Resolusi untuk Bandung 2026: Kota yang Bergerak Gagap dan Miskin Imajinasi

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Kamis 01 Jan 2026, 10:25 WIB
Ketika warga hendak berkunjung ke  Kebun Binatang Bandung terhadang gerbang yang ditutup. Beberapa waktu lalu (Foto: Masgal)

Ketika warga hendak berkunjung ke Kebun Binatang Bandung terhadang gerbang yang ditutup. Beberapa waktu lalu (Foto: Masgal)

Kota yang bergerak, miskin imajinasi - dan dari sanalah persoalan Bandung hari ini bermula. Bukan karena kota ini kekurangan aktivitas, melainkan karena ia kekurangan keberanian untuk membayangkan arah dan makna dari setiap gerak pembangunan. Bandung tampak sibuk bekerja, penuh agenda, proyek, dan slogan, namun kegagapan justru terlihat jelas ketika kota diuji oleh persoalan etika kekuasaan, keadilan ruang, dan keberpihakan pada warganya sendiri.

Setiap pergantian tahun, Bandung kembali dibingkai oleh harapan. Kota yang lebih tertib, ruang publik yang nyaman, lingkungan yang lestari, serta kehidupan sosial yang lebih manusiawi. Namun harapan itu kerap berhadapan dengan kenyataan yang tidak sepenuhnya sejalan. Dalam pengalaman keseharian warga, Bandung hari ini terasa aktif tetapi tidak selalu terasa hadir. Kota bergerak, tetapi seolah belum tahu ke mana ia sedang diarahkan.

Beberapa waktu terakhir, publik Bandung dikejutkan - dan bagi warga, juga begitu memalukan - oleh kabar pemeriksaan Wakil Wali Kota dan sejumlah jajaran pejabat Pemerintah Kota Bandung. Terlepas dari proses hukum yang berjalan dan asas praduga tak bersalah yang wajib dijunjung, peristiwa ini seharusnya tidak dibaca sebagai kasus personal semata. Ia adalah cermin retak tata kelola, penanda bahwa sistem pengawasan, transparansi, dan budaya etis dalam birokrasi masih rapuh.

Masalahnya bukan semata soal siapa yang diperiksa, melainkan bagaimana kota ini selama ini dikelola. Dalam iklim pemerintahan yang miskin imajinasi etis, kekuasaan mudah terjebak pada rutinitas administratif: laporan selesai, proyek berjalan, anggaran terserap - sementara integritas dianggap urusan belakangan. Ketika indikator keberhasilan direduksi menjadi angka dan serapan, ruang untuk refleksi moral dan koreksi publik semakin menyempit.

Kota yang berimajinasi dangkal akan selalu gagap menghadapi krisis kepercayaan. Alih-alih menjadikan peristiwa semacam ini sebagai momentum pembenahan sistemik, kita sering kali terjebak pada upaya meredam isu dan menormalisasi keadaan. Padahal, masa depan Bandung justru ditentukan oleh kesediaan pemerintah kota untuk membuka diri terhadap kritik warga, memperkuat mekanisme pengawasan, dan membangun budaya akuntabilitas yang tidak bergantung pada figur, melainkan pada sistem yang kokoh dan transparan.

Kegagapan arah ini juga tampak dalam wajah pembangunan kota sehari-hari. Bandung sering disebut penuh agenda dan proyek, tetapi dalam praktiknya banyak yang tidak benar-benar membumi. Festival kebudayaan, misalnya, kerap hadir sebagai jargon promosi ketimbang proses kebudayaan yang hidup dan berkelanjutan. Slogan pembangunan tidak menjelma praktik, proyek berjalan tanpa visi jangka panjang yang jelas, dan ruang publik masih jauh dari kata ramah. Yang terasa justru ketidaksinkronan antara rencana dan realitas.

Kegagapan ini berakar pada cara berpikir pembangunan yang terlalu menekankan kesibukan kerja dan capaian administratif. Kota bekerja keras, tetapi enggan berhenti sejenak untuk berpikir. Tenaga dihitung sebagai nilai, sementara pikiran - termasuk kritik dan gagasan, refleksi, dan kehati-hatian moral - sering dianggap memperlambat. Akibatnya, persoalan struktural seperti banjir, kemacetan, dan ketimpangan ruang ditangani secara reaktif dan tambal sulam, tanpa keberanian menyentuh akar masalah.

Cara pandang semacam ini berdampak langsung pada soal keberpihakan. Kelompok yang paling mudah terpinggirkan adalah mereka yang tidak dianggap “standar” dalam perencanaan kota. Difabel dan kelompok rentan lainnya masih harus berhadapan dengan trotoar yang tidak manusiawi, transportasi publik yang minim akses, serta fasilitas umum yang mengabaikan prinsip desain universal. Aksesibilitas masih diposisikan sebagai tambahan, bukan sebagai hak dasar warga kota.

Difabel sering kali hadir dalam dokumen kebijakan, tetapi absen dalam praktik. Kota masih dibayangkan untuk tubuh yang dianggap “normal”, ritme yang “produktif”, dan mobilitas yang “cepat”. Mereka yang memiliki kemampuan berbeda dipaksa menyesuaikan diri, atau secara perlahan disingkirkan melalui desain ruang yang tidak ramah. Ini bukan semata persoalan teknis atau anggaran, melainkan persoalan cara berpikir dan keberanian untuk berpihak.

Kota yang miskin imajinasi sosial akan selalu gagal memahami bahwa keadilan bukan soal perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang setara. Bandung seharusnya tidak hanya ramah bagi wisatawan atau investor, tetapi juga aman dan layak bagi setiap warganya - tanpa kecuali. Ketika difabel tidak dilibatkan sejak awal dalam perencanaan, kota sejatinya sedang merancang ketimpangan secara sadar.

Ketika kota terlalu sibuk mengejar citra dan kinerja jangka pendek, ruang untuk integritas dan keberpihakan justru semakin menyempit. Dampaknya bukan hanya pada birokrasi, tetapi pada warga yang setiap hari harus beradaptasi dengan kota yang tidak ramah dan tidak adil. Kota yang gagal mendengar kritik, menunda inklusivitas, dan menormalisasi kegagapan tata kelola, sejatinya sedang menjauh dari warganya sendiri.

Dua persoalan utama - rapuhnya tata kelola dan minimnya inklusivitas - sesungguhnya berakar pada hal yang sama: absennya imajinasi moral dalam pembangunan. Kota bergerak cepat, tetapi enggan bertanya ke mana arah gerak itu. Kota sibuk bekerja, tetapi alergi terhadap pertanyaan kritis. Pikiran dianggap terlalu banyak tanya, sementara kepatuhan dan kesibukan dipuja sebagai ukuran kinerja.

Karena itu, resolusi untuk Bandung 2026 tidak boleh dipahami sekadar sebagai daftar program baru atau janji pembangunan tambahan. Resolusi harus dimaknai sebagai keputusan untuk berani berpihak. Berpihak pada tata kelola yang bersih dan transparan, pada ruang kota yang adil dan inklusif, serta pada keberanian menjadikan kritik sebagai bagian dari mekanisme koreksi, bukan sebagai ancaman.

Baca Juga: Resolusi Kota Bandung 2026 : Membangkitkan Industri Furnitur dan Kriya Kayu

Bandung perlu membayangkan ulang dirinya sendiri: sebagai ruang hidup yang dapat diawasi, dipertanyakan, dan dikoreksi oleh warganya; serta sebagai ruang bersama yang dirancang untuk keberagaman kemampuan, kondisi sosial, dan latar belakang. Kota yang berpikir adalah kota yang mau belajar dari kesalahannya sendiri - baik dari kebijakan yang gagal, ruang yang timpang, maupun kasus-kasus yang kini menjadi sorotan publik.

Bandung tidak membutuhkan lebih banyak slogan atau kesibukan semu. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memperlambat langkah sejenak, menata ulang cara berpikir, dan memastikan bahwa pembangunan berjalan dengan arah yang jelas, empati yang nyata, dan integritas yang terjaga. Tanpa imajinasi etis dan sosial, Bandung akan terus bergerak - namun kehilangan arah. Dan kota yang terus bergerak tanpa arah, pada akhirnya, hanya akan meninggalkan jejak kelelahan, bukan kemajuan yang bermakna. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)