Setiap tahun secara berulang umat Islam menyambut kedatangan bulan suci ramadan. Setiap tahun pula, mereka melaksanakan beragam amalan dan ritual ibadah. Ramadan datang dengan berbagai rutinitasnya seumpama jadwal sebuah kereta yang sudah pasti. Setiap muslim berlomba melakukan amalan yang terbaik dalam durasi yang sudah ditentutkan, antara 29-20 hari lamanya dengan 13-14 jam shaum di siang hari. Di malam harinya, mereka berupaya konsisten melaksanakan salat malam. Belum lagi ikhtiar kebaikan lainnya dalam bentuk tadarus al-Qur’an, ta’lim, infak dan sedekah, dan amalan sunnah lainnya. Di penghujung, sebelum jadwal kepulangan kereta ramadan ini, umat Islam menutupnya dengan melaksanakan i’tikaf dan membayar zakat. Sungguh, rangkaian perjalanan ibadah ramadan mensaratkan keseriusan dari pelakunya agar perolah dampak yang berarti selepasnya.
Saat jutaan orang ‘ikut naik’ dalam kereta ramadan, setidaknya akan ada dua tipe manusia yang berada dalam kereta tersebut. Yang pertama duduk bersandar, menutup mata, dan menyerahkan segalanya pada masinis. Yang kedua duduk di tepi jendela, memperhatikan arah, menghitung jarak, dan siap turun—bahkan siap mengambil alih kemudi—jika diperlukan. Dalam dunia organisasi, kita menyebut keduanya sebagai passenger (penumpang) dan driver (pengemudi).
Menariknya, ramadan ini tidak dirancang untuk seorang penumpang yang hanya ikut begitu saja tanpa tahu tujuan. Melainkan arsitektural ramadan berlaku bagi mereka yang bermental pengemudi. Mereka yang memiliki kendali diri secara berkesadaran untuk menunaikan amalan-amalan kebaikan selama ramadan bahkan setelahnya. Dari sahur sebelum fajar hingga tarawih jauh malam, menuntut satu hal yang sama yakni keputusan aktif yang diulang tiga puluh hari berturut-turut. Tidak ada yang bisa berpuasa tanpa sadar. Tidak ada yang bisa tarawih sambil tidur. Peta perjalanan (itenary) ramadan telah ditetapkan dari awal sampai akhir, di siang hari dan malam hari. Semuanya mengikuti setiap momen, ritme dan target yang telah ditetapkan. Demi menjadi manusia yang terbaik, mereka yang bermetamorfosa menjadi pribadi yang muttaqin.

Kendali Internal
Rhenald Kasali (2014) mengenal konsep self-driving sebagai metafora cara berpikir dan mentalitas untuk memetakan perilaku, pola pikir, dan tanggung jawab seseorang dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Ia membagi menjadi dua tipe manusia yang memiliki cara pandang tertentu terhadap sebuah peristiwa kehidupan, yakni driver mentality dan passenger mentality. Driver mentality atau mental pengemudi adalah mereka yang memiliki inisiatif tinggi, berani mengambil risiko, bertanggung jawab, dan fokus pada perubahan. Sementara itu, passenger mentality adalah mereka yang cenderung pasif, hanya mengikuti arus, mudah menyerah, mudah menyalahkan keadaan, dan menunggu dilayani.
Merubah cara pandang dari passenger ke driver mentality membutuhkan locus of control atau kendali diri yang menjadi pusat aktivitas. Dalam hal ini, seseorang yang berupaya untuk memimpin perubahan ia akan berupaya melakukan kendali diri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Setiap momentum akan dimanfaatkan untuk memperkuat kendali dirinya. Ia akan fokus melakukan perbaikan dan perubahan dalam berbagai aktivitasnya. Sehingga, cara berpikir, perilaku, dan tanggung jawabnya berdasarkan kendali internal yang ada dalam dirinya, bukan karena factor luar yang terkadang menjebak dirinya.
Shaum adalah latihan intensif kendali internal yang paling relevan bagi manusia beriman. Selama Ramadan, seseorang yang shaum menghadapi kondisi eksternal yang tidak mendukung—lapar, haus, kantuk, panas. Namun ia tidak menyerah pada kondisi itu. Ia tidak berkompromi hanya karena keadaan tidak nyaman. Ia bergerak, bekerja, bahkan melayani—bukan karena kondisi mendukung, tetapi karena pilihannya demikian.
Ramadan menjadi momentum bridging (jembatan) yang mengantarkan manusia untuk bisa mengendalikan diri. Ia menjadikan ramadan sebagai laboratorium jiwa yang melatih kepekaan dan kepeduliaan sosial. Ramadan menjadi momentum terbaik agar kita menjadi pengemudi yang memiliki tujuan dan target yang jelas dalam menjalani peta perjalanannya. Bahwa barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka (Al-Hakim).
Baca Juga: Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini
Merujuk pada dua tipe mentalitas tersebut, maka ada dua cara menempatkan ibadah ramadan pada setiap tahunnya. Cara pertama adalah bagi mereka yang berpandangan laiknya seorang penumpang (passenger mentality) menjalani shaum karena takut dilihat orang, salat tarawih kalau ada yang ‘ngajak’, Tilawan al-Qur’an kalau "sempat", tidak memiliki target amalan, bahkan setelah Ramadan berakhir, sama sekali tidak ada perubahan. Adapun cara kedua adalah mereka yang menempatkan ramadan dengan pola pengemudi (driver mentality). Ia melaksanakan shaum dengan penuh kesadaran dan tujuan yang ditentukan, salat tarawih karena pilihan yang disengaja, ‘Ngaji’ dengan target dan jadwal jelas, menetapkan 1 sampai 3 kebiasaan baru, menjadikan ramadan sebagai titik balik kehidupan, dan berdoa sekaligus merancang action plan dengan penuh kesungguhan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati (HR. Sunan at-Tirmidzi). Mereka yang menempatkan ramadan sebagai pusat kendali diri akan berupaya melakukan perubahan secara konsisten walaupun kecil. Ia memahami bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'd: 11). Sehingga, ia akan berdoa dengan sungguh-sungguh sekaligus merancang action plan yang nyata, karena ia sadar bahwa doa dan ikhtiar adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dalam perjalanan menuju perubahan. (*)
