Jejak Warisan Ong Bung Keng dalam Sejarah Kuliner Legendaris Tahu Sumedang

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Foto Keluarga Ong Bung Keng. (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)
Foto Keluarga Ong Bung Keng. (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)

AYOBANDUNG.ID - Segala hal besar kerap bermula dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Begitu pula kisah tahu goreng legendaris dari Sumedang, yang kini dikenal luas sebagai Tahu Bungkeng. Ia bukan lahir dari ambisi dagang besar, bukan pula dari resep warisan kerajaan, melainkan dari sebuah kebutuhan rumah tangga yang bersahaja—keinginan seorang istri akan makanan kampung halamannya.

Sekitar tahun 1900-an, seorang pria Tionghoa bernama Ong Ki No merantau ke Hindia Belanda. Ia datang bersama sang istri yang mengidamkan tao-fu, makanan khas kampung halaman mereka di Tiongkok. Tak ingin mengecewakan, Ong Ki No pun menjelajah pedalaman Sumedang untuk mencari bahan terbaik—kedelai. Perjalanannya membawanya ke Conggeang, sebuah wilayah yang menghasilkan kedelai lurik, mirip telur puyuh, yang kemudian menjadi bahan utama tahu buatannya.

Kisah Ong Ki No sebagai peletak dasar keberadaan tahu Sumedang ini diarsikan rapi buku Tahu Sejarah Tahu Sumedang terbitan LIPI (2021). Dengan kedelai lokal dan air jernih dari mata air Sumedang—terutama dari kawasan Cimalaka hingga Tanjungsari—Ong Ki No mulai membuat tahu rumahan. Tahu rebus putih itu awalnya hanya dibagikan saat hari raya untuk keluarga dan tetangga. Siapa sangka, sambutan masyarakat begitu hangat. Ong Ki No pun mencoba menjualnya. Sayang, tahu rebus tak mendapat tempat di lidah masyarakat lokal. Tahun 1917, ia dan istrinya memutuskan pulang ke Tiongkok.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Tapi, usaha itu tidak ikut pergi. Anaknya, Ong Bung Keng, meneruskan jejaknya, dengan pendekatan yang berbeda. Bung Keng mencoba menggoreng tahu putih. Hasilnya: tahu dengan kulit renyah, aroma menggoda, dan rasa gurih yang tak dimiliki tahu rebus. Inilah titik awal kelahiran tahu goreng Sumedang.

Tahun 1928 menjadi titik balik. Saat itu, Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Sumedang, kebetulan melintasi gerobak tahu milik Bung Keng. Ia turun, mencicipi, dan berujar, “Makanan ini enak. Kalau dijual terus, pasti laku.” Bagi masyarakat Sunda, ucapan tokoh saleh adalah doa: saciduh metu, saucap nyata. Dari situlah, tahu Sumedang mulai mencuri perhatian. Nama Bung Keng pun melekat sebagai merek: Tahu Bungkeng.

Produksi tahu kala itu masih terbatas—sekitar 1.000 potong per hari, dengan ukuran 5x5 cm. Harga satu potong hanya 3 peser. Pada akhir 1930-an, tahu Bungkeng mulai dijajakan keliling. Namun hingga Indonesia merdeka, skala usahanya belum terlalu besar. Baru setelah itu, masyarakat pribumi mulai ikut berjualan tahu. Salah satunya adalah Epen Oyib, pendiri Tahu Saribumi, yang sempat bekerja di pabrik tahu milik Tionghoa sebelum membuka usaha sendiri di tahun 1960-an.

Lima Generasi Penjaga Rasa Tahu Bungkeng

Cerita tahu Bungkeng tak berhenti di Ong Bung Keng. Usaha ini turun ke Ong Yu Kim, lalu ke generasi keempat: Suryadi, dan kini berpindah ke anaknya yang merupakan generasi kelima. Pngakuan Suryadi, ia meneruskan usaha keluarga bukan dengan ekspansi besar-besaran, tapi dengan ketekunan yang sama seperti leluhurnya. Warung tahu Bungkeng di Jalan 11 April Nomor 53 tak berubah banyak. Langit-langit hitam karena asap, lantai berubin lawas, dan bau tahu goreng yang khas masih setia menyambut pelanggan.

Suryadi mulai menata ulang merek sejak 1995. Ia membuat logo, tagline, dan membuka dua cabang di Jalan Mayor Abdurachman, agar lebih mudah diakses. “Kalau diam di satu tempat aja, susah,” katanya. Meski begitu, prinsipnya tetap: tahu ini tidak mengejar pasar, melainkan menunggu bola. Produksi tahu pun masih berkisar 3.000–5.000 potong per hari. Kalau Lebaran? Bisa 50.000. Tapi hanya sesekali.

Pusat Tahu Bungkeng Jalan 11 April 53. (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)
Pusat Tahu Bungkeng Jalan 11 April 53. (Sumber: Tahu Sejarah Tahu Sumedang)

“Iya, hampir 90 persen nunggu bola. Masih stabil kok,” ujar Suryadi santai, duduk bersila di kursi rotan, dikelilingi keranjang-keranjang bongsang berisi tahu hangat.

Suryadi paham bahwa dunia berubah. Maka ia pelan-pelan mengadopsi mesin semi-otomatis, mengganti bahan bakar dari minyak tanah ke solar dan uap, dan mulai memakai kemasan mika dengan logo. Namun, cita rasa tetap dijaga. Tidak ada bahan pengawet. Tahu tetap digoreng di tempat, dinikmati saat panas, ditemani cengek. “Tahu dingin? Bukan Tahu Bungkeng lagi namanya,” katanya.

Baca Juga: Sejarah Tahu Sumedang, Warisan Cita Rasa Tionghoa hingga Era Cisumdawu

Pelanggan tahu Bungkeng pun unik. Rata-rata mereka berusia 45 tahun ke atas, datang bukan untuk pamer di media sosial, tapi membawa oleh-oleh dan kenangan. Mereka mengenang masa kecil, mengenang masa Sumedang belum seramai sekarang. Mereka bukan sekadar pembeli, tapi penjaga rasa.

Ketika banyak pengusaha tahu lain ekspansi ke Jakarta atau membuka franchise di mal, Tahu Bungkeng tetap hanya ada di Sumedang. “Banyak cabang kalau kualitasnya enggak sama, repot. Kualitas dulu baru kuantitas,” kata Suryadi, tetap memegang prinsip leluhurnya.

Ia juga tidak percaya dengan kisah pengusaha tahu yang bisa produksi 10 ribu potong sendiri dalam sehari. “Sendiri, cuci, giling, goreng? Besoknya sakit!” ujarnya sambil tertawa.

Tahu, bagi keluarga Bungkeng, bukan sekadar bisnis. Ini adalah soal harga diri, soal menjaga marwah keluarga. Dulu, tahu Sumedang hanya disantap oleh kalangan Tionghoa. Kini, semua orang bisa menikmatinya. Tapi tak semua tahu, bahwa jejak awalnya ada di Bungkeng.

“Saya? Enggak minat jemput bola. Sama kakek saya juga enggak boleh,” ujar Suryadi, menutup pembicaraan dengan senyum tipis. Tahu Bungkeng bukan sekadar tahu. Ia adalah sejarah hidup, yang digoreng setiap hari dengan sabar dan sepenuh hati.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)