Sejarah Lyceum Kristen Bandung, Sekolah Kolonial yang jadi Saksi Bisu Gemerlap Dago

8 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Foto siswa Het Christelijk Lyceum Bandung di Dago 1951/52 (Sumber: javapost.nl)
Foto siswa Het Christelijk Lyceum Bandung di Dago 1951/52 (Sumber: javapost.nl)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah tikungan jalan Dago yang dahulu sunyi dan dinaungi rimbun pohon, berdiri sebuah bangunan bergaya kolonial yang pernah menjadi saksi bisu geliat pendidikan zaman Hindia Belanda. Het Christelijk Lyceum (HCL), demikian namanya. Sekolah ini bukan hanya tempat anak-anak Belanda dan kalangan elite bumiputera menimba ilmu, melainkan juga sebuah institusi yang menyimpan jejak panjang peradaban kolonial yang mencoba memahat modernitas di jantung Priangan.

Lyceum Kristen Bandung menyimpan kisah tentang bagaimana sistem pendidikan kolonial dibentuk bukan hanya untuk mencerdaskan, tapi juga untuk membentuk kelas. Di sinilah, di ruang-ruang kelas beraroma kayu tua, sejarah pendidikan modern mulai diguratkan di atas papan tulis, dengan kapur putih yang kini telah lenyap, tapi memorinya tetap membayang.

Peneliti Frans Ari Prasetyo dalam Bandung dan Pemaknaan Dago dalam Sejarah: Masa Lalu, Masa Kini yang terbit di Jurnal Lembar Sejarah 2019 mencatat bangunan Lyceum awalnya merupakan vila milik seorang keturunan Tionghoa bermarga Tan yang berdiri sejak tahun 1910. Lokasinya berada di kawasan Dago, yang kala itu mulai tumbuh menjadi kawasan permukiman elite Eropa setelah dibukanya Jalan Dago dan pembangunan reservoir air di Bukit Dago oleh pemerintah kota.

Pada tahun 1927, vila ini beralih fungsi menjadi sekolah menengah dengan nama Het Christelijk Lyceum. Nama “Lyceum” sendiri berasal dari lembaga pendidikan yang didirikan oleh Aristoteles di Athena pada 335 SM. Pendirian sekolah ini mencerminkan proyek kolonial untuk membangun sistem pendidikan modern bagi kalangan atas Eropa dan Indo-Eropa di Hindia Belanda.

Bangunannya kemudian direnovasi dua kali. Renovasi pertama dilakukan pada 1939 oleh arsitek J.S. Duyvis. Renovasi kedua sekaligus perluasan ke utara dikerjakan pada 1941 oleh A.W. Gmelig Meijling. Sejak saat itu, Lyceum menjadi salah satu institusi pendidikan menengah paling prestisius di Bandung.

Tapi, bangunan ini sempat tidak berfungsi sebagai sekolah pada masa pendudukan Jepang. Lyceum Dago pernah didiami Jepang pada 30 September 1945, dan dijadikan kamp penampungan bagi perempuan dan anak-anak yang sakit. "Lalu, pada Januari 1946 ketika Bandung Utara menjadi kawasan Sekutu, bangunan ini dijadikan rumah sakit," tulis Frans Ari.

Setelah Indonesia merdeka, Het Christelijk Lyceum tetap digunakan sebagai sekolah hingga kemudian dinasionalisasi pada tahun 1958. Aset sekolah ini dibagi menjadi beberapa sekolah baru: SMAK Dago, SMAN 1 Bandung, SMA Nasional, dan SMA Pembangunan. Namun hanya SMAK Dago yang terus menggunakan bangunan Lyceum sampai gedung itu dirubuhkan.

Lyceum tak hanya mencetak pelajar cerdas dari kalangan elite, tapi juga menjadi pusat pertunjukan musik di Bandung. Aula utamanya dirancang dengan standar akustik tinggi, membuatnya cocok digunakan untuk konser musik klasik dan jazz kelas dunia. Bahkan, fungsi ini tetap dijaga hingga dekade 1980-an.

“Setelah era kolonial berakhir, Lyceum ini dipergunakan untuk sekolah, tapi aulanya tetap dijadikan tempat konser musik yang prestisius dan berkelas karena desain interiornya memang diciptakan untuk standar konser musik level internasional,” tulis Frans Ari.

Sejumlah musisi besar pernah tampil di sana, di antaranya Elfa Secioria dan Bubi Chen. Aula itu menjadi ikon budaya yang sulit digantikan. Sampai akhir hayatnya, bangunan ini menyimpan memori musikal kota Bandung, yang tak lagi bisa jumpai dalam bentuk ruang fisik. Menurut Frans Ari, Lyceum mencapai puncak kejayaannya pada dekade 1960–1970-an.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

"Pada era tahun 1970 sampai 1980-an, Dago mulai menjadi pusat aktivitas anak muda dan kegiatan malam hari. Mulai dari acara malam takbiran menjelang hari raya Idulfitri sampai acara balapan liar. Jalan yang lurus di Dago, yang biasa digunakan sekitar 2,5 km antara perempatan Pasar Simpang Dago sampai perempatan Cikapayang, sering dijadikan arena balapan motor dan mobil, atau menjadi jalan wajib konvoi klub kendaraan bermotor pada saat itu."

Pangeran Bernhard Leopold Frederik Everhard Julius Coert Karel Godfried Pieter zur Lippe-Biesterfeld dari Belanda menghadiri reuni 50 tahun Het Christelijk Lyceum di Bandung pada 1976. (Sumber: Wikimedia)
Pangeran Bernhard Leopold Frederik Everhard Julius Coert Karel Godfried Pieter zur Lippe-Biesterfeld dari Belanda menghadiri reuni 50 tahun Het Christelijk Lyceum di Bandung pada 1976. (Sumber: Wikimedia)

Setelah memasuki dekade 2000-an, aula dan bangunan Lyceum mulai terbengkalai. Pada 2011, sebagian besar bangunan sudah rusak dan tidak dipergunakan lagi. Hanya beberapa ruang kelas yang masih digunakan oleh SMAK Dago. Konflik aset yang muncul sejak 1980-an antara Yayasan Badan Perguruan Sekolah Menengah Kristen Jawa Barat dan Perkumpulan Lyceum Kristen ikut memperkeruh kondisi.

Kasus tersebut berujung ke meja hijau. Dalam keputusan Mahkamah Agung tanggal 30 Juni 1994, dinyatakan bahwa Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK) bukan kelanjutan dari Het Christelijk Lyceum karena telah dibubarkan oleh UU No. 50 Prp Tahun 1960. Maka, gugatan atas aset tersebut tidak dapat diterima. Meski begitu, konflik internal dan birokrasi tetap membayangi nasib gedung Lyceum.

PLK kembali naik panggung. Pada 4 November 2024, mereka resmi mendaftarkan gugatan ke PTUN Bandung dengan nomor perkara 164/G/2024/PTUN.BDG. Butuh waktu lima bulan lebih sampai akhirnya, pada 17 April 2025, hakim menggedok palu: PLK menang. Tapi pertarungan belum selesai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang jadi pihak tergugat, langsung mengajukan banding.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Lyceum dalam Kenangan Para Siswa

Terselip di balik sejarahnya yang penuh aral melintang, sekolah Kristen ini menyimpan banyak cerita, lebih dari sekadar kurikulum, nilai ulangan, atau bel peralihan jam pelajaran. Di balik tembok-temboknya, generasi demi generasi menimba ilmu, dan kenangan.

Sebuah memoar di majalah bertema Indonesia Belanda, Moesson, memuat kepingan kenangan salah satu alumni bernama Katie Heyting. Dalam catatannya, Katie masuk Lyceum saat umurnya masih tiga belas tahun. Tahun itu 1939, sebelum perang dunia meletus di Eropa. Ia pindahan dari Surabaya, sudah menyelesaikan kelas enam dan tujuh, dan lulus ujian masuk HBS.

Setiap hari, kegiatan sekolah dimulai dengan doa pagi dan ditutup dengan doa sore. “Setiap kelas punya ruang sendiri, dan para guru yang berpindah-pindah,” tulis Katie. “Ada sekitar 25 murid per kelas, laki-laki dan perempuan. Sebagian besar murid adalah orang Eropa, tapi juga ada beberapa murid Jawa. Semua bergaul satu sama lain.”

Pelajarannya lengkap dan serius: bahasa Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, ditambah matematika, geografi, sejarah, fisika, kimia, dan tentu saja olahraga. Tapi yang paling mencolok dari sekolah ini adalah semangat etnosentris yang masih lekat. “Namun, semuanya berpusat pada Belanda, dan sebenarnya sangat sedikit perhatian terhadap Hindia. Tidak di pelajaran sejarah, tidak juga di geografi. Kini jika saya melihat ke belakang, itu terasa sangat aneh.”

Di luar jam pelajaran, ada juga kegiatan hiburan. Berenang di Tjihampelas atau kolam renang ’t Centrum jadi kesenangan murid-murid kala itu. Tapi jangan bayangkan ada dansa-dansi. “Pesta sekolah diadakan sekitar dua kali setahun, tapi tidak ada dansa karena ini sekolah Kristen,” kenang Katie. Tapi ia masih ingat betul sebuah peristiwa yang kemudian jadi legenda kecil di sekolah itu: “Saya ingat betul penampilan dari Wim Kan dan Corry Vonk di sekolah kami.” Dua komedian dari Belanda itu sedang tur di Hindia Belanda, tapi tidak bisa pulang karena perang revolusi telah meletus.

Kelas tahun 1941 (Sumber: javapost.nl)
Kelas tahun 1941 (Sumber: javapost.nl)

Ketika Jepang datang dan gedung sekolah disita, pelajaran tak serta-merta berhenti. Kegiatan belajar masih berlanjut, berpindah dari gedung sekolah Katolik ke rumah-rumah guru. Katie akhirnya mendapat sertifikat bahwa ia telah menyelesaikan kelas tiga. Setelah itu, ia belajar di kamp interniran, kadang dari guru, kadang dari teman sekelas.

Catatan kenangan lain muncul di laman Chinese Indonesia Heritage Center. memoer itu dibagikan sosok bernama Hans Go. Bagi Hans Go, dunia Lyceum punya dinamika yang lebih rumit. Ia adalah satu-satunya murid keturunan Tionghoa di kelas tahun 1941. “Di bawah pemerintahan Belanda, masyarakat diklasifikasikan sebagai Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Saya termasuk dalam kelompok Timur Asing,” tulisnya. “Sebagai satu-satunya Timur Asing di kelas, saya tetap saja mengalami pergumulan identitas. Saya tidak tahu pasti di mana saya termasuk.”

Ketika Jepang datang, pendidikan terhenti. Tapi setelah Jepang kalah, Lyceum kembali jadi harapan. Murid diberi kesempatan mempercepat menyelesaikan HBS--setara SMP dan SMA--hanya dalam tiga tahun. Hans Go memilih masuk langsung ke tahun ketiga karena selama masa pendudukan, ia mencuri waktu untuk belajar diam-diam. Usahanya berhasil. Ia lulus bersama sejumlah teman Tionghoa lain. Bertahun-tahun kemudian, saat menerima foto kelas dari Australia, ia penasaran apa kabar teman-temannya.

Ia menelusuri jejak mereka, dan ternyata banyak dari mereka berhasil. Ada Lioe King Djoe, pemilik perusahaan teknik listrik besar. Harry Kho jadi direktur Coca-Cola Jakarta dan pemilik perusahaan makanan bayi terbesar. Lionel Tan jadi pengacara di Shell, dan Hans Go sendiri menjadi CEO perusahaan petrokimia di New York.

“Saya mungkin contoh dari ‘Manusia Marginal’, seseorang yang hanya sedikit ikut serta dalam kehidupan dua kelompok budaya tanpa merasa menjadi bagian dari salah satunya,” tulisnya kemudian. Tapi justru dari posisi marginal itu, ia dan teman-temannya membangun karier yang tak bisa diremehkan. Dunia meminggirkan mereka, dan mereka membalasnya dengan menjadi luar biasa.

Tapi Lyceum bukan hanya tempat untuk pelajaran dan status sosial. Ia juga panggung kecil bagi kenangan yang lembut ala romansa remaja yang ringan dan jujur. Seorang alumni yang menulis dengan inisial HES di blog Indisch4ever mengenang hari-harinya di Lyceum setelah perang.

Baca Juga: Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

Ia masuk kelas 1A, kemudian lanjut ke 2B dan 3A. Sekolah dipadatkan menjadi sistem akselerasi. Kurikulum HBS yang diringkas membuatnya harus meguras otak. “Saya harus belajar keras,” tulisnya. Tapi bukan hanya pelajaran yang ia kenang. Nama-nama teman sekelas mulai pudar, tapi dua wajah perempuan masih melekat dalam benaknya.

“Dua nama gadis yang membekas di ingatan saya: Yvonne dengan rambut hitam keriting, dan Sylvia yang ramping. Ia duduk di depan saya, dan saya kadang-kadang memainkan rambutnya. Betapa manisnya saat itu!”

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)