Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Tamasya Bandung Tempo Dulu, Curug Jompong dalam Imajinasi Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 08 Des 2025, 18:55 WIB
Lukisan Curug Jompong tahun 1819-an. (Sumber: Rijksmuseum)

Lukisan Curug Jompong tahun 1819-an. (Sumber: Rijksmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Curug Jompong hari ini kerap disebut sekilas saja dalam obrolan tentang Sungai Citarum. Padahal, hampir seabad lalu, jeram ini pernah diperlakukan bak primadona kecil dalam buku panduan wisata orang Eropa. Nyatanya, Curug Jompong pernah menjadi semacam destinasi eksotis bagi orang-orang Eropa yang tinggal di Bandung tempo doeloe.

Tahun 1927, sebuah buku tebal berbahasa Belanda berjudul Gids van Bandoeng en Midden-Priangan memasukkan Curug Jompong sebagai salah satu tujuan piknik istimewa di pinggiran Bandung. Cara mereka memandang Curug Jompong cukup menarik, campuran antara kekaguman geografis, selera estetika kolonial, serta selipan kisah lokal yang diperlakukan seperti catatan kaki eksotis.

Dalam panduan itu, Curug Jompong tidak digambarkan sebagai air terjun terpencil yang angker atau sakral. Sebaliknya, ia hadir sebagai tempat yang bisa dicapai dengan kereta, delman, bahkan sepeda. Jaraknya dihitung dengan ketelitian ala orang yang terbiasa menimbang menit dan kilometer. Sekitar tujuh kilometer di selatan Cimahi, berada di jeram Sungai Citarum, di sebuah persimpangan rute yang dianggap cukup ramah untuk wisata akhir pekan.

Jenis nada yang dipakai penulis panduan itu terasa santai dan praktis. Curug Jompong diposisikan sebagai bagian dari perjalanan kecil, cocok untuk mereka yang ingin keluar sejenak dari hiruk pikuk Bandung kolonial. Orang Eropa pada masa itu tampaknya menyukai gagasan menikmati alam tanpa harus benar-benar bersusah payah. Selama masih ada jembatan besi, jalan besar, atau setidaknya jalur yang bisa dilewati kereta kecil, alam dianggap bersahabat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Penjelasan rute menuju Curug Jompong dituliskan panjang lebar. Dari Cimahi melalui Leuwigajah, Lagadar, Leuwisapi, menyeberangi Citarum lewat jembatan besi, lalu berbelok sedikit. Atau lewat jalur lain yang melewati pemandian Sukabernang. Bahkan bagi pejalan kaki dan pesepeda, tersedia petunjuk rute dari pasar Andir, lengkap dengan estimasi waktu tempuh. Semua itu menggambarkan cara pandang kolonial yang menilai alam dari seberapa mudah ia bisa diakses.

Bagi pembaca Eropa tahun 1920-an, Curug Jompong bukanlah misteri. Ia adalah destinasi piknik yang tertata dalam peta, jadwal, dan alternatif jalur. Keindahan alamnya bukan soal spiritualitas, melainkan soal panorama yang layak dilihat dan dicatat.

Pesona Jeram dan Jalan Terindah di Jawa

Pujian terbesar dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan sebenarnya tidak hanya ditujukan pada Curug Jompong, tetapi pada lanskap di sekitarnya. Jalan dari Soreang melalui Curug Jompong menuju Batujajar bahkan disebut sebagai salah satu jalan terindah di Jawa. Pernyataan ini bukan sekadar sanjungan kosong. Orang Eropa di Hindia Belanda terbiasa membandingkan pemandangan. Jika sebuah jalan layak mendapat predikat terbaik, berarti ia lulus uji selera visual kolonial.

Baca Juga: Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Di satu sisi jalan, Sungai Citarum digambarkan deras, berbuih, dan bergemuruh. Di sisi lain, berdiri Gunung Lalakon dengan bentuk kerucut yang rapi, seperti lukisan alam yang tersusun sadar. Gunung dan sungai hadir sebagai latar dramatis, sementara manusia cukup menjadi penonton. Cara pandang ini khas orang Eropa, yang cenderung memosisikan alam sebagai objek estetika.

Curug Jompong sendiri mencapai puncak pesonanya menurut panduan itu justru pada musim hujan. Pada saat debit air membesar, jeram dianggap lebih layak ditonton. Air meluncur cepat, menghantam batu, menumpuk gelombang, menciptakan suasana yang memusingkan sekaligus menghibur. Bahkan percikan uap air yang membasahi udara diperlakukan sebagai bagian dari pengalaman visual, terutama ketika cahaya matahari memunculkan pelangi besar di dinding batu gelap.

Tak ada kesan takut atau waspada dalam deskripsi itu. Deru air bukan ancaman, melainkan pertunjukan. Sungai Citarum pada masa itu masih cukup bersih untuk dianggap tempat rekreasi. Orang Eropa menatapnya dengan kagum, bukan dengan rasa curiga. Curug Jompong adalah hiburan alam, bukan peringatan ekologis.

Curug Jompong dalam buku Gids van Bandoeng (1927).
Curug Jompong dalam buku Gids van Bandoeng (1927).

Yang menarik, panduan tersebut juga mencatat jalur di seberang jeram, jalur setapak yang bisa dicapai dari Kampung Djati di jalan Cimahi Leuwisapi. Ini menunjukkan bahwa Curug Jompong dipahami sebagai ruang yang bisa dieksplorasi dari berbagai sisi. Ia bukan satu titik mati, melainkan bagian dari jaringan jalan dan desa.

Baca Juga: Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Jejak Sejarah Kabupaten Batulayang

Di tengah urusan wisata dan panorama, buku panduan itu menyelipkan kisah tentang Gajah (Gadjah), desa kecil yang dilewati salah satu rute menuju Curug Jompong. Bagi orang Eropa, desa ini bukan sekadar tempat lewat, melainkan potongan sejarah Priangan yang layak diceritakan.

Kawasan Gajah yang kini menjadi Gajahmekar pernah menjadi ibu kota Kabupaten Batulayang lama. Kisahnya tidak heroik, melainkan agak jenaka sekaligus muram. Seorang bupati yang terlalu larut dalam minuman keras dan opium akhirnya membuat kabupatennya digabungkan dengan Bandung. Dalam nada yang nyaris sinis, panduan itu mencatat bagaimana sang bupati diberhentikan, diinternir ke Batavia, dan hidup dari tunjangan bulanan yang bahkan harus ditanggung pihak Bandung. Bagi pembaca Eropa, cerita ini barangkali menjadi selingan menarik di antara catatan alam dan rute perjalanan.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Desa Gajah sendiri digambarkan telah menyusut menjadi kampung kecil. Yang tersisa hanyalah makam seorang dalem, istilah umum untuk bupati. Identitasnya kabur, ingatan penduduk pun samar. Namun, ada satu detail yang membuat orang Eropa tertarik, sebuah batu ukir bergambar Ganesa di anak tangga makam. Dewa berkepala gajah dari India itu dibaca sebagai simbol kebijaksanaan dan keberanian. Dari patung kasar inilah, menurut panduan tersebut, nama Gajah berasal.

Cara pandang kolonial terhadap simbol lokal tampak jelas di sini. Ganesa dipahami sebagai artefak budaya yang eksotis dan informatif, bukan sebagai benda sakral. Ia dijelaskan, ditafsirkan, lalu dijadikan penanda etimologi nama desa. Semua dikemas agar mudah dicerna pembaca Eropa yang mungkin baru pertama kali mendengar kisah Priangan.

Setelah mampir ke masa lalu Gajah, panduan kembali ke urusan praktis. Pengunjung Curug Jompong diingatkan bahwa mereka bisa mandi di Leuwigajah, tepatnya di pemandian Sukabernang. Pesan tersiratnya jelas, perjalanan wisata ideal harus diakhiri dengan kenyamanan. Setelah memandang jeram dan bergumam kagum, tubuh perlu disegarkan.

Dari semua uraian itu, terlihat jelas bagaimana orang Eropa memandang Curug Jompong. Ia adalah perpaduan antara alam yang menghibur, sejarah lokal yang eksotik, dan rute perjalanan yang tertata rapi. Tidak ada romantisme berlebihan, tidak pula ketakutan pada alam liar. Semua ditempatkan dalam kerangka wisata modern awal abad ke 20.

Kini, membaca kembali panduan tahun 1927 itu seperti membuka album foto lama. Curug Jompong hadir sebagai lanskap yang pernah dipuja, dihitung jaraknya, dan dimasukkan ke daftar perjalanan kecil orang Eropa. Pandangan itu mungkin terasa asing hari ini, tetapi justru di situlah letak menariknya. Curug Jompong bukan sekadar jeram di Citarum, melainkan saksi cara kolonial memandang alam Priangan, dengan kekaguman, ketelitian, dan selera piknik yang khas.

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)