Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

5 menit baca
Fira Nursyabani Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Fira Nursyabani , Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi gempa besar akibat Sesar Lembang di Bandung di abad ke-15.
Ilustrasi gempa besar akibat Sesar Lembang di Bandung di abad ke-15.

AYOBANDUNG.ID - Bandung Raya pernah bergetar hebat ratusan tahun silam, ketika bumi di utara kota itu terbelah. Sesar Lembang, patahan panjang yang membentang dari Padalarang di barat hingga Cimenyan di timur, adalah sumber guncangan itu. Namun selama berabad-abad terakhir, ia tampak tertidur. Keheningan panjang itulah yang membuat para ilmuwan tak pernah benar-benar tenang.

Hasil penelitian mengungkap Sesar Lembang di Bandung pernah memicu gempa besar berkekuatan sekitar 6,5 hingga 7 magnitudo. Temuan itu berdasarkan kajian paleoseismologi yang dilakukan melalui penggalian parit di kilometer 11,5 jalur sesar. Peneliti menemukan pergeseran tanah setinggi 40 sentimeter di lokasi tersebut, bukti adanya gempa kuat yang mengguncang wilayah itu di masa lalu.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa gempa besar terakhir di Sesar Lembang diperkirakan terjadi pada abad ke-15. Selain itu, catatan geologi juga menemukan dua kejadian gempa besar lain: satu sekitar 60 tahun sebelum Masehi, dan satu lagi sekitar 19 ribu tahun lalu. Rangkaian temuan ini menunjukkan Sesar Lembang merupakan sesar aktif yang memiliki riwayat memicu gempa kuat secara berkala.

“Pergeseran setinggi 40 sentimeter di lokasi parit itu menunjukkan pernah ada gempa dengan magnitudo sekitar 6,5 sampai 7. Itu sesuai dengan panjang Sesar Lembang yang mencapai 29 kilometer dan memang berpotensi menghasilkan gempa sebesar itu,” kata Mudrik dalam keterangan resmi, belum lama ini.

Perhitungan siklus ulang gempa berdasarkan data tersebut berada di rentang 170 hingga 670 tahun. Jika mengacu pada rentang itu, secara teori periode gempa besar berikutnya bisa terjadi pada sekitar tahun 2170, namun waktunya tidak dapat diprediksi secara pasti.

Baca Juga: Sesar Baru di Sekitar Gunung Tangkubanparahu, Tambah Daftar Patahan Gempa Bandung Raya

Catatan sejarah dan uji paritan (trench) menunjukkan Sesar Lembang sudah mengguncang sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu. Guncangan terakhir yang besar terjadi pada abad ke-15, sekitar tahun 1450 hingga 1510. Saat itu, tatar Sunda masih berada di bawah Kerajaan Pajajaran. Bandung belum ada sebagai kota; yang ada hanya hutan lebat, rawa, dan lembah sungai Citarum yang mengalir tenang. Di masa ketika dunia belum mengenal peta Jawa Barat seperti sekarang, bumi di wilayah ini tiba-tiba mengamuk. Pohon-pohon besar tumbang, tanah pecah, dan para penghuni perkampungan kecil kala itu lari ketakutan, tanpa memahami apa yang terjadi di bawah kaki mereka.

Lebih jauh ke belakang, lapisan tanah menyimpan memori yang lebih tua lagi. Ada jejak gempa yang diperkirakan terjadi sekitar 60 tahun sebelum Masehi, ketika kerajaan-kerajaan awal Nusantara baru terbentuk. Tak ada catatan manusia yang menceritakan guncangan itu, tapi tanah menjadi saksi bisu.

Dan di bawahnya lagi, peneliti menemukan bekas guncangan dari masa yang lebih purba: sekitar 19.620 hingga 19.140 tahun lalu, ketika sebagian besar bumi masih berada di akhir Zaman Es. Pada masa itu, bumi jauh lebih dingin, laut lebih rendah, dan lanskap Priangan lebih liar dari hari ini. Sesar Lembang sudah ada di sana, bekerja diam-diam, menyimpan energi yang hanya dilepaskan setiap ribuan tahun.

Kronologi panjang ini seolah menyiratkan bahwa Sesar Lembang terasa seperti makhluk purba yang sabar. Ia menunggu ratusan, bahkan ribuan tahun untuk melepaskan energi. Sejarah gempa yang tersembunyi di lapisan tanah adalah pengingat bahwa bumi punya cara sendiri untuk mencatat waktu—bukan dengan kalender, melainkan dengan patahan, pergeseran, dan tumpukan sedimen yang menceritakan kisah ribuan tahun lalu.

Patahan Kuno di Bawah Kota

Sesar Lembang berbaring di kaki Gunung Tangkubanparahu, mengiris daratan Bandung Raya dari Ngamprah di Bandung Barat hingga Cilengkrang di Bandung. Jika dilihat di peta geologi, ia adalah garis panjang yang memisahkan bentang alam pegunungan dengan dataran cekungan Bandung. Di atasnya, jalan-jalan berliku, permukiman padat, dan deretan vila berdiri, seolah tak menyadari apa yang ada di bawah tanah.

Kisah tentang Sesar Lembang bukan baru kemarin sore. Reinout Willem van Bemmelen, geolog Belanda yang menulis The Geology of Indonesia (1949), menyebut patahan ini terbentuk sekitar 100 ribu tahun lalu, bersamaan dengan pembentukan Kaldera Gunung Sunda purba. Jika benar, artinya ia lebih tua daripada sebagian besar bentang alam yang sekarang dikenal orang Bandung.

Penelitian Jan Nossin di Panyairan, Cihideung, pada 1996, menemukan bukti aktivitas sesar sekitar 24 ribu tahun lalu. Namun, pertanyaan klasik tetap menggantung: apakah patahan ini masih aktif? Dalam definisi ilmu kebumian, sesar aktif harus menunjukkan pergerakan dalam 11.500 tahun terakhir, periode Holosen.

Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Jawaban baru datang lewat riset panjang sejak 2006. Tim gabungan dari Geoteknologi LIPI, ITB, Kemenristek, dan PVMBG memasang alat GPS di berbagai titik jalur patahan. Mereka juga menggali parit-parit di beberapa lokasi. Hasil yang diumumkan pada 2011 mengonfirmasi bahwa Sesar Lembang memang aktif, dengan pergeseran 1,95–3,45 milimeter per tahun. Angkanya kecil, tapi gerakannya konstan.

Baca Juga: Sinyal Bahaya dari Sesar Lembang, Minimnya Early Warning System Jadi PR Mendesak

Raksasa Tidur di Utara Bandung

Bandung tumbuh di cekungan besar bekas letusan Gunung Sunda purba. Kota ini kini padat dengan rumah, gedung, dan infrastruktur vital. Di balik ketenangan alamnya, Sesar Lembang adalah ancaman yang sewaktu-waktu bisa membalik wajah kota. Ahli bumi Titi Bachtiar pernah menggambarkan sesar sebagai retakan di kerak bumi yang terus bergerak karena lempeng mengapung di atas mantel bumi—lapisan penuh magma dan mineral berat seperti besi dan magnesium. Energi dari bawah tanah perlahan-lahan menumpuk, menunggu saat untuk dilepaskan.

Gempa kecil pernah menjadi peringatan. BMKG mencatat riak guncangan di Cisarua pada 2010–2012. Puncaknya, 28 Agustus 2011, gempa magnitudo 3,3 merusak 384 rumah di Desa Jambudipa, Pasirhalang, Tugumukti, dan Kampung Muril Rahayu. Padahal, skalanya kecil. Bayangkan jika energinya ribuan kali lipat.

Hari ini, jalur Sesar Lembang terlihat tenang. Tak ada gempa besar dalam lima abad terakhir. Tapi ketenangan itu justru membuat para ilmuwan waspada. Dalam empat bulan terakhir, kawasan Cisarua sudah diguncang lima gempa kecil. Seperti ketukan di pintu rumah, memberi tanda bahwa raksasa itu masih ada.

Skenario terburuknya menyeramkan. Jika seluruh segmen Sesar Lembang bergerak serentak, gempa magnitudo 7 bisa merobohkan rumah-rumah dari Cisarua hingga Parongpong, membelah jalan Cimahi–Lembang, dan melumpuhkan jaringan air dan listrik Bandung Raya.

Pemerintah dan lembaga riset telah memasang akselerograf dan GPS untuk memantau pergerakan patahan. Tapi mitigasi bencana tak cukup dengan teknologi. Kota Bandung butuh tata ruang berbasis risiko dan kesiapsiagaan masyarakat. “Gempa-gempa kecil yang kerap terjadi adalah fenomena wajar dalam sistem sesar aktif,” kata Mudrik R. Daryono. “Namun, gempa kecil itu bisa jadi pelepasan energi skala kecil atau bagian dari proses menuju gempa besar.”

Bagi warga Bandung, ancaman Sesar Lembang bukan soal “apakah” akan bergerak lagi, tapi “kapan”. Dalam siklus pergerakan bumi, satu abad hanyalah kedipan mata. Raksasa itu sedang tidur panjang, tapi sejarah mengajarkan bahwa ia pasti akan bangun.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)