Bandung Coret

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Indahnya Gedung Sate (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Indahnya Gedung Sate (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu setelah hujan besar mengguyur daerah Cibiru dan sekitarnya. Saat asyik ngobrol di warung pangyam dan mie ayam Mang Elang, empat remaja duduk santai.

Dari penampilannya, mereka seperti mahasiswa baru. Ya bukan tipikal "barudak" syarkum (Syariah dan Hukum) yang biasa nongkrong dan makan ala kadarnya, favorit mahasiswa di depan Pondok Sangkurilang Manis.

Obrolan ringannya mengalir. Seakan-akan tengah memperkenalkan diri. Sesekali terdengar, “Saya dari Cibiru,” ujar yang pertama, lugas tanpa basa-basi. Laki-laki bergaya gemoy menimpali, “Kalau aku asli Cimahi.” Tak mau kalah, seorang perempuan dengan senyum percaya diri berkata, “Aku mah dari Soreang.”

Terakhir, seorang remaja berhijab merah dengan tubuh berisi menyebut dirinya dari Bandung. Saat ditanya lebih jauh, menjawab, “Jatinangor.”

Ilustrasi Cibiru, perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ilustrasi Cibiru, perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)

Spontan mereka serentak bersuara, “Itu mah Bandung Coret!” "Ya, sesama Bandung Coret, Jatinangor, Cibiru, Cimahi, Soreang jangan saling mendahului," celetukannya sambil tersenyum.

Tertawa pecah. Ringan, akrab, tanpa sekat. Rupanya di balik canda itu, terselip sesuatu yang lebih dalam, bermakna. Potret kecil tentang Bandung dengan segala “coretan” identitasnya.

Memang Cibiru, Cimahi, Soreang, Jatinangor menjadi empat wilayah dengan latar berbeda, lahir dari ruang sosial masing-masing. Namun disatukan dalam pertemuan sederhana, mereka menjelma menjadi mozaik bernama Bandung Coret.

Sebutan “Bandung Coret” secara umum merujuk pada wilayah di sekitar Kota Bandung yang kerap dianggap sebagai daerah penyangga, seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

Istilah ini muncul untuk membedakan antara “orang Bandung” yang tinggal di Kota Bandung dengan mereka yang berasal dari wilayah sekitarnya. Terkadang dalam keseharian banyak yang tetap menyebut dirinya “orang Bandung”.

Keberanian Memilih Prioritas. (Sumber: Facebook/Fajar Juliansyah, Guru BK)
Keberanian Memilih Prioritas. (Sumber: Facebook/Fajar Juliansyah, Guru BK)

Simbol Keberanian Memilih Prioritas

Bila bagi sebagian orang, Bandung Coret sekadar istilah geografis. Namun di mata Fajar Juliansyah, seorang Guru BK, Bandung Coret justru memiliki makna lain. Simbol perjalanan batin tentang keberanian memilih prioritas.

Dalam hidup, ada begitu banyak pilihan. Teori prioritas membaginya menjadi empat kuadran: Pertama, Penting dan mendesak. Kedua, Penting tetapi tidak mendesak. Ketiga, Mendesak tetapi tidak penting. Keempat, Tidak penting dan tidak mendesak.

Fajar lebih memilih fokus pada urusan-urusan penting, meski tidak mendesak, sebab di situlah letak keberlangsungan hidup yang berkelanjutan dan perlu diperjuangkan. Kemauan untuk pergi ke Bandung hanyalah bagian dari daftar keinginan yang tidak masuk kategori penting maupun mendesak. Dengan sadar, harus berani mencoretnya.

“Mencoret” bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk berkata tidak pada hal-hal yang tak sejalan dengan tujuan hidup. Dari sanalah muncul kekuatan baru. Biar lebih fokus, lebih hidup, dan lebih bermakna. Bandung Coret harus menjadi pengingat ihwal hidup bukan soal mengejar semua keinginan, melainkan menata arah, menyusun prioritas, dan berani mengatakan tidak.(www.facebook.com, 3 Januari 2025, 20:37)

Kota Bandung disebut sudah tak se-sejuk dulu oleh wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kota Bandung disebut sudah tak se-sejuk dulu oleh wisatawan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dinamika dan Jejak Pinggiran yang Terstigma

Memang dalam peta, istilah Bandung Coret tercatat. Misalnya di bagian barat, kawasan Cimahi kerap dicap demikian. Padahal Cimahi memiliki sejarah panjang, semula hanya kecamatan di Kabupaten Bandung, menjadi kota administratif pada 1975, dan akhirnya berstatus kota otonom sejak 2001. Namun stigma “Bandung Coret” masih sering melekat. (Pikiran Rakyat, 3 Juli 2022)

Untuk di Sumedang, Wakil Bupati Fajar Aldila menolak stigma serupa. Saat Milangkala ke-90 Jatinangor, menegaskan bahwa Jatinangor harus menjadi ikon kebanggaan Sumedang, bukan lagi sekadar disebut “Bandung Coret”. (www.sumedangkab.go.id, 17 Juli 2025).

Narasi serupa muncul dalam politik lokal. Usai dilantik sebagai Bupati Bandung, Dadang Supriatna (Kang DS) menegaskan pentingnya menghapus stigma Bandung Coret bagi Kabupaten Bandung.

“Ke depan tidak boleh lagi ada sindiran pada Kabupaten Bandung sebagai Bandung Coret, seolah identik dengan keterbelakangan. Kita harus mengembalikan marwah Kabupaten Bandung sebagai daerah asal mula berkembangnya kawasan Bandung Raya,” tegasnya.

Bagi Kang DS, justru memunculkan “Balik ka Bandung” yang berarti kembali pada akar budaya Sunda, silih asah, silih asih, silih asuh. Dengan mengajak masyarakat Kabupaten Bandung untuk menjaga kehormatan daerah dengan pembangunan berkelanjutan, pelayanan publik yang maju, dan penanda-penanda kebanggaan baru. (Inilah, 26 April 2021)

Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kondisi kawasan resapan air yang beralih fungsi menjadi permukiman dan lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kabupaten Bandung, Rabu 7 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dari Sindiran Jadi Refleksi

Walhasil, Bandung Coret tidak sekadar istilah sindiran. Ini harus menjadi ruang refleksi bersama mulai dari identitas, kebanggaan daerah, dan keberanian pribadi dalam memilih jalan hidup. Dari soal wilayah hingga urusan batin, Bandung Coret mengajarkan ihwal yang sama. Pasalnya tidak semua tek-tek bengek harus diraih, sebagian justru harus dicoret agar hidup lebih terarah dan bermakna.

"Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum." Ingat kutipan dari M.A.W Brouwer yang terpampang di tembok jalan Asia Afrika Kota Bandung. Saking mencintai Tanah Pasundan, Bumi Parahiyangan yang bersumber dari salah satu tulisannya tentang Bandung di sebuah koran nasional pada 10 Juli 1975. "Sering dikatakan bahwa Jawa Barat terjadi waktu tuhan senyum," demikian kutipan lengkap Brouwer. (Pikiran Rakyat, 21 Juli 2022)

Dalam buku Cenat-cenut Calon Dokter, kampusku berada di daerah "Bandung coret". Daerah ini adalah kawasan yang sudah nggak termasuk Bandung, tapi demi menjaga harga diri, mahasiswa-mahasiswa kampus ini kalau ditanya Kuliah di mana selalu menjawab, "Di Bandung".

Tempat paling gaul di daerah ini adalah sebuah mall mungil bernama Jatos. Saking gaulnya, mudah sekali menemukan teman-teman sekampus di sini. Apalagi jika musim ujian baru saja berakhir. Rasanya seperti seisi kampus melakukan migrasi bedol desa ke Jatos.

Saat ini aku sedang duduk seorang diri di food court Jatos. Nggak sendirian sih, sebuah buku tergeletak di meja menemaniku yang sedang ingin makan enak. Bagiku bersama buku atau orang sama saja. Sama-sama ditemani.

Ujian akhir semesterku sudah selesai. Skripsi yang merupakan seberat-berat siksa dunia itu juga sudah disidangkan. Aku sudah menggenggam gelar sarjana kedokteran. Alhamdulillah... Waktu-waktu ini adalah masanya seorang mahasiswa bersantai-berbahagia, tapi nggak berlaku untuk mahasiswa kedokteran angkatanku.

Beberapa bulan lagi mereka akan memulai fase baru dalam perjalanan pendidikan dokter mereka. Fase itu adalah fase koas di Rumah Sakit Pendidikan di Bandung, Bandung beneran, bukan Bandung coret. Semua temanku tampaknya sibuk pindah tempat tinggal ke bandung, mempersiapkan peralatan yang diperlukan dan mencari-cari info yang berguna untuk bertahan hidup selama koas. (Tazkia Fatimah, ‎Agung F, 2015:65)

Sejumlah pengunjung melihat salah satu satwa di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Kamis 6 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pengunjung melihat salah satu satwa di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Kamis 6 Februari 2025. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bila kita tengok ke dalam obrolan empat mahasiswa di Pangyam Mang Elang, istilah Bandung Coret ini bukan sekadar canda untuk sebutan pinggiran kota, justru mencerminkan keberagaman anak muda yang berani mengekspresikan diri.

Ada yang lugasnya Cibiru, gemasnya Cimahi, percaya dirinya Soreang, hingga luwesnya Jatinangor. Semua bertemu dalam satu ruang yang saling menyapa, mengisi, saling mengakui dan menginspirasi.

Sungguh benar apa yang dikatakan Dilan “Bandung diciptakan ketika Tuhan tersenyum”.

Saatnya kita merayakan Kota Kembang dengan mendendangkan lirik Dan Bandung - The Panasdalam Bank feat Danilla, yang dirilis pada tahun 2019, dengan penulis lagu Pidi Baiq dan masuk kategori (genre) pop, folk.

Dan bandung

Bagiku bukan cuma

Urusan wilayah belaka

Lebih jauh dari itu

Melibatkan perasaan

Yang bersamaku ketika sunyi

Dan bandung

Bagiku

Bukan cuma masalah geografis

Lebih jauh dari itu

Melibatkan perasaan

Yang bersamaku ketika sunyi

Mungkin saja ada tempat yang lainnya

Ketika ku berada di sana

Akan tetapi perasaanku

Sepenuhnya ada di bandung

Yang bersamaku ketika itu

Yang bersamaku ketika itu

Yang bersamaku ketika rindu

Yang bersamaku ketika sunyi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)