Yang Dilakukan Ratu Belanda Saat KAA Dihelat di Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ratu Juliana (kiri) berfoto di Paleis Soestdijk saat ultah ke-46. (Sumber: Het Nieuewesblad van Het Zuiden 2 Mei 1955)
Ratu Juliana (kiri) berfoto di Paleis Soestdijk saat ultah ke-46. (Sumber: Het Nieuewesblad van Het Zuiden 2 Mei 1955)

AYOBANDUNG.ID - Ketika dunia menatap ke Bandung pada April 1955, Belanda justru sedang menatap salju. Sementara Soekarno berpidato penuh semangat di Gedung Merdeka, menegaskan persatuan Asia dan Afrika, Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda tampaknya tengah sibuk dengan sesuatu yang sangat Eropa: serpihan salju, liburan Paskah, dan persiapan ulang tahunnya.

Bandung bergetar oleh langkah 29 delegasi negara Asia dan Afrika. Tapi di Belanda, Ratu Juliana tenang-tenang saja. Tak ada pernyataan diplomatik, bahkan tak ada sekadar ucapan “selamat konferensi”. Bagi Belanda, Konferensi Asia-Afrika (KAA) adalah panggung yang tidak diharapkan keberadannya, tak sudi pula tampaknya mereka jika diundang terlebih untuk datang. Karena di balik meriahnya Bandung, terselip ironi sejarah: pertemuan yang menandai kebangkitan negara-negara bekas jajahan, termasuk Indonesia, justru berlangsung tanpa sang bekas penjajah.

Lantas, ada di mana Ratu Belanda saat KAA berlangsung? Apa yang dilakukan? Bagaimana pandangannya terhadap konferensi anti kolonial terbesar sepanjang sejarah tersebut?

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Catatan arsip kolonial tentang ratu tak terlalu jelas buat periode itu. KAA sendiri berlangsung pada 18–24 April 1955. Menurut catatan koran-koran Belanda kala itu, pada minggu-minggu sebelum dan sesudah konferensi, keluarga kerajaan Belanda sedang berlibur di kawasan ski Klosters, Swiss, dekat perbatasan Austria, wilayah Tirol.

Pada 7 April 1955, Ratu Juliana dan putri bungsunya, Margriet, tiba di Hotel Chesa Grischuna, sebuah penginapan legendaris yang kerap disinggahi bangsawan Eropa sejak 1930-an. Tak lama kemudian, Pangeran Bernhard beserta dua putri lainnya, Beatrix dan Irene, bergabung setelah menyelesaikan tur ski dari Sankt Anton ke Klosters. Mereka merayakan paasvakantie (libur Paskah) yang jatuh pada 10 April.

"Lima puluh mawar merah merupakan sambutan dari Dewan Federal Swiss untuk Ratu Juliana, yang tiba di Klosters, Swiss, pada pukul lima sore hari Kamis. Sebuah payung merupakan sambutan dari direktur hotel tempat Yang Mulia dan Putri Margriet akan menginap," tulis Algemeen Handelsblad.

Dalam foto Nationaal Archief, ada dokumentasi keluarga kerajaan tengah bermain salju, lengkap dengan pakaian tebal dan kacamata ski besar khas era 1950-an. Satu foto memperlihatkan Juliana menerima buket mawar merah dari perwakilan pemerintah Swiss di tengah hujan salju, payung terbuka, wajahnya tersenyum, entah karena udara dingin atau sekadar lega jauh dari urusan politik.

Liburan Paskah di Belanda, biasanya berlangsung satu hingga dua pekan. Artinya, ketika Bandung mulai ramai oleh rombongan dari India, Mesir, Birma, dan Tiongkok, sang ratu kemungkinan sedang menikmati dinginnya suasana lereng Alpen. Kemungkinan lainnya adalah Juliana sedang berada di Paleis Soestdijk, istana kerajaan yang terletak di Baarn. Bisa jadi ia sedang bersyik masyuk, mempersiapkan hari ulang tahunnya yang ke-46 pada 30 April, sambi membaca laporan diplomatik rutin di sofa beludru istana.

Ratun Juliana berjalan dipayungi pemilik hotel saat tiba untuk liburan Paskah di Klosters, Swis. (Sumber: Algemeen Handelsblad 9 April 1955)
Ratun Juliana berjalan dipayungi pemilik hotel saat tiba untuk liburan Paskah di Klosters, Swis. (Sumber: Algemeen Handelsblad 9 April 1955)

Berdasarkan arsip Kabinet der Koningin, Juliana menerima laporan diplomatik rutin sepanjang Maret–Mei 1955: pembaruan hubungan NATO, situasi ekonomi dalam negeri, dan laporan perkembangan di bekas koloni seperti Suriname dan Antillen Belanda. Tak ada catatan khusus tentang KAA. Tampaknya para penasihat kerajaan menganggap konferensi itu urusan negara-negara yang baru lahir, bukan panggung bagi kekuatan kolonial lama.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Pesta perayaan ulang tahun ratu (Koninginnedag) juga menyita perhatian Belanda kala itu. Kabar yang disiar menyebut warga kincir angin sedang hanyut dlam suasana festival oranye atau Oranjefeesten kala itu. Oranjefeesten adalah rangkaian kegiatan menyambut ulang tahun ratu yang dimulai ejak awal April, dengan beberapa kegiatan lanjutan di daerah tertentu hingga awal Mei.

Surat kabar Algemeen Handelsblad tanggal 15 April 1955 bahkan menyebutkan uji coba desain perangko edisi ulang tahun Ratu Juliana, pertanda fokus istana kala itu lebih pada urusan domestik dan perayaan nasional ketimbang politik global. Belanda sedang dalam masa pemulihan ekonomi pasca-Perang Dunia II kala itu, dan ulang tahun sang ratu menjadi simbol kebangkitan.

Dalam masa festival itu, Ratu Juliana juga menyempatkan diri menerima kunjungan kenegaraan dari Raja Swedia Gustaf VI Adolf antara 26-29 April. "Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard memberikan hadiah kepada Raja dan Ratu Swedia dalam rangka kunjungan kenegaraan mereka. Hadiah tersebut terdiri dari sekitar 400 reproduksi foto karya seni antik terpenting dari museum-museum Belanda, termasuk Rijksmuseum," tulis Deventer Dagblad edisi 30 April. Pada 5 Mei 1955, Juliana tampak hadir di upacara Dodenherdenking Hari Peringatan Korban Perang Dunia II di dekat kediamannya.

Tidak ada satu pun catatan resmi atau memo diplomatik yang menunjukkan bahwa Juliana memperhatikan jalannya Konferensi Asia-Afrika secara khusus. Bahkan, tidak ditemukan pidato, ucapan resmi, ataupun komentar publik dari pihak istana mengenai peristiwa Bandung tersebut.

Ratu Juliana dalam sebuah makan malam bersama Raja Gustaf VI Adolf dan Ratu Louise dari Swedia pada akhir April 1955.
Ratu Juliana dalam sebuah makan malam bersama Raja Gustaf VI Adolf dan Ratu Louise dari Swedia pada akhir April 1955.

Hubungan Ratu Juliana dengan Indonesia

Pada 1955, hubungan Indonesia–Belanda masih hangat tapi tegang. Pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 memang ditandatangani langsung oleh Ratu Juliana di Istana Dam, Amsterdam, tetapi luka perang kemerdekaan belum sembuh sepenuhnya. Masalah besar bernama Irian Barat (Papua Barat) masih menjadi duri dalam daging. Dalam pidato pembukaan KAA, Soekarno dengan halus tapi tajam menyinggung kolonialisme lama yang masih bercokol di Asia dan Afrika. Tentu saja, Belanda termasuk dalam kategori itu.

Dari sudut pandang Belanda, tahun 1955 adalah masa pemulihan. Negeri kecil itu baru bangkit dari kehancuran Perang Dunia II, menata ekonominya dengan bantuan Marshall Plan, dan berupaya mempertahankan pengaruh kolonialnya yang tersisa di Suriname dan Antillen. Juliana, yang terkenal sederhana dan religius, lebih banyak menjalankan fungsi simbolis dengan menjadi ibu bagi bangsa yang sedang berduka dan berbenah, ketimbang sibuk urusan diplomasi luar negeri.

Baca Juga: Sejarah Lyceum Kristen Bandung, Sekolah Kolonial yang jadi Saksi Bisu Gemerlap Dago

Tapi, ini bukan berarti Juliana acuh terhadap Indonesia sama sekali. Juliana sendiri memainkan peran kunci dalam pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 oleh Kerajaan Belanda. Ia menandatangani dokumen pengakuan di Istana Dam, Amsterdam, yang mengakhiri 350 tahun kekuasaan kolonial Belanda atas Hindia Belanda. Saat itu, Juliana menjadi Hoofd der Unie (Kepala Uni Belanda-Indonesia) hingga 1956, meskipun proses ini dianggap sebagai bencana ekonomi bagi Belanda karena kehilangan aset kolonial dan biaya militer.

Pidatonya saat pengakuan kedaulatan 1949 menunjukkan sisi spiritual dan personalnya. Ia menggambarkan kemerdekaan Indonesia bukan sebagai kekalahan politik bagi negerinya, melainkan sebagai bagian dari kehendak ilahi, sebuah peristiwa yang memang sudah digariskan untuk terjadi pada waktunya. Nada bicaranya mencerminkan kepasrahan, seolah ia menerima kenyataan bahwa masa kolonial Belanda di Asia telah berakhir karena alasan yang lebih tinggi dari sekadar urusan duniawi. Juliana tampak sangat terpengaruh secara pribadi. Matanya berkaca-kaca dan suaranya serak saat menyampaikan pidato, mencerminkan duka atas akhir era kolonial.

Butuh waktu 16 tahun setelah KAA bagi Ratu Juliana untuk menjejakkan kaki di Indonesia. Pada Agustus 1971, ia akhirnya datang dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke negeri yang dulu menjadi koloni utama Belanda. Sambutan rakyat Indonesia saat itu luar biasa. Jalan-jalan Jakarta dihiasi bendera merah putih dan oranye, dua warna yang dulunya berseberangan kini berkibar berdampingan.

Dalam pidato kenegaraannya di Istana Merdeka, Juliana berkata lembut dengan menyebut Indonesia sebagai mitra setara, bukan bekas koloni. “Saya menganggap ini sebagai hak istimewa untuk mengenal negara besar dan menarik ini untuk pertama kalinya atas undangan Presiden Indonesia,” kata Juliana dikutip dari New York Times. Kata-kata itu menunjukkan perubahan besar: dari ratu yang dulu menandatangani berakhirnya kolonialisme menjadi sahabat yang datang membawa perdamaian.

Presiden Soeharto menjawab dengan nada diplomatis. “Kedua bangsa kita memasuki era baru, dengan semangat dan hubungan baru. Rakyat Indonesia sedang membangun masa depan mereka.” Kunjungan ini menandai babak baru hubungan Indonesia–Belanda, seolah menutup tirai masa lalu yang getir dan membuka jendela masa depan yang pragmatis.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)