Ai Takeshita Menemukan Persahabatan Lintas Budaya di Bandung 

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Selasa 03 Mar 2026, 08:03 WIB
Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang azan magrib, lobi Hotel Savoy Homann di Bandung mulai ramai. Para tamu hilir-mudik, sebagian menunggu waktu berbuka puasa. Di salah satu sudut ruangan, empat orang duduk mengitari meja kecil. Percakapan diantara mereka mengalir santai, tentang musik lama, majalah lawas, dan kenangan Bandung sebagai kota yang pernah menjadi pusat kreativitas anak muda.

Di tengah obrolan itu, seniman dan budayawan Bandung Boy Worang membuka cerita tentang masa lalu kota ini. Ia mengingat Bandung pada akhir 1960-an hingga 1970-an, ketika musik, teater, sastra, dan seni rupa tumbuh dengan gairah baru.

“Bandung waktu itu seperti ruang eksperimen,” katanya. “Anak-anak muda mencoba banyak hal.”

Sabtu sore, 28 Februari 2026, kami kembali bertemu di tempat yang sama. Kami berempat, ada seniman dan budayawan Bandung Boy Worang, Agus Wahyudi, Kemal Ferdiansyah, dan Kin Sanubary. Kali ini ada tamu dari Jepang, Ai Takeshita, akademisi yang selama bertahun-tahun meneliti seni dan budaya Indonesia.

Ai tidak datang sendiri. Ia membawa Yudai Hamanaka, mahasiswa asal Jepang sekaligus anak didiknya. Yudai tengah menjalani program tugas belajar selama enam bulan di Subang, Jawa Barat.

Bagi Ai, pertemuan seperti ini lebih dari sekadar bagian dari penelitian akademik. Percakapan langsung dengan para pelaku budaya adalah cara penting untuk memahami kehidupan budaya Indonesia dari dekat.

Ai meraih gelar doktor dari Program Pascasarjana Bahasa dan Masyarakat di Osaka University pada 2011. Kini ia mengajar di Tokyo University of Foreign Studies, dengan fokus kajian pada sastra dan budaya Indonesia kontemporer.

Permainan piano Yudai Hamanaka menutup pertemuan sore itu di Hotel Savoy Homann, menghadirkan nada-nada lembut yang menjadi penanda akhir perjumpaan. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Permainan piano Yudai Hamanaka menutup pertemuan sore itu di Hotel Savoy Homann, menghadirkan nada-nada lembut yang menjadi penanda akhir perjumpaan. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Namun hubungan Ai dengan Indonesia dimulai jauh sebelumnya.

Pada 1995 ia datang ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejak saat itu Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya. Ia rutin datang ke Indonesia, biasanya dua kali dalam setahun, untuk menelusuri berbagai dinamika budaya di Jakarta maupun kota-kota lain.

Perjalanan itulah yang kemudian membawanya ke Bandung.

Menurut Ai, Bandung memiliki atmosfer yang berbeda dari Jakarta. Kota ini menyimpan sejarah panjang dalam perkembangan seni dan musik Indonesia, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih akrab.

“Budaya Sundanya terasa sangat kuat,” katanya. “Orang-orangnya ramah, suasananya hangat.”

Pertemuan Sabtu sore itu merupakan yang ketiga bagi kami. Sebelumnya kami pernah bertemu pada Agustus 2025 dan September 2024, juga di Hotel Savoy Homann.

Pada pertemuan pertama, percakapan berlangsung hampir empat jam, dari selepas Dzuhur hingga menjelang senja. Topiknya melompat dari musik ke sastra, dari sejarah Bandung hingga sosok seniman multitalenta Remy Sylado, serta majalah musik legendaris Bandung, Aktuil.

Percakapan itu terasa belum selesai. Karena itulah setahun kemudian pertemuan kembali terulang.

Kali ini Ai membawa kabar baru. Ia memperlihatkan salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku Performing Arts in Contemporary Southeast Asia. Dalam buku tersebut ia menulis esai berjudul “Remy Sylado dan Dua Brouwer: Panggung Bandung 1970-an dan Kenangannya.”

Tulisan itu merupakan bentuk penghormatan Ai kepada Remy Sylado, seniman serba bisa yang meninggalkan jejak panjang dalam sastra, musik, seni rupa, dan kritik budaya Indonesia. Remy, yang wafat pada 12 Desember 2022 dalam usia 78 tahun, dikenal luas sebagai sosok berpengetahuan sangat luas hingga sering dijuluki “ensiklopedia berjalan”.

Ai Takeshita, Yudai Hamanaka, dan Boy Worang dalam satu bingkai pertemuan yang mempertemukan seni, musik, dan persahabatan lintas negara. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ai Takeshita, Yudai Hamanaka, dan Boy Worang dalam satu bingkai pertemuan yang mempertemukan seni, musik, dan persahabatan lintas negara. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Selain esai tersebut, Ai juga menulis buku Utopia of Reversal (Genron, 2022). Ia menerjemahkan novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Jepang pada 2007, serta berkontribusi dalam buku Popular Culture in Indonesia (1996) dan Popular Culture in Southeast Asia (2018).

Dalam berbagai penelitiannya, Ai banyak menyoroti perkembangan budaya populer Indonesia, mulai dari musik, film, novel, hingga majalah yang terus berubah mengikuti zaman.

Selama berada di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung, ia aktif bertemu dan mewawancarai berbagai tokoh seni dan budaya. Di antaranya Doel Sumbang, Benny Soebardja, Tatang Ramadhan Bouqie, Seno Gumira Ajidarma, Ermy Kullit, Arthur S. Nalan, Boy Worang, hingga Kimung Burger Kill.

Ia juga mengunjungi berbagai ruang kreatif seperti studio rekaman lama, toko kaset klasik, hingga warung kopi yang menjadi tempat berkumpul komunitas seni.

Salah satu fokus penelitiannya adalah musik pop Indonesia era 1960-1970-an. Dalam konteks itu, majalah Aktuil menjadi perhatian penting. Bagi Ai, majalah tersebut bukan sekadar media musik, melainkan potret gaya hidup urban generasi muda pada zamannya, ruang di mana pengaruh budaya Barat diterjemahkan dan diolah menjadi identitas lokal.

“Saya datang untuk meneliti,” kata Ai, “tetapi selalu pulang membawa rasa rindu. Bandung bagi saya bukan hanya kota riset, tetapi rumah kedua.”

Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'

Senja mulai turun di Bandung. Waktu berbuka tiba.

Kami menutup pertemuan dengan santapan berbuka puasa. Di sudut lobi, Yudai Hamanaka duduk di depan piano. Jemarinya bergerak lincah memainkan beberapa lagu, menghadirkan alunan musik lembut di ruang hotel bersejarah itu.

Percakapan sore itu pun berakhir.

Namun kisah tentang Bandung, tentang musik, majalah, dan persahabatan lintas budaya, tampaknya akan terus berlanjut, bahkan hingga ke ruang-ruang akademik di Jepang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)