Wabah TBC di Jantung Bandung: Cerita dari Pelindung Hewan, Kampung Padat yang Dikepung Bakteri

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 14 Okt 2025, 14:42 WIB
Walikota Bandung Muhammad Farhan mengunjungi Kelurahan Pelindung Hewan yang 62 warganya positif TBC.

Walikota Bandung Muhammad Farhan mengunjungi Kelurahan Pelindung Hewan yang 62 warganya positif TBC.

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung bagian selatan, tepatnya di Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, suara batuk panjang seperti jadi latar belakang keseharian. Batuk yang tak kunjung sembuh. Kadang pelan, kadang disertai dahak yang menyesakkan dada. Dari 500 rumah di kawasan itu, 62 penghuninya telah terkonfirmasi mengidap tuberkulosis (TBC). Sementara 200-an lainnya masih masuk kategori suspek dan dalam pantauan petugas kesehatan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut kondisi ini “khas Bandung.” Kawasan padat, rumah berimpitan, dan drainase yang macet oleh sampah rumah tangga. Udara lembap tanpa sinar matahari yang cukup. “Kami menemukan 62 kasus TBC aktif, dan ada sekitar 200-an suspek yang sedang dipantau,” kata Farhan, dalam kunjungannya, Senin, 13 Oktober 2025.

Ia tak sedang berlebihan. Di Pelindung Hewan, tiap rumah rata-rata dihuni lima orang. Sebagian besar rumah sempit disulap jadi kos-kosan. Dari 500 unit bangunan, 180 di antaranya rumah sewa dan tempat indekos. Dinding antarbangunan nyaris bersentuhan, ventilasi seadanya, udara nyaris tak pernah berganti. “Ini tantangan berat, karena padatnya rumah dan sanitasi yang belum ideal membuat risiko penularan makin besar,” ucap Farhan.

Baca Juga: Keracunan MBG di Bandung Barat, Kronik Tragedi Hidangan Basi di Balik Santapan Bergizi

Di gang-gang kecil yang hanya muat dua orang berjalan berdampingan, udara seolah mengendap. Bila satu orang batuk tanpa menutup mulut, partikel halus dari paru-paru yang mengandung Mycobacterium tuberculosis akan mengambang di udara. Bakteri yang tak kasatmata itu bisa bertahan beberapa jam, menunggu paru-paru baru untuk disinggahi.

Bakteri yang lahir dari napas orang sakit itu seperti tidak mengenal batas. Ia masuk ke paru-paru balita, singgah di tubuh ibu hamil, menempel di dada kakek-kakek yang mengisap rokok kretek di teras rumah. Farhan menyebut, penularan di kawasan ini menjangkiti semua kelompok usia—dari anak-anak hingga lansia. “Tantangannya berat, karena sanitasi yang belum ideal membuat risiko penularan makin besar,” katanya.

Bandung bukan kota yang asing dengan penyakit menular. Tapi TBC seolah tak pernah benar-benar pergi. Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat ada penurunan dari sekitar 18.000 kasus pada 2024 menjadi 6.941 hingga pertengahan 2025. Kepala Dinkes Kota Bandung, Anhar Hadian, ingin kasus TBC ini lenyap total. “Walau cuma satu kasusnya, ya, tetap tinggi. Masa di Kota Bandung masih ada TBC,” katanya.

TBC, penyakit yang dulu dikenal sebagai penyakit miskin, kini tak lagi mengenal kelas sosial. Tapi tetap saja, di permukiman padat seperti Pelindung Hewan, bakteri ini punya panggung sempurna.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis menular lewat udara. Saat penderitanya batuk atau bersin tanpa menutup mulut, ribuan droplet yang mengandung kuman beterbangan. Dalam ruang yang sempit, dengan ventilasi minim, droplet itu bisa melayang-layang lama, lalu dihirup oleh orang lain. Di paru-paru baru, bakteri itu bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Kementerian Kesehatan mencatat, per 27 September 2025, ada lebih dari 600.000 orang di Indonesia yang telah terdeteksi TBC aktif, baru 55% dari target 1,09 juta kasus yang ingin ditemukan tahun ini. Indonesia masih menempati posisi kedua dunia sebagai negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak setelah India. Dari angka itu, 14% diderita anak-anak.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

“Untuk pengobatan terapeutik, kita sudah mampu melakukan pengobatan di 90% temuan. Tapi 10% ini lost contact. Mereka tidak kembali untuk mendapatkan pengobatan,” kata Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Murti Utami.

Di Bandung, sebagian penderita bahkan baru tahu dirinya terinfeksi setelah ikut pemeriksaan gratis. “Masih banyak yang belum sadar dirinya TBC. Ketika dironsen, baru ketahuan ada indikasi,” kata Anhar. Ia menambahkan, penemuan kasus yang banyak justru bukan kabar buruk. “Ketika daerah angka TBC-nya tinggi artinya screening bagus. Penemuan bagus. Jadi apabila temuan TBC rendah bisa jadi screening-nya tidak bagus,” ucap Anhar.

Warga yang positif akan langsung diawasi dan diobati oleh tenaga kesehatan setempat. Proses pengobatan TBC memang panjang, bisa enam hingga sembilan bulan, dan harus dijalani tanpa putus. Sekali saja pasien berhenti minum obat, bakteri akan kebal dan menjadi TBC resisten obat, yang jauh lebih sulit disembuhkan.

Ilustrasi penderita TBC. (Sumber: Freepik)
Ilustrasi penderita TBC. (Sumber: Freepik)

Di Tengah Padatnya Hidup dan Lambatnya Udara

Di Pelindung Hewan, ruang hidup memang sempit. Gang-gang kecil penuh kabel listrik yang melintang, pipa air menganga di pinggir jalan, dan sumur-sumur dangkal yang berbagi dengan selokan. Sebagian warga menggantung pakaian di jendela, sebagian lainnya menjemur kasur di atap seng. Udara panas bercampur aroma dapur, sabun cuci, dan sesekali bau got.

Lingkungan seperti ini adalah surga bagi TBC. Rumah-rumah yang rapat membuat sinar matahari sulit masuk, padahal sinar ultraviolet bisa membunuh bakteri penyebab TBC di udara. Dalam kondisi lembap, bakteri bisa bertahan lebih lama. Di dalam rumah, anak-anak bermain di lantai yang sama tempat ibunya batuk semalaman.

Korban paling rentannya adalah anak-anak. Tubuh mereka kecil, paru-paru belum matang, sistem kekebalan belum kuat. Ketika mereka tertular, gejalanya sering samar: demam ringan, berat badan stagnan, batuk lama yang tak disadari. Kadang baru diketahui setelah dua bulan ketika tubuh mulai lemah dan benjolan muncul di leher atau ketiak.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Di puskesmas, petugas kesehatan berjuang melacak rantai penularan. Mereka memeriksa dahak, mengirim sampel ke laboratorium dengan Tes Cepat Molekuler (TCM), dan memberikan obat yang harus diminum enam hingga sembilan bulan tanpa jeda. Satu hari lupa minum obat, bakteri bisa kebal. Saat itu terjadi, yang muncul adalah TBC resisten obat—jenis yang lebih keras kepala, lebih mematikan, dan butuh biaya lebih mahal.

“Target pengobatan TBC resisten obat itu 95%, tapi saat ini baru 75%,” kata Murti Utami. “Sisanya belum bisa diobati karena banyak faktor, mulai dari efek samping obat sampai pasien yang berhenti di tengah jalan.”

TBC bukan hanya penyakit paru-paru. Ia penyakit sosial. Ia lahir dari kemiskinan, tumbuh di ruang sempit, dan menular lewat ketidaktahuan. Ia menyebar karena orang-orang harus tinggal berdesakan, bekerja keras, dan tak punya pilihan lain.

Bandung sendiri menjadi salah satu lokasi uji coba vaksin TBC baru yang dikembangkan perusahaan milik Bill Gates bekerja sama dengan Bio Farma. Namun belum ada kabar anyar dari hasil perkembangan uji coba itu.

Ketika Farhan meninjau Pelindung Hewan, ia juga memerintahkan dinas terkait membersihkan saluran air yang tersumbat di depan kantor kelurahan. Air yang menggenang menjadi simbol lain dari penyakit kota: kotoran yang menumpuk, masalah yang dibiarkan, hingga akhirnya mengendap jadi wabah. “Kita ingin setiap kunjungan bukan cuma memotret masalah, tapi menyelesaikannya di tempat,” ujarnya.

Tapi TBC tak bisa dibereskan dengan sekop dan karung sampah. Ia memerlukan napas panjang: perbaikan sanitasi, ventilasi, pemetaan ulang tata ruang, dan kesadaran warga untuk berobat sampai tuntas.

Di Bandung, udara masih bisa terasa sejuk bila pagi datang. Tapi di gang-gang padat seperti Pelindung Hewan, setiap hembusan napas bisa mengandung ancaman. Wabah ini tak menampakkan wujudnya secara dramatis. Ia hadir diam-diam, dari batuk kecil yang diabaikan, dari kamar lembap yang tak pernah dijemur, dari ruang sempit yang penuh kehidupan.

Baca Juga: Drama Pelarian Macan Tutul Lembang, dari Desa di Kuningan ke Hotel Sukasari

TBC memang tak lagi menjadi epidemi global yang menewaskan jutaan seperti dulu. Tapi di kota yang penuh sesak, di rumah-rumah yang berhimpitan, ia masih hidup, masih menunggu paru-paru baru. Dan selama udara di gang-gang sempit itu tak benar-benar bersih, Bandung masih harus belajar bernapas panjang.

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 19:02

Hari Bumi Sedunia: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Refleksi Hari Bumi Sedunia untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, dari kesadaran sederhana hingga tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan Bumi.

Gambar Bumi dari jendela pesawat Orion yang memperlihatkan keindahan planet sebagai rumah bagi seluruh kehidupan. (Sumber: NASA | Foto: -)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 15:38

Puisi, Hati, dan Suci

Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ikon 19 Apr 2026, 13:48

Hikayat Harry Suliztiarto Bawa Olahraga Panjat Tebing ke Indonesia

Kisah Harry Suliztiarto membawa panjat tebing ke Indonesia sejak 1976, dari eksperimen nekat hingga ekspedisi Eiger yang menginspirasi.

Harry Suliztiarto. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 19 Apr 2026, 11:45

Panduan Wisata Green Canyon Pangandaran, Panorama Eksotis Karst Cukang Taneuh Sungai Cijulang

Green Canyon menghadirkan kombinasi tebing karst, air kehijauan, dan aktivitas petualangan seperti body rafting yang cocok bagi pencinta wisata alam.

Green Canyon Pangandaran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 11:14

Pantai Madasari, Pilihan Healing di Pesisir Selatan Jawa Barat

Pantai Madasari dapat menjadi referensi wisata alam karena menawarkan ketenangan di pesisir selatan Jawa Barat.

Pantai Madasari di pagi hari dengan suasana tenang dan nyaman. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 10:19

Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)