Wabah TBC di Jantung Bandung: Cerita dari Pelindung Hewan, Kampung Padat yang Dikepung Bakteri

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Walikota Bandung Muhammad Farhan mengunjungi Kelurahan Pelindung Hewan yang 62 warganya positif TBC.
Walikota Bandung Muhammad Farhan mengunjungi Kelurahan Pelindung Hewan yang 62 warganya positif TBC.

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung bagian selatan, tepatnya di Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, suara batuk panjang seperti jadi latar belakang keseharian. Batuk yang tak kunjung sembuh. Kadang pelan, kadang disertai dahak yang menyesakkan dada. Dari 500 rumah di kawasan itu, 62 penghuninya telah terkonfirmasi mengidap tuberkulosis (TBC). Sementara 200-an lainnya masih masuk kategori suspek dan dalam pantauan petugas kesehatan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut kondisi ini “khas Bandung.” Kawasan padat, rumah berimpitan, dan drainase yang macet oleh sampah rumah tangga. Udara lembap tanpa sinar matahari yang cukup. “Kami menemukan 62 kasus TBC aktif, dan ada sekitar 200-an suspek yang sedang dipantau,” kata Farhan, dalam kunjungannya, Senin, 13 Oktober 2025.

Ia tak sedang berlebihan. Di Pelindung Hewan, tiap rumah rata-rata dihuni lima orang. Sebagian besar rumah sempit disulap jadi kos-kosan. Dari 500 unit bangunan, 180 di antaranya rumah sewa dan tempat indekos. Dinding antarbangunan nyaris bersentuhan, ventilasi seadanya, udara nyaris tak pernah berganti. “Ini tantangan berat, karena padatnya rumah dan sanitasi yang belum ideal membuat risiko penularan makin besar,” ucap Farhan.

Baca Juga: Keracunan MBG di Bandung Barat, Kronik Tragedi Hidangan Basi di Balik Santapan Bergizi

Di gang-gang kecil yang hanya muat dua orang berjalan berdampingan, udara seolah mengendap. Bila satu orang batuk tanpa menutup mulut, partikel halus dari paru-paru yang mengandung Mycobacterium tuberculosis akan mengambang di udara. Bakteri yang tak kasatmata itu bisa bertahan beberapa jam, menunggu paru-paru baru untuk disinggahi.

Bakteri yang lahir dari napas orang sakit itu seperti tidak mengenal batas. Ia masuk ke paru-paru balita, singgah di tubuh ibu hamil, menempel di dada kakek-kakek yang mengisap rokok kretek di teras rumah. Farhan menyebut, penularan di kawasan ini menjangkiti semua kelompok usia—dari anak-anak hingga lansia. “Tantangannya berat, karena sanitasi yang belum ideal membuat risiko penularan makin besar,” katanya.

Bandung bukan kota yang asing dengan penyakit menular. Tapi TBC seolah tak pernah benar-benar pergi. Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat ada penurunan dari sekitar 18.000 kasus pada 2024 menjadi 6.941 hingga pertengahan 2025. Kepala Dinkes Kota Bandung, Anhar Hadian, ingin kasus TBC ini lenyap total. “Walau cuma satu kasusnya, ya, tetap tinggi. Masa di Kota Bandung masih ada TBC,” katanya.

TBC, penyakit yang dulu dikenal sebagai penyakit miskin, kini tak lagi mengenal kelas sosial. Tapi tetap saja, di permukiman padat seperti Pelindung Hewan, bakteri ini punya panggung sempurna.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis menular lewat udara. Saat penderitanya batuk atau bersin tanpa menutup mulut, ribuan droplet yang mengandung kuman beterbangan. Dalam ruang yang sempit, dengan ventilasi minim, droplet itu bisa melayang-layang lama, lalu dihirup oleh orang lain. Di paru-paru baru, bakteri itu bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Kementerian Kesehatan mencatat, per 27 September 2025, ada lebih dari 600.000 orang di Indonesia yang telah terdeteksi TBC aktif, baru 55% dari target 1,09 juta kasus yang ingin ditemukan tahun ini. Indonesia masih menempati posisi kedua dunia sebagai negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak setelah India. Dari angka itu, 14% diderita anak-anak.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

“Untuk pengobatan terapeutik, kita sudah mampu melakukan pengobatan di 90% temuan. Tapi 10% ini lost contact. Mereka tidak kembali untuk mendapatkan pengobatan,” kata Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Murti Utami.

Di Bandung, sebagian penderita bahkan baru tahu dirinya terinfeksi setelah ikut pemeriksaan gratis. “Masih banyak yang belum sadar dirinya TBC. Ketika dironsen, baru ketahuan ada indikasi,” kata Anhar. Ia menambahkan, penemuan kasus yang banyak justru bukan kabar buruk. “Ketika daerah angka TBC-nya tinggi artinya screening bagus. Penemuan bagus. Jadi apabila temuan TBC rendah bisa jadi screening-nya tidak bagus,” ucap Anhar.

Warga yang positif akan langsung diawasi dan diobati oleh tenaga kesehatan setempat. Proses pengobatan TBC memang panjang, bisa enam hingga sembilan bulan, dan harus dijalani tanpa putus. Sekali saja pasien berhenti minum obat, bakteri akan kebal dan menjadi TBC resisten obat, yang jauh lebih sulit disembuhkan.

Ilustrasi penderita TBC. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi penderita TBC. (Sumber: Freepik)

Di Tengah Padatnya Hidup dan Lambatnya Udara

Di Pelindung Hewan, ruang hidup memang sempit. Gang-gang kecil penuh kabel listrik yang melintang, pipa air menganga di pinggir jalan, dan sumur-sumur dangkal yang berbagi dengan selokan. Sebagian warga menggantung pakaian di jendela, sebagian lainnya menjemur kasur di atap seng. Udara panas bercampur aroma dapur, sabun cuci, dan sesekali bau got.

Lingkungan seperti ini adalah surga bagi TBC. Rumah-rumah yang rapat membuat sinar matahari sulit masuk, padahal sinar ultraviolet bisa membunuh bakteri penyebab TBC di udara. Dalam kondisi lembap, bakteri bisa bertahan lebih lama. Di dalam rumah, anak-anak bermain di lantai yang sama tempat ibunya batuk semalaman.

Korban paling rentannya adalah anak-anak. Tubuh mereka kecil, paru-paru belum matang, sistem kekebalan belum kuat. Ketika mereka tertular, gejalanya sering samar: demam ringan, berat badan stagnan, batuk lama yang tak disadari. Kadang baru diketahui setelah dua bulan ketika tubuh mulai lemah dan benjolan muncul di leher atau ketiak.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Di puskesmas, petugas kesehatan berjuang melacak rantai penularan. Mereka memeriksa dahak, mengirim sampel ke laboratorium dengan Tes Cepat Molekuler (TCM), dan memberikan obat yang harus diminum enam hingga sembilan bulan tanpa jeda. Satu hari lupa minum obat, bakteri bisa kebal. Saat itu terjadi, yang muncul adalah TBC resisten obat—jenis yang lebih keras kepala, lebih mematikan, dan butuh biaya lebih mahal.

“Target pengobatan TBC resisten obat itu 95%, tapi saat ini baru 75%,” kata Murti Utami. “Sisanya belum bisa diobati karena banyak faktor, mulai dari efek samping obat sampai pasien yang berhenti di tengah jalan.”

TBC bukan hanya penyakit paru-paru. Ia penyakit sosial. Ia lahir dari kemiskinan, tumbuh di ruang sempit, dan menular lewat ketidaktahuan. Ia menyebar karena orang-orang harus tinggal berdesakan, bekerja keras, dan tak punya pilihan lain.

Bandung sendiri menjadi salah satu lokasi uji coba vaksin TBC baru yang dikembangkan perusahaan milik Bill Gates bekerja sama dengan Bio Farma. Namun belum ada kabar anyar dari hasil perkembangan uji coba itu.

Ketika Farhan meninjau Pelindung Hewan, ia juga memerintahkan dinas terkait membersihkan saluran air yang tersumbat di depan kantor kelurahan. Air yang menggenang menjadi simbol lain dari penyakit kota: kotoran yang menumpuk, masalah yang dibiarkan, hingga akhirnya mengendap jadi wabah. “Kita ingin setiap kunjungan bukan cuma memotret masalah, tapi menyelesaikannya di tempat,” ujarnya.

Tapi TBC tak bisa dibereskan dengan sekop dan karung sampah. Ia memerlukan napas panjang: perbaikan sanitasi, ventilasi, pemetaan ulang tata ruang, dan kesadaran warga untuk berobat sampai tuntas.

Di Bandung, udara masih bisa terasa sejuk bila pagi datang. Tapi di gang-gang padat seperti Pelindung Hewan, setiap hembusan napas bisa mengandung ancaman. Wabah ini tak menampakkan wujudnya secara dramatis. Ia hadir diam-diam, dari batuk kecil yang diabaikan, dari kamar lembap yang tak pernah dijemur, dari ruang sempit yang penuh kehidupan.

Baca Juga: Drama Pelarian Macan Tutul Lembang, dari Desa di Kuningan ke Hotel Sukasari

TBC memang tak lagi menjadi epidemi global yang menewaskan jutaan seperti dulu. Tapi di kota yang penuh sesak, di rumah-rumah yang berhimpitan, ia masih hidup, masih menunggu paru-paru baru. Dan selama udara di gang-gang sempit itu tak benar-benar bersih, Bandung masih harus belajar bernapas panjang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)