AI, Neraka, dan Konten Viral: Kreatif atau Blunder?

6 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Video viral hasil rekayasa AI "Hari Pertama di Neraka". (Sumber: TikTok @veo3sesat)
Video viral hasil rekayasa AI "Hari Pertama di Neraka". (Sumber: TikTok @veo3sesat)

Baru-baru ini, media sosial digemparkan oleh sebuah video berjudul “Hari Pertama di Neraka”. Sekilas, judulnya terdengar menyeramkan, namun ketika melihat kontennya justru disampaikan dengan gaya vlog traveling yang santai.

Si kreator seolah tengah mengunjungi “tempat wisata baru” yaitu neraka. Narasi yang ringan, musik ceria, dan visualisasi absurd hasil AI generatif membuat konten ini terasa seperti gabungan antara parodi dan horor digital. Tapi benarkah ini sekadar hiburan?

Sebagian warganet menanggapi dengan tawa dan kekaguman akan kreativitasnya. Namun, tak sedikit pula yang menyuarakan keberatan. Di kolom komentar, muncul reaksi keras, menyebut video ini menyesatkan, tidak etis, bahkan melecehkan nilai-nilai agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut angkat bicara, mereka berfatwa bahwa menjadikan neraka sebagai objek humor adalah bentuk penyimpangan serius yang dapat mengikis rasa takzim terhadap perkara-perkara gaib yang sakral.

Masalahnya bukan hanya sekadar soal konten viral, ini adalah cerminan budaya digital yang sedang kita hadapi. Fenomena “Hari Pertama di Neraka” bukan muncul dari ruang hampa. Ia adalah bagian dari proses besar yang mengubah cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan memaknai informasi, seperti yang dijelaskan dalam konsep konvergensi media.

Konsep ini dipopulerkan oleh Henry Jenkins, pakar budaya digital dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), dalam bukunya Convergence Culture (2006). Menurut Jenkins, konvergensi media bukan hanya tentang bertemunya teknologi (misalnya televisi dan internet), tapi juga bercampurnya isi, nilai, dan audiens dalam satu ekosistem yang cair dan tak berbatas.

Dulu, untuk memahami konsep neraka atau akhirat, orang akan mendengar ceramah, membaca kitab tafsir, atau mengaji bersama. Media yang digunakan bersifat formal, adiluhung, dan sakral.

Kini, satu video TikTok berdurasi 60 detik bisa menggambarkan ulang narasi neraka dengan visual buatan AI, disisipi musik elektronik, dan gagya bicara santai seperti travel influencer. Itulah wajah dunia digital hari ini, teknologi, agama, hiburan, dan interpretasi personal bercampur menjadi satu, menciptakan realitas baru yang cepat, visual, dan sulit dipilah antara makna yang benar atau sekadar sensasi.

Masalah utama dari visualisasi seperti ini yaitu “visualisasi AI tidak bersifat netral atau objektif”. Meskipun tampak mengesankan secara teknis, gambar-gambar buatan AI bukanlah representasi murni dari realitas spiritual, bukan hasil dari tafsiran agama, melainkan hasil dari kombinasi imajinasi, data visual populer, dan bias budaya.

Baca Juga: One Piece dan Cermin Demokrasi Indonesia, Fiksi yang Merefleksikan Realitas

AI generatif seperti Midjourney atau Runway menciptakan gambar berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya, misalnya lukisan klasik tentang neraka dari abad pertengahan Eropa, cuplikan film horor Hollywood, atau ilustrasi fantasi dari video game.

Artinya, apa yang tampak “menyerupai neraka” sering kali mencerminkan sudut pandang visual Barat atau rekontruksi dari budaya pop, bukan berdasarkan rujukan dari kitab suci atau tafsir ulama.

Ketika visual ini kemudian disusun menjadi video dengan narasi santai ala vlogger, disertai musik elektronik atau latar audio yang ceria, maka makna spiritualnya mulai terkikis. Neraka tidak lagi tampak sebagai tempat hukuman abadi yang mengerikan, melainkan sebagai destinasi eksotis yang bisa “dikunjungi”, direview, bahkan dijadikan bahan parodi.

Dalam konteks ini, fungsi media tidak lagi menjadi sarana edukasi atau renungan, tetapi justru menciptakan distorsi makna, realitas yang seharusnya sakral dan penuh rasa takut (takzim) berubah menjadi hiburan visual yang menarik klik dan share.

Video viral hasil rekayasa AI "Hari Pertama di Neraka". (Sumber: TikTok @veo3sesat)
Video viral hasil rekayasa AI "Hari Pertama di Neraka". (Sumber: TikTok @veo3sesat)

Ketika ini dikonsumsi secara luas, terutama oleh generasi muda yang tidak memiliki konteks religius yang kuat, maka risiko kesalahpahaman menjadi sangat tinggi.

Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya pernah mengingatkan:

"Jangan pernah menjadikan neraka sebagai candaan. Itu tempat yang sangat mengerikan, yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan segala bentuk siksaan."

Mengemas konsep neraka seolah-olah sebagai “destinasi eksotis” bukan hanya dianggap tidak pantas, hal ini juga merupakan bentuk penghinaan terhadap sesuatu yang diyakini sangat sakral.

Bukan berarti humor itu salah. Humor adalah bentuk komunikasi yang efektif, bahkan dalam dakwah sekalipun. Banyak penceramah yang cerdas dalam menyisipkan guyonan untuk mendekatkan diri pada jamaah. Tapi humor yang menyentuh wilayah spiritual sensitif seperti neraka, surga, atau Tuhan, membutuhkan kehati-hatian yang tinggi.

Dalam video viral tersebut, musik ceria mengiringi narasi tentang “lautan api” dan “manusia tanpa kulit menjerit.” Penonton tertawa, menyukai, dan membagikan, namun tanpa sadar mungkin mulai kehilangan batas antara hiburan dan kesadaran iman.

Salah satu ciri khas konvergensi media adalah peran aktif audiens. Kita bukan lagi hanya penonton, tetapi juga penyebar, komentator, bahkan pembuat ulang (remixer) dari konten yang kita lihat. Jenkins menyebutnya sebagai “participatory culture”, budaya partisipatif. Kondisi di mana masyarakat ikut berkontribusi dalam menciptakan, mengubah, dan menyebarkan konten.

Teori ini menjelaskan bagaimana netizen merespons video “Hari Pertama di Neraka” bukan hanya dengan komentar, tetapi dengan konten baru yang lahir dari reaksi para netizen itu sendiri.

Dalam hitungan hari, muncul berbagai versi yang memparodikan konsep aslinya. Ada yang membuat sekuel dengan judul “Hari Kedua di Neraka,” lengkap dengan cerita lanjutan yang lebih absurd dan lucu. Ada pula yang menyisipkan judul seperti “Tiket Masuk Neraka,” seolah-olah mengajak penonton membeli paket perjalanan ke alam gaib.

Namun tidak semua respons bernuansa lelucon. Di antara derasnya konten turunan, sebagian kreator mencoba memberikan klarifikasi dan edukasi. Mereka membuat video tandingan yang menjelaskan tentang neraka menurut perspektif tafsir Al-Qur’an, lengkap dengan kutipan ayat dan penjelasan ulama.

Dalam bentuk yang berbeda, video ini berusaha mengembalikan makna sakral yang sempat kabur akibat pendekatan komikal dan estetika digital dari video aslinya.

Fenomena ini menunjukan betapa kuatnya konvergensi media dalam membentuk ekosistem partisipatif yang dinamis. Ketika satu konten viral, masyarakat digital tak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga ikut memproduksi, memodifikasi, bahkan melawan balik dengan versi mereka sendiri.

Di ruang digital seperti ini, nilai-nilai agama, hiburan, dan teknologi tidak berdiri sendiri, melainkan saling berbenturan, saling meniru, dan kadang saling menegasi.

Di satu sisi, ini memperlihatkan kekuatan komunitas digital dalam berekspresi. Tapi di sisi lain, kebebasan ini juga bisa menciptakan kekacauan makna, apalagi ketika konten-konten yang menyangkut hal sakral disulap menjadi hiburan ringan tanpa kontrol nilai.

Kritik terhadap konten seperti ini bukan hanya tentang keanehannya, tapi tentang kekuatannya memengaruhi persepsi publik, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan TikTok ketimbang kitab suci.

Baca Juga: Inilah Penyebab Harga Obat Mahal di Indonesia

Ketika visual sinematik buatan AI lebih sering dilihat daripada ayat Al-Qur’an yang menjelaskan neraka, maka terjadi pergeseran epistemologis, cara kita mengetahui dan mempercayai sesuatu berubah. Yang lucu dan viral lebih mudah dipercaya, dibandingkan yang dalam dan benar.

Fenomena “Hari Pertama di Neraka” bukan sekadar soal kreativitas digital. Ia adalah simbol dari pertarungan makna di era yang penuh simulasi. Ketika agama, teknologi, dan hiburan saling berinteraksi di atas algoritma, isu yang muncul bukan lagi sekadar soal boleh atau tidak, tetapi soal dampaknya terhadap kesadaran kolektif kita.

Karena dalam dunia yang dibentuk oleh klik dan simulasi ini, yang sakral pun bisa tergelincir menjadi sekadar efek visual. Maka yang kita butuhkan bukan sekadar larangan, tetapi literasi digital yang berakar pada nilai, agar kita tetap bisa melihat perbedaan  antara iman dan hiburan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)