Sejarah Vila Isola Bandung, Istana Kolonial Basis Pasukan Sekutu hingga jadi Gedung Rektorat UPI

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Vila Isola Bandung yang menyimpan banyak sejarah. (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)
Vila Isola Bandung yang menyimpan banyak sejarah. (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

AYOBANDUNG.ID - Di tikungan besar di Jalan Lembang, yang kini lebih dikenal sebagai kawasan Setiabudi, Bandung Utara, berdiri sebuah bangunan megah bergaya art deco yang tak lekang oleh waktu: Villa Isola. Ia tak sekadar rumah tinggal, bukan pula cuma simbol gaya hidup elite kolonial.

Bangunan ini adalah saksi bisu sejarah panjang Indonesia, dari era kejayaan pers Hindia Belanda hingga pertempuran revolusi kemerdekaan. Jejaknya membentang dari gemerlap pesta malam peresmian, dentuman meriam perang, hingga pekik semangat para guru masa depan.

Dalam risalahnya Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara, Rahmat Kurnia menyatakan villa Isola mulai dibangun pada Maret 1933 dan rampung pada Desember di tahun yang sama. Proyek ini melibatkan sekitar 700 pekerja dan berada di bawah supervisi biro konstruksi Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA). Sosok di balik desainnya adalah Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker, arsitek flamboyan kelahiran Banyubiru, Semarang, yang acap dibandingkan dengan Frank Lloyd Wright.

Bagi Schoemaker sendiri, Villa Isola bukan tugas mudah. "Villa Isola adalah salah satu penugasan arsitektur paling sulit yang pernah ditangani," tulis JC Van Dullemen dalam buku Arsitektur Tropis Modern yang dikutip Rahmat. Bangunan ini harus mengikuti kontur tanah, berpadu dengan lanskap Bandung utara yang berbukit, sekaligus tetap mempertahankan gaya tropis modern yang jadi ciri khas Schoemaker.

Tapi di balik tantangan arsitektural itu, berdiri seorang tokoh penting yang menjadi pemilik rumah: Dominique Willem Berretty, pendiri kantor berita ANETA (Algemeen Nieuws- en Telegraaf-Agentschap). Berretty memulai kariernya sebagai wartawan muda di Bataviaasch Nieuwsblad pada tahun 1910. Lewat ANETA yang didirikannya pada 1917, ia mengubah wajah jurnalistik di Hindia Belanda. Saat koran-koran masih mengandalkan telegram lamban dari Eropa, ANETA bisa menyampaikan berita secara cepat berkat jaringan koresponden global yang ia bangun sendiri.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Tak heran jika Berretty menjadi jurnalis paling berpengaruh di masa itu. Namun, kekuasaan membawa masalah. Pada 1930, ia diperiksa karena dituduh memonopoli informasi. Nama baiknya tercoreng. Dalam tekanan, Berretty memilih menjauh dari keramaian. Ia mencari pelarian di Bandung Utara. Maka lahirlah Isola. Nama yang diambil dari filosofi Berretty sendiri: M'isollo e vivo yang artinya "aku mengasingkan diri dan bertahan hidup".

Peresmian Villa Isola pada 21 Desember 1933 berlangsung megah. Surat kabar De Indische Courant melaporkan, "Pada Sabtu malam, vila Isola, rumah Bapak D. W. Berretty yang terletak di Lembangweg, diresmikan secara meriah." Tamu-tamu dari kalangan pers dan elite sosial memenuhi ruang biliar Isola. Mereka disambut dengan tur ke seluruh bagian rumah oleh Schoemaker: dari ruang tamu lapang, ruang kerja, kamar-kamar tamu, hingga taman atap yang diterangi dua obor besar.

Interiornya memukau: lampu gantung ala Venesia, perabot mahal, dan lukisan-lukisan karya seniman India dan Eropa. Salah satu lukisan besar menggambarkan lanskap dari sisi timur Isola. Dalam satu ruangan bawah tanah yang luas, diputar film dokumenter pembangunan vila ini. Ruang itu seolah berubah menjadi bioskop pribadi. Para tamu menonton dokumenter berjudul Isola, menyaksikan transformasi tanah kosong menjadi bangunan megah hanya dalam sembilan bulan.

Jamuan makan menyusul. Meja makan yang mampu menampung 60 orang penuh dengan perbincangan, tawa, dan toast bersulang. "Untuk Tuan Berretty, untuk Isola, untuk ANETA, dan untuk putri mereka," kata salah satu tamu. Perayaan berlangsung hingga dini hari, hingga ayam jantan berkokok.

Tetapi masa tinggal Berretty di rumah impiannya tidak panjang. Pada 20 Desember 1934, saat tengah menjalankan tugas ke Irak, pesawat yang ditumpanginya jatuh. Berretty tewas, dan jenazahnya dikebumikan di Baghdad. Villa Isola pun menjadi yatim.

Setahun berselang, vila itu disewa oleh P.J. van Es, Direktur Hotel Savoy Homann, dan dijadikan Hotel Isola. Namun saat Perang Dunia II pecah, bangunan ini disita oleh pemerintah Hindia Belanda dan dijadikan markas militer di bawah komando Mayjen J.J. Pesman. Tak lama kemudian, ketika Jepang merebut Jawa, bangunan ini berubah fungsi lagi. Sekitar tahun 1943 atau 1944, Villa Isola disulap menjadi museum perang oleh Jepang, bernama Djawa Sakusen Kinenkan. Jenderal Terauchi kabarnya turut hadir saat peresmiannya.

Baca Juga: Jejak Kapal Cicalengka di Front Eropa Perang Dunia II

Salah satu ruangan di Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)
Salah satu ruangan di Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

Dari Pertempuran Hingga Jadi Kampus Guru

Saat Jepang kalah pada 1945, kekosongan kekuasaan dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang muda. Villa Isola untuk pertama kalinya dikuasai pribumi. Bangunan itu dijadikan markas oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Batalyon Bandung Utara. Para pemuda mempertahankan Isola dalam sebuah pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Battle of Tjigoledang.

Letupan di Istana Beretty ini juga terjadi kala Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI)—gabungan pasukan Sekutu Inggris dan Belanda—datang ke Indonesia. Tujuannya resmi: mengurus tawanan perang dan menjaga ketertiban. Tapi kenyataannya, mereka membantu Belanda untuk kembali menguasai Hindia. Di Bandung, AFNEI merebut kawasan Isola. Laporan De Volkskrant dan Het Dagblad menyebut bahwa Hotel Isola berhasil diduduki oleh pasukan Ghurka dari Resimen Ketiga.

"Pihak Indonesia menggunakan penghalangjalan dan senapan mesin sedang. Isola akhirnya diduduki oleh pasukan dari batalion ketiga resimen ketiga Senapan Ghurka," tulis Het Dagblad, 21 Desember 1945.

Selama bulan-bulan berikutnya, kawasan sekitar Isola jadi titik panas. Pada Januari 1946, terjadi kontak senjata di sepanjang Jalan Lembang. Ghurka diserang dari jarak 800 meter. Bulan Februari, sebanyak 40 pejuang bersenjata yang mengancam posisi Ghurka dibubarkan paksa dengan tembakan artileri. Operasi demi operasi dilakukan, dari pembenahan saluran air hingga pembersihan jalan menuju sumber mata air. Beberapa pemuda Indonesia ditangkap. Bahkan, 20 warga Myanmar yang ditemukan di sekitar kawasan Isola pun diangkut ke luar kota.

Pertempuran di kawasan ini menjadi bagian dari rangkaian ketegangan yang memuncak pada peristiwa Bandung Lautan Api, 24 Maret 1946, ketika rakyat Bandung memilih membumihanguskan kota ketimbang menyerah pada Belanda.

Selepas revolusi dan pergolakan, Villa Isola kembali sunyi. Ia sempat terlantar, hingga akhirnya pada awal 1950-an—sekitar 1951 hingga 1954—bangunan ini dibeli oleh pemerintah Indonesia dengan harga satu setengah juta rupiah. Proses jual-beli itu, menurut beberapa kabar, diwakili oleh Gerda Berretty, anak dari Aline Elodie Maria Berends, istri Berretty.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Tahun 1955 menjadi penanda babak baru. Villa Isola secara resmi dijadikan kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Kampus ini kemudian berkembang dan berganti nama menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, dan sekarang dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bangunan yang dulu jadi tempat pengasingan diri seorang jurnalis kini menjadi pusat pendidikan guru. Dari tempat bersulang elite pers kolonial, menjadi tempat mahasiswa menimba ilmu. Di sanalah Isola menemukan bentuknya yang paling abadi: tempat belajar, bukan hanya mengenal huruf, tapi juga mengenang sejarah.

Dan begitulah, Isola bukan hanya bangunan art deco megah yang berdiri di utara Bandung. Ia adalah catatan sejarah Indonesia dalam bentuk arsitektur. Dari simbol kemewahan kolonial, saksi perang dan darah, hingga ruang bagi ilmu pengetahuan tumbuh. Ia memang tak banyak bicara, tapi dindingnya menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)