Sesar Baru di Sekitar Gunung Tangkubanparahu, Tambah Daftar Patahan Gempa Bandung Raya

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi , Mildan Abdalloh diterbitkan
Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

AYOBANDUNG.ID - Hari Minggu pagi, 29 Juni 2025, warga Cimahi dan Bandung digoyang gempa. Tak besar memang, hanya 2,7 magnitudo. Tapi cukup membuat orang bangun dari kasur lebih cepat, terutama yang tinggal di sekitar Gunung Tangkubanparahu. Yang bikin heboh bukan soal magnitudonya, tapi asal-usul gempanya.

"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," kata Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, dalam keterangannya. Namun, yang jadi soal adalah sesar yang mana?

Selama ini, warga Bandung Raya hidup dengan Sesar Lembang di pundaknya, dalam pengertian yang harfiah. Garis patahan ini sudah lama jadi momok. Tapi kali ini, pelakunya bukan Sesar Lembang. Si tersangka ternyata lebih ke utara. Tepatnya di sekitar Gunung Tangkubanparahu, berdekatan dengan Kawah Domas. Jaraknya? Sekitar 7 kilometer dari garis sesar Lembang.

“Betul, lokasi gempa kemarin lebih ke utara dari garis sesar Lembang, kurang lebih 7 km,” jelas Koordinator Data dan Informasi Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Virga Librian.

Kalau bukan Lembang, lalu siapa? Sesar apa ini?

Jawabannya mengejutkan dan sekaligus bikin merinding: belum terpetakan. Alias belum ada di peta. Belum diberi nama. Bahkan mungkin belum dikenali betul wujud dan arah geseknya.

Virga tak sembarangan bicara. Sebab, lokasi ini bukan sekali dua kali bergetar. Tahun lalu, pada Februari 2024, tempat yang sama sudah dua kali diguncang gempa. “Kejadian gempa kemarin hampir sama dengan kejadian tahun kemarin. Ini dari sesar yang belum terpetakan,” katanya. Lokasinya antara 8 sampai 14 kilometer dari garis sesar Lembang, tapi tetap di wilayah Gunung Tangkuban Parahu.

Dengan kata lain: ada sesar lain di tubuh gunung itu. Dan belum ada yang kenal baik dengannya.

Tangkubanparahu: Cantik Tapi Ganas

Gunung Tangkubanparahu masih berstatus normal. Level I. Tak ada asap besar, tak ada suara gemuruh, dan belum ada tanda-tanda ia hendak batuk. Tapi bukan berarti ia jinak.

“Pasca gempa, kami tidak melihat adanya peningkatan aktivitas vulkanik secara visual,” ujar Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, dalam siaran persnya. Tapi ia juga tidak bilang semuanya aman.

Wafid mencatat ada pola inflasi di tubuh gunung. Bahasa sederhananya: gunung sedang mengembang. Persis seperti orang yang sedang menahan marah, diam-diam tapi bertekanan.

“Ini menjadi catatan penting karena potensi erupsi freatik tetap ada dan bisa terjadi tiba-tiba tanpa didahului peningkatan aktivitas yang jelas,” katanya. Bahasa pejabat yang maknanya: bisa meledak kapan saja, tanpa permisi.

Kawah Ratu juga sedang mengeluarkan lumpur sejak awal Juni. Tremor menerus tercatat. Gas-gas beracun seperti CO₂ dan SO₂ belum melonjak, tapi bukan berarti tidur nyenyak.

Baca Juga: Mengenal Sesar Cirata: Ancaman Gempa Tersembunyi di Bandung Barat-Purwakarta dan Pusat Pembangkit Listrik

Warga dan wisatawan diminta menjauh dari dasar kawah. Jangan coba-coba mendekat kalau hidung mulai mencium bau belerang menyengat. Sebab, Tangkubanparahu memang gunung cantik, tapi jangan lupa: ini bukan taman bermain. Ini gunung api aktif. Dan sekarang, ia menyimpan sesar yang tak kita kenal betul.

Episentrum gempa tahun 2025 hasil tangkapan layar Google Earth.
Episentrum gempa tahun 2025 hasil tangkapan layar Google Earth.

Sesar Kertasari, Pendatang Baru dari Selatan

Kalau wilayah utara Bandung sedang berurusan dengan sesar misterius di bawah Gunung Tangkubanparahu, maka selatan punya cerita sendiri. Tepatnya di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Wilayah yang akrab dengan pegunungan, ladang hortikultura, dan longsor musiman.

Tanggal 18 September 2024, gempa magnitudo 4,9 mengguncang Kertasari dan sekitarnya. Kedalamannya hanya 10 kilometer. Tak ada tsunami, tak ada letusan, tapi efeknya luar biasa. Berdasarkan data BPBD, sebanyak 3.536 rumah rusak ringan, 1.698 rusak sedang, dan 894 rusak berat. Sebagian besar di Kertasari dan Pangalengan.

Pada mulanya, para ahli mengira ini ulah Sesar Garsela yang memang melintas tak jauh dari sana. Tapi seperti kisah di utara, kesimpulan itu cepat direvisi. Bukan Garsela yang jadi biang kerok. Tapi sesar yang sama sekali baru: Sesar Kertasari.

“Sesar Kertasari sejajar dengan sesar Garsela segem Rakutai,” kata Penyelidik Bumi Badan Geologi, Sukahar Eka. Namanya langsung diambil dari nama kecamatan yang digoyangnya.

Baca Juga: Sungai Citarum Diterjang Banjir Sampah, Hanyut dalam Tumpukan Program

Panjangnya sekitar 6,6 kilometer. Tak besar, tapi cukup membuat ribuan rumah rontok. Patahan ini terbentuk akibat aktivitas tektonik di kawasan Cincin Api. Dan karena letaknya sangat dangkal—hanya 10 kilometer dari permukaan—guncangannya terasa langsung, nyaris tanpa peredam.

Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Geologi PVMBG, Agus Budianto, memberi peringatan keras. Terutama bagi warga yang rumahnya berdiri tepat di atas garis patahan. “Akan jadi masalah itu ketika membangun rumah tepat di atas patahan. Beberapa standar mengatakan paling tidak jarak membangun rumah itu 250 meter dari patahan,” ujarnya.

Sayangnya, tak semua bangunan mematuhi aturan itu. Bahkan belum tentu garis sesarnya sudah diketahui sebelum rumah dibangun.

Kerusakan akibat gempa Kertasari 18 September 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Kerusakan akibat gempa Kertasari 18 September 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Problem lain yang muncul dari gempa di Kertasari adalah ancaman longsor. Daerah ini penuh lereng dan bukit. Banyak di antaranya digunakan sebagai kebun sayur. Sebagian lereng sudah kehilangan tanaman keras, digantikan tanaman semusim yang akarnya tak kuat mengikat tanah.

Dengan munculnya Sesar Kertasari, daftar patahan di Bandung Raya makin panjang. Ada Sesar Lembang di utara, Garsela di selatan, Kamojang di timur, Cileunyi-Tanjungsari di tengah, Cicalengka, dan kini Kertasari. Belum lagi yang belum terpetakan, seperti yang mengguncang Tangkuban Parahu.

Bumi Bandung Penuh Retakan, Tak Semua Terlihat

Bandung dikenal sebagai kota kreatif, kota kuliner, kota musik, dan kota juara. Tapi ia juga kota patahan. Dan patahan bukan hanya retak tanah di permukaan. Tapi garis-garis tekanan di perut bumi yang siap bergerak sewaktu-waktu.

Sesar Lembang bukan satu-satunya. Kini sudah terbukti, ada sesar-sesar lain yang lebih senyap, tapi tak kalah mengguncang. Ada yang sudah diberi nama seperti Sesar Kertasari. Ada juga yang masih gelap, belum teridentifikasi, tapi sudah bikin rumah goyang dan panci jatuh.

Satu hal yang pasti: peta geologi selalu tertinggal beberapa langkah dari kenyataan. Dan kenyataan di Bandung Raya adalah tak semua sesar bisa dikenali sebelum mereka bergerak.

Karena itu, laku waspada tetap penting. Apalagi di daerah yang bangunannya berdiri di atas tanah yang tak selalu diam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.