Budaya, Agama, dan Sepak Bola Arab Saudi

3 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan
King Saud University Stadium di Riyadh, Arab Saudi. (Sumber: Wikimedia Commons/Alina.chiorean)
King Saud University Stadium di Riyadh, Arab Saudi. (Sumber: Wikimedia Commons/Alina.chiorean)

Menarik melihat Arab Saudi yang ditunjuk sebagai tuan rumah pada putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026, khusus untuk zona AFC. Terlepas pada beredar  pro kontranya, namun kalau melihat pada perkembangan sepak bola Arab Saudi begitu pesat. 

Sudah hampir 20 tahun, sepak bola di Arab Saudi menjadi salah satu hiburan yang menarik dan mendapat perhatian masyarakat Arab Saudi yang luar biasa. Animo masyarakat Arab Saudi terhadap sepakbola tidak lepas dari prestasi timnasnya yang berhasil lolos World Cup  6 kali sejak tahun 1994 di Amerika Serikat. Kemudian tahun 1998 di Prancis, 2002 di Korea Selatan dan  Jepang,  tahun 2006  di Jerman, tahun 2018 di Rusia, dan tahun 2022 di Qatar.

Ada keunikan sepakbola Arab Saudi, yang tidak bisa lepas dari budaya setempat dan agama yang dianut masyarakatnya. Arab Saudi yang mempunyai basis pendukung sepakbolanya beragama Islam, menjadikan agama ini sebagai tuntunan dan rujukan moral, etika, dan aturan dalam agama Islam sebagai bagian dalam menjalankan kegiatan olahraga sepak bola. 

Sebagaimana bisa dilihat pada perhelatan setiap pertandingan, seperti penyesuaian jadwal pertandingan dengan waktu salat jangan sampai bertabrakan, tradisi doa bersama para pemain dan suporter di stadion, sampai pengaturan cara berpakaian para penonton, dan perilaku yang sesuai dengan syariah di ruang publik selama perhelatan berlangsung.

Sepakbola di Arab Saudi juga merupakan media yang sangat penting masyarakat Arab Saudi dalam mengekspresikan identitas agama Islam. Klub-klub besar yang bermain di liga Arab Saudi, maupun tim nasional Arab Saudi, sering kali dilihat bukan sebagai negara, melainkan sebagai representasi umat muslim pada level dunia. 

Para fans ketika mendukung timnya senantiasa membawa berbagai atribut yang merupakan bagian dari ikon keagamaan, dan kalau timnya meraih kemenangan, maka secara otomatis akan dianggap sebagai kemenangan umat Islam, khususnya umat Islam di Arab Saudi. Bukan sebatas kemenangan tim sepakbola Arab Saudi. Kesan agamalah yang kuat mengemuka.  

Sadar akan hal itu, wajar kalau pemerintah Arab Saudi sekarang melakukan investasi besar-besaran dalam mengembangkan liga domestiknya, dalam rangka mempromosikan budaya juga agama pada skala yang lebih luas, yaitu ke berbagai belahan dunia. Pemerintah Arab Saudi sadar betul kalau cabang olahraga sepak bola bisa dijadikan media untuk membangun brand sebagai negara muslim yang modern, terbuka, dan memiliki pikiran visioner. 

Oleh karena itu, liga-liga domestiknya banyak mendatangkan para pemain bintang yang sudah malang melintang di berbagai kasta kompetensi elit dunia. Setingkat Christian Ronaldo sudah lama bermain di Arab Saudi, yang jejaknya diikuti oleh sederet bintang sepakbola top lainnya, seperti  Karim Benzema, N’Golo Kanté, Riyad Mahrez, Sadio Mané, Rúben Neves, Sergej Milinković-Savić, Moussa Diaby,  dan Darwin Núñez.

Ilustrasi fans sepak bola di Jazirah Arab. (Sumber: Pexels/Eslam Mohammed Abdelmaksoud)
Ilustrasi fans sepak bola di Jazirah Arab. (Sumber: Pexels/Eslam Mohammed Abdelmaksoud)

Program pemerintah ini juga didukung oleh manajemen klub sepakbolanya yang sudah mengadopsi pola-pola manajemen klub elit Eropa, yang membuat para penggemarnya semakin mencintai dan memberikan dukungan penuh pada tim-timnya ketika bermain. 

Para penggemar fanatiknya juga senantiasa menunjukkan identitas lokal, budaya dan kekhasan lainnya, dipamerkan pada publik. Seperti klub di Riyadh dan Jeddah yang kental dengan atribut kedaerahannya. Mereka membuat lagu-lagu yang khas, yel-yel berbahasa Arab yang unik, simbol-simbol ciri khas daerah, merchandising dan jingle suporter yang kreatif dan penuh unsur kearifan lokalnya.

Meskipun memiliki kecintaan yang fanatik pada klubnya, namun para penggemar dan pengelola sepak bolanya, tetap saja taat dan patuh pada norma dan agama. Norma, budaya lokal, dan aturan sosial benar-benar ditaati oleh para suporter di dalam maupun di luar stadion. 

Ada banyak batasan interaksi fisik, mulai dari pelukan, sampai ciuman, cara berpakaian sangat sopan dan bahkan masih banyak yang menggunakan pakaian khas Arab Saudi, pelarangan meminum minuman yang beralkohol, sebagaimana kebanyakan pendukung sepak bola yang begitu kental dengan minuman beralkohol. 

Inilah cara bangsa Arab Saudi yang bisa menjaga keseimbangan, antara mempertahankan identitas budaya mereka, dengan tetap mengikuti perkembangan dunia, dan terus konsisten memajukan sepak bola, yang terus bisa berpartisipasi pada hajat akbar sepakbola sejagat, World Cup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Tentang Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)