Keunikan Sunda: Agama Bisa Apa Saja, Pola Pikirnya Tetap Kirata Basa

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Guru ngaji saya pernah bilang kalau Islam itu isya, subuh, lohor, asar, magrib. Huruf awal dari nama-nama salat wajib merangkai nama agama, menjadi sandi sederhana. Kata lohor sebagai istilah lokal Sunda buat zuhur, harusnya enggak dipakai.

Tapi sepertinya masyarakat Sunda ingin menunjukkan muatan lokal yang lebih kuat. Memang kelihatannya enggak konsisten, justru begitulah ingatan dijaga pakai bahasa yang akrab.

Begitupun teman saya yang Tionghoa pernah bercerita. Bahwa di antara komunitasnya di Bandung ada yang berkelakar bahwa Buddhayana itu berarti Buddha sadayana (Buddha semuanya).

Gurauan ini terasa pas, karena Buddhayana memang corak khas Indonesia yang mempertemukan berbagai tradisi Buddhisme. Nama yang terdengar ringan, lagi-lagi menjadi jembatan buat menjelaskan agama dengan cara yang mudah.

Saya juga teringat buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858–1963 karya Th. van den End. Di sana diceritakan kalau pada masa lalu, penginjilan di Tanah Sunda dilakukan dengan menyebut Kristus sebagai Keris nu diutus (Keris yang diutus).

Istilah keris menunjukkan imajinasi lokal tentang pusaka keramat. Dengan begitu, konsep mesias dibumikan lewat simbol yang sudah hidup dan dihormati di tengah masyarakat.

Serba-Serbi Main Kata

Pentas kesenian Bangreng di Sumedang. (Sumber: YouTube JagabudayaJabar)
Pentas kesenian Bangreng di Sumedang. (Sumber: YouTube JagabudayaJabar)

Semua ini seperti main kata saja, cocokologi yang bisa bikin orang merasa geli. Tapi lama-lama saya melihat ada pola yang menarik. Tentang cara orang Sunda memahami realitas dengan mengurai nama dari realitas itu sendiri. Makna dari suatu hal enggak jauh dari namanya.

Saya jadi teringat obrolan dengan adik nenek saya yang bilang pisang itu tangkalna berlapis, buahna nyangsang (pohonnya berlapis, buahnya menyangkut).

Begitu juga waktu menghadiri pernikahan saudara di kampung, ajengan setempat bilang minantu itu artinya mimiti nanggung tugas (awal mengemban tugas), sedangkan mitoha berarti mimiti tugas akhir (awal tugas berakhir).

Di situ saya paham soal adanya pola yang jadi alasan lahirnya pandangan bahwa agama itu kepanjangan dari aturan gawé manusa; aturan yang dibuat untuk menata pekerjaan manusia. Pandangan ini berasal dari komunitas agama leluhur yang dihidupkan kembali oleh Pangeran Madrais di Cigugur, Kuningan.

Dalam tradisi Sunda cara bermain dengan bahasa seperti ini dikenal sebagai kirata basa, yakni menafsir makna dari bunyi atau susunan kata yang seakan-akan itu memang artinya. Dari istilahnya saja kirata, dikira-kira sugan nyata (dikira-kira mungkin nyata).

Kadang hasilnya lucu sekaligus cerdik, tapi di baliknya ada ketajaman cara berpikir. Nama makanan pun sering terbentuk dari cara ini, misalnya cilung (aci digulung), buras (bubur heuras), atau comro (oncom di jero).

Begitu mendalamnya pola pikir ini di tengah masyarakat Sunda. Namun ia tidak selalu netral atau bagus. Teman saya pernah menceritakan bahwa di daerahnya, komunitas muslim Ahmadiyah sering dijuluki kodkék dari Qodiyan kacekék maksudnya kelompok Qadiyani yang tercekik.

Istilah yang memelesetkan nama dan sekaligus merendahkan martabat manusia, sekaligus menggambarkan situasi terpinggirkannya penganut kelompok keagamaan yang rentan. Di sini permainan bahasa berubah menjadi alat kekerasan simbolik, juga ikut mendokumentasikan diskriminasi yang mereka alami.

Dari komunitas penghayat, saya mendapat banyak contoh yang lebih dalam. Misalnya ajaran Bapak Mei Kartawinata tentang Subang yang dimaknai su itu hadé (baik) dan bang itu bangsa. Hal ini merujuk pada tempat asal wangsit diterima.

Tampak sederhana, tapi menyimpan gagasan besar tentang awal perjalanan religiusitas dan nasionalisme yang diperjuangkannya.

Lebih luas lagi, kita akan mendengar tuturan bahwa sesajén bukan sekadar persembahan tetapi bermakna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yakni sebuah bacaan yang memuat ajaran luhur untuk menyelamatkan manusia dan semesta.

Malah benda-benda tertentu seperti kujang pun dimaknai secara filosofis, misalnya sebagai kependekan dari kukuh kana janji, simbol keteguhan pada komitmen.

Epistemologi Lokal

Seni Sisingaan dari Subang. (Sumber: Wikimedia)
Seni Sisingaan dari Subang. (Sumber: Wikimedia)

Model pemahaman seperti ini sebetulnya bentuk epistemologi lokal, cara masyarakat Sunda memahami dan memaknai dunia. Tapi kita terlanjut dipaksa melulu bernalar secara logis rasional. Akibatnya kirata basa terbiasa direndahkan. Warisan intelektual leluhur justru diposisikan sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.

Komunitas kesundaan mengenalnya dengan sebutan panca curiga. Konsep ini menekankan bahwa setiap benda, peristiwa, atau gejala memiliki lapisan makna yang tersembunyi di balik tampak luarnya. Di sini simbolisme menjadi sangat penting, sebuah bentuk atau tanda tidak sekadar yang terlihat, melainkan memiliki pesan atau nilai yang harus dibaca dan dihayati.

Dari gurauan ringan sampai ke ejekan yang menyakitkan, dari ajaran luhur sampai permainan kata yang penuh makna, semua ini menunjukkan satu hal soal cara berpikir urang Sunda. Singkat-singkatan menempatkan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi kunci untuk memahami, membentuk, bahkan jauh mengatur realitas.

Orang sunda bisa saja buddhis, penghayat, kristiani, atau muslim, tapi di sini kita belajar soal rasanya yang selalu sama. Mereka semua “menganut” kirata basa. Dalam keragaman agama ini, kirata basa menjadi benang penghubung yang mewariskan rasa humor, ketajaman sindiran, sekaligus kemampuan mengolah simbol yang melintasi batas identitas keagamaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)