Tamasya Bandung Tempo Dulu, Curug Jompong dalam Imajinasi Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Lukisan Curug Jompong tahun 1819-an. (Sumber: Rijksmuseum)
Lukisan Curug Jompong tahun 1819-an. (Sumber: Rijksmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Curug Jompong hari ini kerap disebut sekilas saja dalam obrolan tentang Sungai Citarum. Padahal, hampir seabad lalu, jeram ini pernah diperlakukan bak primadona kecil dalam buku panduan wisata orang Eropa. Nyatanya, Curug Jompong pernah menjadi semacam destinasi eksotis bagi orang-orang Eropa yang tinggal di Bandung tempo doeloe.

Tahun 1927, sebuah buku tebal berbahasa Belanda berjudul Gids van Bandoeng en Midden-Priangan memasukkan Curug Jompong sebagai salah satu tujuan piknik istimewa di pinggiran Bandung. Cara mereka memandang Curug Jompong cukup menarik, campuran antara kekaguman geografis, selera estetika kolonial, serta selipan kisah lokal yang diperlakukan seperti catatan kaki eksotis.

Dalam panduan itu, Curug Jompong tidak digambarkan sebagai air terjun terpencil yang angker atau sakral. Sebaliknya, ia hadir sebagai tempat yang bisa dicapai dengan kereta, delman, bahkan sepeda. Jaraknya dihitung dengan ketelitian ala orang yang terbiasa menimbang menit dan kilometer. Sekitar tujuh kilometer di selatan Cimahi, berada di jeram Sungai Citarum, di sebuah persimpangan rute yang dianggap cukup ramah untuk wisata akhir pekan.

Jenis nada yang dipakai penulis panduan itu terasa santai dan praktis. Curug Jompong diposisikan sebagai bagian dari perjalanan kecil, cocok untuk mereka yang ingin keluar sejenak dari hiruk pikuk Bandung kolonial. Orang Eropa pada masa itu tampaknya menyukai gagasan menikmati alam tanpa harus benar-benar bersusah payah. Selama masih ada jembatan besi, jalan besar, atau setidaknya jalur yang bisa dilewati kereta kecil, alam dianggap bersahabat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Penjelasan rute menuju Curug Jompong dituliskan panjang lebar. Dari Cimahi melalui Leuwigajah, Lagadar, Leuwisapi, menyeberangi Citarum lewat jembatan besi, lalu berbelok sedikit. Atau lewat jalur lain yang melewati pemandian Sukabernang. Bahkan bagi pejalan kaki dan pesepeda, tersedia petunjuk rute dari pasar Andir, lengkap dengan estimasi waktu tempuh. Semua itu menggambarkan cara pandang kolonial yang menilai alam dari seberapa mudah ia bisa diakses.

Bagi pembaca Eropa tahun 1920-an, Curug Jompong bukanlah misteri. Ia adalah destinasi piknik yang tertata dalam peta, jadwal, dan alternatif jalur. Keindahan alamnya bukan soal spiritualitas, melainkan soal panorama yang layak dilihat dan dicatat.

Pesona Jeram dan Jalan Terindah di Jawa

Pujian terbesar dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan sebenarnya tidak hanya ditujukan pada Curug Jompong, tetapi pada lanskap di sekitarnya. Jalan dari Soreang melalui Curug Jompong menuju Batujajar bahkan disebut sebagai salah satu jalan terindah di Jawa. Pernyataan ini bukan sekadar sanjungan kosong. Orang Eropa di Hindia Belanda terbiasa membandingkan pemandangan. Jika sebuah jalan layak mendapat predikat terbaik, berarti ia lulus uji selera visual kolonial.

Baca Juga: Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Di satu sisi jalan, Sungai Citarum digambarkan deras, berbuih, dan bergemuruh. Di sisi lain, berdiri Gunung Lalakon dengan bentuk kerucut yang rapi, seperti lukisan alam yang tersusun sadar. Gunung dan sungai hadir sebagai latar dramatis, sementara manusia cukup menjadi penonton. Cara pandang ini khas orang Eropa, yang cenderung memosisikan alam sebagai objek estetika.

Curug Jompong sendiri mencapai puncak pesonanya menurut panduan itu justru pada musim hujan. Pada saat debit air membesar, jeram dianggap lebih layak ditonton. Air meluncur cepat, menghantam batu, menumpuk gelombang, menciptakan suasana yang memusingkan sekaligus menghibur. Bahkan percikan uap air yang membasahi udara diperlakukan sebagai bagian dari pengalaman visual, terutama ketika cahaya matahari memunculkan pelangi besar di dinding batu gelap.

Tak ada kesan takut atau waspada dalam deskripsi itu. Deru air bukan ancaman, melainkan pertunjukan. Sungai Citarum pada masa itu masih cukup bersih untuk dianggap tempat rekreasi. Orang Eropa menatapnya dengan kagum, bukan dengan rasa curiga. Curug Jompong adalah hiburan alam, bukan peringatan ekologis.

Curug Jompong dalam buku Gids van Bandoeng (1927).
Curug Jompong dalam buku Gids van Bandoeng (1927).

Yang menarik, panduan tersebut juga mencatat jalur di seberang jeram, jalur setapak yang bisa dicapai dari Kampung Djati di jalan Cimahi Leuwisapi. Ini menunjukkan bahwa Curug Jompong dipahami sebagai ruang yang bisa dieksplorasi dari berbagai sisi. Ia bukan satu titik mati, melainkan bagian dari jaringan jalan dan desa.

Baca Juga: Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Jejak Sejarah Kabupaten Batulayang

Di tengah urusan wisata dan panorama, buku panduan itu menyelipkan kisah tentang Gajah (Gadjah), desa kecil yang dilewati salah satu rute menuju Curug Jompong. Bagi orang Eropa, desa ini bukan sekadar tempat lewat, melainkan potongan sejarah Priangan yang layak diceritakan.

Kawasan Gajah yang kini menjadi Gajahmekar pernah menjadi ibu kota Kabupaten Batulayang lama. Kisahnya tidak heroik, melainkan agak jenaka sekaligus muram. Seorang bupati yang terlalu larut dalam minuman keras dan opium akhirnya membuat kabupatennya digabungkan dengan Bandung. Dalam nada yang nyaris sinis, panduan itu mencatat bagaimana sang bupati diberhentikan, diinternir ke Batavia, dan hidup dari tunjangan bulanan yang bahkan harus ditanggung pihak Bandung. Bagi pembaca Eropa, cerita ini barangkali menjadi selingan menarik di antara catatan alam dan rute perjalanan.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Desa Gajah sendiri digambarkan telah menyusut menjadi kampung kecil. Yang tersisa hanyalah makam seorang dalem, istilah umum untuk bupati. Identitasnya kabur, ingatan penduduk pun samar. Namun, ada satu detail yang membuat orang Eropa tertarik, sebuah batu ukir bergambar Ganesa di anak tangga makam. Dewa berkepala gajah dari India itu dibaca sebagai simbol kebijaksanaan dan keberanian. Dari patung kasar inilah, menurut panduan tersebut, nama Gajah berasal.

Cara pandang kolonial terhadap simbol lokal tampak jelas di sini. Ganesa dipahami sebagai artefak budaya yang eksotis dan informatif, bukan sebagai benda sakral. Ia dijelaskan, ditafsirkan, lalu dijadikan penanda etimologi nama desa. Semua dikemas agar mudah dicerna pembaca Eropa yang mungkin baru pertama kali mendengar kisah Priangan.

Setelah mampir ke masa lalu Gajah, panduan kembali ke urusan praktis. Pengunjung Curug Jompong diingatkan bahwa mereka bisa mandi di Leuwigajah, tepatnya di pemandian Sukabernang. Pesan tersiratnya jelas, perjalanan wisata ideal harus diakhiri dengan kenyamanan. Setelah memandang jeram dan bergumam kagum, tubuh perlu disegarkan.

Dari semua uraian itu, terlihat jelas bagaimana orang Eropa memandang Curug Jompong. Ia adalah perpaduan antara alam yang menghibur, sejarah lokal yang eksotik, dan rute perjalanan yang tertata rapi. Tidak ada romantisme berlebihan, tidak pula ketakutan pada alam liar. Semua ditempatkan dalam kerangka wisata modern awal abad ke 20.

Kini, membaca kembali panduan tahun 1927 itu seperti membuka album foto lama. Curug Jompong hadir sebagai lanskap yang pernah dipuja, dihitung jaraknya, dan dimasukkan ke daftar perjalanan kecil orang Eropa. Pandangan itu mungkin terasa asing hari ini, tetapi justru di situlah letak menariknya. Curug Jompong bukan sekadar jeram di Citarum, melainkan saksi cara kolonial memandang alam Priangan, dengan kekaguman, ketelitian, dan selera piknik yang khas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)