Yang Dilakukan Soekarno Sebelum dan Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Mohammad Hatta (kiri) dan Soekarno (kanan) dalam sebuah kesempatan. (Sumber: Wikimedia)
Mohammad Hatta (kiri) dan Soekarno (kanan) dalam sebuah kesempatan. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Tak banyak yang mengerti betapa seorang Soekarno, di malam yang sunyi menjelang proklamasi, harus memainkan peran ganda: menjadi simbol, pemimpin, sekaligus manusia biasa yang kepalanya penuh strategi dan tubuhnya kelelahan. Dari luar, ia tampak seperti sosok yang siap mengguncang dunia. Tapi dari dalam, ia tahu benar bahwa setiap langkah keliru bisa mengundang bencana — apalagi kalau Jepang belum benar-benar ikhlas melepas.

Setelah proklamasi, Karno tak meninggi. Bung Besar masih agak terguncang, bukan oleh gemetar kemenangan, tetapi oleh kesadaran bahwa ia baru saja memantik api yang akan menyala entah berapa lama dan di mana akan padam. Api itu memercik pertentangan: antara harapan dan kecemasan, antara revolusi dan kontrarevolusi.

Sebagaimana digambarkan dalam catatan resmi Sekretariat Negara, Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945, masa sebelum dan sesudah pembacaan naskah keramat itu dibumbui banyak aroma ketegangan. Bagi Soekarno, ini bukan hanya soal mengucapkan kata-kata, melainkan membuka pintu bagi masa depan yang sama sekali belum dipetakan.

Ketegangan itu sudah terasa bahkan sebelum fajar menyingsing. Masih gelap, namun langkah sejarah sudah menuntut percepatan. Dan di balik semua yang tampak tegas di panggung proklamasi nanti, ada kisah malam yang berliku—malam ketika Bung Besar berpindah dari satu titik ke titik lain, menanggung debat, desakan, dan kegamangan.

Baca Juga: Sejarah Panjat Pinang, Tontonan Belanda Zaman Kolonial yang Berasal dari Tiongkok Selatan

Di tengah malam Jakarta 16 Agustus 1945, ia tiba di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Tubuhnya masih menyimpan sisa panas dingin, tapi pikirannya justru lebih hangat dari api. Sehari penuh ia dan Mohammad Hatta “dititipkan” para pemuda di Rengasdengklok. Peristiwa itu sendiri bermula dari debat panjang, ancam-mengancam, hingga Bung Besar sempat menantang para pemuda untuk menyembelih lehernya. Soekarno ogah dipaksa mengumumkan proklamasi hanyakarna desakan para pemuda yang kebelet merdeka.

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat,” begitu ia sudah tegaskan kepada para pemuda di Rengasdengklok, sehari sebelumnya. Sekarang, saat itu semakin dekat.

Para pemuda ingin proklamasi segera, malam itu juga. Soekarno, seperti biasa, mengandalkan intuisi dan logikanya. Baginya, momen harus diatur dengan tepat. Ia bahkan mengaitkannya dengan keyakinan spiritualnya untuk memilih tanggal 17. Tanggal itu, yang jatuh pada Jumat Legi di bulan Ramadan, ia percaya akan memberi restu yang lebih besar bagi kemerdekaan.

Sebelum: Begadang di Rumah Laksamana Jepang

Begitu sampai di Jakarta, Soekarno dan Hatta langsung menuju rumah Maeda. Bukan rumah besar dengan pesta lampu, tapi sebuah tempat aman yang disediakan seorang perwira Jepang berpandangan luas. Maeda ini bukan tentara darat berwajah kaku; ia lebih mirip diplomat berjiwa seniman, pandai bahasa, dan — anehnya — mau memfasilitasi pertemuan orang-orang yang berpotensi mengakhiri masa penjajahan bangsanya sendiri.

Dini hari mulai mengintip ketika Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo duduk di ruang makan rumah itu. Di atas meja, secarik kertas putih menjadi panggung bagi nasib bangsa. Soekarno menulis, sementara dua rekannya menimpali dengan gagasan. Kalimat pembuka diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai, sedangkan ujungnya adalah buah pikir Hatta yang menegaskan soal pemindahan kekuasaan.

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

Di luar, para pemuda mondar-mandir di serambi. Di dalam, ketiga tokoh itu bekerja cepat, tapi tidak tergesa. Seperti tukang jamu meracik ramuan yang harus pas takarannya, mereka tahu kata-kata dalam teks itu akan abadi. Setelah rampung, Sajuti Melik mengetiknya. Jam sahur hampir habis, dan sebagian dari mereka sempat menyuap makanan seadanya di dapur.

Ketika teks diketik, muncul perdebatan lain: siapa yang harus menandatangani? Hatta sempat mengusulkan agar meniru tradisi Amerika Serikat — banyak tanda tangan. Namun, pemuda menolak, dan akhirnya diputuskan cukup dua nama saja, “atas nama bangsa Indonesia.”

Tempat pembacaan pun menjadi topik panas. Sukarni menginginkan di Lapangan Ikada, namun Soekarno menggeleng pelan, lalu berkata,

“Untuk apa kita memancing-mancing insiden?” Baginya, halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56 sudah cukup — aman, pasti, dan terhindar dari bentrok tak perlu.

Pagi di Pegangsaan Timur, Bung Besar Diserang Demam di Puncak Sejarah

Fajar Jumat itu datang pelan. Embun masih betah di ujung daun ketika rumah Soekarno mulai dipadati orang. Ada mikrofon yang disiapkan, pengeras suara, dan sebatang bambu sebagai tiang bendera — hasil inisiatif S. Suhud yang malah lupa ada tiang besi di depan rumah.

Bung Karno bangun dengan badan kurang fit. Malamnya ia panas dingin, tapi tetap harus berdiri memimpin upacara. Ia menunggu Hatta, menolak memulai sebelum pasangannya itu hadir. Beberapa pemuda mulai gelisah, namun Bung Karno tetap teguh pada pendiriannya. Lima menit sebelum pukul 10.00, Hatta datang, putih-putih seperti tuan rumah. Mereka berjalan bersama ke depan rumah.

Upacara itu sederhana. Tidak ada protokol, tidak ada drum band. Latief Hendraningrat memberi aba-aba barisan, lalu mempersilakan Bung Karno maju. Menatap hadirin, ia mengawali dengan suara yang jernih meski tubuhnya tak sepenuhnya segar.

“Saudara-saudara sekalian! Saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting,” kat Soekarno kepada para hadirin.

Bung Karno saat berdoa sebelum pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. (Sumber: Wikimedia)
Bung Karno saat berdoa sebelum pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. (Sumber: Wikimedia)

Kalimat itu menjadi pintu gerbang menuju pembacaan teks proklamasi — singkat, padat, dan mengakhiri masa-masa jahanam penjajahan tanpa satu pun tembakan salvo.

Bendera yang dijahit Fatmawati dikerek perlahan. Tanpa komando, orang-orang menyanyikan “Indonesia Raya.” Lagu itu memanjangkan setiap detik, memberi waktu bagi bangsa ini untuk benar-benar menyadari: kita sudah merdeka.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Bojongkokosan, 4 Hari Kacaukan Konvoi Sekutu ke Bandung

Sesudahnya: Ditagih Proklamasi Kedua Kali

Selesai upacara, suasana belum reda. Barisan Pelopor datang terlambat dan meminta proklamasi diulang. Bung Karno tak mau membacanya lagi, tapi ia tetap berdiri memberi amanat singkat agar semangat tetap terjaga.

Tak lama, tiga pejabat Jepang datang. Mereka berniat melarang pembacaan proklamasi — meski jelas sudah terlambat. Bung Karno, yang sudah berganti piyama, kembali mengenakan pakaian resmi dan menerima mereka. Ia tak menawarkan kursi, hanya berdiri dan menegaskan: kemerdekaan sudah diumumkan, dan tidak ada jalan mundur.

Hari itu, Soekarno tak berhenti bergerak. Ia memberi arahan, menerima tamu, dan memastikan berita proklamasi menyebar lewat kantor berita dan radio. Di tengah riuhnya perayaan, ia tetap memegang kendali — sama seperti malam sebelumnya di rumah Maeda.

Yang dilakukan Soekarno sebelum dan sesudah proklamasi bukan hanya soal membaca teks bersejarah. Ia mengatur strategi, menolak desakan yang menurutnya gegabah, meracik kata-kata yang tepat, memilih tempat yang aman, dan memastikan momentum tidak tergelincir ke kekacauan. Dari Rengasdengklok, rumah Maeda, hingga halaman Pegangsaan Timur, ia tetap memainkan satu peran: memastikan kemerdekaan Indonesia lahir pada saat yang ia yakini sebagai yang terbaik — dan bertahan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 18:02

Risiko Kenaikan Suhu Ekstrem di Bandung

Bandung yang sejak dulu dikenal berhawa sejuk, kini harus mawas diri terhadap perubahan suhu ekstrem. Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan.

Seorang anak berjalan di sawah yang mengalami kekeringan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:37

Tyson, Bullying, Bandung

Kenangan terhadap Mike Tyson petinju sohor dan fenomenal meraih empat sabuk juara dunia WBC, WBO, WBA dan IBF

Mike Tyson. (Sumber: Flickr | Foto: Eduardo Merille)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:06

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. Kondisi ini mendorong kebangkitan tren fitness sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan investasi jangka panjang.

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Wisata & Kuliner 14 Jul 2026, 16:54

Kelezatan Coto Makassar, Empat Puluh Rempah dari Kerajaan Gowa untuk Semua Orang

Kenali sejarah Coto Makassar dari era Kerajaan Gowa, filosofi 40 rempah, kuah air tajin, hingga rekomendasi warung legendaris yang wajib dicoba.

Coto Makassar.
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)