Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Kapal SS Tjitjalengka (Cicalengka) buatan perusahaan Belanda.
Kapal SS Tjitjalengka (Cicalengka) buatan perusahaan Belanda.

AYOBANDUNG.ID - Pada masa Perang Dunia II, nama-nama daerah di Jawa Barat tak hanya hadir di peta kolonial, tapi juga tertera di badan-badan kapal Belanda yang tersebar di samudra-samudra dunia. Di antara mereka, ada Tjitjalengka, sebuah kapal penumpang dan kargo milik Java-China-Japan Line (JCJL), yang kisahnya menyeberang dari jalur pelayaran Asia ke garis pertahanan tempur Sekutu di front Eropa.

Seturut catatan Stichting Maritiem Historische Data, kapal ini diluncurkan pada 16 Agustus 1938 di galangan Netherlands Shipbuilding Company, Amsterdam. Sebagai kapal bendera JCJL untuk jalur dagang antara Jawa, Tiongkok, dan Jepang, Tjitjalengka memuat janji ekonomi kolonial Belanda yang kala itu masih percaya akan stabilitas jalur dagang Asia.

Penamaan kapal itu sendiri dilakukan oleh Ny. C.F.J. Quarles van Ufford, istri seorang direktur perusahaan pelayaran, mungkin tanpa membayangkan bahwa empat tahun kemudian, kapal ini tak akan lagi mengangkut teh atau kopra dari Hindia Belanda, melainkan pasien luka-luka dari puing-puing bom Nazi.

Pada 8 Juli 1942, kapal ini diubah menjadi rumah sakit terapung di Liverpool, Inggris. Kapasitasnya 504 ranjang, dan bisa diperluas hingga dua kali lipat. Ia mulai bertugas pada 2 Oktober 1942 dengan nama resmi Hospital Ship No. 9—kemudian berubah menjadi No. 3. Dalam tugasnya, kapal ini bukan hanya menjadi tempat perawatan medis, tapi juga simbol perlawanan sipil di tengah keganasan perang udara yang terus mengguncang kota pelabuhan itu.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Jadi Rumah Sakit Darurat di Liverpool

Pada malam-malam gelap antara 1940 dan 1942, kota Liverpool berubah menjadi salah satu medan tempur paling getir dalam sejarah Inggris modern. Meskipun tak berada di garis depan Perang Dunia II, Liverpool menjadi sasaran strategis serangan udara Nazi Jerman. Kota pelabuhan ini porak-poranda oleh hujan bom, kobaran api, dan suara sirene yang memekakkan telinga. Peridtiwa itu dikenal juga sebagai Liverpool Blitz.

Liverpool bukan tanpa alasan jadi target Luftwaffe, angkatan udara Jerman. Pada masa itu, Liverpool merupakan pelabuhan terpenting kedua di Inggris setelah London. Kota ini menjadi penghubung vital untuk aliran bantuan logistik dari Amerika Serikat (AS) dan Kanada, termasuk senjata, makanan, serta bahan bakar.

Ketika Churchill menandatangani Lend-Lease Act dengan AS, Liverpool menjadi salah satu titik transit utama bagi barang-barang bantuan tersebut. Karena itu pula, Jerman menilai menghancurkan Liverpool berarti memotong nadi utama perlawanan Inggris terhadap Nazi.

Target utama Luftwaffe memang pelabuhan, gudang amunisi, dan jalur kereta api. Tapi seperti banyak serangan udara pada masa itu, bom tak pandang bulu. Permukiman padat di pusat kota, rumah-rumah warga di Bootle, Everton, dan Garston, ikut menjadi korban.

Puncak dari Liverpool Blitz terjadi pada awal Mei 1941. Dalam satu minggu, antara tanggal 1 dan 7 Mei, lebih dari 680 pesawat Jerman menggempur Liverpool dan kawasan sekitarnya secara bergelombang. Serangan ini kemudian dikenal sebagai May Blitz. Dalam tujuh hari itu, sekitar 1.700 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka. Sebanyak 70 ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Salah satu tragedi terburuk terjadi di terowongan bawah tanah di bawah Durning Road, Edge Hill, yang dijadikan tempat perlindungan. Sebuah bom menghantam langsung bangunan di atasnya, menyebabkan kebakaran besar dan meruntuhkan struktur ke dalam terowongan. Lebih dari 160 orang tewas seketika, menurut catatan Liverpool Museums.

Kerusakan infrastruktur tak kalah parah. Pelabuhan hancur, pabrik-pabrik lumpuh, jaringan air dan listrik terputus.

Kehancuran kota akibat serangan Liverpool Blitz oleh pasukan NAZI Jerman di Perang Dunia II. (Sumber: Liverpool Museum)
Kehancuran kota akibat serangan Liverpool Blitz oleh pasukan NAZI Jerman di Perang Dunia II. (Sumber: Liverpool Museum)

Tiga tahun kemudian, Tjitjalengka masih tetap berada dalam misi penting. Catatan dari Naval History and Heritage Command menyebutkan kapal ini hadir di Teluk Tokyo saat upacara penyerahan Jepang pada 2 September 1945, berdampingan dengan kapal-kapal besar Sekutu. Dari pelabuhan Liverpool yang dibombardir, hingga perairan Jepang yang menyerah, kapal ini seolah mengikuti babak-babak penutup Perang Dunia II.

Baca Juga: Kisah Kapal Laut Cimahi Hilang di Kabut Kalimantan, Diterkam Laut China Selatan

Setelah perang usai, pada 1946, kapal ini kembali ke fungsi awal sebagai kapal penumpang dan kargo. Tapi jejak sejarah tak lantas hilang. Pada 11 Maret 1948, saat berada di pelabuhan Tanjung Priok, lambungnya dicap dengan nomor 2211 Z AMST 1948—semacam paspor yang mencatat perjalanannya dari Amsterdam ke Asia, dari rumah sakit terapung ke pengangkut damai.

Ujung hayat kapal ini akhirnya datang pada musim semi 1968. Setelah hampir tiga dekade berlayar dan selamat dari torpedo serta topan, Tjitjalengka dijual kepada perusahaan besi tua Ming Hing & Co. di Hong Kong. Ia tiba pada 11 Mei 1968, dan pada 10 November, kapal itu selesai dibesituakan. Dari pelabuhan Cicalengka yang tak memiliki laut, namanya sempat berlayar melintasi sejarah dunia.

Kapal dari Tanah Sunda yang Terseret ke Laut Perang

Tjitjalengka adalah satu dari banyak kapal Belanda yang namanya diambil dari tanah Priangan. Selain dia, ada Tjileboet, Garoet, Tjisondari, Tjitaroem, hingga Soekaboemi. Mereka bukan sekadar armada dagang, tapi juga saksi sejarah betapa perang menyentuh segala bentuk kendaraan, termasuk yang awalnya dibuat untuk mengangkut rempah dan manusia dalam damai.

Tidak semua kapal seberuntung Tjitjalengka. Tjileboet, misalnya, tenggelam ditorpedo kapal selam Jerman U-161 pada 28 November 1942. Saat itu, ia sedang mengangkut kargo dari Belfast menuju Bahia. Serangan terjadi 600 mil barat daya Freetown, dan semua 61 awak hilang di laut. Kapal itu tak pernah kembali ke dermaga.

Takdir serupa menimpa Garoet. Pada 19 Juni 1944, saat berlayar dari Bombay menuju Durban membawa kacang tanah, kapal itu dihantam dua torpedo dari U-181 di timur laut Mauritius. Sekoci-sekoci yang diturunkan tenggelam bersama badan kapal. Delapan puluh delapan awak tewas dalam tragedi itu. Hanya segelintir yang berhasil diselamatkan.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Berbeda dari kisah heroik kapal perang, kisah kapal-kapal ini lebih sunyi. Mereka bukan armada tempur, tapi korban dari logika perang yang tak memberi ruang pada netralitas. Dalam catatan sejarah maritim Belanda, kapal-kapal itu dicatat dengan dingin. tenggelam, hilang, atau dibesituakan. Namun di balik data itu, ada fragmen pengingat bahwa nama-nama seperti Tjitjalengka bukan sekadar rute kolonial, tapi juga pernah jadi rumah sakit, tempat berlindung, atau kuburan massal mengapung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)