Yang Dirindukan Bandung Bukan Masa Lalunya

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Villa Isola, bangunan bergaya Art Deco, yang kini jadi salah bangunan heritage Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Shilvia Yulianti Sumarna/Magang)
Villa Isola, bangunan bergaya Art Deco, yang kini jadi salah bangunan heritage Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Shilvia Yulianti Sumarna/Magang)

BANDUNG dulu lebih nyaman. Bandung dulu lebih pikabetaheun. Begitu kalimat yang terlontar dari sebagian orang. Mereka merindukan Bandung masa lalu.

Kalimat tersebut terdengar simpel. Namun, di baliknya, sesungguhnya menyimpan persoalaan yang tidak simpel. 

Benarkah yang kita rindukan adalah Bandung masa lalu? Ataukah yang sebenarnya kita rindukan adalah kualitas hidup yang pernah diberikan kota ini?

Tidak bisa berjalan mundur

Kerinduan terhadap sebuah kota sering kali disalahartikan sebagai nostalgia. Dalam konteks Bandung, seolah-olah solusi terbaik adalah mengembalikan Bandung ke masa puluhan tahun silam. 

Padahal, kita pun paham, waktu tidak pernah bisa berjalan mundur. Kota terus bertambah penduduknya. Aktivitas ekonominya semakin komplek. Kebutuhan ruangnya terus meningkat. Tidak ada kota yang bisa dibekukan dalam satu zaman.

Karena itu, nostalgia bukanlah sebuah tujuan. Nostalgia hanya penunjuk arah. Jadi, yang layak dipertahankan bukan masa Bandung, melainkan nilai-nilai yang dahulu membuat Kota Kembang ini nyaman dihuni. Nilai itulah yang semestinya diterjemahkan kembali ke dalam kebijakan kota hari ini.

Bandung pernah dikenal sebagai kota yang sejuk. Banyak orang mengingat deretan pepohonan, udara yang lebih bersih, serta ruang terbuka yang memungkinkan orang berjalan tanpa merasa tergesa-gesa. 

Gambaran tersebut sejatinya bukan sekadar romantisme. Ia menunjukkan bahwa kualitas ekologis pernah menjadi bagian penting dari identitas kota ini.

Kota pada dasarnya bukan hanya kumpulan bangunan. Kota adalah sebuah ekosistem. Pepohonan, tanah yang mampu menyerap air, sungai, taman, dan udara membentuk satu sistem yang saling berkaitan. Ketika salah satu unsur terganggu, unsur lainnya ikut terimbas.

Berada di cekungan

Bandung berada di cekungan yang secara alami memiliki karakter hidrologi tersendiri. Air hujan dari kawasan yang lebih tinggi akan mengalir menuju dataran yang lebih rendah. 

Kondisi geografis seperti itu membuat pengelolaan ruang tidak bisa dilepaskan dari cara kota memperlakukan air. Persoalan banjir, genangan cileuncang, maupun berkurangnya daya resap tanah tidak bisa dijelaskan hanya oleh tingginya curah hujan.

Selama ini, pembangunan sering dipahami sebagai penambahan bangunan. Padahal, dari perspektif ekologi, setiap bangunan baru juga berarti berkurangnya ruang yang sebelumnya menjalankan fungsi ekologis. 

Tanah yang dahulu menyerap air berubah menjadi beton. Pohon yang dahulu menurunkan suhu berganti dengan permukaan keras yang menyimpan panas.

Dari situlah muncul paradoks perkotaan. Kota berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun, jika pertumbuhan ruang terbangun tidak diimbangi dengan perlindungan fungsi ekologis, kualitas hidup justru menurun. Artinya, kemajuan fisik tidak selalu identik dengan kemajuan lingkungan.

Dan Bandung mengalami Hal tersebut. Aktivitas ekonomi tumbuh, mobilitas meningkat, kawasan terbangun meluas. Semua itu merupakan konsekuensi perkembangan kota. 

Tantangannya tentu saja bukan menghentikan pertumbuhan kota, melainkan mengelolanya agar tetap berada dalam batas daya dukung lingkungan.

Memperhatikan arah angin

Aspek historis menunjukkan Bandung sejak awal dirancang dengan memperhatikan kondisi alamnya. Pada masa kolonial, berbagai kawasan permukiman di Bandung dirancang dengan memperhatikan arah angin, vegetasi, serta ruang terbuka. 

Tentu, tidak semua warisan kolonial masa itu patut dipuji. Walau begitu, toh ada pelajaran penting, yaitu tata ruang tidak dipisahkan dari karakter bentang alam.

Kota modern tidak bisa hanya mengejar kepadatan. Kepadatan memang diperlukan untuk efisiensi, tetapi tanpa ruang hijau, drainase yang baik, dan transportasi yang memadai, kepadatan mudah berubah menjadi tekanan terhadap kualitas hidup.

Karena itu, ukuran keberhasilan kota tidak cukup dilihat dari banyaknya gedung baru atau meningkatnya investasi. Perkara yang lebih penting adalah apakah warga merasa lebih mudah bergerak, lebih sehat menghirup udara, lebih aman berjalan kaki, dan lebih nyaman menggunakan ruang publik.

Nah, konsep livable city atau kota layak huni berangkat dari cara pandang tersebut. Kota dinilai bukan semata dari pertumbuhan ekonominya, melainkan dari kemampuannya menyediakan lingkungan yang sehat, akses pelayanan, ruang publik, mobilitas yang baik, dan kualitas hidup yang merata bagi warganya, tanpa kecuali.

Artinya, kota yang layak huni bukan kota yang sempurna. Ia adalah kota yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kebutuhan sosial masyarakat.

Dalam kaitan ini, persoalan Bandung sesungguhnya bukan sekadar kemacetan atau banjir belaka. Persoalannya adalah bagaimana berbagai kebijakan kota saling terhubung. Tata ruang, transportasi, pengelolaan air, perumahan, dan ruang hijau tidak dapat dikelola secara terpisah.

Nyaris tidak disadari

Selama ini, perhatian kita kerap tersedot pada proyek-proyek yang mudah terlihat. Padahal, kualitas sebuah kota justru banyak ditentukan oleh hal-hal yang nyaris tidak disadari ketika berjalan baik, mulai dari drainase yang berfungsi, trotoar yang nyaman, pohon yang terawat, pengelolaan sampah yang konsisten, hingga transportasi yang dapat diandalkan.

Secara demikian, kota tidak membutuhkan kejutan setiap tahun. Kota membutuhkan konsistensi setiap hari. Warga lebih membutuhkan trotoar yang terus terpelihara daripada proyek yang sesekali mengundang decak kagum tetapi sulit dirawat dalam jangka panjang.

Dari sisi ekologi, konsistensi juga berarti menjaga fungsi-fungsi alam sebelum kerusakan menjadi terlalu mahal untuk diperbaiki. Mencegah hilangnya ruang resapan jauh lebih efektif daripada terus memperbesar kapasitas saluran ketika limpasan air semakin meningkat.

Demikian pula dengan ruang hijau. Nilainya bukan hanya estetika. Pepohonan membantu menurunkan suhu udara, meningkatkan kenyamanan berjalan kaki, menyerap air hujan, dan memperbaiki kualitas udara. Manakala kota semakin padat, fungsi-fungsi seperti ini justru semakin penting.

Bandung sesungguhnya memiliki modal sosial yang besar. Kampus, komunitas, pegiat lingkungan, pelaku kreatif, hingga warga yang aktif berdiskusi tentang kotanya merupakan kekayaan yang tidak dimiliki semua kota. Modal sosial tersebut seharusnya menjadi kekuatan dalam merumuskan kebijakan publik.

Akan tetapi, modal sosial hanya akan menghasilkan perubahan apabila dihubungkan dengan tata kelola yang terbuka. Partisipasi masyarakat tidak cukup berhenti pada kritik. Ia perlu masuk ke dalam proses perencanaan, pengawasan, dan evaluasi kebijakan secara berkelanjutan.

Menjaga arah kebijakan

Kota yang baik tidak dibangun hanya melalui visi seorang pemimpin, melainkan karena memiliki institusi yang mampu menjaga arah kebijakan pembangunan melampaui masa jabatan politik. Di sinilah pentingnya kesinambungan kebijakan. Kota tidak boleh mengulang titik awal setiap kali kepemimpinan berganti.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa Bandung berubah. Ini bukan karena mereka sekadar merindukan masa lampau, melainkan karena mereka pernah merasakan kualitas hidup tertentu yang kini terasa semakin sulit ditemukan. Jadi, Yang hilang bukan sekadar pemandangan lama, tetapi pengalaman hidup sebagai warga kota.

Kerinduan semacam itu sesungguhnya adalah kritik yang halus. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari apa yang bertambah, tetapi juga dari apa yang berhasil dipertahankan. 

Kota yang terus membangun tetapi kehilangan kenyamanan warganya sedang membayar harga yang tidak selalu terlihat dalam angka statistik.

Maka, yang dirindukan dari Bandung sebenarnya bukanlah masa lalunya. Yang dirindukan adalah sebuah kota yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara pertumbuhan dan keteraturan, antara ambisi pembangunan dan kualitas hidup. 

Kota yang benar-benar maju bukanlah kota yang paling banyak berubah, melainkan kota yang mampu membikin warganya tetap merasa ingin tinggal, berjalan, bernafas, dan menua di dalamnya.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)