Melihat Tuturan 'Arogan' dari Kacamata Linguistik

Salehudin
Ditulis oleh Salehudin diterbitkan Jumat 21 Nov 2025, 17:27 WIB
Jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Dalam tataran yang lebih luas, bahasa tidak pernah berhenti pada teks ia pasti selalu melibatkan konteks. Pada tahap ini, bahasa menunjukkan bahwa kata-kata tidak pernah berada pada ruang hampa; barangkali secara kalimat ia objektif tapi seringkali tidak netral.

Meski pada dasarnya fungsi bahasa adalah alat komunikasi namun tidak berhenti di sana, bahasa bisa mencerminkan banyak hal; kekuasaan, status, situasi, ideologi, sejarah, dan seterusnya dan seterusnya. Sejarah membuktikan bahwa bahasa acapkali dijadikan instrumen dalam wajah kekuasaan. Meminjam istilah Wacana Kritis; terdapat kuasa di balik bahasa.

Salah satu cabang ilmu bahasa (linguistik) yang membahas ujaran, tuturan, dan tindak tutur (speech act) ialah pragmatik. Dalam tindak tutur, bahasa diangkat pada level yang lebih tinggi dengan mempertimbangkan banyak hal seperti: penutur, petutur (mitra bicara), bentuk tuturan, latar bicara, dialek/gaya bicara dll.

Akhir-akhir ini khalayak ramai memperbincangkan tuturan dan sikap berbahasa anggota DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, pada acara forum pertemuan bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau kerap dikenal dapur MBG di Bandung. Dalam potongan video yang beredar, seorang peserta menyarankan agar tidak menggunakan istilah ahli gizi jika yang mengisi posisi tersebut ternyata bukan orang yang memiliki latar belakang pendidikan gizi. Cucun merespon peserta yang memberi saran tersebut dengan menyebutnya arogan. Lalu bagaimana kira-kira kasus tuturan bahasa ini dalam sudut pandang linguistik Pragmatik dan Wacana Kritis? Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan?

Dalam sebuah percakapan atau tindak tutur yang dilangsungkan, menurut Austin (1962) sebenarnya bisa terjadi tiga peristiwa tindakan sekaligus yaitu, (1) tindak tutur lokusi (locutionary acts), (2) tindak tutur ilokusi (illocutionary acts), dan (3) tindak tutur perlokusi (perlocutionary acts). Mari coba kita terapkan pada kasus Cucun ini. Pertama, lokusi ialah kondisi ketika si penutur berniat menguatarakan sesuatu yang pasti dan secara langsung tanpa tedeng aling-aling. Artinya, makna kata-kata tersebut bisa dilihat secara leksikal. Kalimat-kalimat dalam percakapan bisa dilihat secara literal. Maka untuk lokusi kita bisa mengambil kamus bersama sebagai rujukan, serupa KBBI. Kita bisa menganggap tuturan seorang peserta yang menyarankan agar tidak menggunakan istilah ahli gizi sebagai lokusi karena pesan si peserta amatlah terang benderang; tujuannya jelas memberikan saran. Tentu saja kita tidak butuh kamus etimologi atau asal-usul kata untuk memhami saran peserta tersebut. Konteks tuturannya jelas.

Pada konteks percakapan (tuturan) antara Cucun dan peserta tersebut, justru kalimat jawaban Cucunlah yang sepertinya memiliki maksud lain. Ia menganggap peserta dalam forum itu sebagai arogan. Pada tahap yang kedua yaitu ilokusi sebenarnya tuturan Cucun dapat tergambarkan. Berbeda dengan lokusi, ilokusi syarat dengan maksud dan tujuan seorang penutur. Meski secara sekilas kita bisa melihat dari ujarannya, tapi si penutur sendirilah yang mengetahui dan memahami maksud isi tuturannya. Entah apa maksud Cucun menyebut arogan peserta? Padahal sudah sangat jelas apa yang disampaikan lawan bicaranya (peserta forum). Apakah ia merasa ada sisi egonya sebagai seorang yang berkuasa (Wakil Ketua DPR RI) yang disinggung? Apakah ia merasa seseorang yang jauh berada di bawahnya tidak berhak memberikan saran sehingga pantas menyebutnya arogan jika berani-berani bahkan untuk sekadar memberi saran? Bukankah tuturan “semua keputusan di republik ini asal saya tinggal pegang palu selesai…” bahkan lebih pongah dan arogan ketimbang sebuah saran seorang peserta di atas?

Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Meminjam perspektif Michel Foucault (1969) tentang Formasi Diskursif (Discursive Formation), tuturan arogan Cucun tersebut nampaknya berfungsi sebagai alat untuk mendisiplinkan pikiran dan tubuh para audiens, khususnya peserta forum yang kritis. Melalui nada bicara yang merendahkan, pemilihan kata yang meremehkan, dan struktur kalimat yang bersifat performatif (menegaskan status), bahwa  hanya suara elit yang berhak menjadi master narrative, bukankah ini bahkan bentuk arogansi kekuasaan? Jauh melebihi arogan dalam kata-kata semata. Ketika sebuah forum terbuka dengan mudah memperlihatkan watak penguasa sesungguhnya, hal itu menggambarkan pada kita bahwa ruang publik nyatanya sudah lama runtuh dan bertransformasi menjadi ruang patuh, di mana partisipasi diizinkan sebatas korespondensi, bukan dialog sejati.

Ketiga, perlokusi. Jika lokusi dan ilokusi mendalami ujaran si penutur, maka perlokusi justru melihat bagaimana respon pendengar atau lawan bicara (mitra tutur). Poin terakhir ini berkaitan erat dengan fungsi bahasa memengaruhi pikiran dan perasaan seseorang. Hal ini mengimplikasikan segala bentuk sikap bahasa yang diperlihatkan atau yang dituturkan seorang penutur telah menyampaikan maksud dan tujuan yang akan berimbas kepada pendengarnya.

Pada tahap ini kita patut mengamini Fairclough (2001) bahwa bahasa adalah situs pertarungan ideologi. Jawaban seorang anggota parlemen yang memberi stempel arogan pada lawan bicara bukanlah sekadar "salah omong," melainkan reproduksi hegemoni kelas. Diksi yang ia gunakan mencerminkan posisi sosial superior yang berupaya melakukan dominasi melalui jalur linguistik.

Nahasnya, pada konteks ini perlokusi bukan hanya terjadi antara Cucun dan peserta tapi justru lebih ramai di luar forum hingga media sosial kita. Cucun tidak hanya merendahkan ahli gizi di forum tersebut tapi ia sedang menghina masyarakat. Buktinya banyak respon masyarakat yang marah dan tersinggung oleh sikap dan nada bicara Cucun. Jika jawaban Cucun dengan menyebut arogan peserta dianggap perlokusi, maka respon ramai-ramai masyarakat terhadap jawaban Cucun juga merupakan perlokusi yang meneguhkan bukti bahwa yang arogan bukan peserta forum yang memberi saran melainkan Cucun sendirilah yang sangat arogan.

Praktik percakapan sekilas ini menggambarkan betapa relasi ideal antara wakil rakyat dan konstituen berubah menjadi relasi subjek-objek. Pada tahap inilah Louis Althusser (1971) menganggap ideologi beroperasi melalui Aparatus Ideologis Negara (Ains)—dalam hal ini, wacana politik formal—yang memastikan subjek (rakyat) secara sukarela menerima penundukan.

Terakhir, jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? bukankah kebijakan dan ketidakadilan yang melahirkan kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan bagi masyarkat jauh lebih arogan dan menghina serta menyengsarakan ketimbang arogansi verbal semata? (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salehudin
Tentang Salehudin
Dosen ISBI Bandung, Peminat Bahasa dan Budaya

Berita Terkait

News Update

Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)