Wiranatakusumah V, Bangsawan Sunda Penentu Bubarnya Parlemen Pasundan Boneka Belanda

4 menit baca
Hengky Sulaksono Redaksi
Ditulis oleh Hengky Sulaksono , Redaksi diterbitkan
Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V saat berpidato di Cianjur. (Sumber: Wikimedia)
Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V saat berpidato di Cianjur. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V (1888–1965) bukan sekadar bangsawan Priangan. Ia adalah sosok yang menjembatani dua dunia: kalangan priyayi Sunda yang hidup dalam adat dan tata kolonial Hindia Belanda, serta arus modernitas yang dibawa kaum pergerakan nasional. Dalam sejarah, ia tercatat sebagai Menteri Dalam Negeri pertama Republik Indonesia, namun lebih sering dikenang sebagai Wali Negara Pasundan—sebuah jabatan yang terdengar seperti boneka, tapi dijalankan dengan keberpihakan yang mengejutkan.

Wiranatakusumah berasal dari keluarga bupati yang disegani di tanah Sunda. Ia sempat menjabat sebagai Bupati Bandung dan dididik dalam sistem kolonial, namun hatinya tak ikut tertawan. Dalam banyak literatur dan wawancara, ia digambarkan sebagai “menak nasionalis”, istilah yang digunakan sejarawan Agus Mulyana untuk menggambarkan bangsawan yang menempuh jalur birokrasi tapi tetap berpihak pada cita-cita republik.

“Wiranatakusumah V punya pandangan nasionalis tapi masuk jalur birokratis. Ia tidak memihak Belanda, ia pro pada republik,” kata Agus dalam sebuah diskusi daring Menggali Tokoh Sang Dalem Haji Wiranatakusumah V.

Di masa ketika banyak priyayi memilih jalur aman dengan mengabdi pada Belanda, Wiranatakusumah V justru mengambil risiko. Ketika ditunjuk sebagai Presiden Negara Pasundan oleh Belanda, ia menggunakan jabatan itu bukan untuk tunduk, tapi untuk membelokkan arah sejarah.

Boneka Pasundan, Skema Pecah Belah Belanda

Bila menengok ke tahun-tahun penuh kegamangan setelah Indonesia merdeka, gentingnya posisi Wiranatakusumah V ini dapat tergambar dengan terang benderang. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Belanda tak tinggal diam. Mereka kembali ke Hindia Belanda membawa senjata dan strategi baru. Alih-alih langsung menjajah ulang, mereka menciptakan negara-negara boneka yang diikat dalam struktur Republik Indonesia Serikat (RIS).

Salah satu proyek utama Belanda adalah Negara Pasundan, yang mencakup wilayah Jawa Barat. Pada 1947, mantan Bupati Garut Soeria Kartalegawa, yang juga pendiri Partai Rakyat Pasundan (PRP), memproklamasikan Negara Pasundan di Alun-alun Bandung. Ia bahkan melakukan orasi di Kebun Binatang Cikini demi menggaet simpati rakyat. Tapi rakyat tak peduli. Kartalegawa bukan tokoh berpengaruh. Bahkan Hubertus Johannes van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, kecewa.

Baca Juga: Sejarah Bioskop Rio Cimahi, Tempat Hiburan Serdadu KNIL yang Jadi Sarang Film Panas

Pada akhirnya, Van Mook mengubah pendekatan. Ia mengundang tokoh-tokoh masyarakat Sunda dalam serangkaian konferensi. Pada konferensi terakhir tahun 1948, nama Wiranatakusumah V muncul sebagai calon kompromi. Ia dihormati rakyat, dianggap nasionalis oleh Republik, dan tidak terlalu radikal menurut Belanda. Maka, ia pun dilantik sebagai Wali Negara Pasundan.

Tapi Belanda keliru membaca. Wiranatakusumah V bukan boneka. Ia tahu benar bahwa keberadaannya di jabatan itu adalah strategi, bukan legitimasi.

Wiranatakusumah saat berbicara dengan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus Johannes van Mook. (Sumber: Wikimedia)
Wiranatakusumah saat berbicara dengan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus Johannes van Mook. (Sumber: Wikimedia)

Buka Jalan Dekolonisasi

Sebagai Presiden Negara Pasundan, Wiranatakusumah V tidak tinggal diam melihat Belanda mengarahkan pemerintahan federal ke arah yang menjauh dari Republik. Ia membuka ruang manuver bagi para menteri seperti Djumhana Wiriaatmadja yang terang-terangan bersimpati pada Republik Indonesia. Ketika Belanda murka terhadap Djumhana dan hendak membubarkan kabinet, Wiranatakusumah V malah mengancam mundur. Itu bukan gertakan biasa. Belanda gentar.

Langkah itu membuat struktur Negara Pasundan retak dari dalam. Satu per satu simpatisan Republik mulai masuk ke jajaran birokrasi Pasundan. Tapi keretakan itu baru benar-benar runtuh saat pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) meledak di Bandung pada Januari 1950. Gerakan yang dipimpin Raymond Westerling, mantan perwira KNIL, menyerbu kota dan membunuh perwira TNI. Negara Pasundan gamang. Rakyat kehilangan kepercayaan.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Dengan situasi yang tak lagi bisa dipertahankan, Wiranatakusumah V memilih jalan pulang ke republik. Pada Maret 1950, ia secara resmi menyerahkan kekuasaan Negara Pasundan kepada Komisaris Republik Indonesia, menandai bubarnya negara boneka tersebut dan kembalinya Jawa Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penulis sejarah Iip Yahya menyebut keputusan itu jadi titik balik dekolonisasi Indonesia. “NKRI mungkin tidak akan ada kalau tidak ada Negara Pasundan yang menggabungkan diri. Dengan dia menggabungkan Pasundan ke republik, semua jadi lemah dan ngikut,” katanya.

Wiranatakusumah V meninggal pada 1965, dalam diam. Namanya tak sering muncul dalam buku sejarah pelajaran sekolah. Ia tidak diceritakan sebagai pahlawan perang atau orator besar. Tapi tanpa siasatnya dari dalam sistem, bisa jadi RIS tetap bertahan, dan Indonesia hari ini tak berbentuk negara kesatuan.

Sebagian pihak, termasuk Iip Yahya, menganggap ia layak jadi Pahlawan Nasional. Bukan karena gelarnya, tapi karena keberaniannya bermain dalam sistem lawan dan menjungkirbalikkannya dari dalam.

“Tapi itu butuh proses. Yang jelas mari kita bahas terus sosok Wiranatakusumah V, sehingga jadi pengetahuan yang dipahami masyarakat luas,” ujar Iip.

Di masa ketika musuh memakai topeng perjanjian dan konferensi, Wiranatakusumah V memilih jalan licin, tapi berpihak. Ia bukan pembakar semangat massa di podium, tapi penyelamat Republik dari dalam birokrasi musuh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)