Tragedi Penembakan Rene Louis Coenraad, Razia Rambut Gondrong Orde Baru Berujung Petaka Berdarah

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)
Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)

AYOBANDUNG.ID - Indonesia pernah punya masa ketika rambut bisa dianggap ancaman negara. Bukan karena di dalamnya tersembunyi bom atau sandi rahasia, melainkan karena ia terlalu panjang dan dianggap terlalu bebas. Pada awal Orde Baru, rambut gondrong bukan sekadar urusan gaya, tetapi simbol perlawanan yang harus ditertibkan. Dari sinilah sebuah tragedi berdarah bermula, sebuah peristiwa yang mengubah hubungan mahasiswa dengan aparat negara, dan meninggalkan luka panjang dalam sejarah Indonesia. Nama tragedi itu kemudian dikenang sebagai Tragedi Rene Louis Coenraad.

Pada Selasa Pahing, 6 Oktober 1970, suasana Bandung sebenarnya sedang biasa saja. Mahasiswa lalu-lalang di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung, udara sejuk pegunungan menyelusup ke sela pepohonan, dan kehidupan akademik berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menduga bahwa sore itu akan berubah menjadi salah satu hari paling gelap dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia.

Rene Louis Coenraad, mahasiswa teknik elektro ITB berusia 22 tahun, bukan tokoh politik, bukan pemimpin demonstrasi, apalagi agitator. Ia hanya seorang mahasiswa dengan rambut gondrong, keturunan Indo, berpenampilan khas anak muda kota, dan penggemar motor besar. Dalam ukuran Orde Baru, kombinasi itu sudah cukup untuk dicurigai.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Kematian Rene tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak dari ketegangan panjang antara negara yang ingin serba rapi dan warga muda yang ingin bernapas lebih bebas. Rambut, dalam konteks ini, hanyalah pemantik. Di baliknya, ada relasi kuasa, ada arogansi berseragam, dan ada negara yang sedang belajar keras bagaimana cara memerintah dengan rasa takut.

Pada tahun 1970, Orde Baru masih muda dan sangat sensitif. Segala hal yang dianggap menyimpang dari citra ideal pembangunan langsung dicurigai sebagai pengaruh Barat atau sisa-sisa kekacauan masa lalu. Rambut gondrong masuk daftar hitam. Ia dianggap simbol kebebasan liar, budaya asing, dan potensi pembangkangan.

Bandung menjadi salah satu medan utama penertiban. Kota mahasiswa ini dipenuhi anak muda kritis, kreatif, dan tidak terlalu peduli pada aturan estetika versi negara. Razia rambut gondrong pun digelar besar-besaran. Polisi turun ke jalan, memeriksa kepala orang, dan menggunting rambut secara paksa. Bagi aparat, ini tugas. Bagi mahasiswa, ini penghinaan.

Yang membuat situasi semakin panas adalah keterlibatan taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagian Kepolisian. Mereka adalah calon perwira, masih muda, penuh percaya diri, dan dibekali senjata serta legitimasi kekuasaan. Dalam praktiknya, razia ini sering berubah menjadi ajang pamer kuasa. Rambut digunting, martabat ikut tercabik.

Baca Juga: Yang Dilakukan Soekarno Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

Ketegangan meningkat ketika dosen dan asisten dosen ITB ikut terkena razia. Kampus merasa dilecehkan. Dewan Mahasiswa ITB mengecam tindakan ini sebagai pelanggaran hak asasi dan tindakan sewenang-wenang tanpa dasar hukum yang jelas. Relasi antara mahasiswa dan aparat pun memasuki fase paling rapuh.

Dalam upaya meredakan situasi, muncul ide yang terdengar masuk akal di atas kertas. Sebuah pertandingan sepak bola persahabatan antara mahasiswa ITB dan taruna Akabri Kepolisian. Logikanya sederhana. Kalau sudah capek berteriak, lebih baik berlari. Kalau sudah panas, mungkin lapangan hijau bisa mendinginkan suasana.

Sayangnya, logika itu gagal total.

Pertandingan berlangsung panas sejak menit awal. Ini bukan sekadar sepak bola. Ini duel gengsi. Mahasiswa menang dua gol tanpa balas. Kemenangan itu disambut sorak-sorai, yel-yel, dan ejekan terhadap kebijakan anti gondrong. Para taruna merasa dipermalukan. Api yang tadinya disimpan kini tersulut terbuka.

Setelah pertandingan, para taruna dievakuasi ke bus dan truk. Namun bukannya langsung kembali ke markas, rombongan justru berhenti di Jalan Ganesha, tepat di depan kantin asrama mahasiswa. Keputusan ini kelak dikenang sebagai awal dari petaka.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Ibunda Rene Coenraad memarahi petinggi Polri. (Sumber: socio-politica.com)
Ibunda Rene Coenraad memarahi petinggi Polri. (Sumber: socio-politica.com)

Sore Berdarah di Jalan Ganesha

Rene Louis Coenraad tidak ikut menyaksikan pertandingan hingga selesai. Ia sedang mengurus urusan lain di kampus. Sore itu, ia melintas dengan motor Harley Davidson bersama temannya. Rambutnya gondrong, penampilannya mencolok, dan tanpa ia sadari, ia sedang melintas di hadapan sekelompok taruna yang masih terbakar emosi.

Dari atas kendaraan, seseorang meludahi Rene. Sebuah tindakan kecil, tetapi sarat penghinaan. Rene berhenti. Ia menantang pelaku untuk turun dan bertanggung jawab. Tantangan itu dijawab secara kolektif. Puluhan taruna melompat turun. Keroyokan pun terjadi.

Teman Rene berhasil meloloskan diri. Rene tidak. Ia dipukul, ditendang, dihantam bertubi-tubi. Di tengah kekacauan itu, terdengar letusan senjata api. Rene roboh. Darah mengalir. Peluru menembus tubuhnya dari arah atas.

Bukannya ditolong, tubuh Rene yang sudah tak berdaya justru diseret dan dilempar ke belakang sebuah jip polisi. Setelah itu, ia menghilang. Mahasiswa mencari ke rumah sakit. Tidak ada. Seolah Rene lenyap ditelan sore.

Pencarian berujung di Markas Kepolisian Kota Besar Bandung. Di sebuah ruangan seperti gudang, jasad Rene ditemukan. Wajahnya bengkak, tubuhnya penuh luka, pakaiannya compang-camping, dan luka tembak terlihat jelas. Kematian itu bukan kecelakaan. Ia adalah hasil dari kekerasan brutal yang tidak terkendali.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Kabar kematian Rene menyebar cepat. Bandung bergolak. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi meledak. Poster-poster bernada kemarahan memenuhi kota. Hubungan sipil dan militer yang selama ini tegang kini pecah terbuka.

Gelombang solidaritas datang dari berbagai kampus di Indonesia. Mahasiswa mendatangi Presiden Soeharto, menuntut peninjauan ulang relasi kekuasaan antara aparat dan warga sipil. Tragedi ini tidak lagi soal rambut gondrong. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap arogansi negara.

Proses hukum yang menyusul justru menambah luka. Seorang anggota Brimob berpangkat rendah dijadikan terdakwa. Sementara para taruna yang berada di lokasi justru terlindungi. Bukti dan kesaksian berputar-putar, tetapi keadilan terasa menjauh.

Vonis dijatuhkan ringan. Para perwira muda akhirnya dibebaskan. Karier mereka terus melesat. Sebagian bahkan mencapai jabatan strategis di kemudian hari. Sementara itu, nama Rene Louis Coenraad tinggal menjadi catatan sejarah, dikenang oleh mahasiswa, aktivis, dan mereka yang percaya bahwa negara seharusnya melindungi, bukan menembak.

Baca Juga: Hikayat Kasus Ferdy Sambo, Terbongkarnya Konspirasi Gelap Polisi di Duren Tiga

Tragedi Rene menunjukkan wajah Orde Baru yang sesungguhnya. Negara yang rapi di permukaan, tetapi kasar di lapangan. Negara yang mengatur rambut, tetapi gagal mengendalikan senjata. Dari peristiwa ini, Indonesia belajar bahwa kekuasaan tanpa kontrol hanya akan melahirkan korban.

Lebih dari setengah abad berlalu, rambut gondrong kini bukan lagi masalah negara. Tetapi ingatan tentang seorang mahasiswa yang tewas karena sejumput kebebasan tetap relevan. Tragedi Rene Louis Coenraad mengingatkan bahwa ketika kekuasaan merasa paling benar, nyawa manusia sering kali menjadi harga yang dianggap wajar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)