Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Eksistensi dan Penggunaan Bahasa Sunda di Kota Bandung

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Jumat 05 Sep 2025, 09:52 WIB
Pertunjukan Wayang Golek sebagai Budaya Sunda (Sumber: Pexels)

Pertunjukan Wayang Golek sebagai Budaya Sunda (Sumber: Pexels)

"Tau ga ? Tadi aing ketinggalan PR, jadi Weh meunang hukuman"

" Sini atuh maneh teh, dudukna tong tebih-tebih teuing"

" Si eta mah emang kitu, meni embung di bawa ke Mall teh"

" Si gue mah tadi jajan cilok Weh"

Beberapa percakapan tadi pernah saya dengar saat bertemu dengan sekumpulan anak-anak sekolah di angkutan umum.

Terdengar lucu dan sedikit menggemaskan, sekaligus miris dan menyedihkan. Penggunaan bahasa Sunda yang tidak hanya kasar tapi juga dicampur penggunaannya dengan bahasa lain. Tapi mungkin bagi mereka itu adalah bagian dari trend di kalangan anak muda.

Di Kota Bandung sendiri, terlebih di lingkungan yang saya tempati, penggunaan bahasa Sunda memang sudah semakin sedikit terdengar terlebih di kalangan anak-anak dan remaja.

Sebagian dari mereka seringkali berkomunikasi dengan bahasa nasional yaitu Indonesia. Adapun beberapa anak yang masih berbincang menggunakan bahasa Sunda seringkali kata yang terucap adalah bahasa kasar. Belum lagi kebiasaan menambahkan imbuhan "anjing" di setiap akhir pengucapan kalimat.

Bahasa Sunda adalah bahasa ibu yang merepresentasikan masyarakat Sunda. Bahasa Sunda adalah bagian yang tak lepas dari perbincangan sehari-hari. Hanya saja hari ini bahasa Sunda sudah menjadi bahasa yang asing ditelinga anak-anak sekolah.

Masalah penggunaan bahasa Sunda tidak hanya berada di tingkat lingkungan keluarga tapi juga menjadi polemik sendiri bagi dunia pendidikan.

Dulu sebelum ramai media sosial, ketika saya duduk dibangku sekolah dasar, bahasa Sunda seringkali hanya diajarkan ala kadarnya. Kami hanya menulis ulang catatan yang ada dalam buku paket milik guru yang kemudian dituliskan oleh sekretaris kelas di papan tulis.

Adapun jika guru yang bersangkutan menjelaskan biasanya hanya seputar pengenalan budaya Sunda perihal Pupuh, dongeng khas Sunda era kerajaan, jaipong atau beberapa alat kesenian yang ada di tatar tanah Sunda.

Sisi komunikasi yang bisa menjalin interaksi berbahasa Sunda hampir tidak ada. Bahkan guru bahasa Sunda yang menjelaskan materi juga tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Kegiatan seperti ini berlanjut hingga tingkat SMP dan SMA, mengulang materi yang sama dan pola komunikasi yang sama.

Bahkan ketika masa pendidikan saya cukup tertarik dengan aksara Sunda, hanya saja kajian ini biasanya hanya diulas sepintas dari kurikulum. Guru hanya mengajarkan konsonan saja tanpa merefleksikannya lewat tulisan dari huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat.

Tidak adanya media yang mendukung membuat ketertarikan saya terhadap aksara Sunda memudar. Bahkan seiring beranjaknya usia saya lupa begitu saja. Hanya sesekali kadang teringat jika melihat tulisan aksara Sunda yang ditulis di bawah marka penunjuk nama jalan yang ada di Kota Bandung.

Saya sendiri pun belajar bahasa Sunda "lemes" tidak berangkat dari interaksi keluarga tapi dari teman yang saya kenal berasal dari kota Tasikmalaya.

Saat itu saya bekerja di apotek sekitaran Kota Bandung, ada seorang pria Sunda yang membeli obat dengan bahasa Sunda yang lembut, yang sudah jarang terdengar di telinga saya dan sungguh mengejutkan masih bisa dilakukan oleh anak muda.

"Teh punten, tos dua dinten kapengker Abi teh panas tiris. Kawitna mah di panangan Abi teh aya bentol teras ku Abi teh digisik da teu kiat ku ateulna. Eh malah janten lecet teras ieu aya nanahan. Dupi obatna nganggo naon nya teh ?"

Begitulah kiranya bahasa Sunda "lemes" yang keluar dari mulutnya. Saya paham dengan maksud yang ditujukan pria itu tapi ketika hendak membalas pertanyaan dan menjelaskan edukasi obat dengan bahasa Sunda yang lemes, saya sedikit mengalami kesulitan. Sampai pada akhirnya saya juga banyak belajar bahasa Sunda lemes darinya.

Rasanya beberapa bahasa Sunda "lemes" memang lebih akrab bagi mereka yang tinggal jauh dari Kota Bandung, misalnya saja Tasik, Garut, Ciamis dan beberapa daerah yang masih terdapat pesantren. Dalam kesehariannya mereka memang masih memprioritaskan penggunaan bahasa "lemes" dalam berkomunikasi.

Upaya Majalah Mangle dalam Melestarikan Budaya Sunda

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)

Dulu saat sekolah saya sering mendengar nama majalah ini, hanya saja saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana bentuk fisiknya.

Di tingkat lingkungan keluarga tidak pernah ada yang mengenalkan majalah ini dan saat kecil saya tidak tahu harus mencari majalah tersebut di mana. Beberapa nama toko buku di Bandung sangat asing bagi saya.

Dulu sesekali saya pernah berkunjung bersama bapak ke area alun-alun kota Bandung tapi saya sedikit lupa dengan nama toko bukunya.

Adapun kunjungan ke toko buku bukan membeli buku untuk dibaca tapi sekedar membeli untuk tugas yang diberikan guru di sekolah.

Majalah Mangle sendiri merupakan majalah budaya Sunda tertua di Jawa Barat yang lahir pada tahun 1957 di Bogor. Kemudian majalah Mangle memindahkan pusat redaksinya ke Bandung karena segala kegiatan pemerintahan dan budaya Sunda berpusat di Kota Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat.

Belum banyak ditemukan penelitian mengenai majalah Mangle, hanya ada satu yang menarik bagi saya yang pernah ditulis oleh Roni Tobroni & Nunung Sanusi.

Dalam penelitiannya yang berjudul Eksistensi Majalah Berbahasa Sunda Mangle di Era Revolusi Industri 4.0 (2020) menuliskan fenomena beberapa media massa berbahasa Sunda yang sudah punah di Jawa Barat, diantaranya : Sipatahunan, Cupumanik, dan Koran Sunda yang juga tutup dan tidak bertahan lama di pasaran.

Menurut sudut pandang peneliti, majalah Mangle bukan hanya sekedar media massa tapi sebagai cagar budaya yang selayaknya pemerintah dan masyarakat Sunda harus cintai dan turut ngamumule keberadaan Majalah Mangle.

Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian disebutkan bahwa salah satu strategi non-redaksi yang dilakukan oleh Mangle demi mempertahankan eksistensinya adalah dengan menjalin kerjasama dengan instansi, dinas dan kampus juga digitalisasi naskah.

Berdasarkan penelitian ini disebutkan bahwa majalah Mangle terbit dalam bentuk fisik dan dalam bentuk digital, meski saya belum menemukan sumber terbitan versi digitalnya di internet.

Bahkan media sosial yang berhubungan dengan majalah Mangle pun tidak ada. Hanya ada dua postingan yang ada kaitannya dengan majalah Mangle.

Pertama, postingan humas Jabar pada tanggal 25 April 2019 ketika mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meresmikan kantor Majalah Mingguan Basa Sunda Mangle.

Kedua postingan kampus ISBI pada 22 Februari 2025 menampakan sebagian tulisan dari majalah Mangle Edisi 3015 dengan judul " Eco Fashion Style, Pidangan Karya Tina Runtah Baju".

Berdasarkan informasi yang saya temukan mulai dari tanggal 20 Mei 2025 Majalah Mangle resmi dipindahtangankan dan dikelola oleh Universitas Pajajaran.

Rektor UNPAD, Prof. Arief S. Kartasasmita dan Kepala Pusat Budaya Sunda, Prof. Ganjar Kurnia ikut hadir dalam peresmian acara tersebut di kampus UNPAD, Jl. Dipati Ukur No.35 Bandung.

Ketertarikan Prof. Dr. Mikihiro Moriyama tehadap budaya Sunda

Prof. Mikihoro Moriyama asal Universitas Nanzan Jepang (Sumber: Wikipedia)
Prof. Mikihoro Moriyama asal Universitas Nanzan Jepang (Sumber: Wikipedia

Prof Dr. Mikihiro Moriyama adalah seorang guru besar di Universitas di Nanzan, Jepang. Pria kelahiran 16 September 1960 ini begitu tertarik dengan bahasa Sunda selepas berkenalan dengan Ajip Rosidi seniman Sunda saat bermukim di Jepang. Moriyama amat terkesan terhadap sikap konsisten Ajip Rosidi dalam menggunakan bahasa Sunda meskipun sedang di mancanegara.

Pada tahun 1982-1984 Prof. Moriyama pernah belajar di UNPAD Bandung. Kemudian memperdalam seni Sunda seperti, maenpo, Pupuh, cianjuran, kecapi dan lain-lain di Cikalong kulon Cianjur pada 1984.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Moriyama, ada keunikan yang ditemukan dari bahasa Sunda. Menurutnya bahasa Sunda tidak bisa lepas dari budayanya. Hal inilah yang menjadi ciri khas orang Sunda dibandingkan dengan etnis lain di Indonesia.

Kecintaannya terhadap budaya Sunda membuat Prof. Moriyama seringkali mengangkat budaya dan bahasa Sunda dalam seminar di mancanegara hingga ke pelosok negeri Afrika seperti negeri Mali. Bahkan budaya dan bahasa Sunda pernah menjadi bahan penelitian disertasinya untuk menyelesaikan program S3.

Selain itu juga Prof. Moriyama pernah memberikan kuliah bahasa Sunda di Leiden Belanda yang dikenal sebagai universitas rujukan keilmuan bahasa Sunda termasyhur di luar negeri.

Kalau orang Sunda hilang bahasanya, mungkin jati diri sebagai orang Sunda juga bisa hilang. Prof Moriyama

Dalam sebuah tulisan yang terbit di laman unpad.ac.id, Prof. Moriyama menuturkan bahwa globalisasi justru berpeluang dalam mempopulerkan bahasa Sunda ke kancah global. Baginya hal ini sekaligus memupus anggapan bahwa globalisasi akan menyempitkan eksistensi budaya lokal.

Meski demikian, Moriyama juga berpendapat bahwa salah satu faktor yang bisa menyebabkan bahasa Sunda mendunia adalah jika ada upaya pengajaran yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten dari masyarakat suku Sunda sendiri.

Bagi saya kehadiran dan kecintaan Prof. Mikihoro Moriyama terhadap budaya dan bahasa Sunda bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk turut serta menjaga dan melestarikan budaya bahasa ibu.

Keberadaan Prof. Moriyama juga menjadi pengingat bahwa kita harus senantiasa bangga dan berkontribusi dalam pelestarian budaya dan bahasa Sunda agar identitasnya tidak hilang ditelan masa. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)