Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Penjual peuyeum Bandung yang sudah mulai langka. (Sumber: Ayobandung)
Penjual peuyeum Bandung yang sudah mulai langka. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Hari ini, peuyeum makin jarang tampak di warung atau terminal. Di pasar tradisional, jumlah penjualnya menyusut. Sementara di benak generasi muda, nama peuyeum kalah gaul dibanding boba atau mozarella. Padahal, camilan hasil fermentasi singkong ini bukan makanan sembarangan. Peuyeum punya sejarah yang membentang jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara. Ia tumbuh bersama kebudayaan Sunda, mengakar dalam kehidupan sosial, bahkan tercatat dalam peristiwa-peristiwa penting sepanjang sejarah Tatar Priangan.

Peuyeum, atau tapai singkong, merupakan pangan fermentasi tradisional berbahan dasar singkong yang dikenal luas sebagai “Peuyeum Bandung”—meski asal-muasalnya melampaui batas administratif kota itu sendiri. Nama "peuyeum" berasal dari kata meuyeum dalam bahasa Sunda, yang berarti memeram atau mematangkan. Nama ini bukan sekadar istilah dapur; ia merekam pengetahuan leluhur tentang teknik penyimpanan, pelestarian, dan pengolahan bahan makanan sebelum teknologi pendingin dan pengawet buatan dikenal.

Dari Ladang Dalem Bandung hingga Sentra Citatah

Jejak historis peuyeum bisa dilacak hingga masa pemerintahan R.A.A. Martanagara (1893–1918), Bupati Bandung yang dikenal sebagai tokoh modernisasi pertanian. Dosen Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie, Laras Cempaka, dalam risalahnya di Journal of Ethnic Foods (2021) mengurai bahwa pada masa itu, singkong mulai ditanam secara luas di wilayah Priangan bukan untuk peuyeum, melainkan untuk diolah menjadi aci (tepung tapioka) yang diekspor ke Belanda.

Tapi, di kalangan rakyat, singkong diolah menjadi peuyeum untuk konsumsi sehari-hari. Praktik ini menyebar dari kampung ke kampung, menjadi bagian dari cara hidup orang Sunda—bukan hanya karena nilai gizinya, tetapi juga karena fungsinya sebagai pangan simpan yang murah, praktis, dan mengenyangkan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Dodol Garut, Warisan Kuliner Tradisional Sejak Zaman Kolonial

Seiring waktu, sejumlah wilayah berkembang menjadi sentra produksi peuyeum. Desa Citatah di Kabupaten Bandung Barat, misalnya, sudah dikenal sejak tahun 1980 sebagai penghasil peuyeum unggulan. Warga setempat menyebut bahwa peuyeum pertama kali diperkenalkan oleh seorang perantau dari Bendul, Purwakarta, yang mencari nafkah di tanah Citatah.

Di kemudian hari, daerah seperti Cimenyan juga menjadi titik penting dalam distribusi peuyeum, menjual hasil fermentasi mereka ke berbagai pelosok Jawa Barat.

Penyebaran peuyeum juga tercermin dalam budaya lisan. Dalam pupuh Sunda—sastra tradisional dalam bentuk puisi—terdapat bait yang menyebut “pupuh magatru peuyeum sampeu”, yang mengacu pada pembungkus peuyeum dari daun jati. Kalimat sederhana itu membuktikan bahwa peuyeum bukan hanya makanan, tetapi sudah masuk ke ranah simbolik dan estetika masyarakat Sunda.

Tape Bendul Purwakarta (Sumber: Ayobandung)
Tape Bendul Purwakarta (Sumber: Ayobandung)

Santapan Pejuang, Simbol Solidaritas

Peuyeum juga punya tempat dalam sejarah perjuangan Indonesia. Pada masa kolonial dan revolusi fisik, para pemuda yang tergabung dalam Tentara Rakyat membawa bekal peuyeum ketika bergerilya. Selain tahan lama, peuyeum ringan dibawa dan cukup mengenyangkan. Dalam kondisi terdesak, ia menjadi sumber energi sekaligus pengingat rumah.

Tapi, ada pula sisi yang kontras. Di kalangan tentara dan aktivis saat itu, peuyeum sempat dijadikan sindiran. Mereka menyebut pemuda-pemuda yang lemah semangat sebagai "peuyeum"—lembek dan tak berdaya menghadapi musuh.

Kendati demikian, makna solidaritas tetap lebih dominan. Makan peuyeum bersama menjadi bentuk kebersamaan. Bahkan hingga kini, bagi perantau Sunda, menerima peuyeum dari sesama dianggap sebagai tanda persaudaraan. Dalam satu potong peuyeum, tersimpan semacam "rasa pulang". Ia bukan sekadar oleh-oleh, tapi pengikat batin.

Baca Juga: Peuyeum Bandung Sudah Jadi Barang Langka, Padahal Dulu Sangat Berjaya

Seperti ditulis Laras, "makanan tidak memiliki makna jika tidak dilihat dalam konteks budaya atau jaringan interaksi sosialnya." Peuyeum, dalam hal ini, adalah medium untuk memperkuat ikatan sosial. Ia menjadi pengingat identitas kolektif, penghubung antara individu dan komunitas, bahkan menjadi simbol rumah bagi mereka yang berada jauh dari tanah kelahiran.

Warisan Fermentasi, Sampai Kapan Bertahan?

Walaupun tidak dibakukan dalam laboratorium, proses pembuatan peuyeum di masyarakat sebenarnya mengandung prinsip ilmiah yang kompleks. Singkong dikupas, dicuci, lalu direbus setengah matang agar teksturnya lunak. Setelah dikeringkan, singkong diberi ragi, starter fermentasi yang terdiri dari kombinasi jamur, ragi, dan bakteri. Ia lalu dibungkus rapat dan didiamkan selama 48 hingga 72 jam.

Proses pembuatan peuyeum terjadi tanpa perlu udara. Singkong yang sudah dikukus lalu dibungkus dan dibiarkan selama beberapa hari. Dalam keheningan itu, mikroorganisme alami mulai bekerja: membuat singkong jadi lembut, manis, sedikit asam, dan beraroma khas.

Rasanya pun berubah perlahan. Awalnya hanya manis, lalu muncul rasa hangat seperti tape, dengan aroma yang tajam tapi menggoda. Teksturnya juga ikut berubah jadi lebih lembek, tapi tidak hancur.

Secara garis besar, ada empat tahap yang terjadi selama fermentasi: pertama, pati dari singkong dipecah menjadi gula; kedua, gula diubah menjadi alkohol; ketiga, alkohol ini berubah jadi asam; dan keempat, terbentuklah ester yang memberi cita rasa khas peuyeum.

Semua proses ini sudah dikenal sejak lama. Masyarakat Sunda dulu tidak butuh laboratorium untuk tahu kapan peuyeum sudah jadi. Mereka hanya perlu mencium baunya, merasakan teksturnya, atau sekadar mengandalkan pengalaman yang diwariskan dari ibu ke anak, dari generasi ke generasi.

Ironisnya, warisan fermentasi tradisi itu kini dihadapkan pada situasi kritis ihwal senjakala eksistensinya. Zaman berubah, selera ikut berpindah: seolah ada ketegangan antara tradisi dan modernisasi yang sukut ditengahi. Peyeum masih dibuat dengan fermentasi ala warisan tradisi, tapi sampai kapan dia akan awet dalam gerakan zaman?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)