Eksistensi dan Penggunaan Bahasa Sunda di Kota Bandung

7 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Pertunjukan Wayang Golek sebagai Budaya Sunda (Sumber: Pexels)
Pertunjukan Wayang Golek sebagai Budaya Sunda (Sumber: Pexels)

"Tau ga ? Tadi aing ketinggalan PR, jadi Weh meunang hukuman"

" Sini atuh maneh teh, dudukna tong tebih-tebih teuing"

" Si eta mah emang kitu, meni embung di bawa ke Mall teh"

" Si gue mah tadi jajan cilok Weh"

Beberapa percakapan tadi pernah saya dengar saat bertemu dengan sekumpulan anak-anak sekolah di angkutan umum.

Terdengar lucu dan sedikit menggemaskan, sekaligus miris dan menyedihkan. Penggunaan bahasa Sunda yang tidak hanya kasar tapi juga dicampur penggunaannya dengan bahasa lain. Tapi mungkin bagi mereka itu adalah bagian dari trend di kalangan anak muda.

Di Kota Bandung sendiri, terlebih di lingkungan yang saya tempati, penggunaan bahasa Sunda memang sudah semakin sedikit terdengar terlebih di kalangan anak-anak dan remaja.

Sebagian dari mereka seringkali berkomunikasi dengan bahasa nasional yaitu Indonesia. Adapun beberapa anak yang masih berbincang menggunakan bahasa Sunda seringkali kata yang terucap adalah bahasa kasar. Belum lagi kebiasaan menambahkan imbuhan "anjing" di setiap akhir pengucapan kalimat.

Bahasa Sunda adalah bahasa ibu yang merepresentasikan masyarakat Sunda. Bahasa Sunda adalah bagian yang tak lepas dari perbincangan sehari-hari. Hanya saja hari ini bahasa Sunda sudah menjadi bahasa yang asing ditelinga anak-anak sekolah.

Masalah penggunaan bahasa Sunda tidak hanya berada di tingkat lingkungan keluarga tapi juga menjadi polemik sendiri bagi dunia pendidikan.

Dulu sebelum ramai media sosial, ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, bahasa Sunda seringkali hanya diajarkan ala kadarnya. Kami hanya menulis ulang catatan yang ada dalam buku paket milik guru yang kemudian dituliskan oleh sekretaris kelas di papan tulis.

Adapun jika guru yang bersangkutan menjelaskan biasanya hanya seputar pengenalan budaya Sunda perihal Pupuh, dongeng khas Sunda era kerajaan, jaipong atau beberapa alat kesenian yang ada di tatar tanah Sunda.

Sisi komunikasi yang bisa menjalin interaksi berbahasa Sunda hampir tidak ada. Bahkan guru bahasa Sunda yang menjelaskan materi juga tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Kegiatan seperti ini berlanjut hingga tingkat SMP dan SMA, mengulang materi yang sama dan pola komunikasi yang sama.

Bahkan ketika masa pendidikan saya cukup tertarik dengan aksara Sunda, hanya saja kajian ini biasanya hanya diulas sepintas dari kurikulum. Guru hanya mengajarkan konsonan saja tanpa merefleksikannya lewat tulisan dari huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat.

Tidak adanya media yang mendukung membuat ketertarikan saya terhadap aksara Sunda memudar. Bahkan seiring beranjaknya usia saya lupa begitu saja. Hanya sesekali kadang teringat jika melihat tulisan aksara Sunda yang ditulis di bawah marka penunjuk nama jalan yang ada di Kota Bandung.

Saya sendiri pun belajar bahasa Sunda "lemes" tidak berangkat dari interaksi keluarga tapi dari teman yang saya kenal berasal dari kota Tasikmalaya.

Saat itu saya bekerja di apotek sekitaran Kota Bandung, ada seorang pria Sunda yang membeli obat dengan bahasa Sunda yang lembut, yang sudah jarang terdengar di telinga saya dan sungguh mengejutkan masih bisa dilakukan oleh anak muda.

"Teh punten, tos dua dinten kapengker Abi teh panas tiris. Kawitna mah di panangan Abi teh aya bentol teras ku Abi teh digisik da teu kiat ku ateulna. Eh malah janten lecet teras ieu aya nanahan. Dupi obatna nganggo naon nya teh ?"

Begitulah kiranya bahasa Sunda "lemes" yang keluar dari mulutnya. Saya paham dengan maksud yang ditujukan pria itu tapi ketika hendak membalas pertanyaan dan menjelaskan edukasi obat dengan bahasa Sunda yang lemes, saya sedikit mengalami kesulitan. Sampai pada akhirnya saya juga banyak belajar bahasa Sunda lemes darinya.

Rasanya beberapa bahasa Sunda "lemes" memang lebih akrab bagi mereka yang tinggal jauh dari Kota Bandung, misalnya saja Tasik, Garut, Ciamis dan beberapa daerah yang masih terdapat pesantren. Dalam kesehariannya mereka memang masih memprioritaskan penggunaan bahasa "lemes" dalam berkomunikasi.

Upaya Majalah Mangle dalam Melestarikan Budaya Sunda

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)

Dulu saat sekolah saya sering mendengar nama majalah ini, hanya saja saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana bentuk fisiknya.

Di tingkat lingkungan keluarga tidak pernah ada yang mengenalkan majalah ini dan saat kecil saya tidak tahu harus mencari majalah tersebut di mana. Beberapa nama toko buku di Bandung sangat asing bagi saya.

Dulu sesekali saya pernah berkunjung bersama bapak ke area alun-alun kota Bandung tapi saya sedikit lupa dengan nama toko bukunya.

Adapun kunjungan ke toko buku bukan membeli buku untuk dibaca tapi sekedar membeli untuk tugas yang diberikan guru di sekolah.

Majalah Mangle sendiri merupakan majalah budaya Sunda tertua di Jawa Barat yang lahir pada tahun 1957 di Bogor. Kemudian majalah Mangle memindahkan pusat redaksinya ke Bandung karena segala kegiatan pemerintahan dan budaya Sunda berpusat di Kota Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat.

Belum banyak ditemukan penelitian mengenai majalah Mangle, hanya ada satu yang menarik bagi saya yang pernah ditulis oleh Roni Tobroni & Nunung Sanusi.

Dalam penelitiannya yang berjudul Eksistensi Majalah Berbahasa Sunda Mangle di Era Revolusi Industri 4.0 (2020) menuliskan fenomena beberapa media massa berbahasa Sunda yang sudah punah di Jawa Barat, diantaranya : Sipatahunan, Cupumanik, dan Koran Sunda yang juga tutup dan tidak bertahan lama di pasaran.

Menurut sudut pandang peneliti, majalah Mangle bukan hanya sekedar media massa tapi sebagai cagar budaya yang selayaknya pemerintah dan masyarakat Sunda harus cintai dan turut ngamumule keberadaan Majalah Mangle.

Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian disebutkan bahwa salah satu strategi non-redaksi yang dilakukan oleh Mangle demi mempertahankan eksistensinya adalah dengan menjalin kerjasama dengan instansi, dinas dan kampus juga digitalisasi naskah.

Berdasarkan penelitian ini disebutkan bahwa majalah Mangle terbit dalam bentuk fisik dan dalam bentuk digital, meski saya belum menemukan sumber terbitan versi digitalnya di internet.

Bahkan media sosial yang berhubungan dengan majalah Mangle pun tidak ada. Hanya ada dua postingan yang ada kaitannya dengan majalah Mangle.

Pertama, postingan humas Jabar pada tanggal 25 April 2019 ketika mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meresmikan kantor Majalah Mingguan Basa Sunda Mangle.

Kedua postingan kampus ISBI pada 22 Februari 2025 menampakan sebagian tulisan dari majalah Mangle Edisi 3015 dengan judul " Eco Fashion Style, Pidangan Karya Tina Runtah Baju".

Berdasarkan informasi yang saya temukan mulai dari tanggal 20 Mei 2025 Majalah Mangle resmi dipindahtangankan dan dikelola oleh Universitas Pajajaran.

Rektor UNPAD, Prof. Arief S. Kartasasmita dan Kepala Pusat Budaya Sunda, Prof. Ganjar Kurnia ikut hadir dalam peresmian acara tersebut di kampus UNPAD, Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung.

Ketertarikan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama tehadap budaya Sunda

Prof. Mikihoro Moriyama asal Universitas Nanzan Jepang (Sumber: Wikipedia)
Prof. Mikihoro Moriyama asal Universitas Nanzan Jepang (Sumber: Wikipedia

Prof Dr. Mikihiro Moriyama adalah seorang guru besar di Universitas di Nanzan, Jepang. Pria kelahiran 16 September 1960 ini begitu tertarik dengan bahasa Sunda selepas berkenalan dengan Ajip Rosidi seniman Sunda saat bermukim di Jepang. Moriyama amat terkesan terhadap sikap konsisten Ajip Rosidi dalam menggunakan bahasa Sunda meskipun sedang di mancanegara.

Pada tahun 1982-1984 Prof. Moriyama pernah belajar di UNPAD Bandung. Kemudian memperdalam seni Sunda seperti, maenpo, Pupuh, cianjuran, kecapi dan lain-lain di Cikalong kulon Cianjur pada 1984.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Moriyama, ada keunikan yang ditemukan dari bahasa Sunda. Menurutnya bahasa Sunda tidak bisa lepas dari budayanya. Hal inilah yang menjadi ciri khas orang Sunda dibandingkan dengan etnis lain di Indonesia.

Kecintaannya terhadap budaya Sunda membuat Prof. Moriyama seringkali mengangkat budaya dan bahasa Sunda dalam seminar di mancanegara hingga ke pelosok negeri Afrika seperti negeri Mali. Bahkan budaya dan bahasa Sunda pernah menjadi bahan penelitian disertasinya untuk menyelesaikan program S3.

Selain itu juga Prof. Moriyama pernah memberikan kuliah bahasa Sunda di Leiden Belanda yang dikenal sebagai universitas rujukan keilmuan bahasa Sunda termasyhur di luar negeri.

Kalau orang Sunda hilang bahasanya, mungkin jati diri sebagai orang Sunda juga bisa hilang. Prof Moriyama

Dalam sebuah tulisan yang terbit di laman unpad.ac.id, Prof. Moriyama menuturkan bahwa globalisasi justru berpeluang dalam mempopulerkan bahasa Sunda ke kancah global. Baginya hal ini sekaligus memupus anggapan bahwa globalisasi akan menyempitkan eksistensi budaya lokal.

Meski demikian, Moriyama juga berpendapat bahwa salah satu faktor yang bisa menyebabkan bahasa Sunda mendunia adalah jika ada upaya pengajaran yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten dari masyarakat suku Sunda sendiri.

Bagi saya kehadiran dan kecintaan Prof. Mikihoro Moriyama terhadap budaya dan bahasa Sunda bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk turut serta menjaga dan melestarikan budaya bahasa ibu.

Keberadaan Prof. Moriyama juga menjadi pengingat bahwa kita harus senantiasa bangga dan berkontribusi dalam pelestarian budaya dan bahasa Sunda agar identitasnya tidak hilang ditelan masa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)