Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Hikayat Kasus Ferdy Sambo, Terbongkarnya Konspirasi Gelap Polisi di Duren Tiga

9 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 13 Nov 2025, 18:15 WIB
Ferdi Sambo (kiri) dan Brigadir Yosua (kanan).

Ferdi Sambo (kiri) dan Brigadir Yosua (kanan).

AYOBANDUNG.ID - Kasus Ferdy Sambo, yang mengguncang dunia kepolisian Indonesia pada 2022, adalah kisah nyata yang seolah ditulis oleh penulis fiksi kriminal yang kehilangan akal sehat. Semua tokohnya berpangkat, berseragam, dan bersenjata. Semua peristiwanya terjadi di rumah dinas pejabat kepolisian, dengan CCTV yang entah kenapa selalu rusak di waktu yang paling penting. Dan korban utamanya? Seorang ajudan muda yang setia, yang tidak pernah menduga bahwa kesetiaan di institusi itu ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa.

Ferdy Sambo bukan nama kecil di kepolisian. Sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, dia adalah “polisi dari para polisi”. Tugasnya menjaga agar anak buah tetap patuh pada kode etik. Ironisnya, justru dari tangannya lahir salah satu pelanggaran paling brutal dalam sejarah institusi itu: pembunuhan berencana terhadap ajudannya sendiri, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, yang juga dikenal sebagai Brigadir J.

Yosua bukan sekadar ajudan biasa. Lahir di Muaro Jambi, ia dikenal sebagai polisi muda pekerja keras yang kerap mengikuti Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, ke mana pun mereka pergi. Ia bukan orang yang berani membantah perintah, dan tabiat itulah pula yang mengantarkannya menuju maut. Pada 5 Juli 2022, Yosua ikut rombongan perjalanan dari Jakarta ke Magelang bersama Putri dan beberapa ajudan lain: Bharada Richard Eliezer (Bharada E), Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf. Rombongan ini berniat berlibur di rumah peristirahatan keluarga Sambo. Tak ada yang tahu bahwa liburan itu akan menjadi awal dari sebuah drama berdarah.

Di Magelang, pada malam 6 Juli, Putri mengaku mengalami pelecehan dari Yosua. Klaim itu kemudian menjadi bahan bakar utama kemarahan Sambo. Sayangnya, semua bukti yang ada menunjukkan hal sebaliknya. Tapi Sambo, yang terbiasa mengatur urusan anak buah, tampaknya lebih percaya pada cerita daripada bukti. Ia memutuskan untuk menjadi hakim, jaksa, sekaligus algojo.

Baca Juga: Hikayat Kasus Reynhard Sinaga, Jejak Dosa 3,29 Terabita Predator Seksual Paling Keji dalam Sejarah Inggris

Pagi berikutnya, tanggal 7 Juli, Sambo menemui Putri. Setelah mendengar ceritanya, ia menghubungi Ricky Rizal dan menanyakan apakah sang sopir bersedia menembak Yosua. Ricky menolak dengan sopan. Sambo lalu beralih ke Bharada E, ajudan muda yang setia tanpa banyak tanya. “Siap, Komandan,” jawab Bharada E, kalimat sederhana yang akan menghantarnya ke pengadilan beberapa bulan kemudian. Sambo pun memberikan sekotak peluru kaliber 9 mm, memastikan rencana pembalasan berjalan mulus.

Sore harinya, rombongan itu kembali ke Jakarta. Yosua, yang mungkin hanya berpikir untuk segera kembali bertugas, duduk di mobil tanpa curiga. Tak ada yang memberitahunya bahwa di Duren Tiga, Jakarta Selatan, rumah dinas Sambo sudah disiapkan untuk menjadi panggung terakhir hidupnya.

Rombongan ini tiba sekitar pukul lima sore. Putri naik ke kamar, Yosua turun ke taman belakang. Sambo datang beberapa menit kemudian, menenteng pistol dan mengenakan sarung tangan hitam, pertanda klasik bahwa ia tidak datang untuk berdamai. Ia memanggil Kuat Ma’ruf untuk mencari Yosua, lalu menghadapi ajudannya itu di ruang tamu. Kata-kata yang keluar dari mulut Sambo singkat dan beracun. Yosua hanya sempat kebingungan sebelum diminta jongkok. Sambo lalu berteriak memanggil Bharada E, memberi perintah terakhirnya: menembak.

Bharada E, dengan tangan gemetar, menembak Yosua beberapa kali. Yosua terjatuh, tubuhnya gemetar, darahnya menggenang di lantai. Tapi Sambo belum puas. Ia mendekat, mengarahkan pistol ke kepala kiri belakang Yosua, dan melepaskan satu peluru terakhir. Brigadir J tewas seketika. Polisi menembak polisi di rumah polisi. Semua terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Baca Juga: Hikayat Kasus Pembunuhan Marsinah, Pahlawan Buruh yang Kini Diakui Istana

Sandiwara, Rekayasa, dan Runtuhnya Kekuasaan Sambo

Setelah darah berhenti mengalir, Sambo mulai menyusun cerita. Ia tahu sistem; ia tahu bagaimana menulis laporan. Ia menembakkan beberapa peluru ke dinding untuk menciptakan adegan baku tembak. Senjata Yosua diposisikan agar tampak seperti digunakan untuk melawan. Putri keluar kamar, berpura-pura histeris. Ricky Rizal diminta mengantarnya pulang ke rumah pribadi mereka di Saguling. Semua sudah diatur agar tampak logis, atau setidaknya cukup logis bagi yang tidak ingin tahu lebih dalam.

Pada malam itu juga, jenazah Yosua dibawa ke RS Bhayangkara Raden Said Sukanto. Jenazah dikirim ke Jambi tanpa penghormatan resmi, dan di situlah cerita resmi mulai retak.

Penembakan Brigadir J terjadi pada 8 Juli 2023, namun kasusnya baru pertama kali diungkap ke publik pada 11 Juli atau dua hari kemudian. Versi kepolisian saat itu menyebut baku tembak terjadi antara Brigadir J dan Bharada E setelah Brigadir J disebutkan melakukan pelecehan serta menodongkan senjata pistol ke kepala istri Ferdy Sambo.

Disebutkan bahwa Brigadir J sempat masuk ke kamar pribadi Kepala Divisi Propam. Di dalam ruangan itu, ada istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Tak lama setelah Brigadir J masuk, Putri menjerit keras. Jeritan itu membuat Brigadir J panik dan buru-buru keluar kamar. Pada saat yang hampir bersamaan, Bharada E yang berada di lantai atas mendengar suara tersebut. Ia sempat bertanya dari atas mengenai apa yang terjadi. Namun sebelum sempat mendapat jawaban, Brigadir J dikabarkan menembak ke arah Bharada E. Tembakan itu dibalas, dan baku tembak pun terjadi. Akibatnya, Brigadir J tewas dengan lima luka tembak di tubuhnya.

Baca Juga: Hikayat Pelarian Eddy Tansil, Koruptor Legendaris Paling Diburu di Indonesia

Ferdy Sambo saat menjalani persidangan.
Ferdy Sambo saat menjalani persidangan.

Keluarga Yosua merasa ada yang aneh. Wajah jenazah lebam, luka-lukanya terlalu banyak untuk sekadar baku tembak. Ketika peti dibuka, mereka menemukan memar dan jahitan aneh. Sementara itu, polisi datang membawa narasi yang terlalu rapi: katanya Yosua lebih dulu menyerang, lalu dibalas oleh Bharada E. CCTV di rumah dinas rusak, ponsel Yosua hilang, dan tidak ada saksi luar. Terlalu sempurna untuk sebuah kecelakaan.

Beberapa hari setelah insiden itu, badai mulai berubah arah. Media, yang semula menelan mentah-mentah versi resmi polisi, mulai menggali sendiri. Laporan demi laporan muncul, menyoroti keanehan kronologi. Kok bisa kejadian sebesar ini ditangani dengan begitu terburu-buru? Kenapa hasil autopsi dan barang bukti seolah disembunyikan?

Tekanan publik meledak. Orang-orang yang sebelumnya tak pernah peduli urusan kepolisian kini mendadak jadi analis balistik dan ahli forensik amatir. Di sinilah titik balik penyelidikan terjadi. Desakan publik memaksa Kapolri membentuk tim khusus. Dan di titik inilah, kisah Ferdy Sambo mulai berubah dari sekadar kasus internal polisi menjadi panggung drama nasional.

Baca Juga: Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

Pada 12 Juli, Kapolri Listyo Sigit membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus ini. Tapi langkah itu tidak langsung mengubah keadaan. Sambo masih kuat, jaringan loyalitas di tubuh Polri terlalu lebar. Baru pada 18 Juli, setelah tekanan publik meningkat dan laporan keluarga Yosua masuk ke Bareskrim, Sambo dinonaktifkan. Angin mulai berbalik.

Tim khusus bekerja dengan cara yang tidak lagi bisa dikontrol oleh narasi lama. Mereka menemukan bahwa tak ada baku tembak, tak ada pelecehan, dan tak ada duel pistol ala film koboi. Yang ada hanyalah eksekusi. Penembakan yang dilakukan atas perintah atasan. Yosua ditembak mati di tempat, lalu TKP disulap seolah-olah ia pelaku, bukan korban.

Di internal kepolisian sendiri, suasana genting. Sambo, yang dikenal disegani bahkan oleh perwira tinggi lain, kini jadi beban institusi. Banyak yang mendadak cuci tangan. Rekan-rekan yang dulu memujanya dengan panggilan “abang” kini mulai menghindar. Di titik ini, publik kembali jadi wasit: setiap langkah polisi dipantau, setiap keterangan pers dikupas tuntas di jagat maya.

Tapi drama ini tidak berhenti di ruang penyelidikan. Ia tumbuh, mekar, dan menjalar ke ruang publik seperti rumor di warung kopi. Setiap tersangka disorot bukan hanya tindakannya, tapi juga latar belakangnya. Media menggali segala yang bisa digali: riwayat pendidikan, gaya hidup, bahkan ekspresi wajah di ruang sidang.

Putri Candrawathi, misalnya, menjadi magnet perhatian. Ada yang kasihan, ada yang mencibir. Dalam setiap kemunculannya di depan kamera, publik membaca bahasa tubuhnya seperti menebak rahasia negara. Sementara itu, Kuat Ma’ruf sang sopir tiba-tiba jadi tokoh misterius. Ia digambarkan setia, diam, tapi penuh rahasia. Di luar sidang, gosip beredar: jangan-jangan ada hubungan lebih dari sekadar majikan dan sopir. Ia disebut Om Kuat oleh beberapa outlet media. Gosip sensasional yang tak pernah terbukti, tapi cukup untuk membuat ruang komentar daring bergemuruh.

Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam

Drama sidang pun tidak kalah megah. Setiap hari, media menyiarkan langsung dari ruang persidangan seperti sedang menayangkan serial hukum paling laku. Ferdy Sambo tampil dengan wajah tenang dan kalimat terukur, tapi publik sudah telanjur menilai. Ia dianggap aktor utama, dalang di balik skenario kelam.

Dalam ruang sidang itu, satu per satu fakta muncul. Dari pengakuan saksi, rekonstruksi, hingga bukti digital. Masing-masing menambah lapisan baru pada narasi yang sudah sesak. Publik seolah diajak menonton film kriminal dengan bab yang terus bertambah. Dan setiap bab punya cliffhanger-nya sendiri.

Otopsi kedua pada 27 Juli menjadi pukulan telak bagi Sambo. Tim forensik gabungan menemukan luka tembak jarak dekat tanpa tanda perlawanan. Tidak ada bekas kekerasan seksual. Artinya: pelecehan hanyalah cerita pengalih. Hasil itu membuat Polri tak punya pilihan selain mengakui bahwa baku tembak adalah fiksi.

Kasus kemudian dipindahkan ke Bareskrim agar lebih transparan. Bharada E akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pada 3 Agustus, disusul Sambo pada 9 Agustus. Setelah Bharada E membuka mulut dan mengakui perintah atasan, cerita Magelang terungkap seluruhnya: tuduhan pelecehan direkayasa, peluru disiapkan sejak awal, dan pembunuhan direncanakan dengan matang. Dalam waktu sebulan, mitos Sambo sebagai polisi super runtuh. Ia berubah dari penegak etik menjadi simbol kebusukan sistem.

Pada 30 Agustus, Polri menggelar rekonstruksi akbar dengan 78 adegan di tiga lokasi: Magelang, Duren Tiga, dan Saguling. Adegan itu memperlihatkan bagaimana Sambo merencanakan pembunuhan, memberi perintah, menembak kepala korban, lalu mengatur sandiwara baku tembak. Rekonstruksi itu bukan sekadar formalitas, tapi semacam teater kebenaran: institusi yang pernah tunduk padanya kini memperagakan kejahatannya di depan publik.

Persidangan dimulai pada 17 Oktober 2022 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Lima terdakwa utama duduk berdampingan: Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada E, Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf. Di ruang sidang yang dingin itu, fakta-fakta diulang seperti kaset rusak: perintah tembak, tuduhan palsu, manipulasi barang bukti, dan skenario palsu. Satu demi satu saksi menceritakan ulang bagaimana loyalitas berubah menjadi alat pembunuhan.

Pada 13 Februari 2023, Sambo divonis mati. Publik bersorak, media menulis headline besar, dan kepolisian menghela napas lega—setidaknya untuk sementara. Putri mendapat 20 tahun penjara, Ricky 13 tahun, Kuat 15 tahun, dan Bharada E hanya 1,5 tahun karena dianggap jujur bekerja sama dengan penyidik. Tapi kisah ini belum selesai. Pada April 2023, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan vonis mati Sambo. Lalu Mahkamah Agung pada Agustus 2023 menurunkan hukumannya menjadi seumur hidup.

Baca Juga: Jejak Pembunuhan Sadis Sisca Yofie, Tragedi Brutal yang Gegerkan Bandung

Putri dikurangi hukumannya menjadi 10 tahun, Bharada E tetap 1,5 tahun, Ricky 8 tahun, dan Kuat 10 tahun. Sementara itu, enam perwira polisi dihukum karena menghalangi penyelidikan. Total 31 anggota Polri dijatuhi sanksi etik.

Hingga saat ini, Sambo menjalani hukuman di Lapas Cibinong. Ia tak mendapat remisi karena seumur hidup, sementara Putri, dengan alasan kemanusiaan, memperoleh potongan masa tahanan sembilan bulan. Bharada E telah bebas lebih dulu, mencoba hidup baru, meski namanya sudah melekat selamanya dalam sejarah kriminal Indonesia.

News Update

Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)