AYOBANDUNG.ID - Indonesia pernah punya masa ketika rambut bisa dianggap ancaman negara. Bukan karena di dalamnya tersembunyi bom atau sandi rahasia, melainkan karena ia terlalu panjang dan dianggap terlalu bebas. Pada awal Orde Baru, rambut gondrong bukan sekadar urusan gaya, tetapi simbol perlawanan yang harus ditertibkan. Dari sinilah sebuah tragedi berdarah bermula, sebuah peristiwa yang mengubah hubungan mahasiswa dengan aparat negara, dan meninggalkan luka panjang dalam sejarah Indonesia. Nama tragedi itu kemudian dikenang sebagai Tragedi Rene Louis Coenraad.
Pada Selasa Pahing, 6 Oktober 1970, suasana Bandung sebenarnya sedang biasa saja. Mahasiswa lalu-lalang di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung, udara sejuk pegunungan menyelusup ke sela pepohonan, dan kehidupan akademik berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menduga bahwa sore itu akan berubah menjadi salah satu hari paling gelap dalam sejarah gerakan mahasiswa Indonesia.
Rene Louis Coenraad, mahasiswa teknik elektro ITB berusia 22 tahun, bukan tokoh politik, bukan pemimpin demonstrasi, apalagi agitator. Ia hanya seorang mahasiswa dengan rambut gondrong, keturunan Indo, berpenampilan khas anak muda kota, dan penggemar motor besar. Dalam ukuran Orde Baru, kombinasi itu sudah cukup untuk dicurigai.
Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana
Kematian Rene tidak berdiri sendiri. Ia adalah puncak dari ketegangan panjang antara negara yang ingin serba rapi dan warga muda yang ingin bernapas lebih bebas. Rambut, dalam konteks ini, hanyalah pemantik. Di baliknya, ada relasi kuasa, ada arogansi berseragam, dan ada negara yang sedang belajar keras bagaimana cara memerintah dengan rasa takut.
Pada tahun 1970, Orde Baru masih muda dan sangat sensitif. Segala hal yang dianggap menyimpang dari citra ideal pembangunan langsung dicurigai sebagai pengaruh Barat atau sisa-sisa kekacauan masa lalu. Rambut gondrong masuk daftar hitam. Ia dianggap simbol kebebasan liar, budaya asing, dan potensi pembangkangan.
Bandung menjadi salah satu medan utama penertiban. Kota mahasiswa ini dipenuhi anak muda kritis, kreatif, dan tidak terlalu peduli pada aturan estetika versi negara. Razia rambut gondrong pun digelar besar-besaran. Polisi turun ke jalan, memeriksa kepala orang, dan menggunting rambut secara paksa. Bagi aparat, ini tugas. Bagi mahasiswa, ini penghinaan.
Yang membuat situasi semakin panas adalah keterlibatan taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagian Kepolisian. Mereka adalah calon perwira, masih muda, penuh percaya diri, dan dibekali senjata serta legitimasi kekuasaan. Dalam praktiknya, razia ini sering berubah menjadi ajang pamer kuasa. Rambut digunting, martabat ikut tercabik.
Baca Juga: Yang Dilakukan Soekarno Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan
Ketegangan meningkat ketika dosen dan asisten dosen ITB ikut terkena razia. Kampus merasa dilecehkan. Dewan Mahasiswa ITB mengecam tindakan ini sebagai pelanggaran hak asasi dan tindakan sewenang-wenang tanpa dasar hukum yang jelas. Relasi antara mahasiswa dan aparat pun memasuki fase paling rapuh.
Dalam upaya meredakan situasi, muncul ide yang terdengar masuk akal di atas kertas. Sebuah pertandingan sepak bola persahabatan antara mahasiswa ITB dan taruna Akabri Kepolisian. Logikanya sederhana. Kalau sudah capek berteriak, lebih baik berlari. Kalau sudah panas, mungkin lapangan hijau bisa mendinginkan suasana.
Sayangnya, logika itu gagal total.
Pertandingan berlangsung panas sejak menit awal. Ini bukan sekadar sepak bola. Ini duel gengsi. Mahasiswa menang dua gol tanpa balas. Kemenangan itu disambut sorak-sorai, yel-yel, dan ejekan terhadap kebijakan anti gondrong. Para taruna merasa dipermalukan. Api yang tadinya disimpan kini tersulut terbuka.
Setelah pertandingan, para taruna dievakuasi ke bus dan truk. Namun bukannya langsung kembali ke markas, rombongan justru berhenti di Jalan Ganesha, tepat di depan kantin asrama mahasiswa. Keputusan ini kelak dikenang sebagai awal dari petaka.
Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Sore Berdarah di Jalan Ganesha
Rene Louis Coenraad tidak ikut menyaksikan pertandingan hingga selesai. Ia sedang mengurus urusan lain di kampus. Sore itu, ia melintas dengan motor Harley Davidson bersama temannya. Rambutnya gondrong, penampilannya mencolok, dan tanpa ia sadari, ia sedang melintas di hadapan sekelompok taruna yang masih terbakar emosi.
Dari atas kendaraan, seseorang meludahi Rene. Sebuah tindakan kecil, tetapi sarat penghinaan. Rene berhenti. Ia menantang pelaku untuk turun dan bertanggung jawab. Tantangan itu dijawab secara kolektif. Puluhan taruna melompat turun. Keroyokan pun terjadi.
Teman Rene berhasil meloloskan diri. Rene tidak. Ia dipukul, ditendang, dihantam bertubi-tubi. Di tengah kekacauan itu, terdengar letusan senjata api. Rene roboh. Darah mengalir. Peluru menembus tubuhnya dari arah atas.
Bukannya ditolong, tubuh Rene yang sudah tak berdaya justru diseret dan dilempar ke belakang sebuah jip polisi. Setelah itu, ia menghilang. Mahasiswa mencari ke rumah sakit. Tidak ada. Seolah Rene lenyap ditelan sore.
Pencarian berujung di Markas Kepolisian Kota Besar Bandung. Di sebuah ruangan seperti gudang, jasad Rene ditemukan. Wajahnya bengkak, tubuhnya penuh luka, pakaiannya compang-camping, dan luka tembak terlihat jelas. Kematian itu bukan kecelakaan. Ia adalah hasil dari kekerasan brutal yang tidak terkendali.
Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan
Kabar kematian Rene menyebar cepat. Bandung bergolak. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Demonstrasi meledak. Poster-poster bernada kemarahan memenuhi kota. Hubungan sipil dan militer yang selama ini tegang kini pecah terbuka.
Gelombang solidaritas datang dari berbagai kampus di Indonesia. Mahasiswa mendatangi Presiden Soeharto, menuntut peninjauan ulang relasi kekuasaan antara aparat dan warga sipil. Tragedi ini tidak lagi soal rambut gondrong. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap arogansi negara.
Proses hukum yang menyusul justru menambah luka. Seorang anggota Brimob berpangkat rendah dijadikan terdakwa. Sementara para taruna yang berada di lokasi justru terlindungi. Bukti dan kesaksian berputar-putar, tetapi keadilan terasa menjauh.
Vonis dijatuhkan ringan. Para perwira muda akhirnya dibebaskan. Karier mereka terus melesat. Sebagian bahkan mencapai jabatan strategis di kemudian hari. Sementara itu, nama Rene Louis Coenraad tinggal menjadi catatan sejarah, dikenang oleh mahasiswa, aktivis, dan mereka yang percaya bahwa negara seharusnya melindungi, bukan menembak.
Baca Juga: Hikayat Kasus Ferdy Sambo, Terbongkarnya Konspirasi Gelap Polisi di Duren Tiga
Tragedi Rene menunjukkan wajah Orde Baru yang sesungguhnya. Negara yang rapi di permukaan, tetapi kasar di lapangan. Negara yang mengatur rambut, tetapi gagal mengendalikan senjata. Dari peristiwa ini, Indonesia belajar bahwa kekuasaan tanpa kontrol hanya akan melahirkan korban.
Lebih dari setengah abad berlalu, rambut gondrong kini bukan lagi masalah negara. Tetapi ingatan tentang seorang mahasiswa yang tewas karena sejumput kebebasan tetap relevan. Tragedi Rene Louis Coenraad mengingatkan bahwa ketika kekuasaan merasa paling benar, nyawa manusia sering kali menjadi harga yang dianggap wajar.
