Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Gunung Burangrang, Eksotisme Kaldera Tropis dalam Imajinasi Wisata Kolonial Priangan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 07 Des 2025, 19:54 WIB
Gunung Burangrang.

Gunung Burangrang.

AYOBANDUNG.ID - Gunung Burangrang sudah lama berdiri di antara kabut Lembang, tetapi ia baru benar benar menjadi objek kekaguman ketika orang Eropa di Bandung membawanya masuk ke dalam dunia catatan wisata. Di awal abad ke 20, para penulis kolonial menganggap Burangrang bukan sekadar gunung, melainkan laboratorium alam yang mesti ditaklukkan dengan sepatu kulit, topi lebar, dan satu dua kuli yang siap menebas semak di depan.

Buku Gids van Bandoeng en Midden Priangan terbitan 1927 bahkan memperlakukannya sebagai semacam monumen raksasa yang menunggu disingkap dengan cara yang paling Eropa: dengan ketertiban, peta triangulasi, dan keyakinan bahwa setiap lereng bisa dimenangkan asal ada jalur dan catatan yang tepat.

Dari semua pintu masuk yang ada, penulis panduan itu Steven Anne Reitsma memilih satu tempat yang dianggap paling cocok bagi pendaki kolonial: perkebunan kina Sukawana. Letaknya ideal bagi mereka yang datang dari Lembang atau Cisarua, dan bisa dicapai dengan mobil, hal yang pada masa itu sudah cukup membuat petualangan tampak modern. Jalan masuknya disebut berada tepat di seberang peternakan milik keluarga Ursone, lalu melewati jurang Sungai Cihideung yang dalam.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Jika dibaca sekarang, penjelasannya terasa seperti karya kartografer yang sedang berpuisi kecil sembari menurunkan petunjuk. Tetapi bagi orang Eropa tempo dulu, itu adalah cara paling aman agar para pelancong tak tersesat di antara lembah Priangan yang lembap dan rimbun.

Dari Bandung sendiri, Burangrang tampak jinak dan teratur, seolah hanya sebuah runcingan panjang dengan beberapa puncak yang berjajar. Namun orang orang Eropa yang menulis panduan itu mengingatkan bahwa pemandangan dari kejauhan sering menipu. Begitu mendekat, Burangrang berubah menjadi kaldera tua yang dipenuhi punggungan naik turun, seperti cincin patahan raksasa yang seolah ingin menguji kesabaran siapa pun yang mencoba menapakinya.

Deskripsi Reitsma mengurai bahwa dari kaki gunung, Lembang melekat pada lereng, Cisarua tampak lebih dekat, dan Bandung muncul sebagai siluet samar dengan bangunan pemerintahan yang menjadi titik orientasi.

Ia melihat semuanya dari ketinggian dengan kegembiraan khas linguis petualang, lalu menuliskannya seolah Burangrang adalah ruang kelas geologi yang sudah disiapkan oleh alam khusus bagi orang asing yang haus petualangan di tanah jajahan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Pendakian dari Sukawana digambarkan sebagai perjalanan yang penuh kejutan. Pertama, seseorang akan dibawa menyusuri jalan hutan cantik menuju onderafdeling Cisuren, lalu menyeberangi lembah Sungai Cimahi. Dalam catatan 1927 itu, ada momen ketika para pelancong diwajibkan berbelok ke kiri memasuki hutan melalui jalur kecil yang hanya pada bagian awal masih pantas disebut jalan. Setelah itu, istilahnya lebih cocok disebut tekad.

Hutan Burangrang digambarkan sebagai ruang lembap yang membuat napas tersengal. Para penulis Eropa mencatat suhu yang panas dan udara yang menempel di kulit, seolah hutan ingin mengingatkan bahwa tubuh manusia, terutama tubuh orang Belanda, selalu kalah dari tropis. Tetapi sesak itu segera terbayar ketika mereka mencapai dinding kaldera tua yang disebut Gedogan.

Dari sana, pemandangan terbuka lebar dan seisi dunia Priangan tampak seperti hamparan yang disusun rapi. Sukawana berada jauh di bawah, Tangkuban Parahu terlihat lebih rendah daripada biasanya, dan jalur jalur baru pembukaan lahan kina tampak seperti goresan kecil pada tubuh pegunungan.

Keasyikan mereka makin bertambah saat mendapati betapa Burangrang bukan satu gunung panjang, melainkan cincin setengah patah yang membentuk sebuah kawah tua. Bagian selatan, barat, dan timurnya menjadi dinding tebal yang ditumbuhi pohon raksasa. Di balik cincin itu tergeletak kawah hijau tua yang rapat oleh vegetasi.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ratu Belanda Saat KAA Dihelat di Bandung

Wisatawan Eropa di Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)
Wisatawan Eropa di Gunung Burangrang. (Sumber: KITLV)

Hanya bagian timur yang terbuka, memberi ruang bagi Tangkubanparahu untuk menjulurkan tubuhnya. Bagi para penulis kolonial, susunan itu seperti trik geologi yang sedang memamerkan kejeniusannya. Dari atas, mereka merasa seolah Parahu sedang tumbuh dari dalam kawah Burangrang.

Jalur-jalur yang ada di sepanjang punggungan buritan itu digambarkan sempit dan nakal. Di beberapa titik, jalurnya begitu sempit sampai mereka yang mudah pusing disebut mungkin harus memejamkan mata jika tidak ingin gentar. Untungnya, tumbuhan rapat di kiri kanan menutupi jurang curam yang bisa membuat lutut gemetar. Kesan jenaka muncul ketika catatan itu menyebut betapa jalur yang sempit, terabaikan, dan menanjak turun itu seperti dibuat bukan untuk dilalui manusia, melainkan makhluk hutan yang lebih sabar.

Puncak puncak Burangrang seolah tak habis. Setiap kali satu puncak dilewati, puncak berikutnya sudah menunggu. Hingga akhirnya, para pelancong itu mencapai puncak tertinggi, ditandai tiang triangulasi di ketinggian 2065 meter. Bagi mereka, triangulasi adalah simbol kemenangan modernitas. Bahwa pegunungan sebesar itu pun bisa diberi titik ukur, diatur, dan dipetakan dengan teliti.

Baca Juga: Hikayat Cipaganti Group, Raksasa Transportasi Bandung yang Tumbang Diguncang Skandal

Dari puncak itulah para penulis melihat dataran Plered dan Purwakarta bersinar diterpa cahaya matahari. Sementara ke arah timur, Parahu tampak teduh dan berhutan lebat seperti Burangrang sendiri.

Reruntuhan Vulkanik yang Disulap Jadi Destinasi Wisata

Catatan 1927 itu menutup petualangannya dengan saran jenaka. Bila seseorang sudah puas berputar putar di sepanjang cincin kaldera, jangan lupa turun kembali lewat jalur timur menuju puncak terdekat. Dari sana, perjalanan menuju Cisarua bisa ditempuh dalam waktu hampir tiga jam. Sementara dari Sukawana ke puncak membutuhkan hampir empat jam. Para kuli pembuka jalan dari Sukawana dianggap wajib, karena merekalah yang mengubah hutan rapat menjadi lorong kecil yang bisa dilalui petualang kolonial.

Saat membaca catatan itu hari ini, Burangrang tampak seperti panggung besar di mana orang Eropa tempo dulu memainkan imajinasi petualangan mereka. Gunung ini dimaknai sebagai hutan perawan tempat anggrek dan kantong semar tumbuh tak terkira. Sebuah gunung yang menuntut peluh tetapi memberi pemandangan yang membuat mereka merasa menemukan lanskap baru di tanah jajahan yang terus mereka tafsirkan.

Baca Juga: Dari Hotel Pos Road ke Savoy Homann, Jejak Kemewahan dan Saksi Sejarah Pembangunan Kota Bandung

Kini, hampir seabad berlalu, Burangrang masih berdiri dengan bentuk cincin kawah tuanya yang misterius. Ia tak lagi membutuhkan kuli pembuka jalan, dan para pendaki tak lagi membawa panduan wisata berbahasa Belanda. Namun kisah-kisah kolonial itu tetap menjadi jejak menarik, terutama untuk memahami bagaimana orang asing pernah melihat pegunungan Priangan sebagai ruang eksotik yang harus dipetakan, ditaklukkan, dan dituliskan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)