Hikayat Tol Cisumdawu, Jalan Panjang dari Bandung ke Pintu Langit Kertajati

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 13 Nov 2025, 15:32 WIB
Jalan Tol Cisumdawu. (Sumber: Kementerian PUPR)

Jalan Tol Cisumdawu. (Sumber: Kementerian PUPR)

AYOBANDUNG.ID - Suatu hari di penghujung 2011, di Rancakalong yang berkabut, sekelompok pejabat berdiri di atas panggung darurat. Di belakang mereka, alat berat berjejer seperti pasukan parade. Ada spanduk besar bertuliskan: Peletakan Batu Pertama Tol Cisumdawu. Janji pun meluncur manis—: Bandung ke Cirebon hanya 90 menit.

Cepat, efisien, modern. Tiga tahun lagi selesai, kata mereka.

Tapi Sumedang punya cara sendiri untuk menjawab janji-janji besar.

Proyek yang digagas sejak era Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005 itu sebenarnya sederhana di atas kertas: 62 kilometer jalan tol yang menghubungkan Cileunyi sampai Dawuan, lewat lembah dan perbukitan Sumedang, menuju Majalengka dan Bandara Kertajati. Gagasannya mulia, katanya: membuka akses industri, pertanian, pariwisata, dan tentu, ekonomi rakyat.

Sayangnya, rakyat tak pernah diajak menulis naskahnya.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Pemerintah memanggil investor, menggelar studi kelayakan, menghitung cost-benefit ratio dengan wajah penuh keyakinan. Di ruang rapat Jakarta, garis-garis di peta terlihat indah: lurus, rapi, penuh efisiensi. Tapi di lapangan, garis itu menembus sawah, makam, rumah tua, dan bukit kapur. Di sanalah cerita mulai berbelok.

Ketika alat berat mulai menggali tanah pada 2012, tak banyak yang tahu proyek ini akan berlari maraton, bukan sprint. Pemerintah membaginya menjadi enam seksi mulai dari Cileunyi hingga Dawuan dengan total panjang 62 kilometer. Seksi 1 dan 2 dibiayai pemerintah, sisanya dikelola swasta lewat PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT), konsorsium yang dikomandoi Jusuf Hamka. Total biaya akhirnya membengkak: dari Rp5,5 triliun menjadi Rp18,3 triliun. Uang sebanyak itu cukup untuk membangun beberapa universitas negeri baru, tapi rupanya belum cukup untuk menembus perut Sumedang yang berbukit-bukit dan keras kepala.

Pada 2013, Wakil Gubernur Deddy Mizwar meninjau proyek dan optimis tol akan selesai bersamaan dengan Bandara Kertajati pada 2016. Harapan itu tampak manis—seperti kisah cinta yang belum diuji kenyataan. Karena pada tahun-tahun berikutnya, Cisumdawu berubah menjadi legenda birokrasi: proyek yang tak kunjung rampung, tapi terus disorot tiap kali pejabat datang meninjau.

Di balik kisah lokal itu, ada juga jejak diplomasi global. Sekitar tahun 2015, Presiden Jokowi berkunjung ke Beijing. Dari sana lahir kerja sama infrastruktur besar di bawah payung Belt and Road Initiative (BRI). Tiongkok memberi pinjaman Rp3,6 triliun untuk sebagian proyek Cisumdawu. Kontraktornya: Metallurgical Corporation of China Ltd, membangun sekitar 6,3 kilometer. Sebagian orang menyebutnya transfer teknologi, sebagian lain menyebutnya ketergantungan baru. Tapi siapa peduli? Yang penting jalan ini jadi. Begitu kira-kira semangatnya waktu itu.

Baca Juga: Sejarah Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, Wariskan Beban Gunungan Utang ke China

Jalan Panjang yang Tak Pernah Lurus

Penyakit klasik pembangunan di Indonesia kembali muncul: pembebasan lahan. Begitu masuk Sumedang, proyek ini seperti terjebak dalam labirin tanah adat, sertifikat ganda, dan negosiasi harga yang tak pernah selesai. Pemerintah menargetkan rampung 2017, tapi hingga 2020 baru 61 persen lahan yang berhasil dibebaskan.

Jokowi dalam kunjungan kerjanya pada Juli 2020, terlihat kesal. Ia mengeluhkan proyek strategis nasional yang lambat gara-gara lahan. Dari istana hingga desa, suara yang sama bergema: warga merasa harga ganti rugi tidak adil. Pemerintah bicara regulasi, warga bicara tanah warisan. Dua bahasa yang sering kali tak bisa saling mengerti.

Pada Maret 2022, warga Dusun Cikeusik, Desa Pamulihan, protes. Harga yang ditawarkan dianggap tak masuk akal dibanding nilai pasar. Setahun kemudian, puluhan warga memblokir ruas tol. Truk berhenti, polisi turun tangan, dan foto-foto aksi mereka beredar luas. Di balik jalan mulus yang kita nikmati sekarang, ada banyak tanah yang dijual setengah hati.

Problem tak berhenti di sana. Di tingkat provinsi, Gubernur Ridwan Kamil harus turun tangan. Ia berkoordinasi dengan Bupati Sumedang dan Majalengka, mencoba menenangkan warga sambil mengejar tenggat pusat. Pemerintah pusat menalangi dana tambahan karena pinjaman luar negeri mensyaratkan progres tepat waktu. Setiap minggu berlalu seperti permainan tarik tambang: satu sisi ingin cepat selesai, sisi lain menolak digusur.

Terowongan kembar Tol Cisumdawu. (Sumber: Kementerian PUPR)
Terowongan kembar Tol Cisumdawu. (Sumber: Kementerian PUPR)

Baca Juga: Sejarah Tol Cipularang, Jalan Cepat Pertama ke Bandung yang Dibangun dari Warisan Krisis

Sementara di sisi lain proyek, alam ikut bereaksi. Pada Januari 2016, banjir lumpur melanda Desa Mekarjaya. Lumpur datang dari lokasi pembangunan tol yang tak punya saluran drainase memadai. Sawah rusak, tembok roboh, warga panik. Petani kehilangan lahan, produksi padi Sumedang turun sampai 20.000 ton per tahun.

Deforestasi di perbukitan memperparah keadaan. Suhu udara naik, risiko longsor meningkat. Semua itu bagian dari harga yang harus dibayar untuk sebuah jalan tol. Sebuah harga yang tak pernah tercantum dalam tender proyek.

Kontroversi makin ramai ketika ribuan tenaga kerja asing asal Tiongkok datang. Data imigrasi menyebut sekitar 25 ribu TKA masuk antara 2015–2016. Sebagian legal, sebagian tidak. Pemerintah menyebutnya bagian dari proyek transfer knowledge, tapi masyarakat lokal melihatnya sebagai hilangnya kesempatan kerja. Pada 2016, sebanyak 1.180 TKA dideportasi karena pelanggaran imigrasi. Di warung-warung kopi Sumedang, cerita itu jadi bahan obrolan: tentang tol yang dibangun uang asing, oleh tangan asing, di tanah sendiri.

Tapi di atas semua itu, proyek terus jalan. Seperti drama sinetron yang tak bisa dihentikan karena kontraknya sudah diteken. Setiap kali presiden datang, papan nama proyek diganti baru, spanduk disetrika, dan ekskavator digeber agar tampak sibuk.

Baca Juga: Reaktivasi Bandara Husein Simalakama Buat Kertajati

Lalu datanglah momen 2022–2023. Seksi demi seksi mulai dibuka. Seksi 1 (Cileunyi–Pamulihan) beroperasi Januari 2022. Disusul Seksi 2 dan 3 akhir tahun itu. Tarif belum diberlakukan, mungkin sebagai bentuk "hadiah" untuk warga yang sudah sabar menunggu 11 tahun. Baru pada Februari 2023, tol mulai berbayar. Seksi 4–6 dibuka fungsional saat mudik Lebaran 2023, dan akhirnya pada 11 Juli 2023, Presiden Jokowi meresmikannya di Terowongan Kembar Rancakalong.

Tibanya momen itu terasa seperti akhir dari film panjang. Di panggung peresmian, berdiri para menteri: Erick Thohir, Basuki Hadimuljono, Budi Karya Sumadi. Ada juga pejabat daerah yang selama ini jungkir balik menghadapi protes warga. Foto bersama diambil dengan latar terowongan yang kini jadi ikon. Menteri Basuki bahkan memastikan tol bisa beroperasi penuh mulai Juni 2023, sedikit molor, tapi akhirnya selesai juga.

Baca Juga: Hikayat Konflik Lahan Dago Elos yang jadi Simbol Perlawanan di Bandung

Tapi di luar kamera dan pita peresmian, sejumlah warga masih menunggu kepastian. Hingga kini, proses ganti rugi penggusuran lahan proyek ini masih belum sepenuhnya tuntas. Yang lebih bikin geram lagi, skema duit ganti rugi proyekalah diwarnai skandal korupsi.

Kasus korupsi ganti rugi lahan Tol Cisumdawu terbongkar pada Juli 2024, ketika Kejari Sumedang menetapkan lima tersangka dalam dugaan manipulasi pengadaan tanah untuk proyek strategis nasional itu. Skema licik itu terjadi di Desa Cilayung, Jatinangor, pada 2019–2020, dengan modus pengalihan ilegal tanah menggunakan Letter C dan SHGB palsu.

Penilaian ganti rugi pun digelembungkan lewat Kantor Jasa Penilai Publik, menciptakan kerugian negara hingga Rp329,7 miliar. Dari sembilan bidang tanah, tujuh di antaranya ternyata hasil rekayasa. Dadan Setiadi Megantara dari PT Prista Raya menjadi tokoh sentral. Ia divonis 4 tahun 8 bulan penjara dan diwajibkan mengganti kerugian Rp139 miliar. Kasusnya ini juga menyeret nama mantan Ketua PN Sumedang, Indah Wastukencana Wulan, yang diduga menerima komisi melalui suaminya.

Tol Cisumdawu kini membentang megah di atas perbukitan, menjadi urat nadi utama menuju Bandara Kertajati dan kawasan industri Rebana. Ia memangkas waktu tempuh Bandung–Cirebon dari empat jam menjadi hanya 90 menit.

Bagi pemerintah, ini adalah simbol kemajuan. Tapi bagi sebagian orang, setiap kilometer Cisumdawu seolah menyimpan catatan dosa: dari lahan yang digusur, lumpur yang menelan sawah, hingga uang rakyat yang dicuri di balik meja appraisal. Ia bukan sekadar proyek strategis nasional, melainkan cermin besar yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang paling diuntungkan oleh kemajuan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Jelajah 04 Feb 2026, 17:55 WIB

Tragedi Penembakan Rene Louis Coenraad, Razia Rambut Gondrong Orde Baru Berujung Petaka Berdarah

Kematian Rene Louis Coenraad, mahasiswa ITB asal Prancis, membuka sisi gelap razia rambut Orde Baru dan relasi brutal antara negara dan mahasiswa.
Pemakaman jenazah Rene Louis Coenraad, 9 Oktober 1970. (Sumber: Potret Sejarah Indonesia)
Ayo Jelajah 04 Feb 2026, 16:47 WIB

Sejarah Panjang Freeport Indonesia, Tambang Emas Raksasa Pusara Kontroversi

Freeport Indonesia bukan sekadar tambang emas dan tembaga. Sejarahnya merekam tarik-menarik kuasa, modal asing, politik negara, dan luka panjang di Papua.
Penambangan Freeport di Grasberg, Mimika, Papua. (Sumber: Kementerian ESDM)
Bandung 04 Feb 2026, 16:11 WIB

Napas Seni di Sudut Braga, Kisah GREY Membangun Rumah bagi Imajinasi

Grey Art Gallery kini bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang bernapas, bergerak, dan terus menantang batas-batas konvensional seni rupa kontemporer di Jawa Barat.
Grey Art Gallery kini bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang bernapas, bergerak, dan terus menantang batas-batas konvensional seni rupa kontemporer di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 16:00 WIB

Kata-Kata Khas Ramadan yang Sering Salah Kaprah

Bahasa, seperti pasar, bergerak mengikuti kebiasaan mayoritas.
Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Bandung 04 Feb 2026, 14:50 WIB

Menjual Rasa, Merawat Janji: Rahasia Stevia Kitchen Bertahan Belasan Tahun Lewat Kekuatan Mulut ke Mulut

Tanpa strategi pemasaran yang muluk-muluk, Stevia hanya mengandalkan satu kunci utama untuk bertahan di industri kuliner yang keras: kepercayaan pelanggan yang dibangun secara organik.
Tanpa strategi pemasaran yang muluk-muluk, Stevia hanya mengandalkan satu kunci utama untuk bertahan di industri kuliner yang keras kepercayaan pelanggan yang dibangun secara organik. (Sumber: instagram.com/stevia.kitchen2)
Bandung 04 Feb 2026, 14:14 WIB

Bukan Soal Viral tapi Bertahan: Refleksi Dale tentang Kejujuran dan Ketangguhan di Balik Riuh Kuliner Bandung

Ledakan bisnis FnB yang kian marak jumlahnya, dapat dikatakan membantu memudahkan warga Bandung dalam menemukan apa yang mereka mau, dapat disortir dalam berbagai jenis dan pilihan.
Dale sudah menekuni dunia FnB ini sejak delapan tahun lamanya, pahit-manis perjalanan sudah Ia lalui dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 14:03 WIB

5 Keuntungan Menulis di Ayobandung.id lewat Kanal Ayo Netizen

Ada sejumlah keuntungan yang bisa didapatkan penulis dengan berkontribusi secara rutin di Ayobandung.id
AYO NETIZEN merupakan kanal yang menampung tulisan para pembaca Ayobandung.id. (Sumber: Lisa from Pexels)
Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)