Jalan Otista Bandung: Dibuka Tiap 30 Tahun, Dinamai dari Si Jalak Harupat

4 menit baca
Fira Nursyabani
Ditulis oleh Fira Nursyabani diterbitkan
Jalan Otto Iskandardinata Bandung (Sumber: Ayobandung)
Jalan Otto Iskandardinata Bandung (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung, ada jalan yang hanya bisa “bernapas” tiap 30 tahun. Namanya Jalan Otista. Bukan singkatan dari sesuatu yang aneh-aneh, tapi dari nama tokoh nasional: Otto Iskandardinata. Tapi bukan itu yang bikin jalan ini dikenal, melainkan keanehan geografisnya: ia terbelah rel kereta api, dan dua bagiannya hanya disambung saat momen sakral, yang terjadi tiga dekade sekali.

Dari sisi barat Stasiun Bandung, Jalan Otista membentang dengan nasib yang tak biasa. Bagian utaranya dan bagian selatannya bagaikan dua saudara kandung yang lama tak bersua. Bukan karena berkelahi, tapi karena dipisahkan pagar besi dan kereta api yang lalu-lalang.

Ceritanya bermula pada dekade 1970-an. Saat itu, aktivitas kereta api di Bandung sedang padat-padatnya. Pemerintah memutuskan menutup persilangan di Jalan Otista karena dianggap terlalu riskan bagi lalu lintas. Maka, dibangunlah pagar besi setinggi satu meter lebih yang menutup jalan selebar sekitar 30 meter. Praktis, kendaraan dari utara ke selatan (atau sebaliknya) harus memutar lewat Viaduct. Jalan itu pun seolah berhenti di tengah.

Yang membuat kisah ini makin unik adalah fakta bahwa jalan ini hanya dua kali dibuka dalam kurun waktu hampir 80 tahun. Pertama, pada tahun 1985, saat peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Kedua, tiga dekade kemudian, pada tahun 2015, dalam peringatan 60 tahun KAA.

“Jalan dibuka untuk memudahkan akses jalan bagi tamu negaora yang menghadiri perayaan KAA,” begitu bunyi penjelasan resmi dari Pemkot waktu itu.

Setelah tamu pulang dan keriuhan reda, pagar pun kembali berdiri tegak. Jalan Otista kembali terbelah, dan warga Bandung harus bersabar menunggu 30 tahun berikutnya, kalau dibuka lagi.

Dari Residentweg ke Otista

Sebelum dikenal sebagai jalan yang suka ngambek itu, nama jalan ini adalah Residentweg. Nama yang khas era kolonial, diambil dari jabatan Residen Hindia Belanda. Maklum, dulu Bandung memang dipoles menjadi kota “Eropa tropis” oleh para burgemeester dan insinyur Belanda. Jalan, taman, bahkan alun-alunnya pun bergaya Eropa.

Setelah kemerdekaan, nama itu diubah. Jalan tersebut diberi nama Otto Iskandardinata, sosok pejuang asal Bandung yang dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat. Bukan asal sembarangan memberi nama, karena Otto memang punya jasa besar, terutama bagi warga Bandung dan masyarakat Sunda secara umum.

Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, pada 31 Maret 1897. Julukannya sebagai Si Jalak Harupat diberikan karena gaya bicaranya yang keras dan tegas, ibarat suara burung jalak yang tak pernah takut bersuara. Otto dikenal tegas menyuarakan pendapatnya kepada pemerintah, yang kemudian diibaratkan dengan burung jalak yang berani.

Baca Juga: Kabel Pabeulit yang Tak Cuma Soal Estetika Bandung

Pendidikan Otto tidak main-main. Ia menempuh sekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lanjut ke Kweekschool Onderbouw di Bandung, dan kemudian ke Hogere Kweekschool di Purworejo. Pendidikan itu menjadi modal penting saat ia mulai aktif di politik, terutama dalam organisasi Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan.

Pada 1920-an, Otto menjadi Wakil Ketua Budi Utomo di Bandung dan Pekalongan. Di sinilah kiprahnya bagi rakyat kecil makin nyata. Ia membantu membuka akses agar pedagang pribumi bisa berjualan di sekitar Pasar Baru, tanpa intervensi pasukan Belanda.

Karier politiknya terus naik. Otto masuk Volksraad (semacam DPR zaman Belanda) sejak 1930 sampai 1941. Di sana, ia bukan anggota yang duduk diam. Otto kerap melontarkan kritik keras terhadap pemerintah kolonial. Ia juga ikut aktif dalam BPUPKI dan PPKI, dua badan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Otto dipercaya menjadi Menteri Negara dalam kabinet awal Republik. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang berjasa membentuk BKR, cikal bakal dari TNI, dengan mengorganisir laskar-laskar rakyat di berbagai wilayah.

Sayangnya, akhir hidupnya tragis. Otto diculik dan dibunuh di Pantai Mauk, Banten, pada 20 Desember 1945 oleh salah satu kelompok laskar yang tidak puas dengan sikapnya. Kejadian ini sampai sekarang masih menjadi bagian dari bab gelap sejarah awal kemerdekaan.

Tapi, namanya tetap dikenang. Tak hanya menjadi nama jalan Otista, tetapi juga diabadikan di Stadion Si Jalak Harupat dan RSUD Otto Iskandardinata di Soreang.

Jalan Otto Iskandardinata di Bandung bukan sekadar ruas jalan biasa. Ia menyimpan dua kisah besar: satu soal nama yang berasal dari seorang tokoh keras kepala dan keras suara bernama Otto, satu lagi soal nasib jalan yang nasibnya seperti kutukan tiga dasawarsa.

Warga Bandung tak perlu menunggu gerhana atau komet untuk melihat keajaiban. Cukup menunggu peringatan KAA selanjutnya, dan mungkin, pagar Jalan Otista akan dibuka lagi. Seperti jalan yang menemukan kembali jodohnya—meski hanya sebentar, sebelum akhirnya dipisahkan rel dan pagar besi yang dingin.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)