Teman Bicara: Saat Keberanian Tak Lagi Butuh Panggung Besar

Firqotu Naajiyah
Ditulis oleh Firqotu Naajiyah diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 14:41 WIB
Antusias Teman Bicara menghadiri pertemuan (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Antusias Teman Bicara menghadiri pertemuan (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bandung selalu punya cara unik untuk menumbuhkan semangat anak mudanya. Di tengah riuh kafe dengan obrolan sore, ada satu komunitas yang pelan tapi pasti mulai mencuri perhatian banyak anak muda. Suara itu bergetar pelan. Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya menatap yakin ke arah audiens.

“Selamat sore semuanya...” Sorak kecil terdengar, bukan karena penampilan yang sempurna, tapi karena keberanian yang akhirnya lahir setelah sekian lama tersembunyi. Itulah pemandangan yang nyaris setiap pekan terjadi. Di sinilah “Teman Bicara”  komunitas yang mengubah suara menjadi jembatan karier, tempat anak muda belajar satu hal sederhana yang tak semua orang berani lakukan, bicara di depan umum.

Bagi Ripaldi, pembawa acara profesional yang menjadi founder Endikat Teman Bicara, perjalanan ini dimulai dari satu pengamatan sederhana, banyaknya anak muda yang sibuk mencari kerja. Ia membangun Teman Bicara sebagai wadah belajar public speaking yang sudah menelurkan 17 batch peserta dar berbagai latar belakang. Tujuannya sederhana, tapi berdampak besar.

Pematerian Master of Ceremony (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)
Pematerian Master of Ceremony (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)

Teman bicara bukan kursus formal, bukan pula lembaga pelatihan berbayar. Komunitas ini lebih mirip ruang nyaman untuk mereka yang ingin belajar mengenal suaranya sendiri. Menyediakan pelatihan public speaking, MC, announcer, hingga voice over yang dibangun atas dasar niat berbagi dan semangat kebersamaan.

“Tantangan terbesar aku adalah banyak anak muda yang masih malu-malu untuk belajar public speaking, sedangkan public speaking itu sangat dibutuhkan di dunia kerja. Nah gimana caranya aku meng influence anak muda untuk belajar dari basic dan ngga takut untuk berbicara di depan umum,” ujar Ripaldi.

Di setiap kelas Teman Bicara. Setiap kata yang keluar adalah proses. Kadang terbata, kadang terlalu cepat, tapi selalu ada tepuk tangan hangat setelahnya. Dari sanalah, keberanian perlahan tumbuh, bukan karena sempurna, tapi karena selalu didukung oleh rasa kekeluargaan yang ada.

Kini Teman Bicara telah mencapai batch ke-17 dengan ratusan anggota aktif dan banyaknya alumni yang sudah berani tampil di berbagai panggung mulai dari MC acara resmi, announcer, hingga voice over.

Menariknya, Teman Bicara bertahan tanpa sponsor besar. Semua kegiatan berjalan dari donasi sukarela dan kolaborasi antar anggota.

“Pelatihan berbayar udah banyak di luar sana. Aku mau ini tetap gratis, selama niatnya baik, insyaallah berkah dan ada manfaatnya untuk banyak orang,” kata Ripaldi Ia berharap semakin banyak anak muda yang bisa menjadikan keterampilan berbicara sebagai peluang baru yang bisa mengubah arah hidup.

satu ruang, banyak cerita di Teman Bicara (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Teman Bicara)
satu ruang, banyak cerita di Teman Bicara (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Teman Bicara)

Teman Bicara membuktikan satu hal, kadang keberanian tidak datang dari panggung besar, tapi dari ruangan kecil di mana orang-orang belajar percaya pada dirinya sendiri.

Di sana setiap suara dihargai, setiap langkah di rayakan. Krena di dunia yang sibuk mencari siapa yang paling keras berbicara, Teman Bicara justru mengajarkan arti dari berbicara dengan hati.

Teman Bicara bukan sekadar tempat belajar, tapi juga sebagai perjalanan menuju versi terbaik diri sendiri, tempat dimana suara kecil menjadi besar, dan keberanian yang dulu sembunyi akhirnya pulang. Karena kadang, yang kita butuhkan bukan panggung besar, tapi satu ruang kecil yang membuat kita percaya bahwa suara kita berarti. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Firqotu Naajiyah
Explorer of Impact

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jan 2026, 19:13 WIB

Asal-usul Kesibukan Kita: Halloween, Reformasi Protestan, dan Peradaban Modern

Dari tradisi religius sampai gelombang perubahan besar, budaya kerja keras, FOMO, dan obsesi produktivitas yang kita jalani sehari-hari ternyata punya akar sejarah yang panjang.
Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 17:18 WIB

Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah

Jangan biarkan 'dawai' hidupmu putus karena terlalu berharap dia berubah.
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:12 WIB

Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Sejarah RS Mata Cicendo Bandung sejak era kolonial hingga menjadi Pusat Mata Nasional. Dari wabah trachoma sampai teknologi operasi mata modern.
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 15:01 WIB

Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Mengajakmu 'melipir' ke 4 penjuru Bandung. Dari karst Barat hingga kabut Selatan, temukan pesona alam pinggiran yang melengkapi jiwa Bandung sejati.
Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:00 WIB

Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Dahulu sawah dan kampung yang tenggelam, kini perumahan dan jalan. Sejarah banjir Gedebage telah tercatat sejak kolonial.
Ilustrasi banjir zaman baheula.
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 12:46 WIB

24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

Tulisan ini menceritakan tentang gaya hidup disiplin Risky Aly, pemuda asal Bondowoso yang berhasil meraih double degree.
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 10:19 WIB

Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Seyogianya kualitas pendidikan di negeri ini harus terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 08:31 WIB

Dari Pinggiran Jalan: Menyambung Hidup untuk Kebutuhan Harian

Ketika kas tak lagi mampu menjaga kompor tetap menyala, kios kecil namun penuh makna.
Kios distro Dimas Angga menawarkan berbagai pakaian dan aksesori bergaya streetwear di pinggir jalan kawasan Pasar
Ciwastra pada malam hari di Kota Bandung (4/11/2025). (Sumber: Tito Andrean | Foto: Tito Andrean)
Beranda 14 Jan 2026, 07:30 WIB

Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Kisah SeputarSoettaBdg menjadi bukti bahwa di tengah riuhnya media besar di Bandung, kedekatan personal dan relasi antarwarga masih menjadi modal utama untuk bertahan.
Rezza Radian Zulfikar (kanan) dan Muhammad Saeful, pengelola homeless media seputarsoetta.bdg. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.