Mocca, Duta Indie Musisi Bandung yang Mendunia

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan)
Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan)

Bandung adalah kota yang mengajarkan nada. Ada kalanya kita tidak tahu, atau kurang informasi terhadap beberapa musisi lokal yang ternyata prestasi mereka mendunia. Siapa yang menyangka kalau beberapa musisi Bandung telah mencatat sejarah musik pada level dunia. Faktanya, musik adalah hiburan yang memiliki destinasi pariwisata yang tiada henti menawarkan daya tarik tersendiri, baik lokal maupun mancanegara.

Siapa musisi Bandung yang diangkat dalam artikel ini? Tidak terlepas dari catatan sejarah dan tumbuh menjadi bagian era milenium. Mungkin liputan tentang mereka agak dilupakan, tetapi sejarah musik tidak akan menghapusnya dari catatan sejarah, khususnya di dunia musik.

Mocca, band pop-jazz indie asal Bandung, adalah salah satu kelompok musik Indonesia yang paling sukses di luar negeri. Beranggotakan Arina Ephipania (vokal), Riko Prayitno (gitar), Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum), Mocca lahir dari kultur kampus ITB dan komunitas musik indie Bandung akhir 1990-an.

Karya-karya mereka telah mendunia. Album debut mereka, My Diary (2002), dengan gaya musik swing, bossa nova, dan jazzy pop ala film tahun 60-an, menjadi fenomena di Asia. Lagu-lagunya seperti “I Remember,” “Secret Admirer,” “Me and My Boyfriend,” serta “Lucky Me” diputar luas di Jepang, Korea Selatan, Thailand, Singapura, bahkan menjadi OST berbagai film dan drama Asia.

Mereka mengadakan tur di Asia berkali-kali dan memiliki fanbase besar di Jepang dan Korea—lebih dulu viral di sana bahkan sebelum era media sosial. Tidak salah, mereka telah mengangkat identitas Bandung.

Mocca bukan hanya band dari Bandung; mereka mewakili semangat kota itu. Musik mereka lahir dari kultur kreativitas ala Bandung: kafe, seni kampus, komik, dan komunitas indie. Atmosfer kota yang hangat, romantis, dan penuh cerita sederhana—terpantul dalam lirik-lirik tentang persahabatan dan cinta yang polos.

Gerakan Bandung Indie Pop era 2000-an yang mendunia dan diakui sebagai salah satu pusat perkembangan musik indie di Asia Tenggara. Mocca sering menyebut Bandung sebagai rumah kreatif mereka—tempat mereka menulis lagu, berlatih, dan membangun jejaring artis independen. Bahkan dalam konser luar negeri, mereka kerap memperkenalkan Bandung sebagai kota asal yang penuh seniman dan tempat kelahiran gaya musik mereka.

Berikut sejarah singkat riwayat musisi ini:

  • 1997–1999: Arina dan Riko membentuk cikal bakal Mocca saat masih kuliah.
  • 2002: Album My Diary dirilis indie dan langsung meledak.
  • 2000–2010: Lagu-lagu mereka menjadi soundtrack di berbagai film Asia; tur internasional berlangsung.
  • 2014–sekarang: Tetap aktif, merilis album seperti Home (2014) yang sangat personal—menceritakan perasaan rindu kampung halaman, yaitu Bandung.

Di samping itu, ada beberapa nama lain musisi Bandung yang mendunia (Singkat):

  • The S.I.G.I.T – rock band dengan tur internasional hingga Australia & Eropa.
  • Burgerkill – band metal yang mendapat penghargaan global, termasuk Metal Hammer Golden Gods Awards.
  • Bottlesmoker – duo elektronik dengan tur di Eropa & Asia.

Lebih lanjut, berikut sebuah narasi tentang bagaimana Bandung mengilhami karya musisi-musisi asal kota ini—terutama Mocca, namun dengan kehadiran ruh musik Bandung secara lebih luas.

Arina, vocalis band indie Mocca. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani/Indradi Soemardjan)
Arina, vocalis band indie Mocca. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Meutia Chaerani/Indradi Soemardjan)

Bandung selalu punya cara membisikkan inspirasi. Pada pagi hari, embun yang menggantung di dedaunan Jalan Ganesha tampak seperti not-not kecil yang menunggu dipetik oleh siapa saja yang mau mendengarnya. Di kota inilah Arina—suara bening dari Mocca—dulu sering berjalan sambil membawa buku catatan kecil. Setiap sudut Bandung baginya adalah ruang latihan menulis lirik: angin dingin yang turun dari Lembang, aroma roti dari toko jadul dekat kampus, atau tawa mahasiswa yang berhamburan dari ruang-ruang kelas. Semuanya masuk ke dalam lagu-lagunya, perlahan berubah menjadi melodi manis yang kelak terbang jauh meninggalkan kota ini.

Bagi Mocca, Bandung adalah rumah yang tidak pernah benar-benar pergi. Ketika mereka menulis My Diary, album yang kelak membuat Asia jatuh cinta, mereka sebenarnya sedang menulis tentang cara Bandung membuat seseorang merasa “akrab sekaligus asing”—seperti cinta pertama yang manis tapi gugup. Setiap denting gitar dan setiap gesekan shaker terasa seperti langkah-langkah ringan seseorang menyusuri Braga pagi hari, ketika toko-toko antik mulai membuka mata.

Riko sering bilang bahwa melodi mereka “lahir dari suasana.” Suasana itu bukan sesuatu yang diciptakan; Bandung sendiri yang membangunnya selama puluhan tahun. Kota ini adalah galeri terbuka: mural-mural yang belum sempat digantikan iklan, lampu kuning tua di trotoar Dago, dan musik dari kafe-kafe yang saling tumpang tindih seperti percakapan sahabat lama. Dari ruang-ruang seperti ini, lahirlah karya yang terdengar sederhana namun terasa dekat—seperti surat cinta yang tidak pernah lekang.

Bandung juga mengajarkan mereka tentang kemandirian. Di akhir 90-an, dunia musik indie tumbuh di garasi-garasi kecil, studio kampus, dan kamar kos. Tidak ada yang mewah—hanya semangat untuk membuat sesuatu yang jujur. Dari budaya itu lahir bukan hanya Mocca, tetapi juga dentuman bising Burgerkill, letupan rock The S.I.G.I.T, serta denting elektronik Bottlesmoker. Bandung mengizinkan ragam suara tumbuh seperti tanaman liar: liar, bebas, tapi tetap indah dalam keteraturannya.

Ketika Mocca tampil pertama kali di luar negeri, mereka membawa Bandung tanpa perlu mengatakannya. Dalam senyum ramah, dalam nada-nada hangat, dalam cara mereka mengawali konser dengan sapaan lembut—semua ada Bandung di sana. Para penonton di Jepang, Korea, atau Thailand mungkin tidak tahu letak Bandung di peta, tetapi mereka bisa merasakan sesuatu yang berbeda dalam musik itu: kehangatan kota kecil yang besar hati, tempat kreativitas tidak pernah tidur.

Setiap mereka kembali dari tur, Bandung selalu menyambut seperti ibu yang menunggu pulang anaknya. Kota itu tidak bertanya apa-apa; hanya menyediakan lagi udara sejuk dan ruang sunyi tempat mereka bisa menulis lagu baru. Dan dari Bandung, mereka kembali terbang, membawa cerita lain, nada lain, cinta lain.

Kini, jika kita berjalan sore-sore di sekitar Dipatiukur atau Taman Saparua, mungkin kau akan mendengar seseorang memainkan gitar, atau sekelompok anak muda mencoba membuat band baru. Dan tanpa mereka sadari, Bandung sedang bekerja lagi—mengangkat pelan-pelan setiap nada yang mereka ciptakan, menyimpannya, membiarkannya tumbuh, hingga suatu hari musik itu mungkin juga akan pergi jauh, sejauh Mocca dan kawan-kawannya.

Karena di kota ini, musik bukan sekadar bunyi. Ia adalah cara Bandung mencintai dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)