Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 16:54 WIB
Terminal Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Terminal Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Di ujung selatan Cekungan Bandung, tepat 19 kilometer dari pusat kota, terbentang sebuah kawasan yang kerap luput dari peta wisata namun diam-diam menjadi simpul penting sejarah Priangan. Namanya Banjaran. Pada masa lalu, ia adalah gerbang menuju perkebunan-perkebunan kolonial. Kini, ia menjadi simpang lalu lintas yang seperti tidak pernah tidur, menghubungkan Bandung, Soreang, dan Pangalengan. Jika ada daerah yang bisa mengaku menyimpan sejarah selapis kue lapis legit, barangkali Banjaran pantas mengangkat tangan pertama.

Kawasan ini berdiri pada ketinggian 653 meter di atas permukaan laut. Suhunya adem, kadang 18 derajat pada pagi hari, kadang 30 derajat saat matahari mulai malas, persis seperti mood penduduk Bandung ketika memilih antara ngopi atau makan mie kocok. Letaknya strategis, terlalu strategis bahkan, sampai-sampai nyaris setiap rencana pembangunan di selatan Bandung pasti tersangkut di Banjaran. Dari masa Mataram hingga zaman industri modern, Banjaran selalu kebagian peran, entah sebagai pemeran utama atau figuran yang mencuri perhatian.

Sejarah Kabupaten Bandung pun tidak bisa dilepaskan dari kawasan ini. Setelah surat keputusan Sultan Agung Mataram turun pada 20 April 1641, wilayah di sekeliling Banjaran mulai berkembang mengikuti roda pemerintahan yang berputar dari Krapyak-Citeureup, pindah ke Dayeuhkolot, dan akhirnya tiba di pusat Bandung pada 1811. Perpindahan terakhir ini dipicu oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang terkenal sebagai bos besar Jalan Raya Pos. Ketika pendopo dipindah ke Alun-alun Bandung, Banjaran ikut terimbas perubahan.

Baca Juga: Hikayat Cileunyi, Kampung Sunyi yang jadi Kawasan Sibuk di Bandung Timur

Tanah-tanah hutan di selatan dibuka. Kampung-kampung baru lahir. Perwira kampung, petugas pemerintah lokal, hingga para pembabat hutan bekerja dari pagi hingga petang. Banjaran menjadi pintu menuju kawasan yang kini kita kenal sebagai Pangalengan, kecamatan dingin yang selalu berhasil bikin pengunjungnya luluh.

Di sinilah awal mula Banjaran mengambil tempat dalam peta besar kolonial. Di era akhir abad ke-19, seorang Belanda bernama Rudolf Edward Kerkhoven membuka perkebunan modern di Pangalengan, mengikuti jejak sukses ayahnya yang sudah terlebih dahulu mendirikan perkebunan Teh dan Kina Arjasari di Banjaran pada 1869. Arjasari kala itu masih satu wilayah. Nama Arjasari berasal dari kata arja dalam bahasa Sunda, yang berarti bagus atau raharja. Cocok memang, sebab tanahnya subur, hawanya sejuk, dan tanaman perkebunan tumbuh seperti tidak punya masalah hidup.

Kopi Priangan dari wilayah ini pernah menjadi primadona internasional. Saking kayanya, Bupati Bandung pada masa VOC tercatat sebagai salah satu bupati dengan setoran kopi terbesar. Namun di balik aroma wangi kopi, ada kisah gelap tanam paksa yang menekan warga lokal. Banyak lahan dipaksa menanam kina dan kopi, menyisakan ruang sempit untuk tanaman pangan. Dalam sejarah Banjaran, wangi kopi dan getirnya kelelahan rakyat tumbuh berdampingan.

Kebangkitan perkebunan membuka jalur transportasi baru. Banjaran menjadi titik penting jalur kereta api Bandung Ciwidey. Kereta ini mengangkut kopi, teh, kina, dan hasil bumi lain dari selatan Bandung menuju utara. Jalurnya penuh tikungan, naik turun, dan sering dihiasi kabut. Kini, kereta itu tinggal legenda. Rel-rel berkaratnya masih bisa ditemukan di beberapa titik, menjadi semacam memorabilia masa lalu yang menolak benar-benar hilang.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Polisi mengatur skema lalu lintas untuk urai kemacetan di Simpang Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Polisi mengatur skema lalu lintas untuk urai kemacetan di Simpang Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sinyal Radio dari Puntang

Jika perkebunan menjadi jantung ekonomi selatan Bandung, maka teknologi komunikasi kolonial memilih lereng Gunung Puntang sebagai laboratorium modernisme. Di sinilah berdiri Stasiun Radio Malabar, mahakarya teknologi awal abad ke-20. Dibangun mulai 1917 dan rampung awal 1920-an, stasiun radio ini menjadi proyek ambisius pemerintah Hindia Belanda untuk menyambungkan Batavia dengan Belanda lewat gelombang radio yang dipancarkan melewati jarak belasan ribu kilometer.

Seorang teknisi bernama Cornelius Johannes de Groot memimpin proyek ini. Ia memilih lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun, yang berfungsi seperti cermin raksasa pemantul gelombang. Di sana dipasang antena sepanjang dua kilometer, disebut berg antenna, lengkap dengan pemancar arc Poulsen yang bekerja memakai busur listrik seberat 10 ton. Kalau diibaratkan kendaraan, Radio Malabar ini bukan sekadar truk besar, tetapi kapal tanker yang dipaksa naik gunung.

Sumber tenaga listriknya tidak main-main, sekitar 3,6 megawatt. Listrik ini dipasok dari PLTA Lamajan, PLTA Dayeuhkolot, dan pembangkit di kawasan Dago. Semua itu demi satu tujuan mulia: agar pesan dari Hindia Belanda bisa meluncur mulus sampai ke Radio Kootwijk di Negeri Belanda.

Baca Juga: Sejarah Dayeuhkolot Jadi Ibu Kota Bandung, dari Karapyak ke Kota Tua yang Kebanjiran

Pada 5 Mei 1923, stasiun ini diresmikan. Namun, peresmian itu malah berbuntut malu. Pesan yang dikirim dari Malabar tidak mendapat balasan dari Belanda. Bukan karena pesannya aneh, tetapi karena hujan lebat sehari sebelumnya membuat sambungan terganggu. Hari itu, Malabar gagal tampil sebagai anak emas teknologi kolonial. Tetapi beberapa bulan kemudian, stasiun ini akhirnya berfungsi normal, menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Di sekeliling kompleks radio, pemerintah membangun rumah dinas, kantor, dan kolam renang berbentuk panah yang konon menghadap ke arah Belanda. Kolam itu sekarang dikenal dengan nama Kolam Cinta. Kawasan ini menjadi semacam kota kecil di tengah pegunungan, lengkap dengan suasana kolonial yang kaku namun indah.

Sayangnya, kejayaan Radio Malabar tidak bertahan lama. Dalam masa revolusi fisik 1946, pejuang Bandung membom stasiun ini agar tidak bisa dimanfaatkan Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia. Insiden itu menjadi bagian dari peristiwa Bandung Lautan Api. Kini, yang tersisa dari Radio Malabar hanyalah sisa-sisa fondasi dan beberapa dinding yang berdiri setengah. Kabut pagi sering menutupinya, membuat banyak pengunjung merasa sedang berjalan di lokasi syuting film fantasi dengan aroma sejarah yang pekat.

Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Banjaran Kini

Zaman berganti, Banjaran pun berubah rupa. Setelah kemerdekaan, struktur pemerintahan diperbarui beberapa kali. Pada 1974, wilayah ini berada di bawah Pembantu Bupati Wilayah IV Banjaran. Kemudian, setelah Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2001 keluar, kecamatan berubah menjadi perangkat daerah yang bertanggung jawab langsung pada Bupati.

Pemekaran wilayah pada 1983 membentuk Kecamatan Baleendah dan Arjasari. Banjaran tetap menjadi wilayah inti dengan sebelas desa dan luas total lebih dari tiga ribu hektar. Sawah, tanah kering, hutan, dan area permukiman mengisi bentang wilayah ini, menciptakan perpaduan antara agraris klasik dan urban modern yang kadang tampak harmonis, kadang tampak kacau.

Pada 1970-an, industri tekstil mulai tumbuh di pinggiran Banjaran. Pabrik-pabrik bermunculan, mengubah pola hidup masyarakat. Jika dulu masyarakat Banjaran bangun pagi untuk mengolah tanah, kini banyak di antara mereka bangun pagi untuk mengejar angkutan karyawan. Banjaran menjelma menjadi kawasan industri yang semarak. Ekonomi tumbuh. Warung makan dan toko kelontong makin ramai. Namun bersamaan dengan itu, kemacetan menjadi tradisi baru. Pertigaan Banjaran, yang menghubungkan Pangalengan dan Soreang, sering menjadi panggung drama lalu lintas.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Walau begitu, Banjaran tidak kehilangan pesonanya. Gunung Puntang tetap menjadi magnet wisata. Reruntuhan Radio Malabar berubah menjadi daya tarik sejarah. Hutan pinus menguarkan aroma yang membuat pengunjung lupa bahwa mereka hanya beberapa kilometer dari pabrik tekstil dan kemacetan.

Di Arjasari, lereng-lereng Gunung Sangar dan Pabeasan masih dihiasi kebun kopi. Beberapa warga bahkan mengemas produk sendiri, seperti Kopi Sangar, yang dijual sebagai oleh-oleh khas. Singkong yang tumbuh di daerah ini terkenal dengan teksturnya yang pulen. Olahan tradisional seperti comro dan kicimpring menjadi bukti bahwa urusan makanan lokal di sini tidak bisa dianggap enteng.

Banjaran, pada akhirnya, adalah sebuah kisah panjang tentang perubahan. Dari lanskap perkebunan kolonial, teknologi radio kelas dunia, jalur kereta peninggalan VOC, hingga industri tekstil, semuanya membentuk karakter kawasan ini. Jika Bandung dikenal sebagai kota kreatif, maka Banjaran bisa disebut sebagai kota persimpangan: persimpangan jalan, persimpangan sejarah, dan persimpangan masa depan.

Kini Banjaran hidup sebagai wilayah satelit yang tumbuh cepat. Pemudanya bekerja di industri modern, tetapi masih menyapa satu sama lain dengan logat Sunda yang lembut. Lanskapnya mungkin berubah, tetapi ceritanya tetap sama: sebuah kawasan yang sejak dahulu tidak pernah benar-benar tidur dan selalu punya cara membuat orang kembali menoleh.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Mengurus Sampah Kota Bandung Bukan Hal Ringan, Biaya "Segunung" Harus Dikeluarkan Setiap Hari

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)
Beranda 29 Apr 2026, 08:45

Diskar Kota Bandung Ungkap Daftar Kecamatan dengan Tingkat Kejadian Kebakaran Tertinggi

Diskar mengungkap sejumlah kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi di Bandung, dipicu kepadatan permukiman, instalasi listrik, dan meningkat saat musim kemarau.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 07:36

Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka tidak ada kata perjuangan buruh telah selesai.

Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)
Bandung 28 Apr 2026, 20:52

Memperkuat "Imunitas" Finansial Warga Jabar, Mengapa Kampus Harus Jadi Garda Depan Melawan Pinjol?

Tanpa "imunitas" atau literasi keuangan yang kuat, kemudahan akses digital justru menjadi pintu masuk menuju jeratan utang yang menghancurkan ekonomi keluarga.

Edukasi keuangan harus masuk ke jantung pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. (Sumber: OJK Jawa Barat)
Wisata & Kuliner 28 Apr 2026, 20:40

Panduan Wisata Tanjung Duriat Sumedang, Panorama 360 Derajat Waduk Jatigede

Tanjung Duriat Sumedang menawarkan panorama 360 derajat Waduk Jatigede dengan pemandangan bukit dan air luas dari satu titik.

Wahana Hammock Net di Tanjung Duriat Sumedang. (Sumber: Tanjung Duriat)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)