Sejarah Bioskop Rio Cimahi, Tempat Hiburan Serdadu KNIL yang Jadi Sarang Film Panas

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret Bioskop Rio Cimahi zaman baheula. (Sumber: Sadayapadu Kota Cimahi | Foto: Sundakalapa)
Potret Bioskop Rio Cimahi zaman baheula. (Sumber: Sadayapadu Kota Cimahi | Foto: Sundakalapa)

AYOBANDUNG.ID - Di perempatan Jalan Raya Barat, tepat di jantung Kota Cimahi, berdiri sebuah bangunan tua yang kini tak lagi dipandang istimewa. Plakat kusam di bangunan itu bertuliskan “Ste. Francoise Busè”, nama yang bagi warga kota masa kini terdengar asing. Tapi bagi sejarawan, pecinta film lama, atau siapa pun yang pernah hidup di Cimahi tempo dulu, nama itu mengandung cerita. Cerita tentang gedung bioskop pertama di kota garnisun itu. Tentang tempat bernama Bioskop Rio, yang dahulu sempat menjadi simbol kemewahan di tengah kesederhanaan sebuah kota militer.

Cimahi dibentuk bukan sebagai kota biasa. Pemerintah kolonial Belanda merancangnya sebagai garnisun militer pada awal abad ke-20. Maka sejak awal, kota ini tak banyak dihuni warga sipil. Yang ada justru para serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) beserta keluarganya. Jalan-jalan dibangun lebar, barak tentara berjajar di kawasan Baros, rumah dinas berdiri di Kalidam dan Sriwijaya. Tapi hiburan, terutama hiburan malam, masih terbatas. Hanya ada Societeit voor Officieren—semacam klub perwira yang kini jadi Gedung Sudirman—lalu Cantine Militair, dan tempat ibadah Kristen khusus militer. Tidak ada bioskop.

Hingga pada akhir 1930-an, datanglah seorang pengusaha bioskop dari Bandung bernama F.F.A. Busè. Sebagaimana disitat dari laman resmi Pemerintah Kota Cimahi, Busè bukanlah orang sembarangan. Busè adalah pemilik kongsi bioskop Elita Concern, jaringan layar perak yang menjangkau berbagai kota di Hindia Belanda. Dari sumber yang tercatat di Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 30 Januari 1937, diketahui bahwa Busè berniat membangun bioskop di Cimahi, dengan nama Universal Theater. Ia bahkan menjajaki kerja sama dengan Universal Pictures dari Amerika. Tapi entah kenapa, kerja sama itu batal. Nama bioskop pun diganti menjadi lebih lokal, lebih luwes di lidah orang Cimahi: Rio.

Pembangunan dimulai pada tahun yang sama. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putri Busè sendiri, Yvonne Francois Busè, pada 23 Oktober 1937. Gedungnya dirancang dalam gaya art deco, gaya arsitektur yang sedang digandrungi para elit Eropa di masa itu. Tegas, simetris, penuh garis vertikal yang memberi kesan megah dan modern. Letaknya strategis, tak jauh dari alun-alun kota yang menjadi pusat keramaian. Rio pun berdiri, menjulang sebagai bangunan hiburan paling prestisius di Cimahi kala itu.

Baca Juga: Warga Bandung Kena Kibul Charlie Chaplin: Si Eon Hollywood dari Loteng Hotel

Setelah rampung, Bioskop Rio langsung beroperasi dan menjadi magnet baru bagi warga Eropa di Cimahi, terutama para personel militer KNIL dan keluarganya. Ini menjadikan Rio sebagai bagian penting dari infrastruktur hiburan garnisun militer kolonial di Cimahi.

Buat mereka yang sempat menyaksikan masa keemasan Rio pasti masih ingat betapa mewahnya suasana saat itu. Gedung ini dilengkapi dengan kursi empuk, pencahayaan temaram yang hangat, serta aroma semacam dupa halus yang menguar dari karpet di pintu masuk.

Penontonnya tak sembarangan. Mayoritas adalah serdadu KNIL dan keluarga mereka. Para wanita Eropa mengenakan gaun musim panas, para pria mengenakan jas tuksedo dan topi lebar. Menonton film adalah peristiwa sosial, bukan sekadar hiburan murah. Maka Rio pun beroperasi bukan hanya sebagai tempat menonton, tapi juga tempat memperlihatkan status.

Tetapi suasana itu tak berlangsung lama. Ketika perang kemerdekaan pecah pada 1945, Cimahi menjadi salah satu kota yang ikut bergolak. Banyak bangunan rusak, termasuk gedung Rio. Pada tahun 1947, Rio mulai beroperasi kembali. Surat kabar De Preangerbode dan Bataviaasch Nieuwsblad mencatat bahwa pemutaran film perdana pascaperang dimulai pada 23 Maret 1947, dengan film Pardon My Sarong. Kemudian disusul Tall in the Saddle yang diputar pada 31 Maret 1947. Keduanya adalah film produksi Hollywood. Hal ini menandakan bahwa pengaruh budaya Barat, terutama Amerika, masih sangat kuat bahkan setelah Indonesia merdeka.

Para penonton Bioskop Rex Batavia saat pemutaran The Dawn Patrol tahun 1939. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Para penonton Bioskop Rex Batavia saat pemutaran The Dawn Patrol tahun 1939. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

Setelah itu, Rio kembali rutin memutar film asing. Judul-judul dari Hollywood seperti Always in My Heart dan Now Voyager kerap tayang di layar bioskop ini sepanjang akhir 1940-an hingga 1950-an. Meskipun film lokal mulai diproduksi pascakemerdekaan, namun belum banyak diputar di Rio pada masa-masa awal.

Kendati demikian, bukan berarti film Indonesia absen sepenuhnya. Pada 1951, film Tjitra sempat diputar di Rio, disusul Bakti pada 1955. Kedua film tersebut adalah produksi lokal yang mencoba masuk ke dalam jaringan bioskop warisan kolonial yang cenderung masih mengutamakan film Barat.

Baca Juga: Kisah Kapal Laut Cimahi Hilang di Kabut Kalimantan, Diterkam Laut China Selatan

Kejayaan yang Redup Digilas Film Panas

Saat memasuki dekade 1970-an dan 1980-an, Bioskop Rio mengalami lonjakan penonton. Ini adalah masa ketika film laga dan kungfu menjadi primadona. Nama-nama seperti Bruce Lee, Wang Yu, Jackie Chan, hingga Lie Lien Cheh mendominasi poster-poster di depan gedung. Film-film ini laris ditonton oleh berbagai kalangan, dari pelajar hingga buruh pabrik.

Tak hanya film luar, film nasional pun turut mendapat tempat. Sunan Kalijaga, Saur Sepuh, dan Jaka Sembung adalah beberapa film Indonesia yang pernah tayang dan meraih sambutan besar di Rio. Di masa ini, bioskop masih menjadi tempat utama untuk mencari hiburan selain televisi yang terbatas.

Tapi menjelang akhir dekade 1990-an, Rio mulai mengalami kemunduran. Film-film yang diputar mulai didominasi oleh genre dewasa, dengan judul-judul seperti Gadis Metropolis dan Setetes Noda Berdarah. Poster-poster menjadi lebih vulgar, dan penonton mulai menyusut. Banyak yang menilai masa ini sebagai awal dari masa senja Bioskop Rio. Citra elegan yang dulu melekat mulai pudar.

Pada awal 2000-an, akhirnya Bioskop Rio resmi tutup. Nasibnya sama seperti bioskop-bioskop klasik lain di Jawa Barat, seperti Elita, Roxy, dan Oriental, yang juga kehilangan pamor karena munculnya bioskop modern di pusat perbelanjaan, serta kehadiran VCD dan kemudian platform streaming.

Setelah bertahun-tahun terbengkalai, bangunan Bioskop Rio sempat direnovasi sebagian pada 2008. Namun renovasi itu tidak sepenuhnya menjaga keaslian arsitektur. Bagian atap masih mempertahankan bentuk lamanya, tapi dinding depan dan samping sudah berubah total. Gedung ini sekarang sudah beralih fungsi menjadi gerai perniagaan ponsel, sama sekali tak mencerminkan sejarah panjang yang pernah dibawanya.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Walau demikian, dalam sejarah Kota Cimahi, Bioskop Rio tetap tercatat sebagai satu-satunya bioskop peninggalan Belanda yang bangunannya masih bertahan—meski tidak lagi menayangkan film.

Bioskop Rio adalah cerita tentang zaman yang berubah. Dari pusat hiburan tentara kolonial Belanda, menjadi tempat nonton anak-anak Cimahi yang berdesakan menyaksikan Saur Sepuh, hingga akhirnya menjadi toko ponsel di era digital. Layar peraknya sudah lama padam, kursi-kursinya tak lagi ada. Tapi sejarahnya belum sepenuhnya hilang—selama masih ada yang mengingat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)