Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Terminal Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Terminal Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Di ujung selatan Cekungan Bandung, tepat 19 kilometer dari pusat kota, terbentang sebuah kawasan yang kerap luput dari peta wisata namun diam-diam menjadi simpul penting sejarah Priangan. Namanya Banjaran. Pada masa lalu, ia adalah gerbang menuju perkebunan-perkebunan kolonial. Kini, ia menjadi simpang lalu lintas yang seperti tidak pernah tidur, menghubungkan Bandung, Soreang, dan Pangalengan. Jika ada daerah yang bisa mengaku menyimpan sejarah selapis kue lapis legit, barangkali Banjaran pantas mengangkat tangan pertama.

Kawasan ini berdiri pada ketinggian 653 meter di atas permukaan laut. Suhunya adem, kadang 18 derajat pada pagi hari, kadang 30 derajat saat matahari mulai malas, persis seperti mood penduduk Bandung ketika memilih antara ngopi atau makan mie kocok. Letaknya strategis, terlalu strategis bahkan, sampai-sampai nyaris setiap rencana pembangunan di selatan Bandung pasti tersangkut di Banjaran. Dari masa Mataram hingga zaman industri modern, Banjaran selalu kebagian peran, entah sebagai pemeran utama atau figuran yang mencuri perhatian.

Sejarah Kabupaten Bandung pun tidak bisa dilepaskan dari kawasan ini. Setelah surat keputusan Sultan Agung Mataram turun pada 20 April 1641, wilayah di sekeliling Banjaran mulai berkembang mengikuti roda pemerintahan yang berputar dari Krapyak-Citeureup, pindah ke Dayeuhkolot, dan akhirnya tiba di pusat Bandung pada 1811. Perpindahan terakhir ini dipicu oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang terkenal sebagai bos besar Jalan Raya Pos. Ketika pendopo dipindah ke Alun-alun Bandung, Banjaran ikut terimbas perubahan.

Baca Juga: Hikayat Cileunyi, Kampung Sunyi yang jadi Kawasan Sibuk di Bandung Timur

Tanah-tanah hutan di selatan dibuka. Kampung-kampung baru lahir. Perwira kampung, petugas pemerintah lokal, hingga para pembabat hutan bekerja dari pagi hingga petang. Banjaran menjadi pintu menuju kawasan yang kini kita kenal sebagai Pangalengan, kecamatan dingin yang selalu berhasil bikin pengunjungnya luluh.

Di sinilah awal mula Banjaran mengambil tempat dalam peta besar kolonial. Di era akhir abad ke-19, seorang Belanda bernama Rudolf Edward Kerkhoven membuka perkebunan modern di Pangalengan, mengikuti jejak sukses ayahnya yang sudah terlebih dahulu mendirikan perkebunan Teh dan Kina Arjasari di Banjaran pada 1869. Arjasari kala itu masih satu wilayah. Nama Arjasari berasal dari kata arja dalam bahasa Sunda, yang berarti bagus atau raharja. Cocok memang, sebab tanahnya subur, hawanya sejuk, dan tanaman perkebunan tumbuh seperti tidak punya masalah hidup.

Kopi Priangan dari wilayah ini pernah menjadi primadona internasional. Saking kayanya, Bupati Bandung pada masa VOC tercatat sebagai salah satu bupati dengan setoran kopi terbesar. Namun di balik aroma wangi kopi, ada kisah gelap tanam paksa yang menekan warga lokal. Banyak lahan dipaksa menanam kina dan kopi, menyisakan ruang sempit untuk tanaman pangan. Dalam sejarah Banjaran, wangi kopi dan getirnya kelelahan rakyat tumbuh berdampingan.

Kebangkitan perkebunan membuka jalur transportasi baru. Banjaran menjadi titik penting jalur kereta api Bandung Ciwidey. Kereta ini mengangkut kopi, teh, kina, dan hasil bumi lain dari selatan Bandung menuju utara. Jalurnya penuh tikungan, naik turun, dan sering dihiasi kabut. Kini, kereta itu tinggal legenda. Rel-rel berkaratnya masih bisa ditemukan di beberapa titik, menjadi semacam memorabilia masa lalu yang menolak benar-benar hilang.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Polisi mengatur skema lalu lintas untuk urai kemacetan di Simpang Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Polisi mengatur skema lalu lintas untuk urai kemacetan di Simpang Banjaran. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sinyal Radio dari Puntang

Jika perkebunan menjadi jantung ekonomi selatan Bandung, maka teknologi komunikasi kolonial memilih lereng Gunung Puntang sebagai laboratorium modernisme. Di sinilah berdiri Stasiun Radio Malabar, mahakarya teknologi awal abad ke-20. Dibangun mulai 1917 dan rampung awal 1920-an, stasiun radio ini menjadi proyek ambisius pemerintah Hindia Belanda untuk menyambungkan Batavia dengan Belanda lewat gelombang radio yang dipancarkan melewati jarak belasan ribu kilometer.

Seorang teknisi bernama Cornelius Johannes de Groot memimpin proyek ini. Ia memilih lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun, yang berfungsi seperti cermin raksasa pemantul gelombang. Di sana dipasang antena sepanjang dua kilometer, disebut berg antenna, lengkap dengan pemancar arc Poulsen yang bekerja memakai busur listrik seberat 10 ton. Kalau diibaratkan kendaraan, Radio Malabar ini bukan sekadar truk besar, tetapi kapal tanker yang dipaksa naik gunung.

Sumber tenaga listriknya tidak main-main, sekitar 3,6 megawatt. Listrik ini dipasok dari PLTA Lamajan, PLTA Dayeuhkolot, dan pembangkit di kawasan Dago. Semua itu demi satu tujuan mulia: agar pesan dari Hindia Belanda bisa meluncur mulus sampai ke Radio Kootwijk di Negeri Belanda.

Baca Juga: Sejarah Dayeuhkolot Jadi Ibu Kota Bandung, dari Karapyak ke Kota Tua yang Kebanjiran

Pada 5 Mei 1923, stasiun ini diresmikan. Namun, peresmian itu malah berbuntut malu. Pesan yang dikirim dari Malabar tidak mendapat balasan dari Belanda. Bukan karena pesannya aneh, tetapi karena hujan lebat sehari sebelumnya membuat sambungan terganggu. Hari itu, Malabar gagal tampil sebagai anak emas teknologi kolonial. Tetapi beberapa bulan kemudian, stasiun ini akhirnya berfungsi normal, menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Di sekeliling kompleks radio, pemerintah membangun rumah dinas, kantor, dan kolam renang berbentuk panah yang konon menghadap ke arah Belanda. Kolam itu sekarang dikenal dengan nama Kolam Cinta. Kawasan ini menjadi semacam kota kecil di tengah pegunungan, lengkap dengan suasana kolonial yang kaku namun indah.

Sayangnya, kejayaan Radio Malabar tidak bertahan lama. Dalam masa revolusi fisik 1946, pejuang Bandung membom stasiun ini agar tidak bisa dimanfaatkan Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia. Insiden itu menjadi bagian dari peristiwa Bandung Lautan Api. Kini, yang tersisa dari Radio Malabar hanyalah sisa-sisa fondasi dan beberapa dinding yang berdiri setengah. Kabut pagi sering menutupinya, membuat banyak pengunjung merasa sedang berjalan di lokasi syuting film fantasi dengan aroma sejarah yang pekat.

Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Banjaran Kini

Zaman berganti, Banjaran pun berubah rupa. Setelah kemerdekaan, struktur pemerintahan diperbarui beberapa kali. Pada 1974, wilayah ini berada di bawah Pembantu Bupati Wilayah IV Banjaran. Kemudian, setelah Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2001 keluar, kecamatan berubah menjadi perangkat daerah yang bertanggung jawab langsung pada Bupati.

Pemekaran wilayah pada 1983 membentuk Kecamatan Baleendah dan Arjasari. Banjaran tetap menjadi wilayah inti dengan sebelas desa dan luas total lebih dari tiga ribu hektar. Sawah, tanah kering, hutan, dan area permukiman mengisi bentang wilayah ini, menciptakan perpaduan antara agraris klasik dan urban modern yang kadang tampak harmonis, kadang tampak kacau.

Pada 1970-an, industri tekstil mulai tumbuh di pinggiran Banjaran. Pabrik-pabrik bermunculan, mengubah pola hidup masyarakat. Jika dulu masyarakat Banjaran bangun pagi untuk mengolah tanah, kini banyak di antara mereka bangun pagi untuk mengejar angkutan karyawan. Banjaran menjelma menjadi kawasan industri yang semarak. Ekonomi tumbuh. Warung makan dan toko kelontong makin ramai. Namun bersamaan dengan itu, kemacetan menjadi tradisi baru. Pertigaan Banjaran, yang menghubungkan Pangalengan dan Soreang, sering menjadi panggung drama lalu lintas.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Walau begitu, Banjaran tidak kehilangan pesonanya. Gunung Puntang tetap menjadi magnet wisata. Reruntuhan Radio Malabar berubah menjadi daya tarik sejarah. Hutan pinus menguarkan aroma yang membuat pengunjung lupa bahwa mereka hanya beberapa kilometer dari pabrik tekstil dan kemacetan.

Di Arjasari, lereng-lereng Gunung Sangar dan Pabeasan masih dihiasi kebun kopi. Beberapa warga bahkan mengemas produk sendiri, seperti Kopi Sangar, yang dijual sebagai oleh-oleh khas. Singkong yang tumbuh di daerah ini terkenal dengan teksturnya yang pulen. Olahan tradisional seperti comro dan kicimpring menjadi bukti bahwa urusan makanan lokal di sini tidak bisa dianggap enteng.

Banjaran, pada akhirnya, adalah sebuah kisah panjang tentang perubahan. Dari lanskap perkebunan kolonial, teknologi radio kelas dunia, jalur kereta peninggalan VOC, hingga industri tekstil, semuanya membentuk karakter kawasan ini. Jika Bandung dikenal sebagai kota kreatif, maka Banjaran bisa disebut sebagai kota persimpangan: persimpangan jalan, persimpangan sejarah, dan persimpangan masa depan.

Kini Banjaran hidup sebagai wilayah satelit yang tumbuh cepat. Pemudanya bekerja di industri modern, tetapi masih menyapa satu sama lain dengan logat Sunda yang lembut. Lanskapnya mungkin berubah, tetapi ceritanya tetap sama: sebuah kawasan yang sejak dahulu tidak pernah benar-benar tidur dan selalu punya cara membuat orang kembali menoleh.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)