Resolusi untuk Bandung 2026: Kota yang Bergerak Gagap dan Miskin Imajinasi

5 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Ketika warga hendak berkunjung ke  Kebun Binatang Bandung terhadang gerbang yang ditutup. Beberapa waktu lalu (Foto: Masgal)
Ketika warga hendak berkunjung ke Kebun Binatang Bandung terhadang gerbang yang ditutup. Beberapa waktu lalu (Foto: Masgal)

Kota yang bergerak, miskin imajinasi - dan dari sanalah persoalan Bandung hari ini bermula. Bukan karena kota ini kekurangan aktivitas, melainkan karena ia kekurangan keberanian untuk membayangkan arah dan makna dari setiap gerak pembangunan. Bandung tampak sibuk bekerja, penuh agenda, proyek, dan slogan, namun kegagapan justru terlihat jelas ketika kota diuji oleh persoalan etika kekuasaan, keadilan ruang, dan keberpihakan pada warganya sendiri.

Setiap pergantian tahun, Bandung kembali dibingkai oleh harapan. Kota yang lebih tertib, ruang publik yang nyaman, lingkungan yang lestari, serta kehidupan sosial yang lebih manusiawi. Namun harapan itu kerap berhadapan dengan kenyataan yang tidak sepenuhnya sejalan. Dalam pengalaman keseharian warga, Bandung hari ini terasa aktif tetapi tidak selalu terasa hadir. Kota bergerak, tetapi seolah belum tahu ke mana ia sedang diarahkan.

Beberapa waktu terakhir, publik Bandung dikejutkan - dan bagi warga, juga begitu memalukan - oleh kabar pemeriksaan Wakil Wali Kota dan sejumlah jajaran pejabat Pemerintah Kota Bandung. Terlepas dari proses hukum yang berjalan dan asas praduga tak bersalah yang wajib dijunjung, peristiwa ini seharusnya tidak dibaca sebagai kasus personal semata. Ia adalah cermin retak tata kelola, penanda bahwa sistem pengawasan, transparansi, dan budaya etis dalam birokrasi masih rapuh.

Masalahnya bukan semata soal siapa yang diperiksa, melainkan bagaimana kota ini selama ini dikelola. Dalam iklim pemerintahan yang miskin imajinasi etis, kekuasaan mudah terjebak pada rutinitas administratif: laporan selesai, proyek berjalan, anggaran terserap - sementara integritas dianggap urusan belakangan. Ketika indikator keberhasilan direduksi menjadi angka dan serapan, ruang untuk refleksi moral dan koreksi publik semakin menyempit.

Kota yang berimajinasi dangkal akan selalu gagap menghadapi krisis kepercayaan. Alih-alih menjadikan peristiwa semacam ini sebagai momentum pembenahan sistemik, kita sering kali terjebak pada upaya meredam isu dan menormalisasi keadaan. Padahal, masa depan Bandung justru ditentukan oleh kesediaan pemerintah kota untuk membuka diri terhadap kritik warga, memperkuat mekanisme pengawasan, dan membangun budaya akuntabilitas yang tidak bergantung pada figur, melainkan pada sistem yang kokoh dan transparan.

Kegagapan arah ini juga tampak dalam wajah pembangunan kota sehari-hari. Bandung sering disebut penuh agenda dan proyek, tetapi dalam praktiknya banyak yang tidak benar-benar membumi. Festival kebudayaan, misalnya, kerap hadir sebagai jargon promosi ketimbang proses kebudayaan yang hidup dan berkelanjutan. Slogan pembangunan tidak menjelma praktik, proyek berjalan tanpa visi jangka panjang yang jelas, dan ruang publik masih jauh dari kata ramah. Yang terasa justru ketidaksinkronan antara rencana dan realitas.

Kegagapan ini berakar pada cara berpikir pembangunan yang terlalu menekankan kesibukan kerja dan capaian administratif. Kota bekerja keras, tetapi enggan berhenti sejenak untuk berpikir. Tenaga dihitung sebagai nilai, sementara pikiran - termasuk kritik dan gagasan, refleksi, dan kehati-hatian moral - sering dianggap memperlambat. Akibatnya, persoalan struktural seperti banjir, kemacetan, dan ketimpangan ruang ditangani secara reaktif dan tambal sulam, tanpa keberanian menyentuh akar masalah.

Cara pandang semacam ini berdampak langsung pada soal keberpihakan. Kelompok yang paling mudah terpinggirkan adalah mereka yang tidak dianggap “standar” dalam perencanaan kota. Difabel dan kelompok rentan lainnya masih harus berhadapan dengan trotoar yang tidak manusiawi, transportasi publik yang minim akses, serta fasilitas umum yang mengabaikan prinsip desain universal. Aksesibilitas masih diposisikan sebagai tambahan, bukan sebagai hak dasar warga kota.

Difabel sering kali hadir dalam dokumen kebijakan, tetapi absen dalam praktik. Kota masih dibayangkan untuk tubuh yang dianggap “normal”, ritme yang “produktif”, dan mobilitas yang “cepat”. Mereka yang memiliki kemampuan berbeda dipaksa menyesuaikan diri, atau secara perlahan disingkirkan melalui desain ruang yang tidak ramah. Ini bukan semata persoalan teknis atau anggaran, melainkan persoalan cara berpikir dan keberanian untuk berpihak.

Kota yang miskin imajinasi sosial akan selalu gagal memahami bahwa keadilan bukan soal perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang setara. Bandung seharusnya tidak hanya ramah bagi wisatawan atau investor, tetapi juga aman dan layak bagi setiap warganya - tanpa kecuali. Ketika difabel tidak dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, kota sejatinya sedang merancang ketimpangan secara sadar.

Ketika kota terlalu sibuk mengejar citra dan kinerja jangka pendek, ruang untuk integritas dan keberpihakan justru semakin menyempit. Dampaknya bukan hanya pada birokrasi, tetapi pada warga yang setiap hari harus beradaptasi dengan kota yang tidak ramah dan tidak adil. Kota yang gagal mendengar kritik, menunda inklusivitas, dan menormalisasi kegagapan tata kelola, sejatinya sedang menjauh dari warganya sendiri.

Dua persoalan utama - rapuhnya tata kelola dan minimnya inklusivitas - sesungguhnya berakar pada hal yang sama: absennya imajinasi moral dalam pembangunan. Kota bergerak cepat, tetapi enggan bertanya ke mana arah gerak itu. Kota sibuk bekerja, tetapi alergi terhadap pertanyaan kritis. Pikiran dianggap terlalu banyak tanya, sementara kepatuhan dan kesibukan dipuja sebagai ukuran kinerja.

Karena itu, resolusi untuk Bandung 2026 tidak boleh dipahami sekadar sebagai daftar program baru atau janji pembangunan tambahan. Resolusi harus dimaknai sebagai keputusan untuk berani berpihak. Berpihak pada tata kelola yang bersih dan transparan, pada ruang kota yang adil dan inklusif, serta pada keberanian menjadikan kritik sebagai bagian dari mekanisme koreksi, bukan sebagai ancaman.

Baca Juga: Resolusi Kota Bandung 2026 : Membangkitkan Industri Furnitur dan Kriya Kayu

Bandung perlu membayangkan ulang dirinya sendiri: sebagai ruang hidup yang dapat diawasi, dipertanyakan, dan dikoreksi oleh warganya; serta sebagai ruang bersama yang dirancang untuk keberagaman kemampuan, kondisi sosial, dan latar belakang. Kota yang berpikir adalah kota yang mau belajar dari kesalahannya sendiri - baik dari kebijakan yang gagal, ruang yang timpang, maupun kasus-kasus yang kini menjadi sorotan publik.

Bandung tidak membutuhkan lebih banyak slogan atau kesibukan semu. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperlambat langkah sejenak, menata ulang cara berpikir, dan memastikan bahwa pembangunan berjalan dengan arah yang jelas, empati yang nyata, dan integritas yang terjaga. Tanpa imajinasi etis dan sosial, Bandung akan terus bergerak - namun kehilangan arah. Dan kota yang terus bergerak tanpa arah, pada akhirnya, hanya akan meninggalkan jejak kelelahan, bukan kemajuan yang bermakna. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)