Sejarah Kuda Renggong Sumedang, Tradisi Pesta Khitanan Simbol Gembira Rakyat Priangan

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tradisi Kuda Renggong Sumedang. (Sumber: Skripsi Nurmala Mariam)
Tradisi Kuda Renggong Sumedang. (Sumber: Skripsi Nurmala Mariam)

AYOBANDUNG.ID - Kalau orang Sumedang punya hajatan, jangan kaget kalau ada kuda yang joget di tengah jalan. Itulah Kuda Renggong, hewan tunggangan yang naik pangkat jadi artis kampung. Dalam pesta khitanan, kuda ini lebih laku ketimbang organ tunggal.

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sumedang seperti yang diurai dalam studi Nurmala Mariam berjudul Perancangan Informasi Seni Kuda Renggong meneybutkan awalnya kesenian ini dikenal sebagai Kuda Igel. Artinya kuda yang menari. Nama Igel kemudian berubah menjadi Renggong. Dari situlah lahir nama yang dikenal sekarang.

Sejarahnya panjang. Di masa pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Suria Atmaja (1882–1919), yang populer dengan sebutan Pangeran Mekah, Sumedang memang sedang berbenah. Sang pangeran tak hanya membangun monumen Lingga di alun-alun, tapi juga sibuk mengurusi pertanian, perikanan, peternakan, hingga lingkungan. Berkat penghijauan pinus, jati, dan karet, Sumedang yang tadinya gersang kemudian hijau, sehingga di tahun 1960-an muncul julukan “Kota Buludru.

Dalam urusan peternakan, Pangeran Suria Atmaja mendatangkan kuda unggul dari Sumba dan Sumbawa. Jumlahnya pernah mencapai ratusan ekor. Dari situlah muncul ide: kenapa kuda tidak dijadikan hiburan rakyat saja?

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Sekitar 1910, di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, lahirlah legenda bernama Aki Sipan. Ia lahir tahun 1870 dan terkenal tekun melatih kuda. Dengan sabar, ia berhasil membuat kuda bisa mengangguk-angguk, mengangkat kaki, bahkan berbaris seperti penari.

Kuda pertama yang jadi muridnya adalah Si Cengek dan Si Dengkek. Mereka tampil bukan hanya gagah, tapi juga centil. Begitu iringan dog-dog dan angklung dimainkan, kuda ini langsung bergoyang. Tak heran, sejak itu Kuda Renggong jadi ritual wajib di acara khitanan.

Bayangkan, anak yang baru disunat dinaikkan ke atas Kuda Renggong, lengkap dengan pakaian tokoh wayang Gatotkaca, lalu diarak keliling kampung. Anak yang disunat beserta keluarganya merasa senang dan terhibur. Rasa ngilu habis disayat sedikit terobati karena bisa tampil bak pahlawan di atas kuda joget.

Catatan Kemendikbud menyebut pertunjukan biasanya semakin meriah ketika musik pengiring menabuh lagu-lagu seperti Kaleked, Mojang Geulis, Rayak-rayak, Bandung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, hingga Jisamsu. Panas matahari tak jadi soal, orang-orang tua, remaja, sampai anak-anak desa tetap ikut bergerak menari dan bersorak sorai. Sesekali kuda unjuk gigi dengan gerakan menari lebih atraktif, penonton pun berteriak kegirangan.

Kegiatan biasanya ditutup dengan lagu Pileuleuyan, lagu perpisahan yang bisa dibawakan secara instrumental atau dinyanyikan. Setelah itu, barulah digelar acara saweran: menaburkan uang logam dan beras putih. Bagian ini, tentu saja, yang paling ditunggu anak-anak desa.

Ilmu melatih kuda Ki Sipan ia wariskan ke anaknya, Ki Sukria, lalu diteruskan ke muridnya, Mamat. Dari tangan mereka, seni Kuda Renggong makin berkembang dan menyebar. Awalnya hanya di Buahdua, tapi lama-lama meluas ke berbagai kecamatan di Sumedang, bahkan keluar daerah.

Patung Kuda Renggong Samoja, Sumedang. (Sumber: Wikimedia)
Patung Kuda Renggong Samoja, Sumedang. (Sumber: Wikimedia)

Dari Khitanan Kampung Kampung ke Panggung Festival

Dulu, Kuda Renggong hanya tampil dalam arak-arakan khitanan. Kini, kesenian ini naik kelas: ada Festival Kuda Renggong. Setiap tahun, rombongan peserta dari berbagai desa dan kecamatan se-Sumedang dikumpulkan di titik awal, biasanya di jalan raya depan kantor bupati. Dari sana, mereka dilepas satu per satu mengelilingi rute yang sudah ditentukan panitia.

Baca Juga: Jejak Warisan Ong Bung Keng dalam Sejarah Kuliner Legendaris Tahu Sumedang

Di sepanjang jalan, juri yang sudah ditempatkan di titik-titik tertentu akan menilai. Jadi jangan kira ini cuma hiburan, tapi sudah ada unsur lomba resmi. Kreativitas tiap rombongan jadi taruhan. Ada yang menambah jumlah kuda, bahkan sampai empat ekor sekaligus. Pakaian anak sunat pun tak melulu Gatotkaca. Sekarang kadang diganti jadi putri ala Cinderella, lengkap dengan gaun ala dongeng Eropa.

Hiasan ataa asesoris kuda juga makin wah. Payet-payet keemasan, warna-warni mencolok, sampai payung kebesaran dipasang untuk memikat mata. Musik pun tidak lagi melulu kendang penca. Ada Bajidoran, Tanjidor, Dangdutan, bahkan lagu-lagu populer seperti Goyang Dombret atau Pemuda Idaman. Kuda joget pun menari mengikuti irama dangdut koplo.

Pertunjukan di festival jelas berbeda dengan arak-arakan desa. Kalau di kampung suasananya akrab dan sederhana, festival menghadirkan suasana kompetisi, penuh atraksi, dan lebih variatif. Tapi baik di desa maupun festival, satu hal tetap sama: Kuda Renggong selalu jadi pusat perhatian.

Kini, meski dunia sudah kenal TikTok, Sumedang tetap bangga punya influencer lokal dari kalangan kuda. Dari jalanan desa hingga panggung festival, Kuda Renggong masih menari, menjaga tradisi, dan menghibur rakyat. Boleh jadi, di tengah gempuran hiburan digital, seni rakyat inilah yang membuktikan bahwa joget bukan monopoli manusia—tapi juga kuda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)