Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Dokumentasi kerusakan gempa Cianjur 1879. (Sumber: KITLV)
Dokumentasi kerusakan gempa Cianjur 1879. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Cianjur abad ke-19 bukan sekadar kota kecil di Priangan. Ia pernah jadi pusat kebanggaan Hindia Belanda, lengkap dengan rumah-rumah permanen, kantor-kantor megah, dan pemukiman bergaya Eropa. Sejak Baron Van der Capellen pada 1819 menerima mandat dari London untuk mengambil alih kembali Hindia Belanda dari Inggris, Cianjur ditunjuk sebagai salah satu titik penting administrasi.

Belanda kemudian gencar membangun. Rumah-rumah batu berdiri, sekolah-sekolah kolonial dibuka, dan kediaman gubernur jenderal dipindahkan ke wilayah ini. Orang-orang Eropa datang, termasuk pensiunan pegawai pemerintah yang memilih udara sejuk Priangan sebagai tempat beristirahat di masa tua. Penduduk Cianjur pada 1879 tercatat sekitar 26 ribu jiwa, dan jumlah orang Belanda di sana cukup besar dibanding kota lain di Jawa Barat.

Tapi kemewahan kota kolonial itu tidak abadi. Pada akhir Maret 1879, bumi memberi pelajaran. Tanah yang selama ini tampak ramah mendadak bergetar dengan amarah. Dalam tiga hari berturut-turut, Cianjur berubah dari kota kolonial yang rapi menjadi hamparan puing.

Catatan Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) Kementerian PUPR, sebanyak 1.621 rumah hancur akibat gempa, mayoritas adalah rumah permanen milik bangsa Eropa. Dari jumlah itu, 24 rumah benar-benar rata tanah dan tak bisa diperbaiki. Jumlah korban jiwa resmi tercatat 13 orang tewas dan 12 luka-luka. Angka korban memang tidak sebesar bencana modern, tapi bila dilihat dari populasi Cianjur yang hanya sekitar 26 ribu jiwa kala itu, dampaknya terasa begitu besar.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Yang hancur bukan sekadar rumah bambu, melainkan bangunan kebanggaan kolonial. Gedung pemerintahan retak, kantor telegrap ambruk, penjara roboh, dan gudang garam musnah. P.A. Bergsma, pejabat kolonial yang kemudian menuliskan laporannya di Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch Indië tahun 1882, memberikan gambaran gamblang. Ia menulis bagaimana pada malam 28 Maret, bangunan-bangunan penting rusak parah.

“Semua gedung pemerintahan mengalami kerusakan berat dan harus dikosongkan. Penjara tidak dapat dipulihkan lagi. Gudang garam dan bangunan pemadam kebakaran roboh seluruhnya. Kantor telegraf mengalami kerusakan parah, sedangkan seorang pegawai pos mengalami luka-luka.”

Bukan hanya itu. Masjid besar di Cianjur ikut roboh. Kepala penghulu (ustaz) beserta sejumlah orang meninggal dunia di bawah reruntuhan. Beberapa rumah milik orang Eropa dan Tionghoa ambruk. Bahkan jembatan Cisokan, yang baru dibangun setahun sebelumnya, ikut retak.

Masjid Agung Cianjur sekitar tahun 1880-an. (Sumber: KITLV)
Masjid Agung Cianjur sekitar tahun 1880-an. (Sumber: KITLV)

Yang membuat situasi makin mencekam, guncangan tidak berhenti dalam satu malam. Sepanjang 29 Maret, tanah masih bergetar, membuat orang-orang sulit tidur. Lalu pada 30 Maret, empat kali hentakan besar mengguncang pagi hari, pukul 05.00, 07.45, 10.25, dan 11.30. Bayangkan hidup tiga hari penuh dengan bumi yang terus menari tanpa henti.

Getaran paling kuat dirasakan di wilayah sekitar Gunung Gede, mulai Cipanas, Sindanglaya, Gadog, hingga Sukabumi. Afdeling Bandung, Sumedang, dan Limbangan pun ikut merasakannya. Bahkan kapal-kapal yang berlabuh di Onrust, Kepulauan Seribu, melaporkan adanya guncangan dari dasar laut. Priangan serasa jadi panggung utama bagi murka bumi.

Baca Juga: Jejak Panjang Sejarah Cianjur, Kota Santri di Kaki Gunung Gede

Kota Kolonial Jadi Reruntuhan

Gempa ini bukan hanya bencana alam, tapi juga tamparan keras bagi gengsi kolonial. Keraton Bupati Cianjur—kantor sekaligus kediaman resmi pejabat pribumi—hancur sama sekali. Jan Breman dalam bukunya Keuntungan Kolonial Dari Kerja Paksa menyebut bangunan itu musnah tanpa sisa.

Koran-koran Belanda ramai memberitakan kehancuran ini. Algemeen Handelsblad edisi 11 Mei 1879 menurunkan laporan dari Algemeen Dagblad tentang besarnya kerusakan, termasuk robohnya masjid dan jatuhnya korban jiwa.

“Kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi di Cianjur sangatlah besar. Masjid (missigit) roboh dan menewaskan Kepala Panghulu beserta empat orang lainnya, serta melukai beberapa orang. Selain korban tersebut, dua penjaga pribumi juga dilaporkan meninggal dunia.”

Javasche Courant edisi April 1879 menambahkan daftar panjang bangunan yang tidak bisa dipakai lagi. Penjara, gudang garam, markas pemadam kebakaran, hingga gudang pos semuanya roboh atau rusak berat. Kota yang dibangun dengan penuh kebanggaan kolonial, dalam sekejap menjadi kota berantakan.

Suasana pasca-gempa sungguh kacau. Orang Belanda yang biasa menikmati kopi di beranda rumah batu kini terpaksa tidur beratapkan langit. Orang pribumi pun kehilangan rumah, masjid, dan pekerjaan mereka. Kota administratif yang semula berdiri tegak mendadak berubah jadi hamparan puing-puing.

Padahal, tanda-tanda bencana sebenarnya sudah terasa beberapa minggu sebelumnya. Terdengar suara gemuruh dari dalam tanah, sementara Gunung Gede sempat menyemburkan abu, asap, dan belerang. Banyak orang mengira itu sudah jadi jalan keluar bagi gas bumi, sehingga ancaman gempa dianggap kecil. Anggapan itu salah besar.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Kabar simpang siur juga memperburuk suasana. Misalnya laporan awal yang menyebut jembatan Cisokan roboh. Setelah diperiksa, ternyata hanya retak di bagian tertentu. Untunglah, karena jembatan itu jalur vital yang menghubungkan Cianjur dengan daerah sekitarnya.

Warga Eropa di Cianjur yang sebelumnya betah menikmati udara sejuk Priangan tiba-tiba harus tidur di tenda atau di tanah lapang, karena takut masuk rumah yang sudah retak. Orang pribumi pun tidak jauh berbeda, banyak yang kehilangan rumah dan keluarga. Bagi orang kecil, tentu kerugian ini lebih besar, meski yang banyak tercatat dalam laporan kolonial adalah kerugian gedung-gedung megah milik pemerintah dan orang Eropa.

Gempa 1879 di Cianjur bukan hanya soal angka korban dan jumlah bangunan yang runtuh. Ia juga memberi alasan lebih kuat bagi pemerintah kolonial untuk melanjutkan rencana memindahkan pusat administrasi dari Cianjur ke Bandung. Sejak dekade 1860-an, Bandung memang sudah mulai dipromosikan sebagai kota baru, lebih strategis dan dianggap lebih aman.

Cianjur, yang sebelumnya jadi pusat elit kolonial di Priangan, perlahan kehilangan pamornya. Rumah-rumah megah yang roboh pada 1879 jadi simbol rapuhnya proyek kolonial di kota itu. Bandung kemudian naik daun, apalagi setelah jalur kereta api Batavia–Bandung dibuka pada 1884, memudahkan mobilitas pejabat dan komoditas.

Bagi orang Cianjur sendiri, gempa 1879 adalah peristiwa yang meninggalkan luka mendalam. Kepala Panghulu yang wafat bersama jamaahnya dalam runtuhan masjid menandai bahwa bencana tidak pandang bulu. Gedung kolonial maupun rumah ibadah sama-sama bisa roboh bila bumi sudah bergetar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)