Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Hikayat Tamasya Zaman Baheula di Curug Dago Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 16:46 WIB
Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

AYOBANDUNG.ID - Pada masanya, orang Eropa di Bandung tampaknya tak pernah kekurangan alasan untuk berjalan santai sambil membawa bekal. Kota ini, menurut panduan wisata kolonial awal abad ke-20, bukan hanya tempat bekerja dan bermukim, melainkan ruang rekreasi dengan bonus pemandangan alam yang seolah disiapkan khusus untuk mata Eropa. Salah satu tujuan yang kerap disebut sebagai perjalanan kecil yang mudah adalah Curug Dago, atau Dago-Waterval dalam lidah kolonial, sebuah air terjun yang diposisikan sebagai destinasi sempurna untuk piknik setengah hari.

Dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan terbitan 1927, Curug Dago tidak diperkenalkan sebagai tempat yang liar dan menantang, tetapi justru sebagai lokasi yang ramah langkah kaki. Dari pusat Bandung, pengunjung cukup berjalan atau menumpang kereta kecil menuju arah Dago, melewati jalan menanjak dariJalan Merdeka. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari batas kota. Waktu tempuhnya bahkan dirasionalisasi dengan ukuran kenyamanan orang Eropa. Setengah jam, tidak lebih. Sebuah durasi yang pas untuk berjalan santai sebelum menghampar tikar piknik.

Panduan itu menjelaskan rute dengan presisi seolah pembacanya membawa peta di saku jas. Technische Hoogeschool dijadikan penanda, lalu kilometer keempat, kemudian Huis Dago tempat jalan bercabang tiga. Lurus menuju pusat pembangkit listrik Bengkok, ke kiri menuju air terjun. Deskripsi ini tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk jalan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa alam dan teknologi telah berdampingan dalam imajinasi kolonial. Air terjun yang elok bisa dijangkau sambil melewati instalasi listrik yang menerangi Bandung.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Begitu jalan berbelok menuju Curug Dago, suasana berubah dramatis. Jalannya menurun curam, melewati jembatan kecil saluran irigasi, lalu bukit dengan alang-alang sebelum mencapai Sungai Cikapundung. Di titik ini, menurut panduan itu, suara air sudah lebih dulu menyambut. Gemuruhnya terdengar dari kejauhan, memberi kesan bahwa alam sedang bekerja keras, bahkan sebelum pengunjung melihat hasil kerjanya.

Ketika sampai di lokasi, orang Eropa diajak menikmati air terjun dari dua sudut pandang. Dari atas, pengunjung bisa mengintip ke kolam dalam tempat sungai jatuh. Dari bawah, air terjun menampilkan dirinya sepenuhnya. Sebuah aliran air keperakan meluncur dari tebing curam, diapit liana dan pakis, jatuh dengan gegap gempita, lalu berputar dan berbuih sebelum mengalir di antara batu-batu raksasa. Bahkan pulau-pulau kecil yang terbentuk dari aliran itu pun dicatat, seolah air terjun ini tidak boleh lolos dari inventaris imajinasi visual kolonial.

Yang menarik, keindahan Curug Dago tidak berdiri sendiri. Ia dilengkapi dengan anekdot aristokratis yang memberi sentuhan eksotis sekaligus legitimasi. Di bawah dinding yang menggantung, terdapat sebuah batu besar dengan inisial Putra Mahkota Siam, lengkap dengan tanggal kunjungannya pada 1901. Bagi pembaca Eropa, detail ini penting. Air terjun itu pernah dikunjungi bangsawan asing. Artinya, tempat ini bukan sembarang curug.

Baca Juga: Tamasya Bandung Tempo Dulu, Curug Jompong dalam Imajinasi Kolonial

Curug Dago. (Sumber: Ayobandung)
Curug Dago. (Sumber: Ayobandung)

Curug Dago Konon Ditakuti Pribumi

Di balik nada romantik, panduan wisata ini juga menyelipkan cerita yang sedikit mengusik. Curug Dago dicatat sebagai lokasi yang ditakuti penduduk setempat. Orang pribumi, menurut catatan kolonial, percaya bahwa air terjun ini berbahaya. Kecelakaan pernah terjadi, dan mereka yang terjatuh ke dalam kolam air terjun tidak pernah ditemukan kembali. Penjelasannya mengarah pada gua-gua bawah tanah yang mungkin menelan tubuh manusia, meski kesimpulan pasti tidak pernah benar-benar dikemukakan.

Di sini, cara pandang kolonial terasa jelas. Ketakutan penduduk lokal direkam sebagai fakta folkloris yang eksotis, bukan sebagai pengetahuan lokal yang perlu dipahami lebih jauh. Bahkan ukuran ketinggian air terjun dan kedalaman kolam pun dihadirkan dengan nada ragu. Angka ketinggian 70 setengah kaki dan kedalaman hingga 72 kaki disebut, lalu langsung dipertanyakan. Rasionalitas Eropa hadir untuk menimbang, mengukur, dan meragukan.

Penduduk lokal juga digambarkan sebagai figur latar dalam lanskap alam. Mereka kerap terlihat berdiri di tebing curam Sungai Cikapundung, melempar jala untuk menangkap ikan di kolam air terjun. Aktivitas ini ditulis sebagai pemandangan yang lazim, tanpa usaha memahami relasi ekologis atau ekonomi di baliknya. Orang pribumi menjadi bagian dari panorama, bukan subjek utama cerita.

Baca Juga: Wayang Windu Panenjoan, Tamasya Panas Bumi Zaman Hindia Belanda

Tetapi Curug Dago tidak hanya memikat lewat air dan cerita mistis. Dalam panduan itu, daya tarik botani justru mendapat porsi yang cukup rinci. Di sekitar air terjun terdapat sisa hutan kecil yang dianggap sebagai oasis botani di dataran tinggi Bandung. Dua jenis anggrek kecil dicatat, begitu kecil hingga pecinta anggrek pun mungkin mengabaikannya. Salah satunya dinamai Microstylis bandongensis, sebuah penegasan ilmiah bahwa Curug Dago memiliki keunikan endemik.

Pencatatan ini berpuncak pada kekaguman ilmuwan botani kolonial yang melihat kawasan Curug Dago sebagai pulau kesuburan di tengah lingkungan Bandung yang dianggap tandus. Alam tidak hanya dinikmati, tetapi juga dikoleksi melalui nama latin, klasifikasi, dan publikasi ilmiah. Curug Dago menjadi objek wisata sekaligus laboratorium terbuka.

Kesadaran akan ancaman kerusakan juga muncul dalam panduan tersebut. Sawah-sawah di atas air terjun dianggap berbahaya karena rembesan airnya dapat meruntuhkan dinding tebing. Kekhawatiran ini mendorong pembentukan komisi pelindung alam pada 1917, yang berupaya membeli tanah di sekitar air terjun. Upaya ini digambarkan dengan penuh optimisme birokratis, lengkap dengan daftar nama tokoh Eropa dan jumlah gulden yang berhasil dikumpulkan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Di bagian akhir, panduan wisata itu kembali ke nada santai. Curug Dago bukan tempat berbahaya, melainkan lokasi rekreasi Minggu pagi yang ideal. Setelah melihat air terjun, pengunjung bisa kembali lewat jalur lain, menikmati panorama dataran Bandung, minum teh sore di Dago, lalu menyaksikan matahari terbenam di balik perbukitan Cimahi. Bahkan bagi yang masih punya tenaga, tersedia rute tambahan menuju koloni teosofis, desa-desa sekitar, hingga kembali ke Bandung dengan kaki yang lelah namun hati puas.

Dari keseluruhan narasi itu, Curug Dago tampil sebagai lanskap yang telah dijinakkan oleh imajinasi kolonial. Ia ditata dalam jarak, waktu, dan kenyamanan. Keindahannya dihitung, risikonya didomestikasi, dan cerita lokalnya diposisikan sebagai bumbu eksotis. Bagi orang Eropa pada 1927, Curug Dago bukan sekadar air terjun. Ia adalah halaman alam yang bisa dibaca sambil piknik, satu sore, lalu pulang sebelum gelap.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)