Sejarah Pindad, Pindah ke Bandung Gegara Perang Dunia

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Para buruh sedang bekerja di Artillerie Constructie Winkel (ACW), cikal bakal PT Pindad di Bandung. (Sumber: Tropenmuseum)
Para buruh sedang bekerja di Artillerie Constructie Winkel (ACW), cikal bakal PT Pindad di Bandung. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pada awal abad ke-19, ketika roda kolonialisme Belanda berputar kencang di Nusantara, seorang gubernur jenderal bernama William Herman Daendels datang membawa dua hal: disiplin militer dan obsesi terhadap infrastruktur. Di antara proyek-proyeknya yang monumental seperti Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, Daendels juga mendirikan sebuah bengkel senjata di Surabaya pada tahun 1808.

Bengkel Constructie Winkel (CW) itu awalnya hanyalah tempat perbaikan alat perang tentara kolonial. Namun, siapa sangka, dari sinilah akar panjang PT Pindad (Persero) tumbuh. Bengkel tersebut menjadi titik mula perjalanan industri pertahanan Indonesia. Di sana, teknisi dan tukang logam pribumi mulai mengenal kerja presisi, mesin bubut, dan seni merakit senjata api.

Seiring waktu, pemerintah kolonial memperluas fasilitas itu. Mereka mendirikan pabrik peluru dan bahan peledak untuk angkatan laut bernama Pyrotechnische Werkplaats (PW) pada 1850-an. Semua berpusat di Surabaya, kota pelabuhan yang kala itu menjadi simpul perdagangan dan militer penting di Asia Tenggara. Surabaya praktis menjadi “kota besi” Hindia Belanda, tempat artileri dan senjata ringan dibuat serta diperbaiki.

Pada 1 Januari 1851, CW diubah namanya menjadi Artillerie Constructie Winkel (ACW). Kemudian pada tahun 1961, dua bengkel persenjataan yang berada di Surabaya, ACW dan PW disatukan di bawah bendera ACW.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Freemason di Bandung, dari Kampus ITB hingga Loji Sint Jan

Tapi, sejarah punya cara unik memaksa sesuatu berubah. Ketika Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, getarannya sampai ke Hindia Belanda. Walau Belanda tidak ikut bertempur, negeri itu merasa perlu mengamankan koloni-koloninya di Timur. Eropa sedang terbakar, dan setiap pelabuhan dianggap rentan.

Surabaya, yang berada di tepi laut, mendadak terasa terlalu dekat dengan bahaya. Pemerintah kolonial mulai berpikir strategis: jika musuh datang lewat laut, maka semua fasilitas penting harus berada jauh di pedalaman. Maka lahirlah gagasan besar untuk memindahkan pusat industri pertahanan ke daerah yang lebih aman dan terlindungi secara alami.

Dari berbagai kota yang dipertimbangkan, Bandung muncul sebagai pilihan terbaik. Letaknya di dataran tinggi, dikelilingi pegunungan, udaranya sejuk, dan sulit dijangkau oleh kapal perang. Selain itu, Bandung sudah dilalui oleh Jalan Raya Pos yang dibangun Daendels dan memiliki jalur kereta api Staatsspoorwegen yang menghubungkannya dengan Batavia dan Surabaya.

Bandung juga memiliki satu keunggulan lain: sejak awal abad ke-20, pemerintah kolonial memang menyiapkan kota ini sebagai calon ibu kota Hindia Belanda menggantikan Batavia. Alasannya sederhana, Batavia dianggap terlalu lembab, kotor, dan rawan banjir. Bandung, dengan udara segar dan kontur berbukitnya, dianggap lebih ideal bagi pemerintahan dan industri.

Pada rentang tahun 1918 hingga 1920, fasilitas utama pembuatan dan perawatan senjata di Surabaya mulai dipindahkan ke Bandung. Prosesnya dilakukan bertahap, dengan memindahkan mesin, logam, dan para teknisi satu per satu. Setelah semuanya siap, pabrik-pabrik senjata, amunisi, dan laboratorium kimia itu dilebur dalam satu wadah besar bernama Artilerie Inrichtingen (AI) yang berarti “perusahaan artileri” atau secara mudahnya, pusat industri senjata kolonial.

Saat itu, AI merupakan leburan dari berbagai unit persenjataan. AI terdiri dari gabungan ACW, Proyektiel Fabriek (PF) di Surabaya, dan laboratorium Kimia dari Semarang, serta Institut Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata dari Jatinegara. Semuanya direlokasi ke Bandung dengan nama baru, Geweemarkerschool.

Langkah itu membuat Bandung menjelma menjadi kota militer baru. Di kawasan timur kota, sekitar Kiaracondong dan Tegallega, berdiri kompleks industri yang dipenuhi mesin bubut, tungku logam, dan ruang uji peluru. Suara logam beradu terdengar hampir setiap hari. Inilah awal mula Bandung dikenal sebagai pusat industri pertahanan di Nusantara.

Baca Juga: Jejak Sejarah Rentetan Ledakan Gudang Senjata Bojongkoneng Bandung

Pemindahan itu terbukti keputusan strategis. Selama Perang Dunia I dan masa-masa sesudahnya, Bandung aman dari serangan langsung. Sementara Surabaya, yang menjadi pelabuhan utama, kerap dijaga ketat. Dalam catatan sejarah, Bandung bahkan sempat disebut-sebut sebagai “benteng alami Hindia Belanda” karena posisinya yang terlindung oleh gunung-gunung di sekelilingnya.

Pada tahun 1930-an, fasilitas di Bandung semakin berkembang. Selain bengkel utama, ada sekolah perawatan senjata dan pabrik peluru kecil yang didirikan di sekitarnya. Industri militer Hindia Belanda mencapai masa keemasannya, hingga badai besar datang dari arah utara.

Foto dalam rangka peringatan 75 tahun pabrik Artillerie Constructie Winkel (ACW) di Bandung. (Sumber: Tropenmuseum)
Foto dalam rangka peringatan 75 tahun pabrik Artillerie Constructie Winkel (ACW) di Bandung. (Sumber: Tropenmuseum)

Dari Pendudukan Jepang ke Pabrik Senjata Kiaracondong

Ketika pasukan Jepang mendarat di Hindia Belanda pada awal 1942, Bandung tidak luput dari pendudukan. Semua fasilitas militer diambil alih. Jepang mengganti nama dan sistem administrasinya, tetapi tetap memanfaatkan pabrik senjata di Bandung untuk memasok kebutuhan perang mereka di Asia Tenggara. Mesin-mesin yang dulu dijalankan oleh teknisi Belanda kini dikelola oleh tenaga pribumi di bawah pengawasan tentara Jepang.

Tapi, masa pendudukan itu hanya berlangsung tiga tahun. Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, suasana menjadi kacau. Di Bandung, para pemuda pejuang segera bergerak merebut fasilitas vital, termasuk pabrik senjata. Tanggal 9 Oktober 1945 menjadi momen bersejarah: para laskar berhasil menguasai kompleks pabrik senjata di Kiaracondong.

Fasilitas itu lalu diberi nama Pabrik Senjata Kiaracondong, dan menjadi salah satu simbol awal kemandirian industri militer Indonesia. Kendati demikian, perjuangan belum selesai. Pasukan Sekutu dan Belanda datang kembali, dan Bandung pun bergolak dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946.

Banyak fasilitas industri dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Namun sebagian besar peralatan pabrik senjata berhasil diselamatkan. Setelah kemerdekaan Indonesia diakui secara resmi lewat Konferensi Meja Bundar 1949, seluruh aset industri militer peninggalan Belanda diserahkan kepada Republik Indonesia.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Dari Pabal AD ke PT Pindad (Persero)

Pemerintah Indonesia kemudian menata ulang industri pertahanannya. Fasilitas di Bandung diberi nama baru: Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM). Pengelolaannya berada di bawah TNI Angkatan Darat, yang memang membutuhkan senjata dalam jumlah besar untuk menjaga kedaulatan negara baru.

Walau berhadapan dengan keterbatasan dana dan tenaga ahli, para teknisi Indonesia pantang menyerah. Mereka berhasil memproduksi laras senjata kaliber 9 mm dan 7,7 mm, sebuah prestasi besar untuk ukuran Indonesia pasca-kemerdekaan. Dari sinilah muncul kepercayaan diri bahwa bangsa ini bisa mandiri di bidang teknologi militer.

Pada 1958, PSM berubah menjadi Pabal AD (Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat). Di masa ini, Indonesia mulai mengembangkan industri pertahanannya sendiri. Banyak pemuda dikirim ke luar negeri untuk belajar tentang balistik, logam, dan desain senjata. Tahun 1962, Pabal AD kemudian berganti nama menjadi Perindustrian Angkatan Darat, atau disingkat Pindad.

Kelak nama ini menjadi simbol baru dari semangat nasionalisme industri. Pindad tidak lagi sekadar memperbaiki senjata lama, tetapi juga menciptakan produk sendiri. Beberapa senjata hasil produksinya bahkan ditetapkan sebagai standar TNI-AD.

Ketika pemerintah melakukan reorganisasi besar di tahun 1970-an, Pindad sempat berganti nama menjadi Kopindad (Komando Perindustrian Angkatan Darat). Perubahan ini menandai modernisasi sistem produksi militer nasional. Namun pengalaman pahit dalam Operasi Seroja (1975) di Timor Timur membuat Pindad melakukan evaluasi besar-besaran. Banyak senjata ditarik, dimodifikasi, dan diperbaiki. Dari situ, kemampuan riset dan pengembangan senjata dalam negeri semakin matang.

Penandatanganan serah terima Pindad dari Kasad Jenderal Rudini kepada B.J. Habibie tanggal 29 April 1983. (Sumber: Pindad)
Penandatanganan serah terima Pindad dari Kasad Jenderal Rudini kepada B.J. Habibie tanggal 29 April 1983. (Sumber: Pindad)

Pada awal 1980-an, di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie, pemerintah memutuskan untuk menjadikan Pindad sebagai perusahaan perseroan terbatas agar lebih fleksibel dan profesional. Melalui Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 1981, dan diresmikan pada 29 April 1983, Pindad resmi menjadi PT Pindad (Persero). Habibie sendiri menjadi direktur utamanya yang pertama.

Baca Juga: Sejarah Bandara Husein Sastranegara Bandung, Berawal dari Tanah Becek di Cipagalo

Transformasi ini menandai perubahan besar: dari lembaga militer menjadi perusahaan industri nasional yang mengemban dua misi, yakni menyediakan alat pertahanan bagi negara, dan menghasilkan produk komersial yang kompetitif.

Kini, setelah lebih dari dua abad sejak bengkel pertama Daendels berdiri di Surabaya, Pindad menjadi raksasa industri pertahanan Indonesia. Dari kota Bandung yang dulu dipilih karena aman dari perang dunia, lahirlah perusahaan yang kini berdiri di garda depan pertahanan nasional.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.