Sejarah Pertempuran Rawayan 1946, Gugurnya 43 Pemuda saat Bandung Terbelah Dua

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)
Tentara pribumi dengan senjata senapan mesin karabin Madsen dari KNIL. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada tahun 1946 adalah kota yang baru saja terbakar amarah. Peristiwa Bandung Lautan Api—24-25 Maret 1946—membuat pasukan Republik mundur sejauh 11 km dari pusat kota. Mereka meninggalkan Bandung dalam kobaran api, bukan karena putus asa, melainkan karena tekad: lebih baik membakar kota daripada menyerahkannya utuh kepada Belanda.

Pasukan pejuang kemudian menyebar ke luar kota. Di selatan Bandung, kekuatan ini terhimpun di bawah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP). Markas MPPP berada di Baleendah-Ciparay, menjadi pusat koordinasi antara TNI dan berbagai laskar rakyat. Di sinilah strategi perang gerilya disusun, sambil mengawasi garis demarkasi yang memisahkan wilayah Republik dengan Belanda.

Buku Monumen Perjuangan di Jawa Barat mencatat Jembatan Rawayan adalah salah satu titik rawan di wilayah tersebut. Bukan kebetulan jika jembatan ini menjadi rawan. Letaknya persis di garis demarkasi yang sudah disepakati Sekutu yang membonceng Belanda dan Republik kala itu. Kesepakatan yang membagi wilayah itu memang sudah dibuat: sebelah utara Sungai Cisangkuy dan Citarum dikuasai Belanda, sebelah selatan dipegang Republik.

Kesepakatan pembagian Bandung menjadi dua wilayah ini muncul stelah tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan warga Bandung untuk meninggalkan kota dan menyerahkan senjata yang telah dirampas dari Jepang. Ultimatum pertama menyebutkan bahwa penduduk harus mengosongkan Bandung Utara dan pindah ke selatan, dengan batas waktu dua hari yaitu pada 29 November 1945. Bagi penduduk yang tidak segera pergi, mereka akan ditangkap.

Sebagai konsekuensi, Bandung resmi terbagi dua. Bagian utara dianggap daerah Sekutu, sedangkan bagian selatan menjadi wilayah Republik Indonesia. Garis pemisahnya adalah rel kereta api yang membujur dari barat ke timur, termasuk Jembatan Rawayan yang menjadi garis pembelah di Sungai Cisangkuy. Pembagian ini dimaksudkan untuk menghindarkan bentrokan senjata antara pasukan pejuang dengan pasukan Sekutu, yang saat itu sudah sangat panas akibat ketegangan dan konflik yang menguat seiring kedatangan NICA.

Jembatan Rawayan sendiri menghubungkan Desa Kiangroke dengan Desa Cangkuang, Kecamatan Banjaran.

Baca Juga: Pemberontakan APRA Westerling di Bandung, Kudeta yang Percepat Keruntuhan RIS

Bagi para pejuang, batas ini hanyalah ilusi. Pasukan TNI dan laskar rakyat kerap melakukan serangan mendadak. Salah satu yang terkenal adalah aksi Moh. Toha yang meledakkan gudang amunisi di Dayeuhkolot pada 11 Juli 1946. Balasannya pun keras. Pada 31 Juli 1946, pasukan Belanda menerobos Citarum dan menduduki Banjaran selama delapan jam.

Wilayah Banjaran dan Dayeuhkolot menjadi ajang saling serang. Pagi ini Republik yang menyerang, sore nanti giliran Belanda. Pasukan di daerah ini selalu harus siap tempur. Peran mata-mata sangat vital. Informasi tentang pergerakan lawan bisa berarti hidup atau mati.

Di tengah situasi seperti itu, datanglah Senin pagi, 28 Ramadhan 1365 H atau 26 Agustus 1946. Pasukan Republik bergerak menuju sekitar Jembatan Rawayan. Gabungan kekuatan itu terdiri dari kesatuan TRIKA pimpinan Kapten Kadarusno dan Polisi Tentara di bawah Kapten Gandawijaya. Mereka bergerak mengikuti pematang sawah, mungkin sambil mengandalkan pengetahuan medan.

Tapi, tanpa mereka sadari, Belanda telah lebih dulu tahu rute mereka. Pasukan musuh, lengkap dengan persenjataan, sudah menunggu. Sekitar pukul 08.00 pagi, suasana yang mungkin tenang hanya sesaat sebelumnya pecah oleh “rentetan bunyi tembakan”. Tembakan itu dibalas, dan pertempuran pun pecah.

Belanda sudah mengepung rapat. Pasukan Republik melawan sekuat tenaga, tetapi tak bisa menembus lingkaran. Persenjataan musuh jauh lebih unggul. “Banyak di antara mereka gugur di medan tempur, sebagian lagi berhasil meloloskan diri,” demikian catatan peristiwa itu.

Penduduk sekitar panik. Laki-laki bersembunyi, meninggalkan rumah. Justru para ibu yang pertama mendekat ke lokasi usai suara tembakan mereda. Dari Kampung Pataruman, Sukesih, Eras, dan Darsih datang, mengangkat satu per satu jenazah pejuang dari tengah sawah. Alat yang mereka gunakan bukan tandu resmi, melainkan tangga bambu dan badodon—alat tangkap ikan dari bambu.

Jumlah korban mencapai 43 pejuang gugur. Mayoritas berusia sekitar 20 tahun—usia yang biasanya masih sibuk memikirkan masa depan, tapi mereka memilih mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Sebagian besar dari pasukan TRIKA, satu dari Polisi Tentara, dan seorang warga sipil bernama H. Sarbini. Banyak yang dipercaya berasal dari Tasikmalaya.

Jenazah mereka dibawa ke Balai Desa Kiangroke dan markas TRI di Kampung Tarigu sebelum keesokan harinya diangkut dengan truk ke Pangalengan. Mereka dimakamkan di Ciwidara dan Cinere—tanah dingin pegunungan yang kini menjadi tempat abadi anak-anak muda itu.

Bandung Lautan Api. (Sumber: Wikimedia)
Bandung Lautan Api. (Sumber: Wikimedia)

Tugu Peringatan Perjuangan Rawayan Dua Kali Dibangun

Dua puluh lima tahun setelah pertempuran, Kiangroke belum melupakan peristiwa itu. Pada 21 April 1971, diadakan musyawarah antara kepala desa, para tokoh veteran, dan Camat Banjaran. Kepala Desa saat itu menyetujui ide membangun monumen. Alasannya sederhana: di banyak tempat lain sudah ada tugu peringatan pertempuran 1945, sementara di Kiangroke—yang punya kisah heroik sendiri—belum ada.

Bangunan monumen pertama dibuat pada 21 November 1979 di dekat Jembatan Rawayan. Namun, lokasinya terlalu sempit untuk upacara, sehingga pada 1981 diputuskan membangun monumen baru di lokasi yang lebih representatif: depan lapangan sepak bola Desa Margahurip (pecahan dari Kiangroke).

Pembangunan monumen kedua dimulai pada 28 Oktober 1981, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Biayanya dari hasil kas desa dan swadaya masyarakat. Lima tiang besar meruncing melambangkan bambu runcing, senjata rakyat yang sederhana tapi mematikan. Lima tiang lebih kecil dihiasi bekas peluru mortir—lambang kekuatan militer Belanda. Kombinasi ini seakan menggambarkan ketimpangan kekuatan pada 26 Agustus 1946, tapi juga keteguhan hati melawan.

Baca Juga: Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

"Telah gugur 43 kesatria Pahlawan Bangsa ketika mempertahankan kemerdekaan melawan tentara Belanda di sekitar Sasak Rawayan pada hari Senin tanggal 26-8-1946. 28 Ramadhan 1365," demikian tertulis dalam prasasti tugu peringatan.

Kini, Monumen Perjuangan Rawayan berdiri di pinggir jalan, mudah dijangkau siapa saja yang ingin mengenang. Lokasinya strategis untuk peringatan hari-hari besar, seperti 17 Agustus atau Sumpah Pemuda. Lebih dari sekadar tumpukan batu dan besi, ia adalah penanda bahwa di tanah ini, 43 anak muda pernah memilih mati berdiri daripada hidup berlutut.

Bagi warga Kiangroke, monumen itu adalah warisan. Bagi sejarawan, ia adalah sumber cerita tentang bagaimana perang kemerdekaan bukan hanya terjadi di kota besar, tapi juga di pematang sawah desa yang mungkin tak terkenal di peta.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)