Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Petugas medis Rusia saat mengobati tentara Jerman di front timur Perang Dunia I. (Sumber: Wikimedia)
Petugas medis Rusia saat mengobati tentara Jerman di front timur Perang Dunia I. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Satu kasus infeksi virus Hanta terkonfirmasi di Kabupaten Bandung Barat, menimpa seorang buruh bangunan berusia 52 tahun berinisial O, warga Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah. Meski tergolong langka di Indonesia, kasus ini menarik perhatian otoritas kesehatan karena dugaan kuat penularan berasal dari gigitan tikus saat pasien tengah bekerja di proyek bangunan di kawasan Ciwidey.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Ridwan Abdullah Putra, menjelaskan bahwa gejala awal muncul pada 2 Mei 2025. “Pasien mengaku sempat digigit tikus saat bekerja di proyek bangunan tersebut,” ujarnya.

Setelah mengalami demam, nyeri lambung, dan muntah, pasien sempat menjalani pengobatan di beberapa fasilitas kesehatan sebelum dirujuk ke RS Hasan Sadikin, Bandung. Dugaan awal mengarah pada leptospirosis, tapi hasil uji laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan menunjukkan positif virus Hanta.

Usai diagnosis terkonfirmasi, Tim Surveilans Puskesmas Ngamprah langsung bergerak melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap lingkungan rumah pasien dan anggota keluarganya.

“Kasus menjadi pengingat penting tentang kesiapsiagaan menghadapi penyakit langka,” kata Ridwan. Tidak ditemukan warga sekitar yang mengalami gejala serupa, dan tindakan cepat ini menjadi kunci utama mencegah penyebaran.

Langkah lanjutan dilakukan oleh tim gabungan dari Dinkes Kabupaten, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dan Kemenkes. Mereka melakukan pengambilan sampel tikus dan celurut dari sekitar pemukiman pasien.

“Pihak Dinkes kerjasama dengan Dinkes Pemprov Jabar dan Kemenkes sudah mengambil beberapa sampel pengerat,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes KBB, Nurul Rasihan.

Dia berkata Kemenkes juga mengadakan edukasi dan sosialisasi bagi petugas kesehatan setempat guna memastikan penanganan lebih dini di kemudian hari. Kabar baiknya, pasien O telah dinyatakan sembuh sepenuhnya.

Lebih Dekat dengan Virus Hanta

Virus Hanta, menurut Kementerian Kesehatan, adalah penyakit yang ditularkan hewan ke manusia (zoonosis). Virus ini ditularkan melalui paparan air liur, urin, atau kotoran hewan pengerat, terutama tikus.

Virus Hanta termasuk dalam kelompok Orthohantavirus. Tikus dan celurut menjadi pembawa utamanya (reservoir). Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi membawa virus ini mencakup Rattus norvegicus (tikus got), R. tanezumi (tikus rumah), R. argentiventer (tikus sawah), hingga Mus musculus (mencit rumah). Tikus-tikus ini tersebar luas di rumah, ladang, hingga hutan.

Penularan terjadi ketika manusia terpapar urin, feses, atau air liur tikus yang mengandung virus—baik melalui kontak langsung dengan kulit yang luka atau membran mukosa (mata, mulut, hidung), maupun lewat partikel debu yang terhirup. Satu hal yang patut dicatat: hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia.

Tikus got bisa jadi penyebab virus Hanta. (Sumber: Freepik)
Tikus got bisa jadi penyebab virus Hanta. (Sumber: Freepik)

Virus Hanta bisa menyebabkan dua jenis penyakit utama: Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). HFRS lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Gejalanya bisa muncul 1–2 minggu setelah terpapar. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri punggung atau perut, mual, serta ruam. Dalam kasus berat, dapat terjadi gagal ginjal, pendarahan dalam, dan penurunan tekanan darah.

Varian Seoul virus (SEOV) menjadi yang paling sering ditemukan di Indonesia. Strain ini umumnya menyebabkan gejala sedang, namun tetap bisa berujung fatal jika tidak tertangani. Angka kematian akibat HFRS secara global berkisar antara 5–15%.

Sementara itu, HPS yang banyak ditemukan di Amerika, menyerang paru-paru. Gejala awalnya menyerupai flu: demam, nyeri otot, mual, dan lemas. Namun dalam waktu beberapa hari, penderita bisa mengalami sesak napas parah akibat paru-paru terisi cairan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS) menyebut sekitar 38% kasus HPS berujung pada kematian. CDC menulis bahwa pasien bisa merasakan sesak seolah “dada dikencangkan saat paru-paru terisi cairan.”

Walaupun kasus virus Hanta pada manusia di Indonesia belum banyak dilaporkan, keberadaan tikus pembawa virus di berbagai wilayah menunjukkan bahwa potensi penyebarannya nyata. Pencegahan pun menjadi kunci.

Beberapa langkah yang disarankan Kementerian Kesehatan adalah menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang pernah dilewati tikus, dan mengelola sampah dengan baik. Tak kalah penting, hindari menyentuh tikus secara langsung.

Virus Hanta mungkin belum masuk radar penyakit mematikan di Indonesia. Tapi jika dibiarkan tanpa pengendalian, tikus-tikus di sekitar kita bisa jadi pemicu wabah berikutnya.

Sejarah Virus Hanta Ditemukan Sejak 1913

Sejarah virus Hanta bermula bukan di laboratorium, melainkan di medan perang. Risalah Hantaviruses: History and Overview (2001) mencatat virus ini pertama kali diidentifikasi secara ilmiah pada era Perang Korea, awal 1950-an. Sekitar 3.000 tentara AS dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengalami gejala berat yang belum dikenali saat itu: demam tinggi, nyeri otot, pendarahan, hingga gagal ginjal.

Tentara Amerika saat Perang Korea. (Sumber: Getarchive)
Tentara Amerika saat Perang Korea. (Sumber: Getarchive)

Belakangan diketahui mereka mengidap HFRS, dan virus penyebabnya diberi nama Hantaan yang mengacu pada Sungai Hantaan di Korea, tempat virus tersebut pertama kali ditemukan.

Walau teridentifikasi di Perang Korea, jejak virus Hanta sebenarnya jauh lebih tua. Sejak 1913, catatan medis di Rusia timur sudah menggambarkan penyakit dengan gejala khas HFRS. “Field nephritis” yang menyerang tentara Sekutu dan Jerman di Flanders pada Perang Dunia I diduga kuat merupakan infeksi Hanta.

Pada dekade 1930-an, tentara Jepang di Manchuria dan tentara Finlandia serta Jerman di Perang Dunia II juga menghadapi penyakit serupa. Bahkan, ada pula dugaan literatur medis Tiongkok abad ke-10 yang boleh jadi menggambarkan bentuk awal penyakit ini.

Terlepas dari banyaknya laporan gejala serupa, virus Hantaan baru berhasil diisolasi pada 1976 dari tikus liar jenis Apodemus agrarius. Hewan ini menjadi reservoir alami, membawa virus tanpa menunjukkan gejala, dan menyebarkannya melalui urin dan feses. Pada 1993, muncul HPS yang menyerang paru-paru secara akut.

Perjalanan virus Hanta tidak berhenti di Asia. Pada 1993, dunia dikejutkan oleh kemunculan HPS yang menyerang paru-paru secara akut di AS. Serangkaian kematian mendadak di wilayah Four Corners akhirnya ditelusuri berasal dari kontak dengan tikus deer mouse. Ini menandai pergeseran perhatian ilmiah terhadap hantavirus dari penyakit ginjal ke infeksi paru mematikan.

Di Indonesia, risalah peneliti Kementerian Kesehatan menyebut keberadaan virus Hanta mulai ditelusuri sejak pertengahan 1980-an lewat survei tikus di pelabuhan Padang dan Semarang. Kasus HFRS pada manusia pertama kali dilaporkan di Yogyakarta pada 1989. Penelitian rumah sakit di Jakarta dan Makassar tahun 2004 menemukan beberapa pasien positif virus Seoul.

Hingga kini, hantavirus tetap menjadi zoonosis yang terlupakan meskipun nyata. Tikus-tikus yang selama ini dianggap hama biasa ternyata bisa membawa virus dengan sejarah panjang—dari perang dunia hingga gang tikus belakang rumah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)