Sejarah Panjat Pinang, Tontonan Belanda Zaman Kolonial yang Berasal dari Tiongkok Selatan

3 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Panjat pinang di Makassar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Panjat pinang di Makassar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Setiap 17 Agustus, negeri ini mendadak jadi panggung gladiator kampung. Bedanya, yang dipanjat bukan benteng batu, melainkan sebatang pohon pinang licin berlumur oli—mirip tiang bendera, tapi tanpa hormat. Di puncaknya bergelantungan hadiah: mulai dari ember plastik, sandal jepit, sampai sepeda mini yang entah muat atau tidak dibawa pulang lewat gang sempit.

Lomba panjat pinang sudah seperti menu wajib perayaan kemerdekaan. Bahkan kalau ada 17-an tanpa panjat pinang, rasanya seperti makan bakso tanpa kuah: hambar. Tapi ternyata, permainan ini bukan murni “ciptaan asli” Indonesia. Menurut Fandy Hutari dalam Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, akar sejarahnya menjalar sampai ke Tiongkok Selatan.

“Panjat pinang populer di Tiongkok Selatan, terutama daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini berkaitan dengan Festival Hantu,” tulisnya, mengutip Rianto Jiang, pengamat sejarah dan budaya Tionghoa. Nama aslinya di sana adalah giang gu, dan sudah ada sejak zaman Dinasti Ming (1368–1644).

Pengamat sejarah Rianto Jiang mencatat, “Panjat pinang populer di Tiongkok Selatan, terutama daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini berkaitan dengan Festival Hantu.” Di sana, permainan ini dikenal dengan nama giang gu sejak zaman Dinasti Ming (1368–1644).

Bedanya, versi Tiongkok ini bukan sekadar memanjat sebatang pinang delapan meter. Mereka membangun menara dari pinang dan kayu setara gedung empat lantai. Tim peserta harus memanjat untuk meraih gulungan kain merah di puncak. Tentu risikonya bukan cuma terpeleset, tapi bisa jadi masuk festival hantu secara harfiah. Tak heran, pada era Dinasti Qing permainan ini dilarang karena “banyak menimbulkan jatuhnya korban jiwa”.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Saat Taiwan dijajah Jepang, giang gu hidup lagi, masih dalam konteks festival. Dari sinilah, entah lewat jalur perdagangan atau perantau Tionghoa, permainan ini berlabuh di tanah Nusantara. Perlahan ia berasimilasi, seperti bakmi yang jadi mie ayam, dan akhirnya masuk kategori “tradisi lokal” tanpa terlalu banyak protes.

Di Hindia Belanda, Fandy menyebut panjat pinang mulai populer sekitar 1930-an. Tapi waktu itu, ia bukan simbol kemerdekaan—jelas saja, belum merdeka—melainkan hiburan pesta orang Belanda. Mereka mengadakannya saat menikah, naik jabatan, atau sekadar ulang tahun.

Lomba panjat pinang memperingati HUT RI apda 17 Agustus atau Agustusan. (Sumber: Wikimedia)
Lomba panjat pinang memperingati HUT RI apda 17 Agustus atau Agustusan. (Sumber: Wikimedia)

Hadiah yang digantung sering kali barang mewah di mata pribumi: keju impor, gula, kain bagus, atau kemeja. Cukup untuk bikin lelaki kampung rela jadi tangga hidup demi membawa pulang “kemewahan” itu. Tiang pinang dilumuri oli, dan para peserta harus saling injak, bahu-membahu, sambil menerima tawa terbahak-bahak dari para meneer dan nyonya di bawah.

Peserta? Hanya orang pribumi. Orang Belanda jelas tidak mau memanjat—mereka lebih suka duduk sambil menyeruput bir, menonton “aksi komedi” gratis. Kadang keluarga pribumi kaya antek kolonial juga ikut-ikutan mengadakan lomba, mungkin supaya terlihat modern di mata tuan besar.

Tak heran jika ada yang menganggap panjat pinang itu warisan jahil penjajah. Kata sebagian orang, ini cuma cara Belanda menghibur diri sambil menertawakan rakyat yang jatuh bangun. Kalau diibaratkan zaman sekarang, mirip reality show penuh adegan dramatis, tapi tanpa hadiah uang tunai miliaran.

Tapi, pendukung panjat pinang melihatnya dari sisi lain. Mereka bilang, lomba ini mengajarkan kerja keras, kekompakan, dan strategi tim. Hadiah di puncak adalah simbol kemerdekaan; untuk mencapainya butuh cerdik, saling menopang, dan menyingkirkan ego pribadi. Bahkan setelah hadiah diraih, biasanya hasil dibagi rata. Filosofinya jelas: kemerdekaan itu hasil kerja kolektif, bukan solo karier.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Dari giang gu di Fujian hingga tiang oli di Batavia, panjat pinang berubah fungsi: dari festival hantu, jadi hiburan pesta kolonial, hingga simbol keriangan 17 Agustusan. Bedanya, sekarang yang menonton ikut tertawa bukan karena merendahkan, tapi karena sama-sama menikmati. Meskipun, kalau peserta jatuh dari setengah tiang, ya tawa penonton kadang terdengar mirip juga.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)