Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 29 Jul 2025, 17:08 WIB
Vila Isola Bandung yang menyimpan banyak sejarah. (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

Vila Isola Bandung yang menyimpan banyak sejarah. (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

AYOBANDUNG.ID - Di tikungan besar di Jalan Lembang, yang kini lebih dikenal sebagai kawasan Setiabudi, Bandung Utara, berdiri sebuah bangunan megah bergaya art deco yang tak lekang oleh waktu: Villa Isola. Ia tak sekadar rumah tinggal, bukan pula cuma simbol gaya hidup elite kolonial.

Bangunan ini adalah saksi bisu sejarah panjang Indonesia, dari era kejayaan pers Hindia Belanda hingga pertempuran revolusi kemerdekaan. Jejaknya membentang dari gemerlap pesta malam peresmian, dentuman meriam perang, hingga pekik semangat para guru masa depan.

Dalam risalahnya Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara, Rahmat Kurnia menyatakan villa Isola mulai dibangun pada Maret 1933 dan rampung pada Desember di tahun yang sama. Proyek ini melibatkan sekitar 700 pekerja dan berada di bawah supervisi biro konstruksi Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA). Sosok di balik desainnya adalah Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker, arsitek flamboyan kelahiran Banyubiru, Semarang, yang acap dibandingkan dengan Frank Lloyd Wright.

Bagi Schoemaker sendiri, Villa Isola bukan tugas mudah. "Villa Isola adalah salah satu penugasan arsitektur paling sulit yang pernah ditangani," tulis JC Van Dullemen dalam buku Arsitektur Tropis Modern yang dikutip Rahmat. Bangunan ini harus mengikuti kontur tanah, berpadu dengan lanskap Bandung utara yang berbukit, sekaligus tetap mempertahankan gaya tropis modern yang jadi ciri khas Schoemaker.

Tapi di balik tantangan arsitektural itu, berdiri seorang tokoh penting yang menjadi pemilik rumah: Dominique Willem Berretty, pendiri kantor berita ANETA (Algemeen Nieuws- en Telegraaf-Agentschap). Berretty memulai kariernya sebagai wartawan muda di Bataviaasch Nieuwsblad pada tahun 1910. Lewat ANETA yang didirikannya pada 1917, ia mengubah wajah jurnalistik di Hindia Belanda. Saat koran-koran masih mengandalkan telegram lamban dari Eropa, ANETA bisa menyampaikan berita secara cepat berkat jaringan koresponden global yang ia bangun sendiri.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Tak heran jika Berretty menjadi jurnalis paling berpengaruh di masa itu. Namun, kekuasaan membawa masalah. Pada 1930, ia diperiksa karena dituduh memonopoli informasi. Nama baiknya tercoreng. Dalam tekanan, Berretty memilih menjauh dari keramaian. Ia mencari pelarian di Bandung Utara. Maka lahirlah Isola. Nama yang diambil dari filosofi Berretty sendiri: M'isollo e vivo yang artinya "aku mengasingkan diri dan bertahan hidup".

Peresmian Villa Isola pada 21 Desember 1933 berlangsung megah. Surat kabar De Indische Courant melaporkan, "Pada Sabtu malam, vila Isola, rumah Bapak D. W. Berretty yang terletak di Lembangweg, diresmikan secara meriah." Tamu-tamu dari kalangan pers dan elite sosial memenuhi ruang biliar Isola. Mereka disambut dengan tur ke seluruh bagian rumah oleh Schoemaker: dari ruang tamu lapang, ruang kerja, kamar-kamar tamu, hingga taman atap yang diterangi dua obor besar.

Interiornya memukau: lampu gantung ala Venesia, perabot mahal, dan lukisan-lukisan karya seniman India dan Eropa. Salah satu lukisan besar menggambarkan lanskap dari sisi timur Isola. Dalam satu ruangan bawah tanah yang luas, diputar film dokumenter pembangunan vila ini. Ruang itu seolah berubah menjadi bioskop pribadi. Para tamu menonton dokumenter berjudul Isola, menyaksikan transformasi tanah kosong menjadi bangunan megah hanya dalam sembilan bulan.

Jamuan makan menyusul. Meja makan yang mampu menampung 60 orang penuh dengan perbincangan, tawa, dan toast bersulang. "Untuk Tuan Berretty, untuk Isola, untuk ANETA, dan untuk putri mereka," kata salah satu tamu. Perayaan berlangsung hingga dini hari, hingga ayam jantan berkokok.

Tetapi masa tinggal Berretty di rumah impiannya tidak panjang. Pada 20 Desember 1934, saat tengah menjalankan tugas ke Irak, pesawat yang ditumpanginya jatuh. Berretty tewas, dan jenazahnya dikebumikan di Baghdad. Villa Isola pun menjadi yatim.

Setahun berselang, vila itu disewa oleh P.J. van Es, Direktur Hotel Savoy Homann, dan dijadikan Hotel Isola. Namun saat Perang Dunia II pecah, bangunan ini disita oleh pemerintah Hindia Belanda dan dijadikan markas militer di bawah komando Mayjen J.J. Pesman. Tak lama kemudian, ketika Jepang merebut Jawa, bangunan ini berubah fungsi lagi. Sekitar tahun 1943 atau 1944, Villa Isola disulap menjadi museum perang oleh Jepang, bernama Djawa Sakusen Kinenkan. Jenderal Terauchi kabarnya turut hadir saat peresmiannya.

Baca Juga: Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

Salah satu ruangan di Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)
Salah satu ruangan di Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

Dari Pertempuran Hingga Jadi Kampus Guru

Saat Jepang kalah pada 1945, kekosongan kekuasaan dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang muda. Villa Isola untuk pertama kalinya dikuasai pribumi. Bangunan itu dijadikan markas oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Batalyon Bandung Utara. Para pemuda mempertahankan Isola dalam sebuah pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Battle of Tjigoledang.

Letupan di Istana Beretty ini juga terjadi kala Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI)—gabungan pasukan Sekutu Inggris dan Belanda—datang ke Indonesia. Tujuannya resmi: mengurus tawanan perang dan menjaga ketertiban. Tapi kenyataannya, mereka membantu Belanda untuk kembali menguasai Hindia. Di Bandung, AFNEI merebut kawasan Isola. Laporan De Volkskrant dan Het Dagblad menyebut bahwa Hotel Isola berhasil diduduki oleh pasukan Ghurka dari Resimen Ketiga.

"Pihak Indonesia menggunakan penghalangjalan dan senapan mesin sedang. Isola akhirnya diduduki oleh pasukan dari batalion ketiga resimen ketiga Senapan Ghurka," tulis Het Dagblad, 21 Desember 1945.

Selama bulan-bulan berikutnya, kawasan sekitar Isola jadi titik panas. Pada Januari 1946, terjadi kontak senjata di sepanjang Jalan Lembang. Ghurka diserang dari jarak 800 meter. Bulan Februari, sebanyak 40 pejuang bersenjata yang mengancam posisi Ghurka dibubarkan paksa dengan tembakan artileri. Operasi demi operasi dilakukan, dari pembenahan saluran air hingga pembersihan jalan menuju sumber mata air. Beberapa pemuda Indonesia ditangkap. Bahkan, 20 warga Myanmar yang ditemukan di sekitar kawasan Isola pun diangkut ke luar kota.

Pertempuran di kawasan ini menjadi bagian dari rangkaian ketegangan yang memuncak pada peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946, ketika rakyat Bandung memilih membumihanguskan kota ketimbang menyerah pada Belanda.

Selepas revolusi dan pergolakan, Villa Isola kembali sunyi. Ia sempat terlantar, hingga akhirnya pada awal 1950-an—sekitar 1951 hingga 1954—bangunan ini dibeli oleh pemerintah Indonesia dengan harga satu setengah juta rupiah. Proses jual-beli itu, menurut beberapa kabar, diwakili oleh Gerda Berretty, anak dari Aline Elodie Maria Berends, istri Berretty.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Tahun 1955 menjadi penanda babak baru. Villa Isola secara resmi dijadikan kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Kampus ini kemudian berkembang dan berganti nama menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, dan sekarang dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bangunan yang dulu jadi tempat pengasingan diri seorang jurnalis kini menjadi pusat pendidikan guru. Dari tempat bersulang elite pers kolonial, menjadi tempat mahasiswa menimba ilmu. Di sanalah Isola menemukan bentuknya yang paling abadi: tempat belajar, bukan hanya mengenal huruf, tapi juga mengenang sejarah.

Dan begitulah, Isola bukan hanya bangunan art deco megah yang berdiri di utara Bandung. Ia adalah catatan sejarah Indonesia dalam bentuk arsitektur. Dari simbol kemewahan kolonial, saksi perang dan darah, hingga ruang bagi ilmu pengetahuan tumbuh. Ia memang tak banyak bicara, tapi dindingnya menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu.

News Update

Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Beranda 27 Mei 2026, 10:38

Kalau Tidak Ada Ketupat, Rasanya Bukan Lebaran

Lapak-lapak kecil di Jalan Gurame memperlihatkan satu hal sederhana beberapa tradisi ternyata masih bertahan.

Rio penjual ketupat musiman di Jalan Gurame, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 10:06

Cicaheum Purna, Mampukah Leuwipanjang Menanggung Bebannya?

Pemusatan terminal ke Leuwipanjang patut diapresiasi karena membawa janji modernisasi.

Suasana Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)