian Rene tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak dari ketegangan panjang antara negara yang ingin serba rapi dan warga muda yang ingin bernapas lebih bebas. Rambut, dalam konteks ini, hanyalah pemantik. Di baliknya, ada relasi kuasa, ada arogansi berseragam, dan ada negara yang sedang belajar keras bagaimana cara memerintah dengan rasa takut.

Pada tahun 1970, Orde Baru masih muda dan sangat sensitif. Segala hal yang dianggap menyimpang dari citra ideal pembangunan langsung dicurigai sebagai pengaruh Barat atau sisa-sisa kekacauan masa lalu. Rambut gondrong masuk daftar hitam. Ia dianggap simbol kebebasan liar, budaya asing, dan potensi pembangkangan.

Bandung menjadi salah satu medan utama penertiban. Kota mahasiswa ini dipenuhi anak muda kritis, kreatif, dan tidak terlalu peduli pada aturan estetika versi negara. Razia rambut gondrong pun digelar besar-besaran. Polisi turun ke jalan, memeriksa kepala orang, dan menggunting rambut secara paksa. Bagi aparat, ini tugas. Bagi mahasiswa, ini penghinaan.

Yang membuat situasi semakin panas adalah keterlibatan taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagian Kepolisian. Mereka adalah calon perwira, masih muda, penuh percaya diri, dan dibekali senjata serta legitimasi kekuasaan. Dalam praktiknya, razia ini sering berubah menjadi ajang pamer kuasa. Rambut digunting, martabat ikut tercabik.

Baca Juga: Yang Dilakukan Soekarno Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

Ketegangan meningkat ketika dosen dan asisten dosen ITB ikut terkena razia. Kampus merasa dilecehkan. Dewan Mahasiswa ITB mengecam tindakan ini sebagai pelanggaran hak asasi dan tindakan sewenang-wenang tanpa dasar hukum yang jelas. Relasi antara mahasiswa dan aparat pun memasuki fase paling rapuh.

Dalam upaya meredakan situasi, muncul ide yang terdengar masuk akal di atas kertas. Sebuah pertandingan sepak bola persahabatan antara mahasiswa ITB dan taruna Akabri Kepolisian. Logikanya sederhana. Kalau sudah capek berteriak, lebih baik berlari. Kalau sudah panas, mungkin lapangan hijau bisa mendinginkan suasana.

Sayangnya, logika itu gagal total.

Pertandingan berlangsung panas sejak menit awal. Ini bukan sekadar sepak bola. Ini duel gengsi. Mahasiswa menang dua gol tanpa balas. Kemenangan itu disambut sorak-sorai, yel-yel, dan ejekan terhadap kebijakan anti gondrong. Para taruna merasa dipermalukan. Api yang tadinya disimpan kini tersulut terbuka.

Setelah pertandingan, para taruna dievakuasi ke bus dan truk. Namun bukannya langsung kembali ke markas, rombongan justru berhenti di Jalan Ganesha, tepat di depan kantin asrama mahasiswa. Keputusan ini kelak dikenang sebagai awal dari petaka.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Ibunda Rene Coenraad memarahi petinggi Polri. (Sumber: socio-politica.com)
Ibunda Rene Coenraad memarahi petinggi Polri. (Sumber: socio-politica.com)

Sore Berdarah di Jalan Ganesha

Rene Louis Coenraad tidak ikut menyaksikan pertandingan hingga selesai. Ia sedang mengurus urusan lain di kampus. Sore itu, ia melintas dengan motor Harley Davidson bersama temannya. Rambutnya gondrong, penampilannya mencolok, dan tanpa ia sadari, ia sedang melintas di hadapan sekelompok taruna yang masih terbakar emosi.

Dari atas kendaraan, seseorang meludahi Rene. Sebuah tindakan kecil, tetapi sarat penghinaan. Rene berhenti. Ia menantang pelaku untuk turun dan bertanggung jawab. Tantangan itu dijawab secara kolektif. Puluhan taruna melompat turun. Keroyokan pun terjadi.

Teman Rene berhasil meloloskan diri. Rene tidak. Ia dipukul, ditendang, dihantam bertubi-tubi. Di tengah kekacauan itu, terdengar letusan senjata api. Rene roboh. Darah mengalir. Peluru menembus tubuhnya dari arah atas.

Bukannya ditolong, tubuh Rene yang sudah tak berdaya justru diseret dan dilempar ke belakang sebuah jip polisi. Setelah itu, ia menghilang. Mahasiswa mencari ke rumah sakit. Tidak ada. Seolah Rene lenyap ditelan sore.

Pencarian berujung di Markas Kepolisian Kota Besar Bandung. Di sebuah ruangan seperti gudang, jasad Rene ditemukan. Wajahnya bengkak, tubuhnya penuh luka, pakaiannya compang-camping, dan luka tembak terlihat jelas. Kematian itu bukan kecelakaan. Ia adalah hasil dari kekerasan brutal yang tidak terkendali.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Kabar kematian Rene menyebar cepat. Bandung bergolak. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi meledak. Poster-poster bernada kemarahan memenuhi kota. Hubungan sipil dan militer yang selama ini tegang kini pecah terbuka.

Gelombang solidaritas datang dari berbagai kampus di Indonesia. Mahasiswa mendatangi Presiden Soeharto, menuntut peninjauan ulang relasi kekuasaan antara aparat dan warga sipil. Tragedi ini tidak lagi soal rambut gondrong. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap arogansi negara.

Proses hukum yang menyusul justru menambah luka. Seorang anggota Brimob berpangkat rendah dijadikan terdakwa. Sementara para taruna yang berada di lokasi justru terlindungi. Bukti dan kesaksian berputar-putar, tetapi keadilan terasa menjauh.

Vonis dijatuhkan ringan. Para perwira muda akhirnya dibebaskan. Karier mereka terus melesat. Sebagian bahkan mencapai jabatan strategis di kemudian hari. Sementara itu, nama Rene Louis Coenraad tinggal menjadi catatan sejarah, dikenang oleh mahasiswa, aktivis, dan mereka yang percaya bahwa negara seharusnya melindungi, bukan menembak.

Baca Juga: Hikayat Kasus Ferdy Sambo, Terbongkarnya Konspirasi Gelap Polisi di Duren Tiga

Tragedi Rene menunjukkan wajah Orde Baru yang sesungguhnya. Negara yang rapi di permukaan, tetapi kasar di lapangan. Negara yang mengatur rambut, tetapi gagal mengendalikan senjata. Dari peristiwa ini, Indonesia belajar bahwa kekuasaan tanpa kontrol hanya akan melahirkan korban.

Lebih dari setengah abad berlalu, rambut gondrong kini bukan lagi masalah negara. Tetapi ingatan tentang seorang mahasiswa yang tewas karena sejumput kebebasan tetap relevan. Tragedi Rene Louis Coenraad mengingatkan bahwa ketika kekuasaan merasa paling benar, nyawa manusia sering kali menjadi harga yang dianggap wajar.

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)