Mocca, Duta Indie Musisi Bandung yang Mendunia

Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan Senin 17 Nov 2025, 13:21 WIB
Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan)

Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan)

Bandung adalah kota yang mengajarkan nada. Ada kalanya kita tidak tahu, atau kurang informasi terhadap beberapa musisi lokal yang ternyata prestasi mereka mendunia. Siapa yang menyangka kalau beberapa musisi Bandung telah mencatat sejarah musik pada level dunia. Faktanya, musik adalah hiburan yang memiliki destinasi pariwisata yang tiada henti menawarkan daya tarik tersendiri, baik lokal maupun mancanegara.

Siapa musisi Bandung yang diangkat dalam artikel ini? Tidak terlepas dari catatan sejarah dan tumbuh menjadi bagian era milenium. Mungkin liputan tentang mereka agak dilupakan, tetapi sejarah musik tidak akan menghapusnya dari catatan sejarah, khususnya di dunia musik.

Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. Beranggotakan Arina Ephipania (vokal), Riko Prayitno (gitar), Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum), Mocca lahir dari kultur kampus ITB dan komunitas musik indie Bandung akhir 1990-an.

Karya-karya mereka telah mendunia. Album debut mereka, My Diary (2002), dengan gaya musik swing, bossa nova, dan jazzy pop ala film tahun 60-an, menjadi fenomena di Asia. Lagu-lagunya seperti “I Remember,” “Secret Admirer,” “Me and My Boyfriend,” serta “Lucky Me” diputar luas di Jepang, Korea Selatan, Thailand, Singapura, bahkan menjadi OST berbagai film dan drama Asia.

Mereka mengadakan tur di Asia berkali-kali dan memiliki fanbase besar di Jepang dan Korea—lebih dulu viral di sana bahkan sebelum era media sosial. Tidak salah, mereka telah mengangkat identitas Bandung.

Mocca bukan hanya band dari Bandung; mereka mewakili semangat kota itu. Musik mereka lahir dari kultur kreativitas ala Bandung: kafe, seni kampus, komik, dan komunitas indie. Atmosfer kota yang hangat, romantis, dan penuh cerita sederhana—terpantul dalam lirik-lirik tentang persahabatan dan cinta yang polos.

Gerakan Bandung Indie Pop era 2000-an yang mendunia dan diakui sebagai salah satu pusat perkembangan musik indie di Asia Tenggara. Mocca sering menyebut Bandung sebagai rumah kreatif mereka—tempat mereka menulis lagu, berlatih, dan membangun jejaring artis independen. Bahkan dalam konser luar negeri, mereka kerap memperkenalkan Bandung sebagai kota asal yang penuh seniman dan tempat kelahiran gaya musik mereka.

Berikut sejarah singkat riwayat musisi ini:

  • 1997–1999: Arina dan Riko membentuk cikal bakal Mocca saat masih kuliah.
  • 2002: Album My Diary dirilis indie dan langsung meledak.
  • 2000–2010: Lagu-lagu mereka menjadi soundtrack di berbagai film Asia; tur internasional berlangsung.
  • 2014–sekarang: Tetap aktif, merilis album seperti Home (2014) yang sangat personal—menceritakan perasaan rindu kampung halaman, yaitu Bandung.

Di samping itu, ada beberapa nama lain musisi Bandung yang mendunia (Singkat):

  • The S.I.G.I.T – rock band dengan tur internasional hingga Australia & Eropa.
  • Burgerkill – band metal yang mendapat penghargaan global, termasuk Metal Hammer Golden Gods Awards.
  • Bottlesmoker – duo elektronik dengan tur di Eropa & Asia.

Lebih lanjut, berikut sebuah narasi tentang bagaimana Bandung mengilhami karya musisi-musisi asal kota ini—terutama Mocca, namun dengan kehadiran ruh musik Bandung secara lebih luas.

Arina, vocalis band indie Mocca. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani/Indradi Soemardjan)
Arina, vocalis band indie Mocca. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani/Indradi Soemardjan)

Bandung selalu punya cara membisikkan inspirasi. Pada pagi hari, embun yang menggantung di dedaunan Jalan Ganesha tampak seperti not-not kecil yang menunggu dipetik oleh siapa saja yang mau mendengarnya. Di kota inilah Arina—suara bening dari Mocca—dulu sering berjalan sambil membawa buku catatan kecil. Setiap sudut Bandung baginya adalah ruang latihan menulis lirik: angin dingin yang turun dari Lembang, aroma roti dari toko jadul dekat kampus, atau tawa mahasiswa yang berhamburan dari ruang-ruang kelas. Semuanya masuk ke dalam lagu-lagunya, perlahan berubah menjadi melodi manis yang kelak terbang jauh meninggalkan kota ini.

Bagi Mocca, Bandung adalah rumah yang tidak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka menulis My Diary, album yang kelak membuat Asia jatuh cinta, mereka sebenarnya sedang menulis tentang cara Bandung membuat seseorang merasa “akrab sekaligus asing”—seperti cinta pertama yang manis tapi gugup. Setiap denting gitar dan setiap gesekan shaker terasa seperti langkah-langkah ringan seseorang menyusuri Braga pagi hari, ketika toko-toko antik mulai membuka mata.

Riko sering bilang bahwa melodi mereka “lahir dari suasana.” Suasana itu bukan sesuatu yang diciptakan; Bandung sendiri yang membangunnya selama puluhan tahun. Kota ini adalah galeri terbuka: mural-mural yang belum sempat digantikan iklan, lampu kuning tua di trotoar Dago, dan musik dari kafe-kafe yang saling tumpang tindih seperti percakapan sahabat lama. Dari ruang-ruang seperti ini, lahirlah karya yang terdengar sederhana namun terasa dekat—seperti surat cinta yang tidak pernah lekang.

Bandung juga mengajarkan mereka tentang kemandirian. Di akhir 90-an, dunia musik indie tumbuh di garasi-garasi kecil, studio kampus, dan kamar kos. Tidak ada yang mewah—hanya semangat untuk membuat sesuatu yang jujur. Dari budaya itu lahir bukan hanya Mocca, tetapi juga dentuman bising Burgerkill, letupan rock The S.I.G.I.T, serta denting elektronik Bottlesmoker. Bandung mengizinkan ragam suara tumbuh seperti tanaman liar: liar, bebas, tapi tetap indah dalam keteraturannya.

Ketika Mocca tampil pertama kali di luar negeri, mereka membawa Bandung tanpa perlu mengatakannya. Dalam senyum ramah, dalam nada-nada hangat, dalam cara mereka mengawali konser dengan sapaan lembut—semua ada Bandung di sana. Para penonton di Jepang, Korea, atau Thailand mungkin tidak tahu letak Bandung di peta, tetapi mereka bisa merasakan sesuatu yang berbeda dalam musik itu: kehangatan kota kecil yang besar hati, tempat kreativitas tidak pernah tidur.

Setiap mereka kembali dari tur, Bandung selalu menyambut seperti ibu yang menunggu pulang anaknya. Kota itu tidak bertanya apa-apa; hanya menyediakan lagi udara sejuk dan ruang sunyi tempat mereka bisa menulis lagu baru. Dan dari Bandung, mereka kembali terbang, membawa cerita lain, nada lain, cinta lain.

Kini, jika kita berjalan sore-sore di sekitar Dipatiukur atau Taman Saparua, mungkin kau akan mendengar seseorang memainkan gitar, atau sekelompok anak muda mencoba membuat band baru. Dan tanpa mereka sadari, Bandung sedang bekerja lagi—mengangkat pelan-pelan setiap nada yang mereka ciptakan, menyimpannya, membiarkannya tumbuh, hingga suatu hari musik itu mungkin juga akan pergi jauh, sejauh Mocca dan kawan-kawannya.

Karena di kota ini, musik bukan sekadar bunyi. Ia adalah cara Bandung mencintai dunia. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Feb 2026, 09:39

Ngabuburit di Museum Pos Indonesia: Menunggu Senja di Lorong Sejarah 

Suasana ngabuburit bisa terasa lebih bermakna dengan berkunjung ke Museum Pos Indonesia di Bandung.

Gedung Museum Pos Indonesia Jl Cilaki No.73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 26 Feb 2026, 07:00

Tantangan Kelurahan Sukapura Kawal Balita dari Risiko Stunting

Data Kelurahan Sukapura Tahun 2025 menunjukkan jumlah anak berisiko stunting menurun dari 83 anak pada 2024 menjadi 53 anak pada 2025.

Kader kesehatan di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong memberikan imunisasi untuk anak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 25 Feb 2026, 20:40

Satgas PASTI Hentikan AMG Pantheon dan MBAStack, Waspada Penipuan Investasi yang Mencatut Nama Perusahaan Global!

Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) kembali mengambil langkah tegas dalam melindungi masyarakat dari jeratan investasi bodong yang semakin canggih.

Ilustrasi ancaman penipuan investasi ilegal. (Sumber: Freepik)
Bandung 25 Feb 2026, 19:54

Strategi OJK Jawa Barat Perkuat Literasi Keuangan Syariah dan Tangkal Investasi Ilegal Lewat GERAK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah untuk berperan aktif menyukseskan kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah).
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 18:42

Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Feb 2026, 17:03

Kisah Lius Menjaga Nyala Pukis Beng-beng: Warisan Ayah Sejak 1989 yang Bertahan di Tengah Modernitas Bandung

Cetakan besi, adonan pukis, hingga topping coklat, keju, maupun pandan merupakan pemandangan sehari-hari yang dilihat oleh Lius (40), pemilik usaha Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak.

Kue Pukis Beng-beng di ruas Jalan Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 15:00

Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Mayoritas kosakata khas Ramadan yang digunakan masyarakat Indonesia berasal dari bahasa Arab dan telah mengalami penyesuaian.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 25 Feb 2026, 13:33

Di Balik Kilau Manusia Silver: Lendir Hitam dari Hidung, Kulit Memerah, dan Panas yang Harus Ditahan

Teguh mengatakan bahwa setiap kali kehujanan, dari hidungnya kerap keluar lendir berwarna hitam. Ia juga mengaku penglihatannya menjadi buram ketika matanya kemasukan cat.

Erwin melumuri badanya mengggunakan tinta sablon plastik berbahan kimia yang dicampur minyak goreng. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Feb 2026, 11:18

Rumah untuk Siapa: Potret Pembiayaan Perumahan di Tengah Rekor Pertumbuhan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat bahwa backlog perumahan nasional mencapai 9,9 juta unit.

Salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 25 Feb 2026, 10:24

Bukan Sekadar Bangun Pagi, 5 Tradisi Sahur Penuh Cinta

Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini.

Tradisi membangunkan sahur di kota dan pedesaan. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)