Kang Ripaldi, Sosok di Balik Gratisnya Komunitas 'Teman Bicara'

3 menit baca
Firqotu Naajiyah
Ditulis oleh Firqotu Naajiyah diterbitkan
Ripaldi Endikat founder Teman Bicara (Sumber: Instagram Ripaldi Endikat | Foto: Tim Endikat Teman Bicara)
Ripaldi Endikat founder Teman Bicara (Sumber: Instagram Ripaldi Endikat | Foto: Tim Endikat Teman Bicara)

Di saat pelatihan public speaking kerap dibandrol dengan harga mahal, Ripaldi atau yang akrab disapa dengan kang Ripal justru memilih jalan berbeda. Melalui komunitas Teman Bicara, Ripaldi membuka ruang belajar gratis bagi mahasiswa dan pencari kerja yang ingin berani bicara, tampil percaya diri, dan punya peluang lebih luas di dunia nyata.

Kehadiran Komunitas Teman Bicara bukan muncul begitu saja. Di balik komunitas tersebut, terdapat perjalanan panjang Ripaldi dalam dunia public speaking yang bermula dari ketertarikannya pada dunia MC sejak beberapa tahun lalu. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk kepeduliannya terhadap pentingnya kemampuan berbicara, terutama bagi anak muda yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Komunitas Teman Bicara hadir sebagai ruang belajar public speaking gratis bagi mahasiswa dan pencari kerja. Teman Bicara membuka kelas tanpa biaya dengan materi yang beragam, mulai dari public speaking dasar, MC, announcer, hingga voice over. Ripaldi menegaskan bahwa sejak awal Teman Bicara memang ditujukan bagi mereka yang ingin belajar tetapi memiliki keterbatasan finansial.

“Target aku itu mahasiswa dan anak-anak yang lagi cari kerja, yang notabenenya harus pintar mengelola uang,” ujar Ripaldi.

Ia melihat banyak anak muda yang sedang menunggu pekerjaan dan memiliki waktu luang, namun belum memiliki wadah untuk mengisi waktu tersebut dengan kegiatan yang produktif. Dari kondisi itu, ia berinisiatif mengumpulkan para pencari kerja dan membekali mereka dengan keterampilan yang relevan, khususnya public speaking yang dibutuhkan di dunia kerja.

Ketertarikan Ripaldi pada dunia MC dan public speaking telah dimulai sejak 2017. Ia mulai belajar secara bertahap hingga akhirnya menekuni bidang tersebut secara profesional sekitar tahun 2020. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa kemampuan berbicara bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan melalui proses latihan yang konsisten.

Teman Bicara batch 17 (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Teman Bicara)
Teman Bicara batch 17 (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Teman Bicara)

Teman Bicara berkembang secara bertahap dari batch awal hingga kini mencapai batch ke-17. Seiring berjalannya waktu, jenis kelas yang disediakan pun semakin beragam. Selain public speaking dan MC, komunitas ini juga menghadirkan kelas announcer dan voice over dengan mengundang coach-coach berpengalaman. Seluruh kegiatan tersebut diselenggarakan secara gratis sebagai bentuk komitmen Ripaldi untuk menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan bermanfaat.

Tantangan terbesar dalam membangun Teman Bicara adalah mengatasi rasa malu dan takut yang masih dimiliki banyak anak muda untuk berbicara di depan umum. Menurut Ripaldi, public speaking merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja, namun belum banyak disadari pentingnya.

“Public speaking itu sangat dibutuhkan, karena ketika orang sudah bisa public speaking, di mana pun dia berada pasti akan dibutuhkan,” ungkapnya.

Yang membedakan Teman Bicara dengan komunitas serupa adalah pendekatannya yang tidak hanya fokus pada satu bidang. Selain belajar public speaking, peserta juga diajak untuk berbagi pengalaman dan belajar di berbagai kelas pendukung. Ripaldi menekankan pentingnya rasa kekeluargaan dalam komunitas, sehingga Teman Bicara tidak berkembang menjadi kelompok yang eksklusif, melainkan menjadi ruang yang nyaman dan terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

Ripaldi tidak bergantung pada sponsor besar. Selama ini, kegiatan komunitas berjalan dengan dukungan dari hasil endorse serta donasi para anggota dan relawan. Dengan sistem tersebut, Teman Bicara tetap dapat bertahan dan berjalan konsisten tanpa menghilangkan prinsip awalnya sebagai komunitas belajar gratis yang mengutamakan kebermanfaatan.

Tidak sedikit anggota yang awalnya merasa ragu untuk berbicara di depan umum, kini mulai berani tampil dan mengasah kemampuan public speaking. Selain meningkatkan rasa percaya diri, keterampilan yang diperoleh juga membuka peluang bagi peserta untuk mendapatkan pekerjaan sampingan melalui jalur MC atau bidang berbicara lainnya. Ripaldi berharap Teman Bicara dapat dikenal lebih luas dan menjangkau lebih banyak anak muda.

“Kedepannya aku mau teman bicara lebih banyak dikenal dan banyak memberikan kebermanfaatan tentunya, punya pekerjaan sampingan dari jalur bicara,” ujarnya.

Di balik kegiatan formal dan kesibukannya sebagai MC, Ripaldi tetap konsisten mengembangkan Teman Bicara sebagai ruang belajar gratis yang mengedepankan kebermanfaatan dan rasa kekeluargaan. Pesan yang ia tinggalkan untuk peserta pun sederhana namun kuat, terus belajar, jangan takut mencoba, dan serahkan hasilnya pada ikhtiar dan doa. Dengan semangat itu, Teman Bicara terus menjadi rumah kedua bagi anak muda yang ingin berani berbicara dan berkembang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)