Jejak Kerajaan Sumedang Larang, Pewaris Pajajaran yang Lahir di Kaki Gunung Tampomas

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret Gunung Tampomas di Sumedang tahun 1890-an. (Sumber: KITLV)
Potret Gunung Tampomas di Sumedang tahun 1890-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Di kaki Gunung Tampomas yang diselimuti kabut pagi, pernah berdiri sebuah kerajaan kecil yang kelak mengklaim diri sebagai pewaris terakhir Pajajaran. Namanya Sumedang Larang. Ia lahir dari rahim Tembong Agung, sebuah kerajaan yang tumbuh di tepi sungai, di antara ladang padi dan hutan lebat, sekitar abad ke-15.

Risalah Peneliti Balai Pelestarian Sejarah Bandung, Euis Thresnawaty yang terbit di Jurnal Patanjala yang terbit Maret 2011 mencatat cikal bakal kerajaan ini dimulai dari seorang tokoh bernama Prabu Guru Aji Putih, keturunan langsung dari garis Galuh. Ia adalah putra Aria Bimaraksa atau Resi Agung, cucu dari Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh.

Kisah bermula ketika Galuh dilanda perebutan tahta. Purbasora terbunuh oleh Sanjaya, dan keluarga besar Wretikandayun tercerai-berai. Aria Bimaraksa, yang menjadi target Sanjaya, melarikan diri ke Leuwihideung bersama keluarganya. Di tepian Sungai Cimanuk, ia menebang hutan, membuka sawah, dan mendirikan sebuah padepokan yang disebut Tembong Agung.

Dari padepokan sunyi itulah kelak lahir kehidupan baru di lembah-lembah Sumedang. Para murid datang menimba ilmu, bertani, sekaligus mempelajari ajaran keagamaan Sunda. Perlahan, dusun-dusun di sekitar Leuwihideung tumbuh menjadi wilayah yang terorganisasi. Ketika putranya, Prabu Guru Aji Putih, mewarisi kepemimpinan, padepokan berubah menjadi pusat kekuasaan yang lebih besar.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Guru Aji Putih menikah dengan Dewi Nawangwulan, dan dari perkawinan itu lahir empat anak: Batara Kusumah atau Prabu Tajimalela, Sakawayana, Haris Darma, dan Jagat Buana. Ketika Prabu Guru Aji Putih wafat, kepemimpinan berpindah kepada putra sulungnya, Batara Tuntang Buana yang kelak dikenal sebagai Prabu Tajimalela, raja pertama Kerajaan Sumedang Larang.

Berdasarkan tradisi lisan yang hidup di masyarakat, Tajimalela adalah seorang pertapa dan pengelana. Ia mencari “elmu Kasumedangan”, sebuah pengetahuan spiritual yang diyakini menghubungkan manusia dengan Sang Hyang Murbawisesa. Dalam pengembaraannya, ia menyinggahi Gunung Merak, Gunung Pulosari, hingga Gunung Lingga.

Di Gunung Mandalasakti, sekarang wilayah Situraja, ia bertapa hingga gunung itu disebut Gunung Simpay, karena konon sempat terbelah dan disatukan kembali oleh kekuatan batin Tajimalela. Dari tempat itulah ia memutuskan mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Sumedang Larang.

Sejarah ihwal nama “Sumedang” diyakini berasal dari ucapannya saat langit tiba-tiba memancarkan cahaya aneh seperti selendang bercahaya selama tiga hari tiga malam: “Ingsun medal, ingsun madangan,” yang berarti “Aku lahir, aku menerangi.” Dari kalimat itulah muncul kata Sumedang, dan kerajaan itu diberi gelar lengkap Sumedang Larang—tanah yang indah dan tiada banding.

Prabu Tajimalela menjadi raja pertama, dan setelahnya tahta diwariskan kepada keturunannya. Dari garis inilah kerajaan kecil di lembah Cimanuk berkembang menjadi kekuatan penting di Tatar Sunda bagian timur.

Setelah Tajimalela, tahta sempat berpindah ke Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung. Mereka adalah generasi yang lebih banyak memusatkan perhatian pada kehidupan rohani daripada politik. Bahkan, kisah Babad Layang Darmaraja menyebut keduanya sempat menolak tahta dan lebih memilih bertapa di gunung.

Pusat kerajaan lalu berpindah ke Ciguling, dan diteruskan oleh para raja seperti Sunan Pagulingan, Sunan Guling, dan Sunan Tuakan. Dari generasi inilah muncul tokoh perempuan kuat bernama Nyi Mas Ratu Patuakan, putri Sunan Tuakan, yang menikah dengan penguasa Talaga, Sunan Corenda.

Putri mereka, Nyi Mas Ratu Inten Dewata, naik tahta dengan gelar Ratu Pucuk Umun, dan menjadi simbol penting transisi Sumedang Larang dari kerajaan agraris ke kerajaan bercorak Islam.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Potret Kediaman Bupati Sumedang sebelum 1880. (Sumber: KITLV)
Potret Kediaman Bupati Sumedang sebelum 1880. (Sumber: KITLV)

Ratu Pucuk Umun, Pangeran Santri, dan Warisan Pajajaran

Pada masa Ratu Pucuk Umun, sekitar awal abad ke-16, Islam mulai masuk ke Sumedang. Agama baru itu datang lewat seorang bangsawan dari Cirebon, Pangeran Santri, cucu Sunan Gunung Jati dari pihak ibu. Ia datang sebagai ulama sekaligus calon suami sang ratu.

Pangeran Santri adalah putra Pangeran Palakaran, ulama asal Palembang yang pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati. Setelah menikah dengan Ratu Pucuk Umun, ia menetap di Sumedang dan mulai membangun Kutamaya, ibu kota baru kerajaan. Dari sinilah Sumedang Larang memasuki babak Islamisasi.

Ratu Pucuk Umun tetap menjadi kepala pemerintahan, sedangkan Pangeran Santri berperan sebagai penasehat dan penyebar agama. Ketika Pangeran Santri wafat sekitar tahun 1578, ia dimakamkan di Gunung Ciung. Dari perkawinan mereka lahir enam anak, dan yang tertua, Raden Angkawijaya, kelak naik tahta dengan gelar Prabu Geusan Ulun.

Runtuhnya Pajajaran memberi ruang bagi Sumedang Larang untuk naik menjadi kerajaan mandiri. Tahun 1579, pasukan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf menaklukkan Pakuan Pajajaran. Raja terakhir, Prabu Suryakancana, melarikan diri ke Gunung Pulasari. Keruntuhan itu dikenal dalam sejarah sebagai “Burak Pajajaran”—hilangnya pusat kekuasaan Sunda tanpa sisa.

Ketika Pajajaran runtuh, Ratu Pucuk Umun sudah menegakkan kedaulatan Sumedang Larang secara de facto. Maka, ketika Prabu Geusan Ulun naik tahta pada 1580, ia langsung memproklamirkan Sumedang Larang sebagai penerus sah Kerajaan Sunda Pajajaran.

Ia dinobatkan pada hari Jumat Legi, 10 Syawal 988 H (18 November 1580), bertepatan dengan suasana lebaran. Upacara penobatan itu dianggap sebagai semacam “proklamasi kemerdekaan” Sumedang Larang. Sejak saat itu, Prabu Geusan Ulun menggelari dirinya Nalendra atau penguasa penuh.

Baca Juga: Sejarah Panjang Berdirinya Sumedang, dari Tanah Kerajaan Suda hingga jadi Kabupaten Republik

Konon, setelah Pajajaran tumbang, empat orang Kandaga Lante yangmerupakan pejabat tinggi kerajaan lama, datang membawa mahkota Binokasih, lambang kebesaran raja-raja Sunda. Mereka adalah Sang Hyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya, Sang Hyang Kondang Hapa, dan Batara Pancar Buana.

Kmudian mereka menyerahkan mahkota emas itu kepada Prabu Geusan Ulun sebagai tanda bahwa hanya Sumedang Larang yang berhak mewarisi legitimasi Pajajaran. Di tangan Geusan Ulun, Sumedang bukan lagi kerajaan kecil di lembah Cimanuk, melainkan pewaris sah tanah Sunda.

Tapi, sejarah jarang berpihak lama pada satu kerajaan. Meski mengklaim wilayah hingga Cipamali di timur dan Cisadane di barat, kekuasaan nyata Sumedang Larang jauh lebih kecil. Wilayah pesisir telah dikuasai Banten, sementara Cirebon berdiri sebagai kerajaan merdeka, dan Galuh masuk ke pengaruh Mataram Islam pada akhir abad ke-16.

Kendati demikian, masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun dianggap sebagai puncak kejayaan Sumedang Larang. Ia menata pemerintahan dengan 44 penguasa daerah di bawahnya, terdiri dari 26 kandaga lante dan 18 umbul. Ibu kota Kutamaya ramai, menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan. Di sanalah sisa-sisa aristokrasi Pajajaran menata hidup baru.

Di abad ke-17, pengaruh Mataram Islam dari Jawa Tengah mulai merambah ke barat. Prabu Geusan Ulun wafat pada 1608, dan takhta Sumedang Larang perlahan berubah status dari kerajaan merdeka menjadi bawahan Mataram.

Walaupun kekuasaan politiknya surut, warisan budaya Sumedang Larang tetap hidup. Mahkota Binokasih, yang pernah menjadi simbol kebesaran raja Pajajaran, kini disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang, menjadi saksi sunyi kebesaran yang telah lewat.

Sumedang Larang memang tak lagi berdaulat. Tapi dari padepokan kecil di tepi Cimanuk hingga mengibarkan panji pewaris Pajajaran, kerajaan ini mencatat kisahnya sendiri dalam sejarah Tatar Sunda, kisah tentang pelarian yang membangun kerajaan, pertapa yang menjadi raja, dan perempuan yang memimpin negeri di tengah peralihan zaman.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)