Kemerdekaan dan Kedaulatan Rakyat atas Tanah

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Aliansi Anti Penggusuran dalam Festival Asia-Afrika 11 Juli 2026 di Bandung (Foto: Dokumen pribadi)
Aliansi Anti Penggusuran dalam Festival Asia-Afrika 11 Juli 2026 di Bandung (Foto: Dokumen pribadi)

"Kemerdekaan masyarakatlah yang harus menjadi tujuan, bukan kemerdekaan segelintir orang."

— Mohammad Hatta

Di tengah riuh Festival Asia Afrika, ketika ribuan orang menikmati perayaan yang mengingatkan dunia pada semangat antikolonialisme, sekelompok warga berdiri membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan From Palestine to Dago Elos. Barangkali, bagi sebagian orang, itu hanya sebuah slogan. Namun bagi saya, kalimat itu menghadirkan sebuah pertanyaan yang tak mudah dijawab: adakah benang merah antara perjuangan sebuah bangsa mempertahankan tanah airnya dengan perjuangan warga mempertahankan ruang hidupnya sendiri?

Tentu, Palestina dan Dago Elos berada dalam konteks sejarah, hukum, dan politik yang berbeda. Keduanya tidak dapat disamakan. Namun, ada satu nilai yang mempertemukan keduanya: tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah ruang hidup. Tempat manusia membangun keluarga, mencari penghidupan, membentuk kebudayaan, dan mempertahankan martabatnya.

Pertanyaan itu membawa saya pada makna kemerdekaan yang sering kali kita rayakan setiap bulan Agustus. Tujuh puluh lebih tahun setelah Proklamasi, kita masih memaknai kemerdekaan sebagai keberhasilan mengusir penjajah dan menegakkan kedaulatan negara. Padahal, kemerdekaan belum sepenuhnya bermakna apabila rakyat kehilangan kedaulatan atas ruang hidupnya sendiri.

Bagi bangsa yang lahir dari perjuangan melawan kolonialisme, tanah bukanlah sekadar komoditas yang dapat diperdagangkan mengikuti logika pasar. Tanah adalah fondasi kehidupan bersama. Di atas tanah, rakyat membangun rumah, mengolah sawah, membuka usaha, membesarkan anak-anaknya, serta mewariskan sejarah kepada generasi berikutnya. Karena itu, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan politik. Kemerdekaan juga harus menjamin bahwa setiap warga memiliki ruang hidup yang aman, adil, dan bermartabat.

Kesadaran itulah yang tercermin dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945:
"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Pilihan kata dalam pasal tersebut sangat penting. Konstitusi tidak mengatakan bahwa bumi dan air dimiliki oleh negara, melainkan dikuasai oleh negara. Para pendiri bangsa dengan sadar memilih istilah itu karena negara bukanlah pemilik seluruh tanah Indonesia. Negara hanyalah penerima amanat rakyat untuk mengatur, mengelola, dan mengawasi pemanfaatan sumber daya agraria agar memberikan kemakmuran sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat.

Dalam Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960, prinsip tersebut dipertegas melalui konsep Hak Menguasai Negara. Artinya, negara menjalankan fungsi publik, bukan fungsi kepemilikan. Negara berkewajiban menjaga keseimbangan antara pembangunan, kepentingan umum, dan hak-hak rakyat atas ruang hidupnya.
Namun, dalam praktik, batas antara "menguasai" dan "memiliki" sering kali menjadi kabur. Berbagai konflik agraria yang terus bermunculan memperlihatkan bagaimana tanah lebih sering dipandang sebagai objek pembangunan daripada sebagai ruang hidup masyarakat.

Pemberlakuan Undang-Undang Cipta Kerja beserta percepatan berbagai Proyek Strategis Nasional semakin memperlihatkan kompleksitas persoalan tersebut. Pembangunan memang merupakan kebutuhan bangsa. Infrastruktur harus dibangun, investasi perlu didorong, dan pertumbuhan ekonomi harus dijaga. Namun pembangunan tidak boleh mengorbankan prinsip dasar yang telah diletakkan oleh konstitusi: bahwa seluruh kebijakan pertanahan pada akhirnya harus berpulang kepada sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pembangunan diperlukan. Tentu pembangunan diperlukan. Yang harus terus diuji adalah apakah pembangunan dijalankan dengan menghormati hak-hak warga, membuka ruang partisipasi yang bermakna, dan memberikan perlindungan bagi mereka yang selama ini hidup di atas tanah tersebut.

Di Kota Bandung, pertanyaan itu menemukan relevansinya. Konflik yang terjadi di Dago Elos, Sukahaji, maupun berbagai persoalan ruang hidup lainnya menunjukkan bahwa tanah tidak pernah hanya menjadi persoalan administrasi atau sertifikat. Ia selalu berkaitan dengan keadilan, sejarah, identitas, dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Mungkin karena itulah poster From Palestine to Dago Elos terasa begitu menggugah. Bukan karena ingin menyamakan dua kenyataan yang berbeda, melainkan karena ia mengingatkan kita bahwa di mana pun manusia berada, mempertahankan ruang hidup adalah bagian dari mempertahankan martabat.

Kemerdekaan tidak berhenti pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan harus terus diwujudkan setiap kali negara memastikan bahwa setiap kebijakan pertanahan tetap setia kepada amanat konstitusi. Sebab republik ini tidak didirikan untuk melahirkan tuan tanah baru. Republik ini didirikan agar negara menjadi pengemban amanat rakyat, menjaga setiap jengkal bumi sebagai ruang hidup yang adil bagi seluruh warga negara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)