Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sejarah Panjat Pinang, Tontonan Belanda Zaman Kolonial yang Berasal dari Tiongkok Selatan

3 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 11 Agu 2025, 16:30 WIB
Panjat pinang di Makassar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

Panjat pinang di Makassar tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Setiap 17 Agustus, negeri ini mendadak jadi panggung gladiator kampung. Bedanya, yang dipanjat bukan benteng batu, melainkan sebatang pohon pinang licin berlumur oli—mirip tiang bendera, tapi tanpa hormat. Di puncaknya bergelantungan hadiah: mulai dari ember plastik, sandal jepit, sampai sepeda mini yang entah muat atau tidak dibawa pulang lewat gang sempit.

Lomba panjat pinang sudah seperti menu wajib perayaan kemerdekaan. Bahkan kalau ada 17-an tanpa panjat pinang, rasanya seperti makan bakso tanpa kuah: hambar. Tapi ternyata, permainan ini bukan murni “ciptaan asli” Indonesia. Menurut Fandy Hutari dalam Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, akar sejarahnya menjalar sampai ke Tiongkok Selatan.

“Panjat pinang populer di Tiongkok Selatan, terutama daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini berkaitan dengan Festival Hantu,” tulisnya, mengutip Rianto Jiang, pengamat sejarah dan budaya Tionghoa. Nama aslinya di sana adalah giang gu, dan sudah ada sejak zaman Dinasti Ming (1368–1644).

Pengamat sejarah Rianto Jiang mencatat, “Panjat pinang populer di Tiongkok Selatan, terutama daerah Fukien, Guangdong, dan Taiwan. Acara ini berkaitan dengan Festival Hantu.” Di sana, permainan ini dikenal dengan nama giang gu sejak zaman Dinasti Ming (1368–1644).

Bedanya, versi Tiongkok ini bukan sekadar memanjat sebatang pinang delapan meter. Mereka membangun menara dari pinang dan kayu setara gedung empat lantai. Tim peserta harus memanjat untuk meraih gulungan kain merah di puncak. Tentu risikonya bukan cuma terpeleset, tapi bisa jadi masuk festival hantu secara harfiah. Tak heran, pada era Dinasti Qing permainan ini dilarang karena “banyak menimbulkan jatuhnya korban jiwa”.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Saat Taiwan dijajah Jepang, giang gu hidup lagi, masih dalam konteks festival. Dari sinilah, entah lewat jalur perdagangan atau perantau Tionghoa, permainan ini berlabuh di tanah Nusantara. Perlahan ia berasimilasi, seperti bakmi yang jadi mie ayam, dan akhirnya masuk kategori “tradisi lokal” tanpa terlalu banyak protes.

Di Hindia Belanda, Fandy menyebut panjat pinang mulai populer sekitar 1930-an. Tapi waktu itu, ia bukan simbol kemerdekaan—jelas saja, belum merdeka—melainkan hiburan pesta orang Belanda. Mereka mengadakannya saat menikah, naik jabatan, atau sekadar ulang tahun.

Lomba panjat pinang memperingati HUT RI apda 17 Agustus atau Agustusan. (Sumber: Wikimedia)
Lomba panjat pinang memperingati HUT RI apda 17 Agustus atau Agustusan. (Sumber: Wikimedia)

Hadiah yang digantung sering kali barang mewah di mata pribumi: keju impor, gula, kain bagus, atau kemeja. Cukup untuk bikin lelaki kampung rela jadi tangga hidup demi membawa pulang “kemewahan” itu. Tiang pinang dilumuri oli, dan para peserta harus saling injak, bahu-membahu, sambil menerima tawa terbahak-bahak dari para meneer dan nyonya di bawah.

Peserta? Hanya orang pribumi. Orang Belanda jelas tidak mau memanjat—mereka lebih suka duduk sambil menyeruput bir, menonton “aksi komedi” gratis. Kadang keluarga pribumi kaya antek kolonial juga ikut-ikutan mengadakan lomba, mungkin supaya terlihat modern di mata tuan besar.

Tak heran jika ada yang menganggap panjat pinang itu warisan jahil penjajah. Kata sebagian orang, ini cuma cara Belanda menghibur diri sambil menertawakan rakyat yang jatuh bangun. Kalau diibaratkan zaman sekarang, mirip reality show penuh adegan dramatis, tapi tanpa hadiah uang tunai miliaran.

Tapi, pendukung panjat pinang melihatnya dari sisi lain. Mereka bilang, lomba ini mengajarkan kerja keras, kekompakan, dan strategi tim. Hadiah di puncak adalah simbol kemerdekaan; untuk mencapainya butuh cerdik, saling menopang, dan menyingkirkan ego pribadi. Bahkan setelah hadiah diraih, biasanya hasil dibagi rata. Filosofinya jelas: kemerdekaan itu hasil kerja kolektif, bukan solo karier.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Dari giang gu di Fujian hingga tiang oli di Batavia, panjat pinang berubah fungsi: dari festival hantu, jadi hiburan pesta kolonial, hingga simbol keriangan 17 Agustusan. Bedanya, sekarang yang menonton ikut tertawa bukan karena merendahkan, tapi karena sama-sama menikmati. Meskipun, kalau peserta jatuh dari setengah tiang, ya tawa penonton kadang terdengar mirip juga.

News Update

Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)