Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan Minggu 01 Mar 2026, 16:34 WIB
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setiap tahun secara berulang umat Islam menyambut kedatangan bulan suci ramadan. Setiap tahun pula, mereka melaksanakan beragam amalan dan ritual ibadah. Ramadan datang dengan berbagai rutinitasnya seumpama jadwal sebuah kereta yang sudah pasti. Setiap muslim berlomba melakukan amalan yang terbaik dalam durasi yang sudah ditentutkan, antara 29-20 hari lamanya dengan 13-14 jam shaum di siang hari. Di malam harinya, mereka berupaya konsisten melaksanakan salat malam. Belum lagi ikhtiar kebaikan lainnya dalam bentuk tadarus al-Qur’an, ta’lim, infak dan sedekah, dan amalan sunnah lainnya. Di penghujung, sebelum jadwal kepulangan kereta ramadan ini, umat Islam menutupnya dengan melaksanakan i’tikaf dan membayar zakat. Sungguh, rangkaian perjalanan ibadah ramadan mensaratkan keseriusan dari pelakunya agar perolah dampak yang berarti selepasnya.

Saat jutaan orang ‘ikut naik’ dalam kereta ramadan, setidaknya akan ada dua tipe manusia yang berada dalam kereta tersebut. Yang pertama duduk bersandar, menutup mata, dan menyerahkan segalanya pada masinis. Yang kedua duduk di tepi jendela, memperhatikan arah, menghitung jarak, dan siap turun—bahkan siap mengambil alih kemudi—jika diperlukan. Dalam dunia organisasi, kita menyebut keduanya sebagai passenger (penumpang) dan driver (pengemudi).

Menariknya, ramadan ini tidak dirancang untuk seorang penumpang yang hanya ikut begitu saja tanpa tahu tujuan. Melainkan arsitektural ramadan berlaku bagi mereka yang bermental pengemudi. Mereka yang memiliki kendali diri secara berkesadaran untuk menunaikan amalan-amalan kebaikan selama ramadan bahkan setelahnya. Dari sahur sebelum fajar hingga tarawih jauh malam, menuntut satu hal yang sama yakni keputusan aktif yang diulang tiga puluh hari berturut-turut. Tidak ada yang bisa berpuasa tanpa sadar. Tidak ada yang bisa tarawih sambil tidur. Peta perjalanan (itenary) ramadan telah ditetapkan dari awal sampai akhir, di siang hari dan malam hari. Semuanya mengikuti setiap momen, ritme dan target yang telah ditetapkan. Demi menjadi manusia yang terbaik, mereka yang bermetamorfosa menjadi pribadi yang muttaqin.

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kendali Internal

Rhenald Kasali (2014) mengenal konsep self-driving sebagai metafora cara berpikir dan mentalitas untuk memetakan perilaku, pola pikir, dan tanggung jawab seseorang dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Ia membagi menjadi dua tipe manusia yang memiliki cara pandang tertentu terhadap sebuah peristiwa kehidupan, yakni driver mentality dan passenger mentality. Driver mentality atau mental pengemudi adalah mereka yang memiliki inisiatif tinggi, berani mengambil risiko, bertanggung jawab, dan fokus pada perubahan. Sementara itu, passenger mentality adalah mereka yang cenderung pasif, hanya mengikuti arus, mudah menyerah, mudah menyalahkan keadaan, dan menunggu dilayani.

Merubah cara pandang dari passenger ke driver mentality membutuhkan locus of control atau kendali diri yang menjadi pusat aktivitas. Dalam hal ini, seseorang yang berupaya untuk memimpin perubahan ia akan berupaya melakukan kendali diri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Setiap momentum akan dimanfaatkan untuk memperkuat kendali dirinya. Ia akan fokus melakukan perbaikan dan perubahan dalam berbagai aktivitasnya. Sehingga, cara berpikir, perilaku, dan tanggung jawabnya berdasarkan kendali internal yang ada dalam dirinya, bukan karena factor luar yang terkadang menjebak dirinya.

Shaum adalah latihan intensif kendali internal yang paling relevan bagi manusia beriman. Selama Ramadan, seseorang yang shaum menghadapi kondisi eksternal yang tidak mendukung—lapar, haus, kantuk, panas. Namun ia tidak menyerah pada kondisi itu. Ia tidak berkompromi hanya karena keadaan tidak nyaman. Ia bergerak, bekerja, bahkan melayani—bukan karena kondisi mendukung, tetapi karena pilihannya demikian.

Ramadan menjadi momentum bridging (jembatan) yang mengantarkan manusia untuk bisa mengendalikan diri. Ia menjadikan ramadan sebagai laboratorium jiwa yang melatih kepekaan dan kepeduliaan sosial. Ramadan menjadi momentum terbaik agar kita menjadi pengemudi yang memiliki tujuan dan target yang jelas dalam menjalani peta perjalanannya. Bahwa barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka (Al-Hakim).

Baca Juga: Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Merujuk pada dua tipe mentalitas tersebut, maka ada dua cara menempatkan ibadah ramadan pada setiap tahunnya. Cara pertama adalah bagi mereka yang berpandangan laiknya seorang penumpang (passenger mentality) menjalani shaum karena takut dilihat orang, salat tarawih kalau ada yang ‘ngajak’, Tilawan al-Qur’an kalau "sempat", tidak memiliki target amalan, bahkan setelah Ramadan berakhir, sama sekali tidak ada perubahan. Adapun cara kedua adalah mereka yang menempatkan ramadan dengan pola pengemudi (driver mentality). Ia melaksanakan shaum dengan penuh kesadaran dan tujuan yang ditentukan, salat tarawih karena pilihan yang disengaja, ‘Ngaji’ dengan target dan jadwal jelas, menetapkan 1 sampai 3 kebiasaan baru, menjadikan ramadan sebagai titik balik kehidupan, dan berdoa sekaligus merancang action plan dengan penuh kesungguhan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati (HR. Sunan at-Tirmidzi). Mereka yang menempatkan ramadan sebagai pusat kendali diri akan berupaya melakukan perubahan secara konsisten walaupun kecil. Ia memahami bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra'd: 11). Sehingga, ia akan berdoa dengan sungguh-sungguh sekaligus merancang action plan yang nyata, karena ia sadar bahwa doa dan ikhtiar adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dalam perjalanan menuju perubahan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ridwan Rustandi
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 01 Mar 2026, 18:12

Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Maret 2026 ini adalah salah satu bulan paling dinamis dalam kalender sosial, tradisi, dan ekonomi warga Bandung Raya.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 16:34

Dua Cara Pandang Menempatkan Ramadan, Antara Penumpang dan Pengemudi

Ramadan hadir setiap tahun dengan rangkaian ibadah yang terstruktur—shaum, tarawih, tilawah, zakat, hingga i'tikaf.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Mar 2026, 15:08

Dari Sisa Stok Menjadi Signature, Begini Perjuangan Derry Kustiadihardjo Membangun Imperium Kopi Makmur Jaya

Makmur Jaya Coffee & Roastery adalah cermin dari wajah UMKM Indonesia yang tangguh, adaptif terhadap teknologi, berani berinovasi di tengah himpitan, dan memiliki integritas terhadap kualitas.

Pemilik Makmur Jaya Coffee & Roastery, Derry Kustiadihardjo. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 13:33

Kamus Gaul Ramadan: 10 Akronim Sosial yang Populer Saat Ini

Akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.

Ilustrasi anak pesantren. (Sumber: Unsplash/ Muhammad Adil)
Ayo Netizen 01 Mar 2026, 09:28

Antara Kurma dan Bala-Bala

Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 28 Feb 2026, 07:56

Di Mata Pengendara Ojol, Jalanan Kota Bandung Bukan Sekadar Aspal, Tapi Taruhan Keselamatan

Di sisi lain, aspal yang mengelupas, lubang menganga, tambalan tak rata, hingga penerangan jalan yang redup menjadi bagian dari keseharian para pengemudi roda dua.

Pengendara di Jalan Otista Kota Bandung melintas di samping galian kabel yang tidak ditutup semestinya, Jumat (27/2). Kondisi ini membahayakan pengguna jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 27 Feb 2026, 18:09

12 Tahun Menjaga Rasa, Kisah Jatuh Bangun Reza Firmanda Membesarkan Ayam-Ayaman

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan.

Reza Firmanda, sosok di balik populernya jenama Ayam-Ayaman, memulai perjalanannya bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketidakpastian setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. (Sumber: instagram.com/ayamayamanbdg)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 17:12

13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Berikut 15 abreviasi (baik itu singkatan ataupun akronim) yang paling sering muncul sepanjang bulan suci

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Bandung 27 Feb 2026, 15:21

Melompati Sekat Tradisional, Ambisi Besar UMKM Kuliner Bandung Mengejar Kasta 'Naik Kelas' Lewat Revolusi 5 Menit

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital.

Para pelaku kuliner di Jawa Barat kini tengah memacu ambisi besar untuk melompati batasan geografis dan ekonomi konvensional demi mengejar kasta "Naik Kelas" di panggung digital. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 14:17

Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa.

Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 12:10

Dari Bukber sampai ZISWAF: Pembentukan Kamus Singkatan Ramadan Orang Indonesia

Bahasa pun dipadatkan. Maka lahirlah “bukber”, “kultum”, “sanlat”, hingga “ZISWAF”.

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Anak-anak mengajarkan soal puasa (cacap, bedug, ayakan) bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan menerima keadaan.

Umat Islam saat buka puasa dengan kurma, air zam zam dan roti di Masjidil Haram, Mekkah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Feb 2026, 07:19

Berusia 157 Tahun, Masjid Mungsolkanas Rekam Jejak Keislaman di Gang Sempit Cihampelas

Pada awalnya, masjid ini hanyalah rumah bilik panggung milik seorang tokoh bernama Mama Aden. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dengan kolam kecil di sampingnya untuk berwudu.

Prasasti di Masjid Mungsolkanas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 18:39

Bandung Selatan di Ujung Krisis: Ketika Kawasan Konservasi Dijadikan Ladang Bisnis

Jangan sampai atas nama wisata dan pertumbuhan ekonomi, kita justru menciptakan “neraka keseimbangan lingkungan” yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu sudut TWA Cimanggu-Ciwidey. (Foto: Dokumen pribadi)
Bandung 26 Feb 2026, 17:32

Begini Cara Jitu Bikin AI Patuh Bantu Promosi Produk UMKM

Kupas tuntas rahasia optimasi AI untuk konten UMKM agar tidak halu, pelajari trik prompt jitu dan strategi AIDA di workshop ini.

Arif Budianto menyampaikan materi modifikasi dan pemanfaatan AI dalam workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 17:06

Bukan Sekadar Ngonten, Ini Cara UMKM Ubah Akun Sosmed Jadi Akun Promosi

Dalam cakupan dunia digital yang serba bisa dilihat melalui layar saja, persaingan muncul dan dibentuk secara organik, serta tidak hanya berfokus pada unggahan biasa saja.

Pembicara Workshop Pelatihan UMKM bertajuk Produksi Konten Media Sosial dan AI: “Ngonten Pintar, Usaha Lancar," yakni Creative Manager, Bibo Bani yang membawakan materi tentang optimalisasi media sosial. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 26 Feb 2026, 15:52

UMKM dan Humas BUMN Antusias Ikuti Workshop Produksi Konten Medsos dan AI oleh Ayo Bandung

Tak hanya untuk UMKM, wokshop ini pun cocok bagi humas instansi, lembaga, corporasi, konten kreator pemula, dan umum yang ingin belajar lebih jauh memproduksi konten.

Workshop produksi konten media sosial dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang digelar AyoBandung.id dan AyoBiz di Kantor Ayo Bandung, Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 15:04

Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Menyoroti kemacetan Bandung saat Ramadhan.

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 13:18

Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Nama geografis yang memakai kata contong, sangat langka di Jawa Barat.

Kampung Warungcontong diberi batas garis putus-putus, Taman Contong (A), dan dugaan letak Warung nasi contong (B). (Sumber: Google maps, diberi keterangan oleh T. Bachtiar)
Ayo Netizen 26 Feb 2026, 11:04

8 Istilah Sunda yang Jadi Aktivitas Rutin di Bulan Puasa

Beberapa istilah Sunda berikut bukan sekadar kata, tapi gambaran aktivitas seru yang juga bernilai ibadah.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)