Jejak Kerajaan Sumedang Larang, Pewaris Pajajaran yang Lahir di Kaki Gunung Tampomas

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 15 Okt 2025, 12:35 WIB
Potret Gunung Tampomas di Sumedang tahun 1890-an. (Sumber: KITLV)

Potret Gunung Tampomas di Sumedang tahun 1890-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di kaki Gunung Tampomas yang diselimuti kabut pagi, pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang kelak mengklaim diri sebagai pewaris terakhir Pajajaran. Namanya Sumedang Larang. Ia lahir dari rahim Tembong Agung, sebuah kerajaan yang tumbuh di tepi sungai, di antara ladang padi dan hutan lebat, sekitar abad ke-15.

Risalah Peneliti Balai Pelestarian Sejarah Bandung, Euis Thresnawaty yang terbit di Jurnal Patanjala yang terbit Maret 2011 mencatat cikal bakal kerajaan ini dimulai dari seorang tokoh bernama Prabu Guru Aji Putih, keturunan langsung dari garis Galuh. Ia adalah putra Aria Bimaraksa atau Resi Agung, cucu dari Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh.

Kisah bermula ketika Galuh dilanda perebutan tahta. Purbasora terbunuh oleh Sanjaya, dan keluarga besar Wretikandayun tercerai-berai. Aria Bimaraksa, yang menjadi target Sanjaya, melarikan diri ke Leuwihideung bersama keluarganya. Di tepian Sungai Cimanuk, ia menebang hutan, membuka sawah, dan mendirikan sebuah padepokan yang disebut Tembong Agung.

Dari padepokan sunyi itulah kelak lahir kehidupan baru di lembah-lembah Sumedang. Para murid datang menimba ilmu, bertani, sekaligus mempelajari ajaran keagamaan Sunda. Perlahan, dusun-dusun di sekitar Leuwihideung tumbuh menjadi wilayah yang terorganisasi. Ketika putranya, Prabu Guru Aji Putih, mewarisi kepemimpinan, padepokan berubah menjadi pusat kekuasaan yang lebih besar.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Guru Aji Putih menikah dengan Dewi Nawangwulan, dan dari perkawinan itu lahir empat anak: Batara Kusumah atau Prabu Tajimalela, Sakawayana, Haris Darma, dan Jagat Buana. Ketika Prabu Guru Aji Putih wafat, kepemimpinan berpindah kepada putra sulungnya, Batara Tuntang Buana yang kelak dikenal sebagai Prabu Tajimalela, raja pertama Kerajaan Sumedang Larang.

Berdasarkan tradisi lisan yang hidup di masyarakat, Tajimalela adalah seorang pertapa dan pengelana. Ia mencari “elmu Kasumedangan”, sebuah pengetahuan spiritual yang diyakini menghubungkan manusia dengan Sang Hyang Murbawisesa. Dalam pengembaraannya, ia menyinggahi Gunung Merak, Gunung Pulosari, hingga Gunung Lingga.

Di Gunung Mandalasakti, sekarang wilayah Situraja, ia bertapa hingga gunung itu disebut Gunung Simpay, karena konon sempat terbelah dan disatukan kembali oleh kekuatan batin Tajimalela. Dari tempat itulah ia memutuskan mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Sumedang Larang.

Sejarah ihwal nama “Sumedang” diyakini berasal dari ucapannya saat langit tiba-tiba memancarkan cahaya aneh seperti selendang bercahaya selama tiga hari tiga malam: “Ingsun medal, ingsun madangan,” yang berarti “Aku lahir, aku menerangi.” Dari kalimat itulah muncul kata Sumedang, dan kerajaan itu diberi gelar lengkap Sumedang Larang—tanah yang indah dan tiada banding.

Prabu Tajimalela menjadi raja pertama, dan setelahnya tahta diwariskan kepada keturunannya. Dari garis inilah kerajaan kecil di lembah Cimanuk berkembang menjadi kekuatan penting di Tatar Sunda bagian timur.

Setelah Tajimalela, tahta sempat berpindah ke Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung. Mereka adalah generasi yang lebih banyak memusatkan perhatian pada kehidupan rohani daripada politik. Bahkan, kisah Babad Layang Darmaraja menyebut keduanya sempat menolak tahta dan lebih memilih bertapa di gunung.

Pusat kerajaan lalu berpindah ke Ciguling, dan diteruskan oleh para raja seperti Sunan Pagulingan, Sunan Guling, dan Sunan Tuakan. Dari generasi inilah muncul tokoh perempuan kuat bernama Nyi Mas Ratu Patuakan, putri Sunan Tuakan, yang menikah dengan penguasa Talaga, Sunan Corenda.

Putri mereka, Nyi Mas Ratu Inten Dewata, naik tahta dengan gelar Ratu Pucuk Umun, dan menjadi simbol penting transisi Sumedang Larang dari kerajaan agraris ke kerajaan bercorak Islam.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Potret Kediaman Bupati Sumedang sebelum 1880. (Sumber: KITLV)
Potret Kediaman Bupati Sumedang sebelum 1880. (Sumber: KITLV)

Ratu Pucuk Umun, Pangeran Santri, dan Warisan Pajajaran

Pada masa Ratu Pucuk Umun, sekitar awal abad ke-16, Islam mulai masuk ke Sumedang. Agama baru itu datang lewat seorang bangsawan dari Cirebon, Pangeran Santri, cucu Sunan Gunung Jati dari pihak ibu. Ia datang sebagai ulama sekaligus calon suami sang ratu.

Pangeran Santri adalah putra Pangeran Palakaran, ulama asal Palembang yang pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati. Setelah menikah dengan Ratu Pucuk Umun, ia menetap di Sumedang dan mulai membangun Kutamaya, ibu kota baru kerajaan. Dari sinilah Sumedang Larang memasuki babak Islamisasi.

Ratu Pucuk Umun tetap menjadi kepala pemerintahan, sedangkan Pangeran Santri berperan sebagai penasehat dan penyebar agama. Ketika Pangeran Santri wafat sekitar tahun 1578, ia dimakamkan di Gunung Ciung. Dari perkawinan mereka lahir enam anak, dan yang tertua, Raden Angkawijaya, kelak naik tahta dengan gelar Prabu Geusan Ulun.

Runtuhnya Pajajaran memberi ruang bagi Sumedang Larang untuk naik menjadi kerajaan mandiri. Tahun 1579, pasukan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf menaklukkan Pakuan Pajajaran. Raja terakhir, Prabu Suryakancana, melarikan diri ke Gunung Pulasari. Keruntuhan itu dikenal dalam sejarah sebagai “Burak Pajajaran”—hilangnya pusat kekuasaan Sunda tanpa sisa.

Ketika Pajajaran runtuh, Ratu Pucuk Umun sudah menegakkan kedaulatan Sumedang Larang secara de facto. Maka, ketika Prabu Geusan Ulun naik tahta pada 1580, ia langsung memproklamirkan Sumedang Larang sebagai penerus sah Kerajaan Sunda Pajajaran.

Ia dinobatkan pada hari Jumat Legi, 10 Syawal 988 H (18 November 1580), bertepatan dengan suasana lebaran. Upacara penobatan itu dianggap sebagai semacam “proklamasi kemerdekaan” Sumedang Larang. Sejak saat itu, Prabu Geusan Ulun menggelari dirinya Nalendra atau penguasa penuh.

Baca Juga: Sejarah Panjang Berdirinya Sumedang, dari Tanah Kerajaan Suda hingga jadi Kabupaten Republik

Konon, setelah Pajajaran tumbang, empat orang Kandaga Lante yangmerupakan pejabat tinggi kerajaan lama, datang membawa mahkota Binokasih, lambang kebesaran raja-raja Sunda. Mereka adalah Sang Hyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya, Sang Hyang Kondang Hapa, dan Batara Pancar Buana.

Kmudian mereka menyerahkan mahkota emas itu kepada Prabu Geusan Ulun sebagai tanda bahwa hanya Sumedang Larang yang berhak mewarisi legitimasi Pajajaran. Di tangan Geusan Ulun, Sumedang bukan lagi kerajaan kecil di lembah Cimanuk, melainkan pewaris sah tanah Sunda.

Tapi, sejarah jarang berpihak lama pada satu kerajaan. Meski mengklaim wilayah hingga Cipamali di timur dan Cisadane di barat, kekuasaan nyata Sumedang Larang jauh lebih kecil. Wilayah pesisir telah dikuasai Banten, sementara Cirebon berdiri sebagai kerajaan merdeka, dan Galuh masuk ke pengaruh Mataram Islam pada akhir abad ke-16.

Kendati demikian, masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun dianggap sebagai puncak kejayaan Sumedang Larang. Ia menata pemerintahan dengan 44 penguasa daerah di bawahnya, terdiri dari 26 kandaga lante dan 18 umbul. Ibu kota Kutamaya ramai, menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan. Di sanalah sisa-sisa aristokrasi Pajajaran menata hidup baru.

Di abad ke-17, pengaruh Mataram Islam dari Jawa Tengah mulai merambah ke barat. Prabu Geusan Ulun wafat pada 1608, dan takhta Sumedang Larang perlahan berubah status dari kerajaan merdeka menjadi bawahan Mataram.

Walaupun kekuasaan politiknya surut, warisan budaya Sumedang Larang tetap hidup. Mahkota Binokasih, yang pernah menjadi simbol kebesaran raja Pajajaran, kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang, menjadi saksi sunyi kebesaran yang telah lewat.

Sumedang Larang memang tak lagi berdaulat. Tapi dari padepokan kecil di tepi Cimanuk hingga mengibarkan panji pewaris Pajajaran, kerajaan ini mencatat kisahnya sendiri dalam sejarah Tatar Sunda, kisah tentang pelarian yang membangun kerajaan, pertapa yang menjadi raja, dan perempuan yang memimpin negeri di tengah peralihan zaman.

News Update

Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 09:19

Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)