Melihat Tuturan 'Arogan' dari Kacamata Linguistik

5 menit baca
Salehudin
Ditulis oleh Salehudin diterbitkan
Jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Dalam tataran yang lebih luas, bahasa tidak pernah berhenti pada teks ia pasti selalu melibatkan konteks. Pada tahap ini, bahasa menunjukkan bahwa kata-kata tidak pernah berada pada ruang hampa; barangkali secara kalimat ia objektif tapi seringkali tidak netral.

Meski pada dasarnya fungsi bahasa adalah alat komunikasi namun tidak berhenti di sana, bahasa bisa mencerminkan banyak hal; kekuasaan, status, situasi, ideologi, sejarah, dan seterusnya dan seterusnya. Sejarah membuktikan bahwa bahasa acapkali dijadikan instrumen dalam wajah kekuasaan. Meminjam istilah Wacana Kritis; terdapat kuasa di balik bahasa.

Salah satu cabang ilmu bahasa (linguistik) yang membahas ujaran, tuturan, dan tindak tutur (speech act) ialah pragmatik. Dalam tindak tutur, bahasa diangkat pada level yang lebih tinggi dengan mempertimbangkan banyak hal seperti: penutur, petutur (mitra bicara), bentuk tuturan, latar bicara, dialek/gaya bicara dll.

Akhir-akhir ini khalayak ramai memperbincangkan tuturan dan sikap berbahasa anggota DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, pada acara forum pertemuan bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau kerap dikenal dapur MBG di Bandung. Dalam potongan video yang beredar, seorang peserta menyarankan agar tidak menggunakan istilah ahli gizi jika yang mengisi posisi tersebut ternyata bukan orang yang memiliki latar belakang pendidikan gizi. Cucun merespon peserta yang memberi saran tersebut dengan menyebutnya arogan. Lalu bagaimana kira-kira kasus tuturan bahasa ini dalam sudut pandang linguistik Pragmatik dan Wacana Kritis? Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan?

Dalam sebuah percakapan atau tindak tutur yang dilangsungkan, menurut Austin (1962) sebenarnya bisa terjadi tiga peristiwa tindakan sekaligus yaitu, (1) tindak tutur lokusi (locutionary acts), (2) tindak tutur ilokusi (illocutionary acts), dan (3) tindak tutur perlokusi (perlocutionary acts). Mari coba kita terapkan pada kasus Cucun ini. Pertama, lokusi ialah kondisi ketika si penutur berniat menguatarakan sesuatu yang pasti dan secara langsung tanpa tedeng aling-aling. Artinya, makna kata-kata tersebut bisa dilihat secara leksikal. Kalimat-kalimat dalam percakapan bisa dilihat secara literal. Maka untuk lokusi kita bisa mengambil kamus bersama sebagai rujukan, serupa KBBI. Kita bisa menganggap tuturan seorang peserta yang menyarankan agar tidak menggunakan istilah ahli gizi sebagai lokusi karena pesan si peserta amatlah terang benderang; tujuannya jelas memberikan saran. Tentu saja kita tidak butuh kamus etimologi atau asal-usul kata untuk memhami saran peserta tersebut. Konteks tuturannya jelas.

Pada konteks percakapan (tuturan) antara Cucun dan peserta tersebut, justru kalimat jawaban Cucunlah yang sepertinya memiliki maksud lain. Ia menganggap peserta dalam forum itu sebagai arogan. Pada tahap yang kedua yaitu ilokusi sebenarnya tuturan Cucun dapat tergambarkan. Berbeda dengan lokusi, ilokusi syarat dengan maksud dan tujuan seorang penutur. Meski secara sekilas kita bisa melihat dari ujarannya, tapi si penutur sendirilah yang mengetahui dan memahami maksud isi tuturannya. Entah apa maksud Cucun menyebut arogan peserta? Padahal sudah sangat jelas apa yang disampaikan lawan bicaranya (peserta forum). Apakah ia merasa ada sisi egonya sebagai seorang yang berkuasa (Wakil Ketua DPR RI) yang disinggung? Apakah ia merasa seseorang yang jauh berada di bawahnya tidak berhak memberikan saran sehingga pantas menyebutnya arogan jika berani-berani bahkan untuk sekadar memberi saran? Bukankah tuturan “semua keputusan di republik ini asal saya tinggal pegang palu selesai…” bahkan lebih pongah dan arogan ketimbang sebuah saran seorang peserta di atas?

Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas dicap arogan? (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Meminjam perspektif Michel Foucault (1969) tentang Formasi Diskursif (Discursive Formation), tuturan arogan Cucun tersebut nampaknya berfungsi sebagai alat untuk mendisiplinkan pikiran dan tubuh para audiens, khususnya peserta forum yang kritis. Melalui nada bicara yang merendahkan, pemilihan kata yang meremehkan, dan struktur kalimat yang bersifat performatif (menegaskan status), bahwa  hanya suara elit yang berhak menjadi master narrative, bukankah ini bahkan bentuk arogansi kekuasaan? Jauh melebihi arogan dalam kata-kata semata. Ketika sebuah forum terbuka dengan mudah memperlihatkan watak penguasa sesungguhnya, hal itu menggambarkan pada kita bahwa ruang publik nyatanya sudah lama runtuh dan bertransformasi menjadi ruang patuh, di mana partisipasi diizinkan sebatas korespondensi, bukan dialog sejati.

Ketiga, perlokusi. Jika lokusi dan ilokusi mendalami ujaran si penutur, maka perlokusi justru melihat bagaimana respon pendengar atau lawan bicara (mitra tutur). Poin terakhir ini berkaitan erat dengan fungsi bahasa memengaruhi pikiran dan perasaan seseorang. Hal ini mengimplikasikan segala bentuk sikap bahasa yang diperlihatkan atau yang dituturkan seorang penutur telah menyampaikan maksud dan tujuan yang akan berimbas kepada pendengarnya.

Pada tahap ini kita patut mengamini Fairclough (2001) bahwa bahasa adalah situs pertarungan ideologi. Jawaban seorang anggota parlemen yang memberi stempel arogan pada lawan bicara bukanlah sekadar "salah omong," melainkan reproduksi hegemoni kelas. Diksi yang ia gunakan mencerminkan posisi sosial superior yang berupaya melakukan dominasi melalui jalur linguistik.

Nahasnya, pada konteks ini perlokusi bukan hanya terjadi antara Cucun dan peserta tapi justru lebih ramai di luar forum hingga media sosial kita. Cucun tidak hanya merendahkan ahli gizi di forum tersebut tapi ia sedang menghina masyarakat. Buktinya banyak respon masyarakat yang marah dan tersinggung oleh sikap dan nada bicara Cucun. Jika jawaban Cucun dengan menyebut arogan peserta dianggap perlokusi, maka respon ramai-ramai masyarakat terhadap jawaban Cucun juga merupakan perlokusi yang meneguhkan bukti bahwa yang arogan bukan peserta forum yang memberi saran melainkan Cucun sendirilah yang sangat arogan.

Praktik percakapan sekilas ini menggambarkan betapa relasi ideal antara wakil rakyat dan konstituen berubah menjadi relasi subjek-objek. Pada tahap inilah Louis Althusser (1971) menganggap ideologi beroperasi melalui Aparatus Ideologis Negara (Ains)—dalam hal ini, wacana politik formal—yang memastikan subjek (rakyat) secara sukarela menerima penundukan.

Terakhir, jikapun ada masyarakat yang bersikap arogan pada pemerintah atau pejabat lantas memangnya kenapa? bukankah kebijakan dan ketidakadilan yang melahirkan kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan bagi masyarkat jauh lebih arogan dan menghina serta menyengsarakan ketimbang arogansi verbal semata? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Salehudin
Tentang Salehudin
Dosen ISBI Bandung, Peminat Bahasa dan Budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 15 Jul 2026, 15:24

Hikayat Sport Center Arcamanik, Dari Arena PON Menjadi Pusat Sport Tourism

Sport Center Arcamanik bertransformasi dari venue PON 2016 menjadi pusat olahraga, wisata keluarga, dan kuliner Bandung.

Anak-anak bermain layangan di sekitar area Sport Center Arcamanik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)