Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 11 Jan 2026, 18:06 WIB
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)

Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)

Néléngnéngkung- néléngnéngkung

Geura gede geura jangkung

Geura sakola ka Bandung ….

Bandung itu kawasan pengetahuan. Sejak lama sampai sekarang, selalu menjadi andalan untuk menaruhkan mimpi besar banyak orang. Setidaknya itu yang kudengar pas kecil dulu, dalam lirik tembang Sunda, ketika menimang-nimangku sebelum pulas tertidur.

“Kuliah di Bandung”, berulang-ulang disebut-sebut. Ketika ditanya orang selewat. Ketika ditanya tante di hari raya. Ketika reuni SMA. Kata-kata ini bukan hanya punya kesan intelektual dan rizz. Juga keren, catchy, kekinian, FOMO.

Tumbuh sebagai ekosistem urban akademik yang padat. Bandung membentangkan universitas negeri dan swasta, sekolah tinggi, pusat riset, institut, politeknik, hingga komunitas ilmiah yang independen. Di kota inilah pengetahuan diproduksi, disirkulasikan, dan diberi legitimasi. Karena itu, bicara tentang masa depan Bandung layak menyertakan harapan untuk tahun baru ini. Yang mana, ia tidak mungkin dilepaskan dari tanggung jawab etisnya.

Namun justru di sinilah problemnya. Bandung hari ini mengenaskan. Kian banyak kampus ternama, kian kuat kesan bahwa kota ini bergerak ke arah WEIRD, ialah Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic. Sementara jarak antara dunia akademik dan realitas sosial-ekologis di sekitarnya kian menganga. 

We Travelled Westward Proudly

Kita melakukan perjalanan ke arah barat dengan penuh kebanggaan. Bandung adalah salah satu jalur utama yang mengantarkannya. Ia adalah wahana yang menciptakan manusia WEIRD.

Institut Teknologi Bandung (ITB) lama dikenal sebagai pusat keunggulan teknik, sains, dan desain. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencetak guru dan pendidik untuk seluruh negeri. Universitas Padjadjaran (UNPAD) unggul di bidang hukum, kesehatan, dan ilmu sosial. Telkom University menjadi pusat teknologi informasi dan industri digital. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kuat dalam arsitektur, filsafat, dan ilmu sosial-humaniora. Ditambah Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), UIN Sunan Gunung Djati,  Universitas Maranatha, Universitas Muhammadiyah Bandung, UNISBA, ITENAS, Widyatama, NHI, ISBI, dan puluhan kampus lain yang memperkaya lanskap akademik kota ini.

Dalam jumlah dan reputasi, Bandung adalah satu di antara kawasan pendidikan terkuat di Indonesia. Tetapi pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih dan unggul lulusan Bandung, melainkan untuk siapa dan untuk apa pengetahuan itu?

Model WEIRD menjadikan kampus sebagai pabrik kompetensi. Terukur melalui akreditasi, peringkat global, publikasi internasional, paten, dan serapan industri. Mahasiswa dilatih untuk berprestasi secara individual, mobil secara global, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tidak salah. Tetapi menjadi problematik ketika pendidikan kehilangan tanggung jawab kontekstualnya.

Ijazah-ijazah hanya syarat. Tes-tes bahasa asing. Tri dharma perguruan tinggi. Jenjang karir dosen. Ospek dan kekerasan kultural. 

Melek Huruf

WEIRD, sebagaimana dijelaskan Joseph Henrich dalam The WEIRDest People in the World (2020), tidak lahir pertama-tama dari sains, industri, atau demokrasi, melainkan dari akar religius Protestan, khususnya prinsip sola scriptura. Keyakinan bahwa kebenaran iman harus ditemukan melalui pembacaan langsung kitab suci menuntut setiap orang untuk melek huruf. Iman tidak lagi diwariskan lewat otoritas lisan atau tradisi komunal, tetapi melalui teks yang harus dibaca, dipahami, dan ditafsirkan secara personal.

Dari sini, literasi membaca berubah dari keterampilan teknis menjadi kewajiban moral. Membaca bukan sekadar alat, melainkan laku religius dan etis. Henrich memandang bahwa praktik ini menghasilkan konsekuensi yang jauh melampaui agama. Ialah meningkatnya pendidikan formal, berkembangnya budaya teks, dan terbentuknya cara berpikir analitis dan individualistik. Literasi tinggi bahkan mengubah struktur neurologis manusia, memengaruhi cara memori, visual, dan nalar bekerja. Inilah fondasi psikologis manusia WEIRD, sebuah fondasi kebudayaan yang kita puja-puja.

Perubahan besar ini tidak mungkin juga terjadi tanpa Johann Gutenberg. Mesin cetak huruf lepas yang dikembangkannya pada abad ke-15 memungkinkan teks suci dan lalu teks lain direproduksi secara masif dan murah. Karena dampaknya yang signifikan ini, Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) menempatkan Gutenberg pada peringkat ke-8 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Gutenberg tidak menciptakan ajaran, tetapi menciptakan kondisi material bagi ledakan literasi dan transformasi peradaban Barat.

Apa yang dipaparkan Henrich secara psikologis dan Hart secara historis bertemu pada satu kata kunci, yakani melek huruf. Literasi membaca menjadi mesin kebudayaan yang melahirkan institusi sekolah, universitas, hukum tertulis, kerangka kerja saintifik, dan pada akhirnya modernitas Barat itu sendiri. WEIRD bukan keunggulan alamiah, melainkan hasil dari sejarah panjang praktik membaca yang dilembagakan dan diwariskan.

Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)
Suasana menggambarkan keakraban dan semangat bertukar pikiran mahasiswa saat mereka sedang berdiskusi di Rasa Kopi Bandung. Perumahan palem 1 residence Blok A6, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung City, (27/10/2025). (Foto: Bintang Haiban)

Kampus modern hari ini, termasuk yang berdiri di Bandung, adalah pewaris sekuler tradisi sola scriptura. Meskipun kitab suci digeser oleh buku teks, jurnal ilmiah, dan dokumen kebijakan, kebenaran tetap dicari melalui teks. Mahasiswa dilatih hidup di dalam bacaan, dan dunia direduksi menjadi sesuatu yang harus dibaca, ditulis, dan dinilai.

Di sinilah kampus melahirkan elit literasi WEIRD. Kelompok manusia yang cakap dalam membaca alfabet dan menafsirkan teks yang rumit, tetapi kerap lupa bahwa keunggulan itu adalah produk sejarah budaya tertentu. Tanpa kesadaran ini, literasi berpotensi berubah dari alat pembebasan menjadi sumber jarak sosial.

Jadi tantangan kampus di Bandung hari ini bukan meninggalkan literasi, melainkan menyadari kekuasaannya. Agar membaca tidak hanya melahirkan elit baru, tetapi juga tanggung jawab pada kehidupan kota dan sekitarnya yang lebih luas.

Bahaya Indiferensi

Paulo Freire sebagaimana ditulis Freddy Varona Dominguez lewat artikel ilmiahnya Paulo Freire's Educational Ideas. Reflections from Higher Education (Region, 2023)  mengingatkan bahwa dominasi literasi teks dalam pendidikan modern membawa risiko yang benar-benar serius.

Dalam kritiknya terhadap banking education, Freire menolak model pendidikan yang menjadikan mahasiswa sekadar “wadah” pengetahuan. Sebatas pandai membaca, menghafal, dan mengulang, tetapi pasif terhadap realitas. Kampus modern, termasuk perguruan-perguruan tinggi di Bandung, rentan mereproduksi logika ini ketika literasi gagal diarahkan pada kesadaran kritis.

Bagi Freire, masalah utama pendidikan tinggi bukan soal kekurangan pengetahuan, tetapi indiferensi yakni sikap acuh terhadap penderitaan sosial, ketimpangan, dan kehidupan konkret di luar tembok kampus. Literasi yang tidak dialogis justru melahirkan manusia terdidik yang cakap secara teknis namun tumpul secara moral. Dalam dunia WEIRD, ini adalah individu yang sangat rasional, analitis, dan individualistik, tetapi terputus dari relasi komunal dan tanggung jawab sosial-ekologisnya.

Dengan begitu Freire menawarkan jalan lain. Sebuah pendidikan sebagai praktik dialog, di mana membaca tidak berhenti pada teks, tetapi berlanjut pada “membaca dunia”. Literasi sejati bukan sekadar kemampuan menafsirkan buku, melainkan keberanian mempertanyakan realitas, meragukan ketidakadilan yang dinormalisasi, dan terlibat dalam transformasi sosial.

Kampus, dalam pandangan ini, bukan lagi menjadi pabrik gelar melainkan ruang pembentukan manusia etis yang sadar akan posisinya dalam masyarakat.

Ketika Kampus Terpisah dari Kota

Di banyak titik, kampus-kampus Bandung berdiri secara eksklusif di tengah kota yang menderita Penelitian berkembang pesat, tetapi sering berputar di ruang seminar dan jurnal. Pengabdian masyarakat menjadi kewajiban administratif. Kampus berbicara tentang smart city, sementara kampung di sekitarnya berjuang dengan banjir, sampah, dan penggusuran.

Dan inilah wajah WEIRD dalam dunia akademik kita. Pengetahuan global yang kurang membumi, kritik yang tajam tetapi mencari aman, dan kepedulian sosial yang dibatasi oleh proposal dan luaran akreditasi.

Akibatnya, Bandung sebagai kota tumbuh tanpa arah moral akademik yang jelas. Pembangunan berjalan, tetapi ketimpangan meningkat. Inovasi teknologi hadir, tetapi krisis ekologis memburuk. Demokrasi kampus hidup, tetapi keberanian intelektual untuk mengkritik kekuasaan lokal kian merapuh.

Tanggung Jawab Akademik Baru

Harapan akan Bandung di 2026 ini tidak akan lahir dari naskah-naskah akademik kebijakan, dari survei dan riset, dari FGD yang mengundang para pakar. Ia hanya mungkin lahir jika komunitas akademik Bandung bahu-membahu mengubah orientasi dirinya sendiri.

Kampus perlu redefinisi makna keunggulan, makna berdaya saing global. Keunggulan tidak lagi hanya peringkat kancah dunia tetapi dampak sosial-ekologis nyata bagi sekitar. Begitu juga pengajaran, riset, dan pengabdian perlu diarahkan ulang. Kampus kita tidak boleh terobsesi pada agenda internasional yang buta, tetapi pada persoalan lokal yang mendesak. Mahasiswa perlu dididik bukan hanya sebagai profesional, tetapi sebagai warga kota yang bertanggung jawab.

Bayangkan Bandung 2026, di mana kampus-kampus membuka diri secara mengakar. Laboratorium yang bersatu padu dengan warga miskin kota, kelas yang berpindah ke pinggiran Citarum, dan dosen yang hadir sebagai intelektual publik, pembela rakyat kecil, bukan sekadar penulis jurnal. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Jan 2026, 20:53 WIB

Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Sesar Lembang Kalcer memanfaatkan seni dan aktivasi komunitas sebagai bahasa mitigasi untuk membangun kesadaran bencana tanpa menebar ketakutan di Bandung.
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 20:12 WIB

Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh. Tapi di tangan yang tepat, satu menit bisa jadi pengingat, bahkan titik balik untuk yang sedang hilang arah (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: FN)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 18:06 WIB

Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Kawasan kampus yang unggul literasi dan reputasi, tetapi berjarak dari realitas sosial-ekologis kota. Kita menagih kembali tanggung jawab etis akademik.
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)