Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Geura sakola ka Bandung ….

Bandung itu kawasan pengetahuan. Sejak lama sampai sekarang, selalu menjadi andalan untuk menaruhkan mimpi besar banyak orang. Setidaknya itu yang kudengar pas kecil dulu, dalam lirik tembang Sunda, ketika menimang-nimangku sebelum pulas tertidur.

“Kuliah di Bandung”, berulang-ulang disebut-sebut. Ketika ditanya orang selewat. Ketika ditanya tante di hari raya. Ketika reuni SMA. Kata-kata ini bukan hanya punya kesan intelektual dan rizz. Juga keren, catchy, kekinian, FOMO.

Tumbuh sebagai ekosistem urban akademik yang padat. Bandung membentangkan universitas negeri dan swasta, sekolah tinggi, pusat riset, institut, politeknik, hingga komunitas ilmiah yang independen. Di kota inilah pengetahuan diproduksi, disirkulasikan, dan diberi legitimasi. Karena itu, bicara tentang masa depan Bandung layak menyertakan harapan untuk tahun baru ini. Yang mana, ia tidak mungkin dilepaskan dari tanggung jawab etisnya.

Namun justru di sinilah problemnya. Bandung hari ini mengenaskan. Kian banyak kampus ternama, kian kuat kesan bahwa kota ini bergerak ke arah WEIRD, ialah Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic. Sementara jarak antara dunia akademik dan realitas sosial-ekologis di sekitarnya kian menganga. 

We Travelled Westward Proudly

Kita melakukan perjalanan ke arah barat dengan penuh kebanggaan. Bandung adalah salah satu jalur utama yang mengantarkannya. Ia adalah wahana yang menciptakan manusia WEIRD.

Institut Teknologi Bandung (ITB) lama dikenal sebagai pusat keunggulan teknik, sains, dan desain. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencetak guru dan pendidik untuk seluruh negeri. Universitas Padjadjaran (UNPAD) unggul di bidang hukum, kesehatan, dan ilmu sosial. Telkom University menjadi pusat teknologi informasi dan industri digital. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kuat dalam arsitektur, filsafat, dan ilmu sosial-humaniora. Ditambah Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), UIN Sunan Gunung Djati,  Universitas Maranatha, Universitas Muhammadiyah Bandung, UNISBA, ITENAS, Widyatama, NHI, ISBI, dan puluhan kampus lain yang memperkaya lanskap akademik kota ini.

Dalam jumlah dan reputasi, Bandung adalah satu di antara kawasan pendidikan terkuat di Indonesia. Tetapi pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih dan unggul lulusan Bandung, melainkan untuk siapa dan untuk apa pengetahuan itu?

Model WEIRD menjadikan kampus sebagai pabrik kompetensi. Terukur melalui akreditasi, peringkat global, publikasi internasional, paten, dan serapan industri. Mahasiswa dilatih untuk berprestasi secara individual, mobil secara global, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tidak salah. Tetapi menjadi problematik ketika pendidikan kehilangan tanggung jawab kontekstualnya.

Ijazah-ijazah hanya syarat. Tes-tes bahasa asing. Tri dharma perguruan tinggi. Jenjang karir dosen. Ospek dan kekerasan kultural. 

Melek Huruf

WEIRD, sebagaimana dijelaskan Joseph Henrich dalam The WEIRDest People in the World (2020), tidak lahir pertama-tama dari sains, industri, atau demokrasi, melainkan dari akar religius Protestan, khususnya prinsip sola scriptura. Keyakinan bahwa kebenaran iman harus ditemukan melalui pembacaan langsung kitab suci menuntut setiap orang untuk melek huruf. Iman tidak lagi diwariskan lewat otoritas lisan atau tradisi komunal, tetapi melalui teks yang harus dibaca, dipahami, dan ditafsirkan secara personal.

Dari sini, literasi membaca berubah dari keterampilan teknis menjadi kewajiban moral. Membaca bukan sekadar alat, melainkan laku religius dan etis. Henrich memandang bahwa praktik ini menghasilkan konsekuensi yang jauh melampaui agama. Ialah meningkatnya pendidikan formal, berkembangnya budaya teks, dan terbentuknya cara berpikir analitis dan individualistik. Literasi tinggi bahkan mengubah struktur neurologis manusia, memengaruhi cara memori, visual, dan nalar bekerja. Inilah fondasi psikologis manusia WEIRD, sebuah fondasi kebudayaan yang kita puja-puja.

Perubahan besar ini tidak mungkin juga terjadi tanpa Johann Gutenberg. Mesin cetak huruf lepas yang dikembangkannya pada abad ke-15 memungkinkan teks suci dan lalu teks lain direproduksi secara masif dan murah. Karena dampaknya yang signifikan ini, Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) menempatkan Gutenberg pada peringkat ke-8 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Gutenberg tidak menciptakan ajaran, tetapi menciptakan kondisi material bagi ledakan literasi dan transformasi peradaban Barat.

Apa yang dipaparkan Henrich secara psikologis dan Hart secara historis bertemu pada satu kata kunci, yakani melek huruf. Literasi membaca menjadi mesin kebudayaan yang melahirkan institusi sekolah, universitas, hukum tertulis, kerangka kerja saintifik, dan pada akhirnya modernitas Barat itu sendiri. WEIRD bukan keunggulan alamiah, melainkan hasil dari sejarah panjang praktik membaca yang dilembagakan dan diwariskan.

Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)
Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)

Kampus modern hari ini, termasuk yang berdiri di Bandung, adalah pewaris sekuler tradisi sola scriptura. Meskipun kitab suci digeser oleh buku teks, jurnal ilmiah, dan dokumen kebijakan, kebenaran tetap dicari melalui teks. Mahasiswa dilatih hidup di dalam bacaan, dan dunia direduksi menjadi sesuatu yang harus dibaca, ditulis, dan dinilai.

Di sinilah kampus melahirkan elit literasi WEIRD. Kelompok manusia yang cakap dalam membaca alfabet dan menafsirkan teks yang rumit, tetapi kerap lupa bahwa keunggulan itu adalah produk sejarah budaya tertentu. Tanpa kesadaran ini, literasi berpotensi berubah dari alat pembebasan menjadi sumber jarak sosial.

Jadi tantangan kampus di Bandung hari ini bukan meninggalkan literasi, melainkan menyadari kekuasaannya. Agar membaca tidak hanya melahirkan elit baru, tetapi juga tanggung jawab pada kehidupan kota dan sekitarnya yang lebih luas.

Bahaya Indiferensi

Paulo Freire sebagaimana ditulis Freddy Varona Dominguez lewat artikel ilmiahnya Paulo Freire's Educational Ideas. Reflections from Higher Education (Region, 2023)  mengingatkan bahwa dominasi literasi teks dalam pendidikan modern membawa risiko yang benar-benar serius.

Dalam kritiknya terhadap banking education, Freire menolak model pendidikan yang menjadikan mahasiswa sekadar “wadah” pengetahuan. Sebatas pandai membaca, menghafal, dan mengulang, tetapi pasif terhadap realitas. Kampus modern, termasuk perguruan-perguruan tinggi di Bandung, rentan mereproduksi logika ini ketika literasi gagal diarahkan pada kesadaran kritis.

Bagi Freire, masalah utama pendidikan tinggi bukan soal kekurangan pengetahuan, tetapi indiferensi yakni sikap acuh terhadap penderitaan sosial, ketimpangan, dan kehidupan konkret di luar tembok kampus. Literasi yang tidak dialogis justru melahirkan manusia terdidik yang cakap secara teknis namun tumpul secara moral. Dalam dunia WEIRD, ini adalah individu yang sangat rasional, analitis, dan individualistik, tetapi terputus dari relasi komunal dan tanggung jawab sosial-ekologisnya.

Dengan begitu Freire menawarkan jalan lain. Sebuah pendidikan sebagai praktik dialog, di mana membaca tidak berhenti pada teks, tetapi berlanjut pada “membaca dunia”. Literasi sejati bukan sekadar kemampuan menafsirkan buku, melainkan keberanian mempertanyakan realitas, meragukan ketidakadilan yang dinormalisasi, dan terlibat dalam transformasi sosial.

Kampus, dalam pandangan ini, bukan lagi menjadi pabrik gelar melainkan ruang pembentukan manusia etis yang sadar akan posisinya dalam masyarakat.

Ketika Kampus Terpisah dari Kota

Di banyak titik, kampus-kampus Bandung berdiri secara eksklusif di tengah kota yang menderita Penelitian berkembang pesat, tetapi sering berputar di ruang seminar dan jurnal. Pengabdian masyarakat menjadi kewajiban administratif. Kampus berbicara tentang smart city, sementara kampung di sekitarnya berjuang dengan banjir, sampah, dan penggusuran.

Dan inilah wajah WEIRD dalam dunia akademik kita. Pengetahuan global yang kurang membumi, kritik yang tajam tetapi mencari aman, dan kepedulian sosial yang dibatasi oleh proposal dan luaran akreditasi.

Akibatnya, Bandung sebagai kota tumbuh tanpa arah moral akademik yang jelas. Pembangunan berjalan, tetapi ketimpangan meningkat. Inovasi teknologi hadir, tetapi krisis ekologis memburuk. Demokrasi kampus hidup, tetapi keberanian intelektual untuk mengkritik kekuasaan lokal kian merapuh.

Tanggung Jawab Akademik Baru

Harapan akan Bandung di 2026 ini tidak akan lahir dari naskah-naskah akademik kebijakan, dari survei dan riset, dari FGD yang mengundang para pakar. Ia hanya mungkin lahir jika komunitas akademik Bandung bahu-membahu mengubah orientasi dirinya sendiri.

Kampus perlu redefinisi makna keunggulan, makna berdaya saing global. Keunggulan tidak lagi hanya peringkat kancah dunia tetapi dampak sosial-ekologis nyata bagi sekitar. Begitu juga pengajaran, riset, dan pengabdian perlu diarahkan ulang. Kampus kita tidak boleh terobsesi pada agenda internasional yang buta, tetapi pada persoalan lokal yang mendesak. Mahasiswa perlu dididik bukan hanya sebagai profesional, tetapi sebagai warga kota yang bertanggung jawab.

Bayangkan Bandung 2026, di mana kampus-kampus membuka diri secara mengakar. Laboratorium yang bersatu padu dengan warga miskin kota, kelas yang berpindah ke pinggiran Citarum, dan dosen yang hadir sebagai intelektual publik, pembela rakyat kecil, bukan sekadar penulis jurnal. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)