Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

8 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Proses Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dalam Perang Dunia II di atas kapal USS Missouri. (Sumber: U.S. National Archives)
Proses Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dalam Perang Dunia II di atas kapal USS Missouri. (Sumber: U.S. National Archives)

AYOBANDUNG.ID - Di pagi yang lembap akhir Agustus 1945, Don Jude berdiri di geladak kapal rumah sakit H.M.H.S. Tjitjalengka, menatap daratan Jepang untuk pertama kalinya. Kapal berbendera Belanda yang dicat putih bersih dengan garis hijau dan bendera Palang Merah itu bukan kapal perang, tapi menjadi saksi salah satu peristiwa paling menentukan abad ke-20: penyerahan tanpa syarat Kekaisaran Jepang yang menandai berakhirnya Perang Dunia II.

Don Jude, petugas medis Angkatan Laut Inggris, merekam kenangan itu dalam memoarnya yang ditulis enam dekade kemudian. Suaranya tak mengguntur seperti jenderal, tapi getir dan tenang, seperti seseorang yang tahu bahwa ia hadir dalam babak sejarah yang tak akan kembali.

Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa melihat daratan, Tjitjalengka akhirnya merapat di Teluk Sagami, di selatan Teluk Tokyo. Tak lama kemudian, armada gabungan Amerika dan Inggris menyusul. Don Jude mencatat:

“Kami tahu soal bom atom dari koran harian kapal, yang dibuat oleh operator radio dari siaran gelombang udara dan desas-desus. Kami tahu perang akan segera usai.”

Tanggal 30 Agustus, armada sekutu resmi memasuki Teluk Tokyo. Pagi itu laut tenang, tapi suasana terasa tegang. “Kapal-kapal berlabuh, satu per satu, dalam formasi nyaris seremonial. Semua seperti tahu bahwa sejarah sedang menunggu ditulis,” kata Jude.

Dua hari setelah itu, pada 2 September 1945, semua keraguan tentang akhir perang pupus. Di atas dek kapal perang U.S.S. Missouri, Jepang menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat. Jude dan rekan-rekannya menyaksikan dari kejauhan. Ia menuliskan:

“Kami menyaksikan langsung penandatanganan penyerahan diri Jepang di atas U.S.S. Missouri pada 2 September—tepat lima tahun setelah perang dimulai pada 3 September 1939.”

Di geladak Tjitjalengka, para awak berdiri dalam getar, menyaksikan bendera kekaisaran runtuh. Meski mereka bukan pasukan garis depan, mereka tahu apa arti momen itu: detik-detik berakhirnya dunia lama.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Catatan dari Naval History and Heritage Command mengonfirmasi bahwa kapal Tjitjalengka hadir di Teluk Tokyo saat upacara penyerahan Jepang pada 2 September 1945, berdampingan dengan kapal-kapal besar Sekutu.

Peristiwa menyerahnya Jepangtanpa syarat kepada Sekutu seudah diantisipasi jauh-jauh hari. Pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito mengumumkan kepada rakyat Jepang bahwa negaranya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Pidato yang disiarkan lewat radio itu dikenal sebagai Gyokuon-hōsō, dan menjadi peristiwa langka karena untuk pertama kalinya rakyat mendengar langsung suara Kaisar. Ia menyatakan bahwa perang harus diakhiri agar “kerajaan Jepang tidak dihancurkan seluruhnya” dan rakyat tidak mengalami penderitaan lebih lanjut. Pernyataan itu sekaligus menandai akhir Perang Dunia II di Asia Timur.

Penyerahan diri Jepang tidak terjadi dalam ruang hampa. Sebelumnya, pada 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Serangan ini, menurut laporan resmi Sekutu, menewaskan lebih dari 100.000 jiwa dalam sekejap, belum termasuk dampak jangka panjang dari radiasi. Di sisi lain, pada 8 Agustus, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang dan menyerbu Manchuria, wilayah kekuasaan Jepang di Tiongkok.

Tapi, militer Jepang—terutama angkatan darat—bersikeras untuk bertempur sampai akhir. Bahkan setelah bom Hiroshima, beberapa jenderal menganggap itu belum cukup alasan untuk menyerah. Barulah setelah bom kedua di Nagasaki dan masuknya Uni Soviet dalam perang, kubu moderat di pemerintahan berhasil meyakinkan Kaisar Hirohito untuk mengakhiri perang.

Pada 2 September 1945, Jepang secara resmi menandatangani dokumen penyerahan diri di atas kapal USS Missouri di Teluk Tokyo. Upacara ini menandai akhir resmi Perang Dunia II.

Sebelumnya, Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di Reims, Prancis, pada 7 Mei 1945. Penyerahan ini kembali ditegaskan sehari kemudian dalam upacara di Berlin pada 8 Mei 1945. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Victory in Europe Day (V-E Day), yang menandai berakhirnya perang di Eropa.

Jerman sendiri sudah mengalami kekalahan militer secara bertahap sejak tahun 1943, ketika kekuatan Sekutu mulai membalikkan keadaan di berbagai front. Di Timur, Tentara Merah Soviet berhasil memukul mundur pasukan Jerman dalam Pertempuran Stalingrad, yang menjadi titik balik penting di Front Timur. Sementara itu, di Barat, Sekutu Barat mendarat di Normandia, Prancis, pada 6 Juni 1944 (D-Day), dan secara perlahan mendorong mundur pasukan Jerman ke wilayah inti di Eropa Tengah. Kota-kota besar seperti Berlin menjadi sasaran serangan udara dan pertempuran darat yang intens.

Jelang awal 1945, posisi Jerman sudah nyaris tanpa harapan. Di timur, pasukan Soviet mengepung Berlin, sementara di barat, pasukan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis terus mendesak melalui wilayah Jerman. Adolf Hitler, yang menolak menyerah, memilih bunuh diri pada 30 April 1945 di bunker bawah tanahnya di Berlin. Setelah itu, kepemimpinan Jerman beralih ke Presiden Karl Dönitz, yang akhirnya menyadari bahwa perang tidak bisa dilanjutkan dan mulai mengupayakan penyerahan.

Perang Dunia II meninggalkan jejak kehancuran yang luar biasa besar dan brutal dalam sejarah manusia. Selama enam tahun konflik, lebih dari 70 juta orang tewas—sebagian besar adalah warga sipil yang menjadi korban pemboman, kelaparan, penyakit, dan genosida. Di Eropa, kota-kota seperti Warsaw, Berlin, dan Stalingrad hancur menjadi puing-puing. Di Asia, Nanjing dan Manila mengalami pembantaian massal dan pertempuran urban yang memusnahkan infrastruktur dan populasi sipil. Kamp-kamp konsentrasi Nazi menelan jutaan nyawa dalam Holocaust, sementara di Asia Timur, kekejaman militer Jepang merenggut jutaan korban sipil, terutama di Tiongkok dan Korea.

Skala kerusakan akibat perang ini sungguh luar biadab: perekonomian dunia lumpuh, jutaan orang kehilangan tempat tinggal, dan wilayah-wilayah luas berubah menjadi tanah mati. Teknologi perang digunakan tanpa batas moral—termasuk senjata kimia, pemboman strategis terhadap warga sipil, hingga penggunaan bom atom di Jepang. Di Eropa Timur dan Asia, puluhan juta orang mengungsi, membentuk krisis kemanusiaan terbesar abad ke-20. Trauma kolektif dari perang ini menjadi warisan pahit bagi generasi setelahnya, sekaligus mengubah peta politik dunia secara permanen.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Kapal Cicalengka: Dari Kapal Dagang jadi Rumah Sakit Darurat

Tjitjalengka, yang dalam ejaan kiwari dibaca Cicalengka, sejatinya merupakan kapal penumpang dan kargo milik Java-China-Japan Line (JCJL). Sebelum menyandang status H.M.H.S. atau Her Majesty's Hospital Ship, ia berstatus Steamship atau S.S. (kapal uap) biasa. Kapal dagang ini diluncurkan dari galangan Netherlands Shipbuilding Company di Amsterdam pada 16 Agustus 1938.

The Royal Navy Research Archive mencatat pelayaran perdana Cicalengka dimulai pada pertengahan Mei 1939, dengan rute ekspres dari Batavia ke kota-kota pelabuhan besar Asia Timur seperti Hong Kong, Amoy, dan Shanghai. Dalam perjalanannya, kapal ini juga singgah di Manila, Cebu, Makassar, dan Bali. Posisi strategis dan kecepatannya menjadikannya tulang punggung pengangkutan orang dan barang lintas Asia Tenggara.

Tapi, meletusnya Perang Dunia II mengubah arah nasib Cicalengka. Ketika ketegangan meningkat akibat ekspansi militer Jepang, pemerintah kolonial Belanda memerintahkan seluruh armada sipil di Pasifik untuk berlindung di pelabuhan netral. Pada 1941, Cicalengka yang sedang berlayar antara Manila dan Hong Kong, diperintahkan kembali ke Manila. Sejak saat itu, karier komersialnya terhenti dan perannya bergeser drastis.

Setelah periode ketidakpastian, Cicalengka direkuisisi oleh pihak Inggris dan dipindahkan ke Eropa. Pada pertengahan 1942, ia tiba di Liverpool untuk menjalani konversi menjadi kapal rumah sakit dengan kapasitas awal 500 pasien yang bisa ditingkatkan hingga 1.008. Warna tubuhnya diubah total—cat putih mendominasi seluruh badan kapal, dihiasi garis hijau di sisi lambung dan lambang Palang Merah besar di bagian tengah serta cerobong kapal.

Kapal Tjitjalengka (Cicalengka) setelah dirombak menjadi rumah sakit darurat. (Sumber: Australian War Memorial)
Kapal Tjitjalengka (Cicalengka) setelah dirombak menjadi rumah sakit darurat. (Sumber: Australian War Memorial)

Cicalengka lantas dijuluki sebagai Hospital Ship No. 9, Tjitjalengka tetap dipimpin oleh kapten dan awak asal Belanda, dengan kru pelayaran dari Tiongkok dan Indonesia. Sementara itu, tim medisnya terdiri dari dokter dan perawat militer Inggris.

Ketibaannya di Liverpool bertepatan dengan masa-masa tergelap kota itu: Liverpool Blitz. Dalam rentetan serangan udara sistematis oleh Luftwaffe—angkatan udara Nazi Jerman—sekitar 4.000 orang tewas di kawasan Merseyside, termasuk Liverpool dan sekitarnya. Liverpool pun tercatat sebagai kota kedua yang paling banyak dibom setelah London selama Perang Dunia II.

Sebagai Hospital Ship No. 9, Cicalengka mulai aktif mengangkut tentara yang terluka dari berbagai belahan dunia: Kanada, Afrika, India, hingga Ceylon. Meskipun kapal ini dibangun untuk iklim tropis, ia harus bertahan dalam cuaca dingin Nova Scotia dan kondisi laut ganas Samudra Hindia. Keberadaannya sebagai rumah sakit terapung sangat krusial, terutama di wilayah-wilayah yang kekurangan fasilitas medis darurat.

Tugas terberat datang pada 1945 ketika Cicalengka ditugaskan mendukung Armada Pasifik Inggris (British Pacific Fleet) dalam operasi serangan terhadap Jepang. Dalam beberapa kesempatan, ia menerima langsung korban serangan Kamikaze dari kapal induk yang rusak di tengah laut. Proses evakuasi dilakukan dengan risiko tinggi: pasien dipindahkan dari kapal ke kapal di tengah laut, dalam kondisi medan operasi yang sangat berbahaya.

Setelah Jepang menyerah, Cicalengka mendapat peran baru yang tak kalah penting: menjadi tempat transit dan perawatan ribuan tawanan perang Sekutu yang dibebaskan dari kamp-kamp interniran Jepang. Ia menjadi salah satu kapal pertama yang bersandar di Yokohama setelah penyerahan Jepang, dan turut mengangkut eks tawanan perang asal Selandia Baru, Australia, dan Inggris kembali ke tanah air mereka. Banyak dari mereka dalam kondisi fisik sangat buruk akibat perlakuan di kamp, dan membutuhkan perawatan intensif selama pelayaran pulang.

Setelah menyelesaikan misi kemanusiaan besar ini, Cicalengka melanjutkan pelayaran panjang ke berbagai pelabuhan Asia — dari Shanghai hingga Singapura — untuk mengangkut diplomat, warga sipil, dan eks tawanan lainnya. Ia kemudian menempuh perjalanan pulang ke Eropa melalui rute panjang melewati Madras, Kolombo, Durban, Freetown, dan Madeira. Pada awal Februari 1946, Cicalengka akhirnya tiba kembali di Liverpool.

Baca Juga: Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

Setelah peralatan medis dilepas dan fungsinya sebagai rumah sakit terapung resmi diakhiri, Cicalengka kembali ke pangkuan pemilik awalnya, JCJL. Ia kembali menjalani pelayaran komersial, kali ini dengan wajah yang berbeda — bukan lagi simbol kebanggaan kolonial, melainkan kapal veteran perang yang sarat sejarah.

Karier panjangnya akhirnya mencapai titik akhir pada tahun 1968, saat dijual untuk dibongkar di Hong Kong. Pada 11 Mei 1968, Cicalengka tiba di pelabuhan terakhirnya. Proses pembongkaran tuntas pada November tahun yang sama, menandai akhir kisah sebuah kapal yang telah melintasi zaman, dari masa kejayaan kolonial, kengerian perang dunia, hingga pemulihan pascaperang.

Cicalengka bukan sekadar nama kapal, melainkan saksi hidup sejarah abad ke-20. Ia pernah menjadi kendaraan dagang, tempat berteduh pasukan, rumah sakit terapung, dan penyambut kembali para korban perang. Sejarahnya adalah bagian kecil namun berarti dari kisah besar perang dan perdamaian dunia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)