Hikayat Kasus Ferdy Sambo, Terbongkarnya Konspirasi Gelap Polisi di Duren Tiga

9 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ferdi Sambo (kiri) dan Brigadir Yosua (kanan).
Ferdi Sambo (kiri) dan Brigadir Yosua (kanan).

AYOBANDUNG.ID - Kasus Ferdy Sambo, yang mengguncang dunia kepolisian Indonesia pada 2022, adalah kisah nyata yang seolah ditulis oleh penulis fiksi kriminal yang kehilangan akal sehat. Semua tokohnya berpangkat, berseragam, dan bersenjata. Semua peristiwanya terjadi di rumah dinas pejabat kepolisian, dengan CCTV yang entah kenapa selalu rusak di waktu yang paling penting. Dan korban utamanya? Seorang ajudan muda yang setia, yang tidak pernah menduga bahwa kesetiaan di institusi itu ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa.

Ferdy Sambo bukan nama kecil di kepolisian. Sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, dia adalah “polisi dari para polisi”. Tugasnya menjaga agar anak buah tetap patuh pada kode etik. Ironisnya, justru dari tangannya lahir salah satu pelanggaran paling brutal dalam sejarah institusi itu: pembunuhan berencana terhadap ajudannya sendiri, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, yang juga dikenal sebagai Brigadir J.

Yosua bukan sekadar ajudan biasa. Lahir di Muaro Jambi, ia dikenal sebagai polisi muda pekerja keras yang kerap mengikuti Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, ke mana pun mereka pergi. Ia bukan orang yang berani membantah perintah, dan tabiat itulah pula yang mengantarkannya menuju maut. Pada 5 Juli 2022, Yosua ikut rombongan perjalanan dari Jakarta ke Magelang bersama Putri dan beberapa ajudan lain: Bharada Richard Eliezer (Bharada E), Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf. Rombongan ini berniat berlibur di rumah peristirahatan keluarga Sambo. Tak ada yang tahu bahwa liburan itu akan menjadi awal dari sebuah drama berdarah.

Di Magelang, pada malam 6 Juli, Putri mengaku mengalami pelecehan dari Yosua. Klaim itu kemudian menjadi bahan bakar utama kemarahan Sambo. Sayangnya, semua bukti yang ada menunjukkan hal sebaliknya. Tapi Sambo, yang terbiasa mengatur urusan anak buah, tampaknya lebih percaya pada cerita daripada bukti. Ia memutuskan untuk menjadi hakim, jaksa, sekaligus algojo.

Baca Juga: Hikayat Kasus Reynhard Sinaga, Jejak Dosa 3,29 Terabita Predator Seksual Paling Keji dalam Sejarah Inggris

Pagi berikutnya, tanggal 7 Juli, Sambo menemui Putri. Setelah mendengar ceritanya, ia menghubungi Ricky Rizal dan menanyakan apakah sang sopir bersedia menembak Yosua. Ricky menolak dengan sopan. Sambo lalu beralih ke Bharada E, ajudan muda yang setia tanpa banyak tanya. “Siap, Komandan,” jawab Bharada E, kalimat sederhana yang akan menghantarnya ke pengadilan beberapa bulan kemudian. Sambo pun memberikan sekotak peluru kaliber 9 mm, memastikan rencana pembalasan berjalan mulus.

Sore harinya, rombongan itu kembali ke Jakarta. Yosua, yang mungkin hanya berpikir untuk segera kembali bertugas, duduk di mobil tanpa curiga. Tak ada yang memberitahunya bahwa di Duren Tiga, Jakarta Selatan, rumah dinas Sambo sudah disiapkan untuk menjadi panggung terakhir hidupnya.

Rombongan ini tiba sekitar pukul lima sore. Putri naik ke kamar, Yosua turun ke taman belakang. Sambo datang beberapa menit kemudian, menenteng pistol dan mengenakan sarung tangan hitam, pertanda klasik bahwa ia tidak datang untuk berdamai. Ia memanggil Kuat Ma’ruf untuk mencari Yosua, lalu menghadapi ajudannya itu di ruang tamu. Kata-kata yang keluar dari mulut Sambo singkat dan beracun. Yosua hanya sempat kebingungan sebelum diminta jongkok. Sambo lalu berteriak memanggil Bharada E, memberi perintah terakhirnya: menembak.

Bharada E, dengan tangan gemetar, menembak Yosua beberapa kali. Yosua terjatuh, tubuhnya gemetar, darahnya menggenang di lantai. Tapi Sambo belum puas. Ia mendekat, mengarahkan pistol ke kepala kiri belakang Yosua, dan melepaskan satu peluru terakhir. Brigadir J tewas seketika. Polisi menembak polisi di rumah polisi. Semua terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Sandiwara, Rekayasa, dan Runtuhnya Kekuasaan Sambo

Setelah darah berhenti mengalir, Sambo mulai menyusun cerita. Ia tahu sistem; ia tahu bagaimana menulis laporan. Ia menembakkan beberapa peluru ke dinding untuk menciptakan adegan baku tembak. Senjata Yosua diposisikan agar tampak seperti digunakan untuk melawan. Putri keluar kamar, berpura-pura histeris. Ricky Rizal diminta mengantarnya pulang ke rumah pribadi mereka di Saguling. Semua sudah diatur agar tampak logis, atau setidaknya cukup logis bagi yang tidak ingin tahu lebih dalam.

Pada malam itu juga, jenazah Yosua dibawa ke RS Bhayangkara Raden Said Sukanto. Jenazah dikirim ke Jambi tanpa penghormatan resmi, dan di situlah cerita resmi mulai retak.

Penembakan Brigadir J terjadi pada 8 Juli 2023, namun kasusnya baru pertama kali diungkap ke publik pada 11 Juli atau dua hari kemudian. Versi kepolisian saat itu menyebut baku tembak terjadi antara Brigadir J dan Bharada E setelah Brigadir J disebutkan melakukan pelecehan serta menodongkan senjata pistol ke kepala istri Ferdy Sambo.

Disebutkan bahwa Brigadir J sempat masuk ke kamar pribadi Kepala Divisi Propam. Di dalam ruangan itu, ada istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Tak lama setelah Brigadir J masuk, Putri menjerit keras. Jeritan itu membuat Brigadir J panik dan buru-buru keluar kamar. Pada saat yang hampir bersamaan, Bharada E yang berada di lantai atas mendengar suara tersebut. Ia sempat bertanya dari atas mengenai apa yang terjadi. Namun sebelum sempat mendapat jawaban, Brigadir J dikabarkan menembak ke arah Bharada E. Tembakan itu dibalas, dan baku tembak pun terjadi. Akibatnya, Brigadir J tewas dengan lima luka tembak di tubuhnya.

Baca Juga: Hikayat Pelarian Eddy Tansil, Koruptor Legendaris Paling Diburu di Indonesia

Ferdy Sambo saat menjalani persidangan.
Ferdy Sambo saat menjalani persidangan.

Keluarga Yosua merasa ada yang aneh. Wajah jenazah lebam, luka-lukanya terlalu banyak untuk sekadar baku tembak. Ketika peti dibuka, mereka menemukan memar dan jahitan aneh. Sementara itu, polisi datang membawa narasi yang terlalu rapi: katanya Yosua lebih dulu menyerang, lalu dibalas oleh Bharada E. CCTV di rumah dinas rusak, ponsel Yosua hilang, dan tidak ada saksi luar. Terlalu sempurna untuk sebuah kecelakaan.

Beberapa hari setelah insiden itu, badai mulai berubah arah. Media, yang semula menelan mentah-mentah versi resmi polisi, mulai menggali sendiri. Laporan demi laporan muncul, menyoroti keanehan kronologi. Kok bisa kejadian sebesar ini ditangani dengan begitu terburu-buru? Kenapa hasil autopsi dan barang bukti seolah disembunyikan?

Tekanan publik meledak. Orang-orang yang sebelumnya tak pernah peduli urusan kepolisian kini mendadak jadi analis balistik dan ahli forensik amatir. Di sinilah titik balik penyelidikan terjadi. Desakan publik memaksa Kapolri membentuk tim khusus. Dan di titik inilah, kisah Ferdy Sambo mulai berubah dari sekadar kasus internal polisi menjadi panggung drama nasional.

Baca Juga: Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

Pada 12 Juli, Kapolri Listyo Sigit membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus ini. Tapi langkah itu tidak langsung mengubah keadaan. Sambo masih kuat, jaringan loyalitas di tubuh Polri terlalu lebar. Baru pada 18 Juli, setelah tekanan publik meningkat dan laporan keluarga Yosua masuk ke Bareskrim, Sambo dinonaktifkan. Angin mulai berbalik.

Tim khusus bekerja dengan cara yang tidak lagi bisa dikontrol oleh narasi lama. Mereka menemukan bahwa tak ada baku tembak, tak ada pelecehan, dan tak ada duel pistol ala film koboi. Yang ada hanyalah eksekusi. Penembakan yang dilakukan atas perintah atasan. Yosua ditembak mati di tempat, lalu TKP disulap seolah-olah ia pelaku, bukan korban.

Di internal kepolisian sendiri, suasana genting. Sambo, yang dikenal disegani bahkan oleh perwira tinggi lain, kini jadi beban institusi. Banyak yang mendadak cuci tangan. Rekan-rekan yang dulu memujanya dengan panggilan “abang” kini mulai menghindar. Di titik ini, publik kembali jadi wasit: setiap langkah polisi dipantau, setiap keterangan pers dikupas tuntas di jagat maya.

Tapi drama ini tidak berhenti di ruang penyelidikan. Ia tumbuh, mekar, dan menjalar ke ruang publik seperti rumor di warung kopi. Setiap tersangka disorot bukan hanya tindakannya, tapi juga latar belakangnya. Media menggali segala yang bisa digali: riwayat pendidikan, gaya hidup, bahkan ekspresi wajah di ruang sidang.

Putri Candrawathi, misalnya, menjadi magnet perhatian. Ada yang kasihan, ada yang mencibir. Dalam setiap kemunculannya di depan kamera, publik membaca bahasa tubuhnya seperti menebak rahasia negara. Sementara itu, Kuat Ma’ruf sang sopir tiba-tiba jadi tokoh misterius. Ia digambarkan setia, diam, tapi penuh rahasia. Di luar sidang, gosip beredar: jangan-jangan ada hubungan lebih dari sekadar majikan dan sopir. Ia disebut Om Kuat oleh beberapa outlet media. Gosip sensasional yang tak pernah terbukti, tapi cukup untuk membuat ruang komentar daring bergemuruh.

Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam

Drama sidang pun tidak kalah megah. Setiap hari, media menyiarkan langsung dari ruang persidangan seperti sedang menayangkan serial hukum paling laku. Ferdy Sambo tampil dengan wajah tenang dan kalimat terukur, tapi publik sudah telanjur menilai. Ia dianggap aktor utama, dalang di balik skenario kelam.

Dalam ruang sidang itu, satu per satu fakta muncul. Dari pengakuan saksi, rekonstruksi, hingga bukti digital. Masing-masing menambah lapisan baru pada narasi yang sudah sesak. Publik seolah diajak menonton film kriminal dengan bab yang terus bertambah. Dan setiap bab punya cliffhanger-nya sendiri.

Otopsi kedua pada 27 Juli menjadi pukulan telak bagi Sambo. Tim forensik gabungan menemukan luka tembak jarak dekat tanpa tanda perlawanan. Tidak ada bekas kekerasan seksual. Artinya: pelecehan hanyalah cerita pengalih. Hasil itu membuat Polri tak punya pilihan selain mengakui bahwa baku tembak adalah fiksi.

Kasus kemudian dipindahkan ke Bareskrim agar lebih transparan. Bharada E akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pada 3 Agustus, disusul Sambo pada 9 Agustus. Setelah Bharada E membuka mulut dan mengakui perintah atasan, cerita Magelang terungkap seluruhnya: tuduhan pelecehan direkayasa, peluru disiapkan sejak awal, dan pembunuhan direncanakan dengan matang. Dalam waktu sebulan, mitos Sambo sebagai polisi super runtuh. Ia berubah dari penegak etik menjadi simbol kebusukan sistem.

Pada 30 Agustus, Polri menggelar rekonstruksi akbar dengan 78 adegan di tiga lokasi: Magelang, Duren Tiga, dan Saguling. Adegan itu memperlihatkan bagaimana Sambo merencanakan pembunuhan, memberi perintah, menembak kepala korban, lalu mengatur sandiwara baku tembak. Rekonstruksi itu bukan sekadar formalitas, tapi semacam teater kebenaran: institusi yang pernah tunduk padanya kini memperagakan kejahatannya di depan publik.

Persidangan dimulai pada 17 Oktober 2022 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Lima terdakwa utama duduk berdampingan: Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf. Di ruang sidang yang dingin itu, fakta-fakta diulang seperti kaset rusak: perintah tembak, tuduhan palsu, manipulasi barang bukti, dan skenario palsu. Satu demi satu saksi menceritakan ulang bagaimana loyalitas berubah menjadi alat pembunuhan.

Pada 13 Februari 2023, Sambo divonis mati. Publik bersorak, media menulis headline besar, dan kepolisian menghela napas lega—setidaknya untuk sementara. Putri mendapat 20 tahun penjara, Ricky 13 tahun, Kuat 15 tahun, dan Bharada E hanya 1,5 tahun karena dianggap jujur bekerja sama dengan penyidik. Tapi kisah ini belum selesai. Pada April 2023, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan vonis mati Sambo. Lalu Mahkamah Agung pada Agustus 2023 menurunkan hukumannya menjadi seumur hidup.

Baca Juga: Jejak Pembunuhan Sadis Sisca Yofie, Tragedi Brutal yang Gegerkan Bandung

Putri dikurangi hukumannya menjadi 10 tahun, Bharada E tetap 1,5 tahun, Ricky 8 tahun, dan Kuat 10 tahun. Sementara itu, enam perwira polisi dihukum karena menghalangi penyelidikan. Total 31 anggota Polri dijatuhi sanksi etik.

Hingga saat ini, Sambo menjalani hukuman di Lapas Cibinong. Ia tak mendapat remisi karena seumur hidup, sementara Putri, dengan alasan kemanusiaan, memperoleh potongan masa tahanan sembilan bulan. Bharada E telah bebas lebih dulu, mencoba hidup baru, meski namanya sudah melekat selamanya dalam sejarah kriminal Indonesia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)