Ai Takeshita Menemukan Persahabatan Lintas Budaya di Bandung 

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang azan magrib, lobi Hotel Savoy Homann di Bandung mulai ramai. Para tamu hilir-mudik, sebagian menunggu waktu berbuka puasa. Di salah satu sudut ruangan, empat orang duduk mengitari meja kecil. Percakapan diantara mereka mengalir santai, tentang musik lama, majalah lawas, dan kenangan Bandung sebagai kota yang pernah menjadi pusat kreativitas anak muda.

Di tengah obrolan itu, seniman dan budayawan Bandung Boy Worang membuka cerita tentang masa lalu kota ini. Ia mengingat Bandung pada akhir 1960-an hingga 1970-an, ketika musik, teater, sastra, dan seni rupa tumbuh dengan gairah baru.

“Bandung waktu itu seperti ruang eksperimen,” katanya. “Anak-anak muda mencoba banyak hal.”

Sabtu sore, 28 Februari 2026, kami kembali bertemu di tempat yang sama. Kami berempat, ada seniman dan budayawan Bandung Boy Worang, Agus Wahyudi, Kemal Ferdiansyah, dan Kin Sanubary. Kali ini ada tamu dari Jepang, Ai Takeshita, akademisi yang selama bertahun-tahun meneliti seni dan budaya Indonesia.

Ai tidak datang sendiri. Ia membawa Yudai Hamanaka, mahasiswa asal Jepang sekaligus anak didiknya. Yudai tengah menjalani program tugas belajar selama enam bulan di Subang, Jawa Barat.

Bagi Ai, pertemuan seperti ini lebih dari sekadar bagian dari penelitian akademik. Percakapan langsung dengan para pelaku budaya adalah cara penting untuk memahami kehidupan budaya Indonesia dari dekat.

Ai meraih gelar doktor dari Program Pascasarjana Bahasa dan Masyarakat di Osaka University pada 2011. Kini ia mengajar di Tokyo University of Foreign Studies, dengan fokus kajian pada sastra dan budaya Indonesia kontemporer.

Permainan piano Yudai Hamanaka menutup pertemuan sore itu di Hotel Savoy Homann, menghadirkan nada-nada lembut yang menjadi penanda akhir perjumpaan. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Permainan piano Yudai Hamanaka menutup pertemuan sore itu di Hotel Savoy Homann, menghadirkan nada-nada lembut yang menjadi penanda akhir perjumpaan. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Namun hubungan Ai dengan Indonesia dimulai jauh sebelumnya.

Pada 1995 ia datang ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejak saat itu Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya. Ia rutin datang ke Indonesia, biasanya dua kali dalam setahun, untuk menelusuri berbagai dinamika budaya di Jakarta maupun kota-kota lain.

Perjalanan itulah yang kemudian membawanya ke Bandung.

Menurut Ai, Bandung memiliki atmosfer yang berbeda dari Jakarta. Kota ini menyimpan sejarah panjang dalam perkembangan seni dan musik Indonesia, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih akrab.

“Budaya Sundanya terasa sangat kuat,” katanya. “Orang-orangnya ramah, suasananya hangat.”

Pertemuan Sabtu sore itu merupakan yang ketiga bagi kami. Sebelumnya kami pernah bertemu pada Agustus 2025 dan September 2024, juga di Hotel Savoy Homann.

Pada pertemuan pertama, percakapan berlangsung hampir empat jam, dari selepas Dzuhur hingga menjelang senja. Topiknya melompat dari musik ke sastra, dari sejarah Bandung hingga sosok seniman multitalenta Remy Sylado, serta majalah musik legendaris Bandung, Aktuil.

Percakapan itu terasa belum selesai. Karena itulah setahun kemudian pertemuan kembali terulang.

Kali ini Ai membawa kabar baru. Ia memperlihatkan salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku Performing Arts in Contemporary Southeast Asia. Dalam buku tersebut ia menulis esai berjudul “Remy Sylado dan Dua Brouwer: Panggung Bandung 1970-an dan Kenangannya.”

Tulisan itu merupakan bentuk penghormatan Ai kepada Remy Sylado, seniman serba bisa yang meninggalkan jejak panjang dalam sastra, musik, seni rupa, dan kritik budaya Indonesia. Remy, yang wafat pada 12 Desember 2022 dalam usia 78 tahun, dikenal luas sebagai sosok berpengetahuan sangat luas hingga sering dijuluki “ensiklopedia berjalan”.

Ai Takeshita, Yudai Hamanaka, dan Boy Worang dalam satu bingkai pertemuan yang mempertemukan seni, musik, dan persahabatan lintas negara. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ai Takeshita, Yudai Hamanaka, dan Boy Worang dalam satu bingkai pertemuan yang mempertemukan seni, musik, dan persahabatan lintas negara. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Selain esai tersebut, Ai juga menulis buku Utopia of Reversal (Genron, 2022). Ia menerjemahkan novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Jepang pada 2007, serta berkontribusi dalam buku Popular Culture in Indonesia (1996) dan Popular Culture in Southeast Asia (2018).

Dalam berbagai penelitiannya, Ai banyak menyoroti perkembangan budaya populer Indonesia, mulai dari musik, film, novel, hingga majalah yang terus berubah mengikuti zaman.

Selama berada di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung, ia aktif bertemu dan mewawancarai berbagai tokoh seni dan budaya. Di antaranya Doel Sumbang, Benny Soebardja, Tatang Ramadhan Bouqie, Seno Gumira Ajidarma, Ermy Kullit, Arthur S. Nalan, Boy Worang, hingga Kimung Burger Kill.

Ia juga mengunjungi berbagai ruang kreatif seperti studio rekaman lama, toko kaset klasik, hingga warung kopi yang menjadi tempat berkumpul komunitas seni.

Salah satu fokus penelitiannya adalah musik pop Indonesia era 1960-1970-an. Dalam konteks itu, majalah Aktuil menjadi perhatian penting. Bagi Ai, majalah tersebut bukan sekadar media musik, melainkan potret gaya hidup urban generasi muda pada zamannya, ruang di mana pengaruh budaya Barat diterjemahkan dan diolah menjadi identitas lokal.

“Saya datang untuk meneliti,” kata Ai, “tetapi selalu pulang membawa rasa rindu. Bandung bagi saya bukan hanya kota riset, tetapi rumah kedua.”

Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'

Senja mulai turun di Bandung. Waktu berbuka tiba.

Kami menutup pertemuan dengan santapan berbuka puasa. Di sudut lobi, Yudai Hamanaka duduk di depan piano. Jemarinya bergerak lincah memainkan beberapa lagu, menghadirkan alunan musik lembut di ruang hotel bersejarah itu.

Percakapan sore itu pun berakhir.

Namun kisah tentang Bandung, tentang musik, majalah, dan persahabatan lintas budaya, tampaknya akan terus berlanjut, bahkan hingga ke ruang-ruang akademik di Jepang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)