Sejarah Bandung jadi Pusat Tekstil, Serambi Kota Dolar yang Tergerus Zaman

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Textiel Inrichting Bandoeng (TIB) tahun 1925-an. (Sumber: KITLV)
Textiel Inrichting Bandoeng (TIB) tahun 1925-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Jika Inggris di masa lampau memulai apa yang disebut sebagai revolusi industri, maka Bandung menjadi embrio bagi epos revolusi tekstil wangsa kompeni. Bedanya, revolusi di sini tidak digerakkan mesin uap, melainkan alat tenun yang bunyinya keras tetapi murah hati kepada para pengrajin. Dari lembaga bernama Textiel Inrichting Bandoeng (TIB), tradisi tenun yang tadinya berjalan lambat seperti sungai musim kemarau mendadak mengalir deras hingga Majalaya berubah jadi ladang uang berputar.

Revolusi kecil-kecilan itu tentu tidak lahir sendirian. Ada mata-mata kolonial yang sejak awal melihat Bandung sebagai tempat yang pas untuk bereksperimen dengan benang dan kayu. Kota ini sudah punya bakat lama dalam hal tenun, ditambah udara sejuk yang membuat para teknisi betah berlama-lama di bengkel percobaan. Maka ketika pemerintah kolonial mulai gelisah melihat pasar dibanjiri kain impor, Bandung pun menjadi kandidat utama untuk dijadikan dapur teknologi tekstil baru.

TIB berdiri pada 1 April 1922. Tanggalnya memang terdengar seperti hari orang di Eropa biasa saling mengerjai, tapi lembaga ini sama sekali tidak sedang bercanda. Pemerintah Hindia Belanda sedang pusing dengan kenyataan bahwa kain-kain impor menguasai pasar. Masyarakat Nusantara punya tradisi tenun, tetapi teknologinya lambat, kapasitas produksinya kecil, dan suaranya masih didominasi gedogan yang memerlukan tenaga sabar setengah dewa. Maka para pejabat kolonial berpikir: mengapa tidak membuat pusat pelatihan, riset, dan pengembangan tekstil di satu tempat yang punya tradisi tenun, udara sejuk, dan tenaga kerja yang siap dilatih?

Baca Juga: Hikayat Paseh Bandung, Jejak Priangan Lama yang Diam-diam Punya Sejarah Panjang

Pilihan jatuh ke Bandung. Sekali lagi, bukan kebetulan. Kota ini sedari dulu punya talenta dalam hal tekstil, terutama karena hubungan eratnya dengan pusat-pusat pembuatan kain di Priangan Timur. Dengan alasan yang cukup masuk akal itu, TIB pun lahir dan membuka buku sejarah baru.

Periode awal abad ke-20 bukan masa mudah. Impor kain dari Eropa menenggelamkan peluang lokal, dan pasar Nusantara dibanjiri produk asing. Tapi di sinilah TIB memainkan kartu terbaiknya. Seorang insinyur bernama Gerrit Dalenoord didatangkan untuk memimpin lembaga ini. Dalenoord ini tipe teknisi yang tidak suka duduk diam. Ia sudah bermain-main dengan eksperimen tenun sejak sebelum TIB berdiri resmi. Dua tahun lebih awal ia sudah sibuk mencoba-coba model alat tenun yang lebih praktis.

TIB diberi tiga tugas besar: membina industri tekstil rakyat, mencetak tenaga ahli tekstil, dan mengembangkan teknologi tenun yang lebih waras dan lebih cepat dibanding gedogan yang hanya bersandar pada punggung dan kaki penenun. Untuk mewujudkannya, TIB membuka kursus bagi calon penyuluh tekstil. Dari sini lahir generasi baru yang bisa bicara soal tenun bukan dari warisan keluarga, tetapi dari pelatihan ilmiah.

Tahun 1928, empat perempuan muda dari Majalaya dikirim ke Bandung. Namanya Emas Mariam, Endah Suhaenda, Oya Rohana, dan Cicih. Mereka belajar menggunakan alat tenun semi otomatis yang tidak pakai listrik. Sekembalinya ke Majalaya, mereka membawa pengetahuan yang membuat kampungnya berubah pelan-pelan jadi pabrik besar. Dari tangan mereka, Majalaya tumbuh menjadi salah satu sentra tekstil paling bergairah di tanah air, kota yang suatu hari mendapat julukan Dollar City karena uang yang berputar terasa seperti mesin cetak dolar mini.

Baca Juga: Sejarah Cicalengka, Gudang Kopi Kompeni dengan Sejuta Cerita di Ujung Timur Bandung

Tapi, kontribusi TIB yang paling monumental bukan empat perempuan itu, melainkan benda kayu besi yang bunyinya nyaring dan bentuknya tidak terlalu menakutkan: Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM. Di sinilah sejarah industri tekstil Indonesia seperti menemukan akselerasinya sendiri.

Perkakas ATBM adalah inovasi yang lahir dari eksperimen panjang sejak 1912. Berbeda dengan gedogan, ATBM punya rangka lebih stabil, memungkinkan penenun duduk layak, bukan berselonjor seperti hendak berdoa. Tidak butuh listrik, cukup tenaga tangan dan kaki. Ia murah, sederhana, dan tahan banting. Harga satu unit ATBM lengkap sekitar 50 gulden pada zaman itu, setara pendapatan tahunan keluarga miskin. Tapi karena murahnya relatif bagi pengrajin, ATBM menjadi primadona baru. Produksi kain meningkat drastis, kualitasnya naik, lebarnya bertambah, dan konsistensinya jauh lebih baik.

Pelatihan ATBM dilakukan besar-besaran. TIB menyediakan alatnya, mengajarkan cara pakai, cara rawat, hingga cara mengolah motif. Tidak heran, teknologi ini menyebar bak kabar gosip di pasar kecamatan: cepat, merata, dan kadang disertai cerita-cerita versi dramatis.

Baca Juga: Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Ketika The Great Depression alias Depresi Besar melanda dunia pada 1929, para produsen Belanda keteteran. Produk tekstil Jepang yang lebih murah membanjiri pasar. Namun justru di saat itulah produksi lokal mulai naik daun. Banyak orang kehilangan pekerjaan lalu beralih ke industri tenun kecil setelah mendapat pelatihan dari TIB. Dari hasil pelatihan itu lahir ratusan hingga ribuan industri rumah tangga baru. Pada 1930, jumlah ATBM di Jawa hanya ratusan. Tapi di awal 1940-an jumlahnya melonjak sampai puluhan ribu. Ini bukan sekadar statistik; ini bukti bahwa Bandung dan sekitarnya sedang berubah menjadi pabrik besar tak resmi.

Di masa itu, seorang dapat melihat tetangga yang dulunya petani berubah menjadi penenun yang sibuk. Suara ATBM menjadi bagian dari irama hidup. Tak sedikit keluarga lebih mengenal pekerjaan menenun daripada bercocok tanam. Pabrik-pabrik kecil bermunculan, dan Bandung semakin kuat posisinya sebagai kota tekstil.

Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) milik salah satu pengusaha di Majalaya. (Sumber: Wikimedia)
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) milik salah satu pengusaha di Majalaya. (Sumber: Wikimedia)

Kedatangan Jepang pada 1942 membuat banyak lembaga kolonial berganti nama, termasuk TIB. Nama barunya panjang dan terdengar seperti judul dokumen militer, tetapi fungsinya tetap mirip: mendukung industri tekstil agar kebutuhan perang terpenuhi. Meski tujuan bergeser, aktivitas pelatihan dan produksi tidak berhenti. Alat tenun tetap berdenting, meski suasana kota tidak lagi seceria sebelumnya.

Setelah kemerdekaan, TIB kembali berubah. Pemerintah Belanda sempat mengambil alih lagi dan mengganti namanya menjadi Textiel Inrichting en Batik Proefstation. Tapi setelah pengakuan kedaulatan, lembaga itu diserahkan ke pemerintah Indonesia. Namanya berubah lagi, menjadi Balai Penerangan Pertenunan dan Pembatikan, lalu Balai Penyelidikan Tekstil. Kepemimpinannya pun silih berganti, mengikuti dinamika politik dan industri.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Perubahan besar terjadi pada 1954 dengan didirikannya Kursus Tekstil Tinggi. Lembaga ini menjadi cikal bakal pendidikan tinggi tekstil di Indonesia. Dan seperti industri yang terus bergerak maju, pendidikan pun ikut berubah. Pada 1964, lahir Perguruan Tinggi Ilmu Tekstil. Dua tahun kemudian, terjadi peleburan besar-besaran yang melahirkan Institut Teknologi Tekstil. Ini masa ketika Bandung benar-benar menjadi universitas hidup bagi dunia tekstil Nusantara.

Perjalanan panjang lembaga-lembaga ini akhirnya mengerucut menjadi dua institusi besar pada 1979: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil serta Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Keduanya masih eksis hingga kini dengan nama berbeda. Balai penelitian kini menjadi Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Tekstil, sementara sekolahnya bertransformasi menjadi Politeknik STTT Bandung.

Jika orang bertanya mengapa Bandung begitu kuat sebagai pusat tekstil, jawabannya adalah karena kota ini punya warisan lengkap, dari alat tenun tradisional sampai laboratorium digital untuk simulasi mesin tenun berbasis Industri 4.0.

Di Jalan Ahmad Yani, gedung tua peninggalan kolonial masih berdiri. Di sanalah balai penelitian tekstil terus beroperasi, menjaga mutu industri yang semakin modern. Sementara itu, kampus Politeknik STTT mencetak tenaga ahli tekstil dan mode yang tidak hanya pandai menggambar pola, tetapi juga paham soal kimia benang, kekuatan serat, sampai rekayasa fabrik buatan.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Dari kampung-kampung tenun Majalaya sampai laboratorium negeri yang memajang mesin digital, Bandung punya ekosistem yang sulit disaingi. Kota ini bukan cuma tempat lahirnya inovasi tekstil, tetapi pusat di mana tradisi dan teknologi saling menjahit satu sama lain.

Sekarang tekstil Bandung sudah terpogoh-pogoh, kalah saing dari Tiongkok dan juga sering dituding jadi biang kerok pencemar Citarum. Nasibnya mirip pegawai senior yang masih datang paling pagi tapi gajinya kalah dari anak magang. Industri yang dulu membuat Majalaya dipanggil Dollar City itu kini sibuk membuktikan bahwa mereka masih hidup. Mesin-mesin baru berdatangan, tapi bayang-bayang masa jaya tetap lebih nyaring daripada bunyi ritme produksi hari ini. Seperti benang kusut, geliatnya tetap ada, hanya saja tak lagi segesit dulu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)