Sejarah Pertempuran Bojongkokosan, 4 Hari Kacaukan Konvoi Sekutu ke Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Diorama Pertempuran Bojongkokosan di Museum Satriamandala. (Sumber: Wikimedia)
Diorama Pertempuran Bojongkokosan di Museum Satriamandala. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Deru mesin-mesin baja itu terdengar duluan sebelum wujudnya kelihatan di tikungan. Pagi 9 Desember 1945, dari arah Cicurug, suara tank Stuart, panser, dan brencarrier bercampur derap roda truk boks yang sarat pasukan Inggris. Jalan raya Sukabumi–Cianjur yang biasanya cuma dilewati pedati dan sepeda onthel kini jadi panggung iring-iringan militer pemenang Perang Dunia II. Mereka tak tahu, di sebuah desa bernama Bojongkokosan, jalur ini sudah berubah jadi lorong maut.

Bojongkokosan, desa kecil di Kecamatan Parungkuda, Sukabumi, sudah siap menyambut. Bukan dengan kalungan bunga atau jamuan sarapan kupat sayur, tapi dengan suara letusan senapan dan ledakan granat. Jalan di sini seperti botol leher sempit: aspalnya hanya cukup untuk dua truk berpapasan, diapit tebing tanah merah di kiri-kanan yang ditumbuhi pohon kelapa dan rumpun bambu. Siapa pun yang masuk terlalu dalam ke leher botol ini akan sulit keluar kalau ada yang menutup kedua ujungnya.

Dalam Palagan Bojongkokosan, Heroisme di Sukabumi yang Menyulut Lautan Api di Bandung terbitan Kementerian Kebudayaan, disebutkan bahwa Mayor Yahya B. Rangkuti, komandan Batalyon I TKR, menempatkan pasukannya di titik ini. Tiga batalyon lain — di bawah Mayor Harry Soekardi, Kapten Anwar, dan Mayor Abdulrachman — tersebar di titik-titik sepanjang 80-an kilometer jalur menuju Cianjur.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Gedung Sate, 4 Jam Jahanam di Jantung Bandung

Penduduk kampung sudah diberi tahu untuk mengungsi sebelum fajar. Beberapa orang tua tetap bertahan, bersembunyi di balik dinding bambu atau di kebun singkong, menyaksikan dari jauh. “Kami dengar deru mesin-mesin besar dari arah Cicurug. Tanah bergetar,” kenang seorang warga.

Begitu kepala konvoi masuk ke “lorong maut” itu, rentetan tembakan memecah pagi. Ledakan granat menghantam tank Stuart, asap hitam membubung. Ekor konvoi yang masih di Cicurug dihajar gelombang serangan kedua. “Tiga tank berhasil dilumpuhkan, beberapa truk hangus, dan puluhan tentara Inggris tewas,” begitu catatan para pejuang.

TKR memanfaatkan medan: tebing jadi perlindungan, pohon kelapa dan bambu rimbun menutupi posisi penembak. Serangan singkat, lalu mundur ke kampung atau hutan. Teknik hit and run ini membuat lawan frustrasi.

Pasukan Sekutu panik. Mereka membalas tembakan ke arah suara, bukan ke arah sasaran pasti. Beberapa peluru menghantam rumah penduduk, sebagian terbakar. Bagi warga yang bertahan, siang itu adalah neraka.

Keesokan paginya, 10 Desember 1945, Sekutu mengerahkan Royal Air Force. Mulai pagi hingga pukul empat sore, pesawat tempur mengebom Cibadak dan desa-desa sekitar. Kompa dan Cibadak nyaris rata dengan tanah. “Serangan udara paling dahsyat di Pulau Jawa,” kenang para saksi. Namun, bukannya membuat gentar, pemboman ini justru membuat perlawanan kian sengit.

Batalyon II di bawah Mayor Harry Soekardi menyerang dari Cibadak menuju Sukabumi barat. Batalyon III pimpinan Kapten Anwar berjaga di Gekbrong hingga Ciranjang, dan Batalyon IV di bawah Mayor Abdulrachman menutup jalur Sukabumi timur.

Pada 11 Desember, Markas Sekutu di Cimahi mengirim bala bantuan: Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Pasukan Nepal ini terkenal ulet, tapi kali ini perjalanan mereka tidak mulus. Di sepanjang jalur Cianjur, Batalyon III TKR menyergap mereka berulang kali. Malam baru jatuh ketika mereka bisa mencapai Sukabumi. Di sana, Mayor Rawin Singh memohon agar perjalanan menuju Bandung tidak lagi diganggu. Permohonan ini menunjukkan bahwa, setidaknya kali ini, Sekutu tidak punya banyak pilihan.

Monumen Palagan Bojongkokosan. (Sumber: Tumblr)
Monumen Palagan Bojongkokosan. (Sumber: Tumblr)

Berita ini sampai ke London. Di Parlemen Inggris, suara-suara kritis mulai terdengar. Keluarga tentara dan pers internasional mengecam. Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) akhirnya mengakui bahwa mereka tak sanggup menyelesaikan misi tanpa bantuan pihak Republik. Urusan pemulangan tawanan perang pun resmi diserahkan kepada TKR. Ini bukan sekadar pergantian tugas — secara diplomatik, ini adalah pengakuan de facto atas eksistensi Republik Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Rawayan 1946, Gugurnya 43 Pemuda saat Bandung Terbelah Dua

Perang Konvoi Kedua, Sekutu Kembali Dibombardir

Kemenangan itu membuat Belanda — lewat NICA — semakin gerah. Mereka membujuk AFNEI memindahkan pusat kekuatan militer ke Bandung. Kota ini memang sejak lama disiapkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. Logikanya sederhana: kuasai Bandung, kuasai Jawa Barat, lalu kuasai Indonesia.

Pada 10 Maret 1946, Sekutu kembali mengerahkan konvoi lewat jalur Sukabumi. Kali ini mereka membawa Batalyon Patiala, pasukan India sewaan. Mereka mungkin mengira jalur ini sudah aman. Dugaan itu terbukti keliru.

Batalyon II Resimen III TKR — yang sejak Januari sudah berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat — menghantam konvoi di Cipelang. Ekor konvoi dihajar Batalyon I. Begitu memasuki Sukabumi, Batalyon IV memberi sambutan serupa. Serangan dilakukan dalam gelombang-gelombang cepat. “Kirikumi” — taktik serang-hilang — diterapkan hingga membuat lawan sulit mengatur formasi.

Pada malam 11 Maret, gabungan Batalyon I, II, dan IV mengurung pasukan Patiala di tengah kota Sukabumi. Warga kota yang bersembunyi di rumah bisa mendengar dentuman granat bercampur suara komando dalam bahasa asing. Beberapa laskar rakyat membantu membawa amunisi lewat gang-gang sempit.

Sekutu lalu mengirim bantuan dari Bogor: tank Squadron 13 Lancer dan pasukan Grenadier. Tapi di Cikukulu, bantuan ini justru jadi sasaran TKR. Dari Bandung, dikirim pula pasukan Rajputana Rifles. Di Cianjur, mereka diadang Batalyon III, lalu kembali diganggu di Sukabumi.

Situasi ini memaksa Sekutu mengerahkan kekuatan besar. Pada 13 Maret, Brigade I di bawah Brigadier N.D. Wingrove bergerak dari Bandung. Rombongan 400 kendaraan ini membawa artileri berat dan 2.500 personel Inggris serta India. Tapi di jembatan Cisokan, Batalyon IV sudah menunggu.

Baru pada pukul 20.00 malam hari, empat kesatuan Sekutu berhasil berkumpul di Sukabumi. Tapi kirikumi kembali menghantam mereka. Dini hari 14 Maret, mereka mulai bergerak lagi ke Bandung, terus diganggu penembak jitu TKR di sepanjang jalan.

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

Empat hari empat malam jalur Sukabumi–Cianjur kembali jadi neraka bagi Sekutu. Pasukan pemenang Perang Dunia II ini, lengkap dengan tank dan dukungan RAF, dibuat kalang kabut oleh tentara republik yang hanya bersenjatakan senapan dan granat seadanya.

Ketika kekuatan Sekutu dan Belanda akhirnya terkonsentrasi di Bandung, bara perlawanan itu meledak jadi Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946. Api itu punya sumber jelas: Bojongkokosan, dan perang konvoi dua gelombang yang membuktikan, bagi republik yang baru lahir, jalan ke Bandung tak pernah gratis bagi penjajah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)