Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

5 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Bangunan Bandoengsche Kinine Fabriek NV yang kini dikenal sebagai pabrik kina Kimia Farma di Jalan Pajajaran, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bangunan Bandoengsche Kinine Fabriek NV yang kini dikenal sebagai pabrik kina Kimia Farma di Jalan Pajajaran, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Dunia pernah berutang pada Bandung. Bukan karena mojang Priangannya, atau udara sejuk pegunungan yang memikat pelancong dari Eropa. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih penting: kina. Dari kota ini, bahan obat malaria paling manjur di masa lalu dikirim ke segala penjuru dunia, menyelamatkan ribuan, bahkan jutaan nyawa manusia dari kematian perlahan akibat gigitan nyamuk tropis.

Di pusat kota Bandung, berdiri sebuah bangunan tua bercat abu di simpang Jalan Pajajaran, Cihampelas, dan Cicendo. Atapnya menjulang tinggi dengan cerobong putih-oranye bertuliskan “Pabrik Kina”. Sekilas tampak biasa, seperti pabrik-pabrik lain yang sudah pensiun. Namun di balik tembok tua itu, terkubur sebuah kisah besar: cerita tentang kejayaan Bandoengsche Kinine Fabriek NV, yang dibangun sejak 1869.

Berdasarkan penuturan Her Suganda dalam bukunya Kisah Para Preanger Planters (2014), pabrik ini berdiri di bekas lahan perkebunan karet, berdasarkan akta notaris BV Houthuisen No.12 29 Juni 1896. Bukan sekadar pabrik, tempat itu pernah menjadi simbol supremasi Hindia Belanda di dunia farmasi. Dunia tengah butuh obat, dan Bandung menjawab. Kala malaria menghantui Batavia yang bahkan dijuluki Het Graf van Het Oosten (Kuburan di Timur), orang-orang Eropa mulai menyadari pentingnya tanaman kina.

Kina bukan tanaman asli Hindia. Ia berasal dari Amerika Selatan, dan diperkenalkan di Jawa oleh Justus Karl Hasskarl, seorang ahli botani yang membawa bibit dari Peru ke Cibodas. Sayangnya, usaha awalnya gagal berkembang. Maka pada 1851, Franz Wilhelm Junghuhn ditugaskan menggantikan. Dokter militer dan ahli botani ini mulai menanam kina di lereng Malabar, Pangalengan, di selatan Bandung.

Junghuhn sempat mengalami polemik dengan pihak berwenang tentang kualitas kina yang ditanamnya. Tapi langkah penting datang pada 1865, ketika pemerintah kolonial membeli benih kina jenis Cinchona Ledgeriana Moens dari Bolivia. Tanaman ini tumbuh subur di tanah Priangan, menjadikan Hindia Belanda raksasa dalam bisnis kina.

Pada 1896, lahan bekas kebun karet di pusat Bandung dijadikan lokasi pabrik kina. Lewat Akta Notaris BV Houthuisen No.12 tanggal 29 Juni 1896, berdirilah Bandoengsche Kinine Fabriek NV secara resmi. Pada 1910 hingga 1915, area pabrik diperluas karena permintaan meningkat drastis. Dunia butuh kina, dan Bandung punya semuanya: pohon, pekerja, teknologi, dan pelabuhan.

Raja Kina dari Tanah Priangan

Bukan berlebihan jika disebut, pada masa awal abad ke-20, Bandung menjadi pusat produksi kina dunia. Sekitar 90% kebutuhan global disuplai dari Hindia Belanda, mayoritas dari kawasan Priangan. Pabrik Kina Bandung jadi jantungnya. Pada 1941, kapasitas produksinya mencapai 140 ton quinine. Jumlah ini cukup untuk menyuplai seluruh dunia.

Produksi sebesar ini menjadikan Pabrik Kina Bandung salah satu fasilitas pengolahan kina terbesar di dunia. Quininenya dikemas dan dikirim melalui jalur kereta api ke pelabuhan, lalu melintasi samudra, menuju apotek dan rumah sakit di Eropa, Afrika, dan Asia. Dunia kala itu nyaris tidak punya pilihan lain selain menggunakan quinine untuk melawan malaria.

Selama masa kolonial, keberadaan pabrik ini menjadi vital. Saat Jepang masuk pada 1942, mereka langsung mengambil alih. Pabrik kemudian berganti nama menjadi Rikuyun Kinine Seizohyo, dikelola oleh Angkatan Darat Jepang. Kina Bandung disalurkan untuk mendukung perang Jepang di kawasan Pasifik. Meski berada di bawah penjajahan, pabrik tetap beroperasi, membuktikan betapa pentingnya kina sebagai komoditas perang.

Setelah Jepang kalah, Belanda kembali dan mengambil alih kembali pabrik tersebut. Tapi masa itu tak lama. Setelah Indonesia merdeka dan Belanda hengkang, pabrik ini resmi dinasionalisasi pada 1958. Nama Bandoengsche Kinine Fabriek dihapus, diganti menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma. Kemudian pada 1971, namanya berubah lagi menjadi PT Kimia Farma.

 (Sumber: Ayobandung)
(Sumber: Ayobandung)

Bangunan pabrik memang tidak mengalami banyak perubahan sejak masa kolonial. Bahkan hingga kini, pabrik ini masih digunakan, meski tidak lagi menjadi pusat produksi dunia. Tiga bangunan utama yang dibangun sejak abad ke-19 itu masih terhubung oleh lorong bawah tanah, menyimpan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Di masa jayanya, pabrik ini tak hanya penting bagi dunia, tapi juga menjadi penanda waktu bagi warga Bandung. Sirine pabrik berbunyi empat kali sehari. Pagi pukul 6.30 sebagai tanda masuk kerja, lalu dua kali saat istirahat, dan sekali lagi pada pukul 15.00 sebagai tanda pulang. Suara sirinenya menyerupai peluit lokomotif uap, berasal dari ketel uap Babcock & Wilcox yang dioperasikan manual. Suara itu menjadi jam alam bagi warga sekitar, sampai akhirnya dihentikan pada 1995 karena alasan efisiensi dan lingkungan.

Ditelan Waktu, Jadi Ladang Sayur

Wacana untuk menghidupkan kembali Pabrik Kina Bandung sempat muncul pada masa Wali Kota Ridwan Kamil. Emil, sapaan akrabnya, sempat menggagas agar pabrik dijadikan zona ekonomi kreatif dan kawasan wisata sejarah. Namun rencana itu mengambang, tidak berlanjut. Sementara PT KAI lebih dulu merealisasikan konsep serupa lewat Laswi Heritage. Pabrik kina tetap sunyi, terjebak antara masa lalu dan ketidakpastian masa depan.

Di luar kota Bandung, sejarah kina juga berakar kuat di Kabupaten Bandung. Tepatnya di Bukit Unggul, Cilengkrang, dan Kertasari. Di masa jayanya, perkebunan kina di sana menampung jutaan pohon kina. Di Bukit Unggul, pada puncaknya, ada 4 juta pohon di lahan 776 hektar. Satu hektar bisa menghasilkan 100 ton kulit kina kering.

Sososk administratur perkebunan kala itu adalah orang-orang Belanda, seperti Jan Willem Ruyssenaers (1927–1941) dan Albert Johan Ruyssenaers (1941–1957). Mereka mengelola kebun seperti mengelola kerajaan kecil. Namun semua itu tak bertahan lama.

Turunnya permintaan pasar membuat pengelolaan kebun merosot. Replanting tidak dilakukan. Perawatan tanaman dikurangi. Jumlah pekerja dipangkas drastis. Kini, hanya segelintir karyawan yang tersisa, sekadar menjaga pohon yang masih hidup.

Perubahan skema bisnis akhirnya dilakukan. Lahan disewakan untuk pertanian sayur dan agrowisata. Lahan kina menyusut drastis. Di Kertasari, tempat pabrik kina pertama Kabupaten Bandung berdiri megah, kondisinya lebih menyedihkan. Pabrik yang berdiri sejak 1941 itu kini tinggal puing-puing. Gempa tahun 1980-an merobohkan sebagian bangunan. Angin kencang kemudian mencabut atapnya. Produksi terus menurun, hingga akhirnya berhenti total pada 1996 akibat penyerobotan lahan.

Kini, hanya beberapa pohon kina tersisa. Sebagian besar hanya tunggul. Lahan yang dulu ditanami kina telah berubah menjadi kebun kol dan wortel. Kantor pusat pengolahan kina di Desa Cikembang, dulunya megah, kini sunyi dan nyaris tak dikenali.

Kina, yang dulu mengangkat nama Bandung di mata dunia, kini tinggal kenangan. Gambar daunnya masih bertahan di logo Pemerintah Kabupaten Bandung, seperti simbol kejayaan yang telah lalu. Tapi di lapangan, kejayaan itu tinggal puing dan dongeng. Tak banyak yang tahu bahwa dari kota ini, dunia pernah diselamatkan dari wabah.

Kisah kina adalah kisah tentang bagaimana satu kota kecil di tanah jajahan bisa menyumbang sesuatu yang begitu besar. Sebuah hadiah dari Bandung untuk dunia. Kini, hadiah itu berdebu di pojok kota. Ditinggalkan sejarah, menanti apakah suatu hari akan dikenang kembali—bukan sekadar sebagai bangunan tua, tapi sebagai penyelamat dunia dari pagebluk yang mengamuk.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Redaksi
Redaksi
Editor

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)