Kita dan Bandung: Kebuntuan Kota yang Katanya Maju

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Sejumlah pengunjung bermain di Taman Alun-Alun Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung bermain di Taman Alun-Alun Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hati selalu merasa terganggu setiap kali lihat pengamen, pemulung, pedagang, atau anak-anak jalanan yang berteduh di kolong Jembatan Layang Pasupati. Gelisah, tampaknya kumuh mencoreng citra Bandung yang estetik. Ojol yang kita tumpangi terus berjalan, driver bertanya “Asli Bandung Kak?” ”Enggak, lagi kuliah”. Rasanya pede langsung naik gengsi.

Perjalanan terus maju, kita mau ke mall yang ada di Bandung Timur, di antara stasiun kereta cepat Whoosh, GBLA, perumahan elit, dan Majid Al-Jabbar. Pilihan tempat main baru. Senang apalagi bawa hp yang enggak malu-maluin, boba. Banyak bahan konten yang bisa kita posting di media sosial nanti, ruang kebebasan generasi kita. Semoga dunia banyak yang tahu bahwa kita selalu seru-seruan di kota ini.

WEIRD adalah kacamata kita, Western, Educated, Industrialized, Rich, dan Democratic. Yang jadi alasan buat membanding-bandingkan kampung halaman sendiri sebagai tempat yang terbelakang ketimbang kota besar. Yang jadi alasan buat menilai orang tua sendiri kampungan, gaptek, dan percaya mitos takhayul. Balik dari tongkrongan atau kampus di Bandung, kita berlaga sok iya kasih testimoni kalau makanan di sepanjang Jalan Riau itu lebih kekinian.

Di acara reunian pun begitu, kita juga bilang kalau sekolah tinggi itu lebih keren nanti punya ijazah buat dapat kerja kantoran.

Jauh-jauh ke Bandung

Alun-alun Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)
Alun-alun Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)

Di antara dunia malam yang gemerlap, di antara distro dan toko baju-sepatu, di antara FOMO aplikasi performa rute lari, padel, serta billiard kita menyangkali keadaan. Kosan yang berantakan, bungkus-bungkus mi instan, tagihan pinjol, dan alasan uniko (usaha nipu kolot) yang selalu ada, tertutup lebih rapat dari feed kita sendiri.

Kita begitu sibuk mengatur filter sampai lupa pada mereka yang di rumah, yang lagi mati-matian mengumpulkan poin-poin untuk transferan di bulan yang baru. Ramen, dimsum, dan smoothies adalah jatah makan malam emak bapak yang sengaja dilewatkan.

Wisuda sudah digelar, saatnya lanyard menggantung di leher. Sekarang kita punya BPKB atas nama sendiri. Bolehlah tiap bulan healing atau staycation, itung-itung perayaan sambil menyisir Ciwidey di Selatan dan Lembang di Utara. Tentu ini taruhan yang tak boleh terkalahkan.

Kita harus makin rajin berkabar pada kanca dunia maya, misal lewat jepretan plating dan garnish atau dengan konten yang memberi tahu kita lagi di bioskop. Ingatlah fone dan angle-nya jangan terlihat norak. Sesekali kita berbagai riwayat pemutaran lagu yang lagi hits di antara barudak Bandung. Pun diselingi foto quote puitis dari buku yang sedang ramai diulas di thread, penting juga sebagai tanda kita melek literasi, well-educated. 

Tidak ada yang salah. Semua orang suka atau paling tidak iri. Orang tua pun tidak merasa rugi yang ada malah bangga, lunas, sekarang kita bisa dibandingkan dengan anak bibi. Apalagi buat mereka yang tinggal di kampung, yang masih bergelut dengan keringat dan lumpur. Rasanya kita jauh lebih terpandang dan punya masa depan yang jelas. Makin kuatlah Bandung dijadikan bahan bual-bualan tentang kita.

Akhirnya standar hidup yang kita perjuangkan sebagai mimpi banyak orang, kepalang tanggung melindas mereka yang menjadi bagian dari dunia kita. Saudara, tetangga, teman, termasuk mereka yang terima gaji pas-pasan rusak terpapar tuntutan kemajuan. Satu sama lain berlomba-lomba mengejar martabat soal imaji orang yang berada dan beradab.

Kedengkian ini menular dengan cepat, melahap semua pihak yang kemaruk validasi. Ada yang berhutang, ada yang nekat, persis seperti kita zaman kuliah dulu. Begitu menyakitkan, mereka yang lugu kini berubah jadi pecandu ilusi kota.  

Jurang di Tengah Kota

Jalan Braga tidak hanya menjadi saksi bisu kemegahan masa lalu, tapi juga rumah bagi seniman jalanan yang menantang arus zaman lewat goresan kanvas. (Sumber: Ayobandung.id)
Jalan Braga tidak hanya menjadi saksi bisu kemegahan masa lalu, tapi juga rumah bagi seniman jalanan yang menantang arus zaman lewat goresan kanvas. (Sumber: Ayobandung.id)

Jauh di dalam batin, kita yang menghirup angin kota, terpogoh-pogoh mengejar kompetisi soal CV, portofolio dan kunci kendaraan yang bisa diletakkan di atas meja tongkrongan. Ternyata tidak ada garis finish, ritmenya mengikuti takdir industri yang menuntut kita agar selalu produktif.

Side hustle, layanan kesehatan mental, bonus proyekan, keranjang check-out, tabungan, traktiran pacar, dan gaya hidup saling berdesak-desakan. Waktu tak kenal belas kasih jadi tunggakan dan tagihan yang diuangkan.

Dalam lamunan memori otentik hadir dengan gratis, merekam suasana gang dan lapangan. Tapi sekarang suasana serupa harus ditebus dengan kopi susu gula aren. Koneksi WIFI dan laptop yang sengaja dibuka jadi gimmick menutup sepi.

Di balik citylight Bandung yang menyala dari ketinggian Cartil, kita masih mengenang ironi soal TPA Sarimukti yang terbakar pada Agustus 2023. Akibatnya sudut-sudut kota yang jadi tumpuan kita itu digenangi lumpur, bau busuk, dan lalat-lalat. Begitu juga baru teringat tentang banjir yang berulang-ulang menggenangi Dayeuhkolot, menghambat laju orang sibuk yang pulang pergi bersekolah dan bekerja dari pinggiran ke pusat peradaban.

Dipikir-pikir kita juga selalu punya ketakutan yang enggak terungkap, jadi penghuni Bandung yang bisa saja masuk konten Tim Prabu atau jadi korban pembegalan di jalan besar Soekarno-Hatta.

Kian menebal lompat silih berganti, modernitas disadari menyisakan paradoks kebuntuan. Bandung boleh saja punya kampus-kampus kenamaan, berbagai organisasi sipil, para politisi hebat, termasuk pengusaha dan industrinya. Tapi apa artinya kemajuan jika bak sampah terus penuh ditimbun dari tahun ke tahun? Juga air keruh, sensasi, dan kriminalitas. Semua seiring sejalan dengan pesonanya yang ciamik. Lagi pula kita ada di tengah-tengahnya.

Bandung heurin ku tangtung, begitu kata leluhur yang diwariskan dari mulut ke mulut. Jika tangtung itu artinya diri, maka kita ada di antara kerumunan orang yang hidup di sana. Tapi jangankan berharap memecah masalah, justru keberadaan kita turut serta membuat ulah. Jika tangtung itu artinya angan, maka kita menaruhnya di tempat itu. Tapi mimpi kita lebih seperti racun yang membunuh kota ini, silau dalam pertaruhan harga diri yang kian parah.

Dua abad lebih usianya kini, Bandung memanggul beban kita semua. Garis kolonial yang dulu membelah utara dan selatan masih saja hidup, menjiplak di pikiran kita, memperlebar jurang kelas yang makin dalam. Jurang itu terlihat jelas di sekitar Taman Maluku dalam wajah-wajah tunawisma dan kita yang berkeliling naik vespa. Juga di atas trotoar yang hilang, jadi ajang rebutan di antara pengendara motor, pedagang kaki lima, pejalan kaki, dan orang dengan disabilitas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)