Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gunung Burangrang.
Gunung Burangrang.

AYOBANDUNG.ID - Gunung Burangrang sudah lama berdiri di antara kabut Lembang, tetapi ia baru benar benar menjadi objek kekaguman ketika orang Eropa di Bandung membawanya masuk ke dalam dunia catatan wisata. Di awal abad ke 20, para penulis kolonial menganggap Burangrang bukan sekadar gunung, melainkan laboratorium alam yang mesti ditaklukkan dengan sepatu kulit, topi lebar, dan satu dua kuli yang siap menebas semak di depan.

Buku Gids van Bandoeng en Midden Priangan terbitan 1927 bahkan memperlakukannya sebagai semacam monumen raksasa yang menunggu disingkap dengan cara yang paling Eropa: dengan ketertiban, peta triangulasi, dan keyakinan bahwa setiap lereng bisa dimenangkan asal ada jalur dan catatan yang tepat.

Dari semua pintu masuk yang ada, penulis panduan itu Steven Anne Reitsma memilih satu tempat yang dianggap paling cocok bagi pendaki kolonial: perkebunan kina Sukawana. Letaknya ideal bagi mereka yang datang dari Lembang atau Cisarua, dan bisa dicapai dengan mobil, hal yang pada masa itu sudah cukup membuat petualangan tampak modern. Jalan masuknya disebut berada tepat di seberang peternakan milik keluarga Ursone, lalu melewati jurang Sungai Cihideung yang dalam.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Jika dibaca sekarang, penjelasannya terasa seperti karya kartografer yang sedang berpuisi kecil sembari menurunkan petunjuk. Tetapi bagi orang Eropa tempo dulu, itu adalah cara paling aman agar para pelancong tak tersesat di antara lembah Priangan yang lembap dan rimbun.

Dari Bandung sendiri, Burangrang tampak jinak dan teratur, seolah hanya sebuah runcingan panjang dengan beberapa puncak yang berjajar. Namun orang orang Eropa yang menulis panduan itu mengingatkan bahwa pemandangan dari kejauhan sering menipu. Begitu mendekat, Burangrang berubah menjadi kaldera tua yang dipenuhi punggungan naik turun, seperti cincin patahan raksasa yang seolah ingin menguji kesabaran siapa pun yang mencoba menapakinya.

Deskripsi Reitsma mengurai bahwa dari kaki gunung, Lembang melekat pada lereng, Cisarua tampak lebih dekat, dan Bandung muncul sebagai siluet samar dengan bangunan pemerintahan yang menjadi titik orientasi.

Ia melihat semuanya dari ketinggian dengan kegembiraan khas linguis petualang, lalu menuliskannya seolah Burangrang adalah ruang kelas geologi yang sudah disiapkan oleh alam khusus bagi orang asing yang haus petualangan di tanah jajahan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Pendakian dari Sukawana digambarkan sebagai perjalanan yang penuh kejutan. Pertama, seseorang akan dibawa menyusuri jalan hutan cantik menuju onderafdeling Cisuren, lalu menyeberangi lembah Sungai Cimahi. Dalam catatan 1927 itu, ada momen ketika para pelancong diwajibkan berbelok ke kiri memasuki hutan melalui jalur kecil yang hanya pada bagian awal masih pantas disebut jalan. Setelah itu, istilahnya lebih cocok disebut tekad.

Hutan Burangrang digambarkan sebagai ruang lembap yang membuat napas tersengal. Para penulis Eropa mencatat suhu yang panas dan udara yang menempel di kulit, seolah hutan ingin mengingatkan bahwa tubuh manusia, terutama tubuh orang Belanda, selalu kalah dari tropis. Tetapi sesak itu segera terbayar ketika mereka mencapai dinding kaldera tua yang disebut Gedogan.

Dari sana, pemandangan terbuka lebar dan seisi dunia Priangan tampak seperti hamparan yang disusun rapi. Sukawana berada jauh di bawah, Tangkuban Parahu terlihat lebih rendah daripada biasanya, dan jalur jalur baru pembukaan lahan kina tampak seperti goresan kecil pada tubuh pegunungan.

Keasyikan mereka makin bertambah saat mendapati betapa Burangrang bukan satu gunung panjang, melainkan cincin setengah patah yang membentuk sebuah kawah tua. Bagian selatan, barat, dan timurnya menjadi dinding tebal yang ditumbuhi pohon raksasa. Di balik cincin itu tergeletak kawah hijau tua yang rapat oleh vegetasi.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ratu Belanda Saat KAA Dihelat di Bandung

Wisatawan Eropa di Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)
Wisatawan Eropa di Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)

Hanya bagian timur yang terbuka, memberi ruang bagi Tangkubanparahu untuk menjulurkan tubuhnya. Bagi para penulis kolonial, susunan itu seperti trik geologi yang sedang memamerkan kejeniusannya. Dari atas, mereka merasa seolah Parahu sedang tumbuh dari dalam kawah Burangrang.

Jalur-jalur yang ada di sepanjang punggungan buritan itu digambarkan sempit dan nakal. Di beberapa titik, jalurnya begitu sempit sampai mereka yang mudah pusing disebut mungkin harus memejamkan mata jika tidak ingin gentar. Untungnya, tumbuhan rapat di kiri kanan menutupi jurang curam yang bisa membuat lutut gemetar. Kesan jenaka muncul ketika catatan itu menyebut betapa jalur yang sempit, terabaikan, dan menanjak turun itu seperti dibuat bukan untuk dilalui manusia, melainkan makhluk hutan yang lebih sabar.

Puncak puncak Burangrang seolah tak habis. Setiap kali satu puncak dilewati, puncak berikutnya sudah menunggu. Hingga akhirnya, para pelancong itu mencapai puncak tertinggi, ditandai tiang triangulasi di ketinggian 2065 meter. Bagi mereka, triangulasi adalah simbol kemenangan modernitas. Bahwa pegunungan sebesar itu pun bisa diberi titik ukur, diatur, dan dipetakan dengan teliti.

Baca Juga: Hikayat Cipaganti Group, Raksasa Transportasi Bandung yang Tumbang Diguncang Skandal

Dari puncak itulah para penulis melihat dataran Plered dan Purwakarta bersinar diterpa cahaya matahari. Sementara ke arah timur, Parahu tampak teduh dan berhutan lebat seperti Burangrang sendiri.

Reruntuhan Vulkanik yang Disulap Jadi Destinasi Wisata

Catatan 1927 itu menutup petualangannya dengan saran jenaka. Bila seseorang sudah puas berputar putar di sepanjang cincin kaldera, jangan lupa turun kembali lewat jalur timur menuju puncak terdekat. Dari sana, perjalanan menuju Cisarua bisa ditempuh dalam waktu hampir tiga jam. Sementara dari Sukawana ke puncak membutuhkan hampir empat jam. Para kuli pembuka jalan dari Sukawana dianggap wajib, karena merekalah yang mengubah hutan rapat menjadi lorong kecil yang bisa dilalui petualang kolonial.

Saat membaca catatan itu hari ini, Burangrang tampak seperti panggung besar di mana orang Eropa tempo dulu memainkan imajinasi petualangan mereka. Gunung ini dimaknai sebagai hutan perawan tempat anggrek dan kantong semar tumbuh tak terkira. Sebuah gunung yang menuntut peluh tetapi memberi pemandangan yang membuat mereka merasa menemukan lanskap baru di tanah jajahan yang terus mereka tafsirkan.

Baca Juga: Dari Hotel Pos Road ke Savoy Homann, Jejak Kemewahan dan Saksi Sejarah Pembangunan Kota Bandung

Kini, hampir seabad berlalu, Burangrang masih berdiri dengan bentuk cincin kawah tuanya yang misterius. Ia tak lagi membutuhkan kuli pembuka jalan, dan para pendaki tak lagi membawa panduan wisata berbahasa Belanda. Namun kisah-kisah kolonial itu tetap menjadi jejak menarik, terutama untuk memahami bagaimana orang asing pernah melihat pegunungan Priangan sebagai ruang eksotik yang harus dipetakan, ditaklukkan, dan dituliskan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)