Dari Bandung Kopi Purnama, Ke Hindia Ku Berkelana

4 menit baca
Bob Yanuar
Ditulis oleh Bob Yanuar diterbitkan
Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)

AYOBANDUNG.ID - Tak semua kedai kopi lahir dari strategi bisnis yang ribet. Ada yang hanya bermula dari racikan sederhana, meja kayu, dan semangat bertahan. Kopi Purnama, di sudut Jalan Alkateri No. 22, Kota Bandung, barangkali tidak pernah bercita-cita menjadi legenda. Tapi waktu dan kesetiaan pengunjunglah yang membuatnya demikian. Ia bukan sekadar kedai kopi, tapi penanda zaman yang masih bertahan meski dunia terus berubah.

Di tengah gelombang kedai kopi baru yang lahir dari algoritma media sosial dan interior Instagramable, Kopi Purnama berdiri tanpa pretensi. Bangunannya tidak tinggi, tidak berkilau, dan tidak pula terlalu ramai hiasan. Tapi justru di situlah letak pesonanya. Siapa pun yang masuk ke kedai ini seolah sedang melangkah mundur ke masa lalu—ke zaman ketika kopi bukan sekadar konten, melainkan teman ngobrol dan perenungan.

Kedai ini lahir pada 1930, tapi kisahnya dimulai lebih awal. Jong A Tong, seorang perantau Tionghoa dari Medan, sudah mulai merintis usaha kopi sejak 1927. Ia tak asing dengan dunia kuliner. Sebelum menjejak Bandung, ia sudah menjual kopi susu dan roti srikaya di tanah Sumatra.

Ketika tiba di Bandung, ia mendirikan kedai bernama Tjiang Shong Shi. Tiga tahun berselang, nama Kopi Purnama pun resmi dipakai. Entah kenapa ia memilih nama itu, yang jelas nama tersebut bertahan hingga hari ini—bahkan ketika pemiliknya sudah berpulang puluhan tahun lalu.

Di zaman Hindia Belanda, kedai ini cukup ramai. Bukan cuma orang Tionghoa yang nongkrong, tapi juga para bangsawan Belanda dan pedagang bermodal. Mungkin karena lokasinya yang strategis, atau karena kopi susunya yang punya rasa khas—tidak terlalu manis, tidak pula pahit mencolok.

Dari generasi ke generasi, Kopi Purnama tidak berubah banyak. Setelah Jong A Tong wafat, usaha ini diteruskan oleh putranya, Allen Josanna, pada 1947 persis dua tahun setelah Indonesia merdeka. Allen memegang kendali selama tiga dekade, lalu menyerahkan estafet kepada putrinya, Evy Josanna, pada 1977.

Di tangan Evy, Kopi Purnama tetap mempertahankan nilai-nilai lama, meski zaman sudah banyak bergeser. Ia tidak menambah banyak menu, tidak pula mengubah tampilan bangunan secara drastis. Ia tahu, pelanggan setia mereka datang justru karena kesederhanaan itu.

Kini, generasi keempat mengurus kedai ini. Namanya Aldi Yonas, lahir di zaman ketika kopi sudah dikemas dalam banyak istilah: cold brew, manual brew, single origin, dan sejenisnya. Tapi Aldi tidak latah mengikuti tren. Ia menyadari bahwa identitas Kopi Purnama justru terletak pada keasliannya.

"Bangunan tuanya masih ada dan masih sama," kata Aldi, kepada Ayobandung. Meski ada perluasan ruang non-smoking dan sedikit penyesuaian di bagian tengah, struktur asli tetap dipertahankan.

Ruang di kedai ini terbagi tiga: area depan, ruang merokok, dan non-smoking room. Kursi kayu, meja tua, dan dinding yang dihiasi foto-foto zaman kolonial membuat suasana di dalamnya terasa seperti museum kecil. Tapi ini bukan museum mati. Di sinilah kenangan dan obrolan terus diseduh, seperti kopi yang tak pernah dingin.

Sajian menu andalan mereka sejak dulu tetap jadi primadona: kopi susu, roti srikaya, roti mentega gula, dan nasi goreng Purnama. Semua bahan baku dibuat sendiri, termasuk selai srikaya-nya yang terkenal legit dan gurih. Tekstur rotinya lembut, disajikan hangat-hangat dan cocok jadi teman minum kopi di pagi atau sore hari.

Beberapa menu memang ditambah demi mengikuti zaman, tapi "menu yang dari dulu tetap kita pertahankan," ujar Aldi.

Bisnis lintas generasi bukan perkara enteng. Aldi mengaku tantangannya bukan cuma soal pesaing baru, tapi juga menjaga hubungan dengan pelanggan lama. “Banyak pelanggan yang sejak zaman ibu saya dulu, bahkan sejak zaman buyut saya, masih setia datang,” ujarnya. Mereka datang bukan untuk coba-coba, tapi karena Kopi Purnama sudah jadi bagian dari rutinitas, bahkan gaya hidup.

Dari semua tantangan yang pernah dihadapi, Aldi paling mengingat dua masa sulit: krisis moneter 1997 dan pandemi COVID-19. Saat krismon, ia masih anak-anak. Tapi ia ingat bagaimana ibunya bertahan dengan strategi sederhana namun telaten. Namun pandemi jauh lebih berat. Kedai sempat tutup selama dua hingga tiga bulan karena kebijakan social distancing. Untungnya, penjualan online menyelamatkan mereka.

Seiring waktu, nama Kopi Purnama makin dikenal luas. Tahun 2007, kedai ini jadi lokasi shooting film Love is Cinta, yang dibintangi Raffi Ahmad dan Acha Septriasa. Sejak saat itu, para artis berdatangan. Dari Ridwan Kamil, Hotman Paris, Jusuf Kalla, hingga Meriam Bellina—semua pernah singgah di kedai ini. Tapi jangan kira suasananya berubah menjadi mewah. Kopi Purnama tetap Kopi Purnama, apa adanya, setia dengan gaya lamanya.

Sayangnya, hingga kini bangunan kedai ini belum ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah Kota Bandung. Meski demikian, hal itu tak membuat Aldi kecil hati. Ia tahu, keaslian dan konsistensi sering kali lebih kuat dari sertifikat. Ia percaya bahwa kekuatan bisnis ini ada pada nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi—bukan hanya resep, tapi juga cara menghargai pelanggan dan sejarah.

"Setiap generasi harus belajar," kata Aldi, "tapi jangan pernah tinggalkan jati diri." Barangkali itulah filosofi Kopi Purnama. Mereka tak berusaha jadi yang paling modern, paling canggih, atau paling ramai. Mereka hanya ingin tetap ada, tetap setia pada yang dulu, tanpa menutup diri dari yang baru.

Dan di tengah hiruk-pikuk Bandung yang makin padat, Kopi Purnama tetap jadi oase yang menenangkan. Di sana, secangkir kopi tak cuma bicara tentang rasa, tapi juga tentang waktu yang terus berjalan, namun tak pernah benar-benar pergi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)